Rini Sang Customer Sexvice
Cerita Dewasa Ā· 18+
Rini, Sang Customer Sexvice
Kudus, Desember 2018
Rini, CSR salah satu bank pemerintah di Kudus. Usianya dua bulan menjelang 28 tahun. Sedang matang matangnya, wajahnya biasa saja, tidak ada yang istimewa, kulit kuning langsat khas wanita Jawa. Supel dan enerjik, setelah 4 tahun bekerja sebagai CSR, kemampuan berkomunikasi, bahkan dengan orang yang baru dikenalpun sangat baik. Cepat akrab. Dalam sekejap percakapan maka kita akan terasa seperti sudah kenal lama. Karena pekerjaannya Rini dituntut berbusana dan ber make up yang anggun. Office looks yg wajar namun tidak membosankan. Ketika bekerja Rini mengenakan hijab, sesuai seragam kantor, namun selebihnya ia tidak mengenakan hijab, hal ini dikarenakan semata mata alasan kepraktisan karena bila ia tidak berseragam dengan hijab maka ia harus menata rambut panjangnya dengan cepol, hal yang memakan waktu di pagi hari yang dihindarinya.
Meskipun Rini secara wajah dan kulit biasa saja, namun jangan salah senyumnya luar biasa manis, kalau diperhatikan, Rini mempunyai bentuk badan yang sangat proporsional, bahkan terbilang tinggi diantara rekan se kantornya. Nyaris 170 cm dengan berat 58 kg. Satu hal yang paling mencolok dari Rini adalah bongkahan pantatnya yang sangat padat. Persis tipikal pantat bahenol perempuan Brazil yang semok. Sementara payudaranya, meskipun tidak terlalu besar, sangatlah menggoda, tidak bisa dibilang kecil juga, tegak dan padat. Yaa meskipun kalau dari jauh laki laki pasti akan lebih tertarik dengan pantat Rini yang jarang dicari padanannya. Sepertinya Rini juga sadar akan āassetānya itu. Meski seragam kantornya berhijab, namun lekuk tubuhnya sangatlah jelas terihat.
Di usianya ini Rini terlihat sangatlah matang, anggun seperti wanita Jawa bukan cantik semata cantik seperti perempuan baru gede. Di kantornya Rini adalah CSR senior. Ada satu lagi CSR namun masih terbilang baru. Memang ada pegawai yang lebih senior, namun itu di back office, Mbak Santi namanya ( kapan kapan saya ceritakan .. karena nanti ada hubungannya dengan Rini).
Jadi praktis target kinerja kantor sebagian besar menjadi tanggung jawab Rini.
Rini sudah berkeluarga. Rais nama suaminya. Menikah sudah hampir 3 tahun namun belum diberi anak. Rais sendiri adalah teman SMA Rini, namun baru intens bekenalan lagi ketika Rais membuka rekening perusahaan tempat Rais bekerja di kantor Rini. Setelah itu mereka berpacaran sebentar kemudian menikah. Rais sendiri semenjak bulan November ditugaskan kantornya, sebuah perusahaan ekspedisi terkenal, untuk membuka cabang di Makassar sekaligus menjabat sebagai kepala cabangnya. Karena kesibukannya mulai November sampai bulan Desember ini, Rais belum pernah pulang ke Kudus. Namun begitu pasangan ini tidak masalah, komunikasi tidak pernah lepas. Justru status LDR semakin menambah kemesraan Rini dan Rais. Untuk urusan ranjangpun sepertinya bukan menjadi hal yang cukup mengganggu. Meskipun tidak terlalu sering, kadangkala Rini dan Rais melakukan video sex, dan menurut pengakuan Rais, dia sangat puas melihat Rini telanjang dan masturbasi melalui video call. Untuk sementara cerita Rais kita skip dulu, nanti akan diceritakan POV Rais.
Kudus, akhir Desember 2018
Kantor tempat Rini bekerja bukanlah kantor yang besar, total hanya ada 20 orang pegawai saja. Kepala kantor Rini adalah Pak Karim, usianya masih 26 tahun, belum berkeluarga, asal dari Jakarta. Karirnya termasuk moncer hingga bisa memimpin kantor cabang kudus dalam usia semuda ini. Namun sayangnya cabang Kudus tahun ini kinerjanya kurang bagus. Sebagai pimpinan yang ambisius tentu hal ini mengkhawatirkan. Rini, sebagai pegawai sebior, tentu kelabakan dalam usaha memperbaiki kinerja kantor. Begitulah awal cerita yang tanpa disadari akan merubah hidup Riniā¦
Kamis sore, ketika Rini sudah bersiap siap pulang, ia dipanggil ke ruangan Pak Karim. Kantor sudah mulai sepi, tinggal beberapa pegawai back office dan security yang belum pulang.
āRin, kemari bentarā. Rini pun masuk dan duduk di kursi ruangan Pak Karim. āYa, Pakā, kata Rini setelah duduk. Pak Karim masih melihat layar komputer. āAda email dari kantor wilayah, minta nama nasabah yang kira kira bisa menutup kinerja kita tahun iniā, Pak Karim memulai pembicaraan. Rini sebenarnya sudah menduga arah pembicaraan semenjak dia dipanggil ke ruangan Pak Karim. āMinta dikirim kapan, Pakā, kata Rini.
āSecepatnya, kalau bisa sih sekarangā, Pak Karim menimpali. Rini tau bakal pulang malam, dia sebenarnya sangat respect dengan Pak Karim karena pimpinannya itu seoarang yang ramah dan menyenangkan, tidak pernah marah tanpa sebab dan sangat akrab dengan pegawai. Sebenarnya dia tau ada calon nasabah besar yang sangat mungkin bisa membantu dia mengejar target akhir tahun. Namanya Pak Fahri, ketua asosiasi kontraktor se kabupaten. Usianya baru 46 tahun namun proyeknya sudah paling besar diantara kontraktor kontraktor lain. Memang Pak Fahri berasal dari keluarga kaya, orangtuanya juragan tembakau, namun usaha orang tuannya diteruskan oleh kakaknya dan dia sendiri membangun usaha sendiri. Namun ada hal yang membuat Rini ragu untuk prospek Pak Fahri, yaitu reputasinya sebagai hidung belang. Hampir seluruh kota sudah tau reputasi Pak Fahri sebagai tukang kawin.
āPak, gap kita sangat banyak, harus ada nasabah besar buat bantu target kitaā, kata Rini. āBapak pernah dengar nama Pak Fahri kontraktorā
āPernah dengar sihā, kata Pak Karim.
āSekitar 5 tahun lalu sebenarnya dia pernah jadi nasabah kita, Pak. Cuma karena gak cocok dengan CSR sebelum saya, dananya ditarik semuaā, terang Rini.
āCoba besok kamu hubungi, Rinā perintah Pak Karim
āTapi Pak⦠Pak Fahri itu terkenal genitā, sergah Rini.
āYahh Rin, itu kan dulu, siapa tau sekarang udah berubahā, Pak Karim tertawa. āSudah dicoba aja besok yaā.
āOke Pak. Kl gitu sekalian Rini pamit pulang ya, Pak..
Sesampai di rumah, setelah selesai membersihkan make up dan mandi, Rini menelpon Rais melalui video call, sudah pukul 19.30, di Makassar sudah jam 20.30.
āHai, Isā,meskipun sudah suami istri, Rini selalu memanggil suaminya dengan Is, begitu pula Rais memanggil istrinya dengan Rin, mungkin karena kebiasaan dari SMA, udah terlanjur dari saat berteman.
āYa, Rin⦠masih di pelabuhan nih, ada barang masukā¦ntar aja ya kalo udah balik aku telp balikā kata Rais sambil menyorot background kapal kapal di pelabuhan
āOk, Is.. ati ati yaā¦. Byeāā¦
Sambil membuka buka instagram, Rini masih kepikiran Pak Fahri, memang ia pernah mendengar beberapa rumor yang membuat Pak Fahri cekcok dengan CSR terlebih dahulu, salah satunya adalah suami mbak Ida, nama CSR sebelum Rini, yang cemburu ke Pak Fahri hingga meneror Pak Fahri melalui SMS, ketika, entah bagaimana caranya, Pak Fahri tau pelakunya suami mbak Ida iapun menarik semua dananya.
Sempat kepikiran untuk telpon langsung mbak Ida, namun Rini urungkan. Akhirnya Rini telp Mbak Santi, seniornya back office. Waktu kejadian cekcok mbak Ida dan Pak Fahri, mbak Santi sudah kerja di Kantor. Jadi mbak Santi pasti tau, begitu pikir Rini.
āHallo, mbak Santi.. udah tidur belumā, sapa Rini melalui telpon
āBelom, lagi nonton sinetron,.. tumben ada apa?ā, kata mbak Santi.
Rini kemudian bercerita perihal pertemuan di ruangan Pak Karim dan tugas prospek Pak Fahmi besok. Tidak lupa rasa penasarannya terhadap Pak Fahri dan mbak Ida, CSR terdahulu.
āYakin kamu mau prospek Pak Fahmi⦠hehehā, mbak Santi malah tertawa. āNanti kamu malah jadi seperti Ida lho.. ā.
Rini makin penasaran, āMaksudnya gimaba, Mbak..ā
Mbak Santi pun mulai bercerita
āKalo menurut salah Ida juga sih. Udah tau Pak Fahri genit tapi diladeni jugaā.
āJadi yang genit sebenarnya dua duanya, kalo boleh dikatakan, Ida sebenarnya manfaatin Pak Fahri. Kl Pak Fahri ke luar negeri Ida suka minta oleh olehā.
āAwalnya sih cuma makanan atau pernak pernik gitu⦠Tapi lama lama makin aneh aneh, HP pernah, tas mahal pernah, jaket kulit pernahā, lanjut mbak Santi
āTrus Pak Fahri kasih kasih aja gitu?ā.. sergah Rini
āYahhh Rin, kl begituan sih receh buat Pak Fahri. Toh, kata driver nih, Ida juga sering pergi sendiri sama Pak Fahri. Jadi dari kantor Ida pergi ke kantor Pak Fahri trus habis itu driver ya suruh pulang, nanti Ida sampai sore balik kantor diantar Pak Fahriā
āTrus gimana mbak, kok jadinya cekcok?ā
āGak tau gimana awalnya, yg jelas Ida pernah dibeliin lingerie trus dia foto pake lingerie dan dikirim ke BBM Pak Fahri. Kayaknya itu yang bikin suaminya tauā.
āJadi masih mau prospek Pak Fahri?ā, kata mbak Santi āPak Fahri itu orangnya ganteng, banyak uang dan kalau bicara sabgat menyakinkanā, tambah mbak Santi, āJangan jangan nanti kamu yang diprospek jadi istri mudanya hehehā, mbak Sinta tertawa
āApaan sih, mbak.. makasih ceritanya yaā Rini menutup telpon.
Rini merenungkan ucapan Santi, memang ia belum pernah bertemu Pak Fahri, namun baliho Pak Fahri sebagai pembina olehraga tennis ada di seantero kota, dan benar kata Santi, Pak Fahri memang tampan dan atletis. Kelihatan berwibawa itu sudah pasti.
Sejenak setelah menutup telp mbak Santi, Rais menelpon melalui video call. Dari background sepertinya sudah di kosan.
āRin.. lagi ngapain? ,
āNggak ngapa ngapain udah mau tidurā, Rini berkata sambil menggigit bibir bawahnya. Manis sekali. Seperti biasa Rini tau kalau Rais akan mengajak video call sex.
āHehehe⦠Yuk ah.. ā, kata Rais
āApa??? Yang jelas dong?, ā.., kata Rini pura pura sambil tangannya melepaskan ikatan rambutnya
āRinnn⦠ayolah liat bokongmu.. ā, pinta Rais, āStriptease dongā¦ā
āHih⦠emang aku cewek murahanā, kata Rini sambil menjulurkan lidahnya.
Toh begitu, Rini langsung berdiri, menempelkan handphone nya di kaca meja rias kemudian mulai beraksi.
āLihat nihā¦. ā, kata Rini sambil membuka kaosnya. Menyembullah buah dadanya dengan BH krem selaras dengan warna kulitnya. Tangan Rini diletakkan di kedua bukit itu.Pas. Tidak kurang tidak lebih.
āBuka ⦠Bukaa. ā, teriak Rais melalui telpon. āIh.. gak sabaran bangetā¦bentar ah..ā, Rini menggoyangkan badannya, menarik rambutnya, menggigitnya sebagian, mengusap usah tokednya.
āNih, Is⦠ā,katanya sambil melepas kait BHnya. Tegak dan kenyal. Perut Rini yang rata semakin menambah Indah lekuk badan Rini.
āIsep dong Rinā, kata Rais. Rini langsung memegang toked kanannya sambil menunduk, mulutnya berusaha menggapai puting toketnya. Tidak berhasil.
āGak bisa Is, toketku kurang besarā, Rini kemudian kembali menggoyang goyang toketnya sambil pinggulnya meliuk liuk liar. Rais sudah melupakan Rini yang tidak bisa menghisap putingnya sendiri. Ia asik mengocok kontolnya yang sudah menegang. Ia selalu mengagumi body istrinya.
āBokongmu mana, Rin, enak nih kayaknya dientotā, Rais makin meracau.
āEnak dong, pantatku Kan paling sexy.. ā, Rini makin pede. Rini melepaskan celana longgarnya, tinggal CD hitam ketat membungkus pantat indahnya. Dia pukul pantat itu dengan tangan nya. āUgh.. siapa mau ini⦠ā, katanya sambil melirik layar monitor HP.
āBokongmu memang mantap , Rinā¦bikin ngaceng terus. Nungging, Rinā¦ā, seketika Rini nungging sambil dua jarinya dimasukkan ke lubang memeknya. Rais melihat sambil onani, Rini memang full dalam memberikan service kepada Rais. Setelah beberapa saat menungging Rini kembali berdiri tegak namun jarinya tetap di memeknya. Dua jari, keluar masuk, āUhhh⦠Yessss.. Ayo Isss⦠memekku pengen kontolmuā, Rini tidak terkontrol. Rini masih berdiri, namun kakinya sudah goyang. Rais juga semakin mempercepat onaninya, ia membayangkan menyetubuhi Rini sambil berdiri. Rini semakin cepat memasukkan jarinya. Sampai berbunyi. Plok, plok .Banjir memeknya oleh cairan kenikmatan. āIsssā¦. Aku mau keluarā¦. ā,
āBentar Rinnn.. ā
ā Ayoo Issss.. gak tahannnā
ā Tahan bentar,Rinnn.. ohh enakk⦠tahannnā
āGak tahan, Isss.. aku keluā¦arā¦ā
āBarengggg⦠Ohhhā
Rini dan Rais orgasme melalui video call bersama
Setelah menggucapkan terimakasih dan selamat bobo, video call pun diakhiri.
Yang tidak diketahui Rais, setelah video call tadi Rini susah tidur dan justru kepikiran pertemuan besok dengan Pak Fahri,,,,,,,,,,,,


