Ngentot Dengan Kontol Panjang
Cerita Dewasa · 18+
Guru Biologi memberi kami tugas untuk meringkus kodok, mencari kepompong, meringkus kupu-kupu alias memotret 5 tipe kupu-kupu. Seusai bagi tugas, aku kebagian memotret kupu-kupu. Langsung saja kupinjam kamera om dan kebetulan om punya lensa yang keren yang bisa memperbesar semacam teropong.
Aku baru bisa memotret 2 tipe kupu-kupu. Itupun belum tahu hasilnya sebab filmnya belum di cuci cetak. Kawanku memberi saran untuk ke bukit sebab disana tidak sedikit tipe serangga dan mungkin ada kupu2 juga. Aku diantar ke bukit itu, namun kawanku tidak mau ikut-ikut naik bukit, capek katanya. Maka aku berkelana di bukit itu mencari kupu-kupu, sementara kawanku menantikan di warung.
Aku telah bisa lagi 2 kupu-kupu yang warnanya tidak sama, tinggal satu lagi. Di kejauhan kulihat ada dua sejoli berlangsung-jalan juga di bukit itu. Hmm romantic sekali. Aku gambar mereka memakai lensa close up. Cowoknya ganteng dan ceweknya cantik. Keduanya bertubuh atletis.
Aku meneruskan mencari kupu-kupu. Tidak juga bisa kupu-kupu ke 5, aku menonton 2 sejoli itu bermesraan, berciuman. Eh, tangannya meraba-raba dada perempuan, sedang yang perempuan meraba-raba celana laki-laki. Asyiik juga nih, nonton dulu. Kuarahkan kembali kamera untuk memotret mereka. Wah nyatanya mereka mulai mencopot kaos jadi bertelanjang dada. Makin seru nih..
Sebab agak tertutup pohon, aku mencari tempat yang bisa lebih jelas menonton mereka.
Terjadilah adegan berikutnya. Mereka bugil, saling mencium dada dan alat kelamin, lalu berhubungan sex. Mereka menikmati berhubungan sex di udara terbuka di bukit. Sementara aku semakin memotret adegan demi adegan. Lensa kamera om canggih juga, jadi aku bisa mengcloseup susu si cewek dan dengan jelas close up penis si cowok yang sedang menancap di memek cewek. Penisku ikut ngaceng menonton adegan itu.
Saat sedang asyik nonton dan memotret, lewatlah seekor kupu-kupu. Aku jadi ingat tugasku. Kelihatannya tidak sama dengan kupu2 sebelumnya, maka kuikuti kupu-kupu itu dan kucoba gambar. Dirinya bergerak semakin, dan baru saat sampaip di daun, dari jarak jauh aku langsung mengarahkan lensa kamera ke arahnya. Akhirnya aku bisa gambar dari lima ekor kupu-kupu.
Berakhir memotret kupu-kupu aku ingat lagi pasangan yang sedang mesum, tapi aku tidak menontonnya lagi, kelihatannya mereka telah berakhir. Aku kembali ke kawanku diwarung. Dari atas bukit aku sempat menonton sepasang kekasih itu naik kedalam mobil. Kupasang lagi kamera dan kugambar mobil itu, dan aku bisa nomor mobilnya.
Sebab ada gambar-gambar mesum diantara gambar kupu-kupu, malam hari aku ke rumah kawan yang punya toko cuci cetak film. Kawanku bilang bahwa tokonya telah tutup, aku minta dispensasi sebab wajib dikumpulkan besok, dan supaya tidak merepotkan, biar aku kerjakan sendiri. Kawanku setuju dan dirinya hanya menolongku membuka toko dan menyalakan mesin cuci cetak. Aku sempat dikasih tahu tutorial cuci cetak, sangat praktis, tapi aku tanyakan untuk memastikan.
Lalu aku mencuci cetak dan tidak lupa ucapkan terimakasih sambil bayar ongkos.
Di kamar aku memperhatikan dengan kagum hasil gambar2ku, baik gambar kupu-kupu maupun gambar-gambar mesum. Aku tidak kenal yang laki-laki dan yang perempuan yang berbuat mesum itu. Supaya tidak ketahuan, aku menyimpan gambar2 mesum itu dalam koperku yang kukunci.
Sebab gambar kupu-kupuku yang dikualitas keren, aku tidak jarang diminta untuk menjadi juru gambar sekolah. Pasti saja aku sanggupi asal dipinjami kamera om. Sebulan kemudian, saat porseni antar sekolah, aku juga kebagian tugas memotret aktivitas sekolahku di porseni. Saat meliput pertandingan basket putri, aku menonton salah satu pemain lawan mirip dengan perempuan yang di gambar mesum.
Mumpung bawa kamera, segera aku gambar dia. Tanya punya tanya nyatanya namanya Tia salah satu tim basket putri dari SMA swasta populer di Padang,. Aku menyempatkan diri menyapa dan berkenalan dengannya dan sekali lagi mengambil gambar bersama tim SMA nya dan SMA ku. Salah satu gambar kukegunaaankan lensa untuk mengclosup wajah Tia.
Seusai aku cuci cetak, aku bandingkan gambar Tia dan gambar wanita yang ada di gambar mesumku. Menurutku orangnya sama. Waktu membagi2kan gambar terhadap pemain, khusus untuk Tia kusisipkan juga gambar muda-mudi, yang menurutku merupakan Tia, sewaktu sedang jalan berdua di bukit.
Kemarin hari kemudian saat pulang sekolah, kawanku mencariku dan memkabarhu ada cewek cakep menantikanku di dekat pintu psupaya sekolah. Aku kesana dan nyatanya Tia.
âBisa ngobrol sebentar?â, tanyanya.
Aku mengikutinya. Dirinya mengajakku minum di kantin dekat sekolah.
âKamu bisa gambar ini dari mana?â, tanyanya.
âAku yang motret. Itu kalian ya?â, aku balik bertanya.
âIya. Aku dan pacarkuâ, katanya. Ia meminum jusnya dan menatapku tajam, memperhatikan kedua mataku.
âSekarang pacarnya dimana?â, aku belagak bloon.
âMasih kuliah di Surabaya. Gambar itu waktu kampusnya lagi liburâ, Tia menjawab.
âKamu motret kejadian berikutnya?â, tanyanya menyelidik.
âIyaâ, jawabku. âMati dah akuâ, Tia menepuk jidatnya sendiri.
âSemakin kalian sebarin kemana2 ya?â, tanyanya agak geram.
âNggak, nggak ada yang tahuâ, jawabku
âWaktu cuci cetak kan pasti ada yang tahuâ, katanya
âAku cuci cetak sendiri di toko kawanâ, aku mencoba menenangkannya.
âSemakin gambar2 itu dimana sekarang?â, dirinya agak lega tapi tetap khawatir
âDi koperku. Terkunciâ, kataku
âKalau gitu aku mau ambil,â katanya sambil berdiri.
Aku membawanya ke rumah om. Di rumah ada bibi yang hanya menyuci dan menyetipsa. Aku persilahkan Tia untuk menantikan dan bibi menjamu minuman. Lalu kubawa koperku ke ruang tamu dan kubuka didepannya dan kutunjukkan gambar2 mesum Tia dan pacarnya. Tia segera mengambil seluruh gambar, memasukkan ke tasnya dan beranjak pergi.
Besoknya Tia menantikanku lagi didepan gerbang. Kawan2 bersiul menggoda kami yang berlangsung menuju kantin.
âMinta klisenya biar tidak kalian cetak lagiâ, katanya. Lalu kami kerumahku dan kuberbagi klisenya, mesikipun wajib kugunting2 sebab campur dengan gambar kupu-kupu.
2 bulan berlalu. Dirinya timbul lagi di gerbang sekolah dan minta aku bantu dirinya untuk buat gambar. Kami pulang meminjam kamera om dan seusai diizinkan aku kembali naik motor untuk mengikuti mobilnya. Tapi dirinya suruh aku jalan bersama naik mobilnya. Seusai membeli beberapa rol film kami melaju ke luar kota kearah Bukit tinggi di tepi danau. Menuju suatu rumah yang katanya milik orang tua Tia dan dirinya minta tolong aku memasukkan koper dimobilnya ke dalam rumah. Isinya penuh dengan baju
âTerbuktinya kalian mau nginap disini?â, tanyaku
âAku mau digambar pake baju-baju iniâ, jawabnya.
Disana Tia minta di gambar dengan pemandangan alam danau dan kurang lebihnya. Lalu kami beristirahat di rumah itu sebentar.
âNah kini gambarnya pake baju yang lainâ, katanya, dan langsung ganti baju didepanku. Mesikipun proses ganti bajunya lumayan cepat, tapi aku sempat menonton tubuhnya atletisnya yang hanya tertutup bh dan celana dalam.
Lalu kami bergambar lagi, dan Tia ganti baju lagi dan berpoto lagi dan ganti baju lagi dan bergambar lagi. Setiap ganti baju aku menonton tubuh atletisnya. Aku menyempatkan memotretnya saat ganti baju. Bahkan diganti baju yang terakhir, Tia juga mengganti bh dan celana dalamnya sebab keringat. Aku juga sempat memotretnya saat bugil ganti baju, mesikipun dirinya membelakangiku.
Berakhir memotret kami makan dulu di lapau, lalu kembali ke rumah di pinggir danau.
âKamu tadi motret aku waktu ganti baju ya?â tanyanya dan aku iyakan.
Tia bercerita mengenai gambar mesum dirinya dan pacarnya yang dulu kupotret. Gambar dan klisenya telah dibakar
Tapi dirinya kepikiran untuk digambar bugil yang keren, sebab gambar mesum yang jarak jauh itu agak goyang dan tidak fokus.
âBagaimana menurut kamu?â ia memandangku.
âTerbuktinya di Padang ada tukang potret professional yang khusus gambar bugil. Setahuku di Eropa baru adaâ, kataku.
Tia memandangku.
âItu juga untuk ditampilkan di majalah porno. Kalau di Indonesia mah belum ada. Paling2 gambar pakai baju minimâ, kataku lagi.
Tia memandangku tajam.
Sebab ditatap dengan tajam, aku menjadi kikuk,
âkenapa?â tanyaku.
âKamu yang motretâ, katanya. Apa? Tia minta aku motret dirinya bugil.
âKamu bercandaâ, kataku.
âAku serius!â, katanya agak keras.
âDi kamar sini saja. Kasurnya keren, jendelanya menghadap danauâ, katanya sambil mengajakku.
Aku mengikutinya. Dirinya memandangku lagi, Aku tidak bergerak.
âAyo ambil kameranyaâ, katanya, Aku segera mengambil kamera, dan saat kembali kekamarnya.. Tia telah bugil. Aku berhenti dan terpana.
âPosenya bagaimana?â, dirinya duduk ditepi ranjang.
âCoba macam2 pose sajaâ, kataku asal2an sebab tidak punya pengalaman gambar nudis.
Akhirnya aku memotretnya dengan beberapa pose duduk dan berdiri di beberapa lokasi di dalam kamar dan rumah itu. Tubuhnya benar sintal, kenyal, padat dan perawakannya atletis. Kakiknya panjang, pundaknya agak lebar dan lehernya jenjang. Lalu Tia menuju ranjang dan tiduran dikasur. Aku memotretnya dan menyempatkan untuk close up susu dan memeknya. Susunya kecil dan bibir memeknya tidak tebal ditutupi bulu-bulu halus.
âKayaknya susunya tidak lebih menantangâ, kataku.
âSemakin gimana dongâ, katanya. Aku menghampirinya dan memegang susunya. Tia menampik tanganku.
âPutingnya wajib tegang menantang. Ini mah lembekâ, kataku.
Tia diam menatapku. Aku ulurkan lagi tanganku ke susunya dan didiamkannya. Akhirnya kumainkan dan kuplintir susu Tia jadi ia sedikit terangsang dan puting susunya mulai tegak menantang. Lalu kupotret kembali.
Saat memotret memeknya, kubilang juga bahwa memeknya tidak lebih menantang. Tia menolak. Mesikipun kubujuk dirinya tetap menolak.
âOke deh, kami akhiri sesi gambarnyaâ, kataku. Lalu Tia berpakaian kembali.
Aku berangkat ketepi danau bermain air. Tidak lama Tia menyusul bermain air di danau. Aku menyiramnya dan dirinya balas menyiramku. Akhirnya kami sama2 basah kuyup. Saat kembali ke rumah, Tia berganti baju, sedangkan aku tidak mengangkat baju ganti.
Tia tertawa,
âJemur dulu pakaianmu. Lumayan diangin2 bisa keringâ
âTapi aku tidak bawa baju ganti. Pinjam dulu bajumuâ, kataku
âEnak saja. Bugil dong.â, Tia tertawa bahagia.
âAyo bugil. Gantian aku yang lihat kalian bugilâ, Tia semakin tertawa meledekku.
Akhirnya aku bugil dan menjemur pakaianku. Tia segera mengambil kamera dan memotretku sedang bugil. Tapi dirinya tampak kebingungan sebab tidak tahu tutorial memakai kamera canggih itu. Gantian aku yang tertawa. Dan mesikipun didesak, aku tidak mau memberi tahu.
âuuh.. semakin bagaimana supaya aku bisa gambar bugilmuâ, Tia menggerutu.
âAsal dipotret bugil berdua dengan kamu, baru bisaâ, kataku ngeledek. Tia memukulku, namun kemudian sambil menggerutu ia mencopoti seluruh pakaiannya.
âAku telah bugil juga nih, semakin bagaimana?â, tanyanya semacam tidak sabar.
Kuambil tripod mini, lalu kuatur kamera untuk memotret otomatis dan kuarahkan ke Tia. Lalu aku berdiri menghampiri Tia dan ckrek kami bergambar bugil berdua.
âWah hebat. Bagaimana kalau kami bikin gambar erotisâ, dirinya bersemangat.
Akhirnya kami bergambar bugil berdua dengan beberapa pose. Kemudian aku memperkenalkan pose berhubungan seks dengan tutorial aku menempelkan selangkanganku ke selangkangannya tanpa memasukkan penisku ke memeknya. Tia setuju, dan mulailah kami bergambar seolah sedang meperbuat hubungan seks, namun penisku hanya menempel di memeknya.
Saat telah berakhir aku menonton tetap ada sisa tiga film.
âTanggung dihabiskan sajaâ, kata Tia.
Namun kami bimbang sebab semua posisi telah dipotret.
âBegini saja, kalian terlentang lagi dan lihat kamera, kelak aku duduk dekat pantatmuâ kataku, lalu kuletakkan kamera disebelah kepalanya jadi Tia semacam mendongak menonton kamera, namun dalam posisi terlentang. Aku kearah pinggulnya dan menempelkan penisku di memeknya mencoba posisi yang pas untuk dipotret.
âNah kelak begini posisinya, kepalamu jangan lihat aku, tapi mendangak lihat kamera, oke?â. Tia setuju, lalu aku mulai memasang timer kamera dan segera kembali ke posisi.
Timer kusetel 20 detik jadi aku punya waktu untuk mengatur posisi. Kutempelkan lagi penis di memeknya. Kulihat memeknya telah basah tanda Tia telah lama terangsang. Lama aku bersi kukuh dalam posisi itu. Ketika timer telah hampir habis, iseng kudorong pantatku jadi penisku masuk ke memeknya.
âHaa?!â, Tia kaget dan âcpret..â, kamera dengan cara otomatis memotret.
âHey, kalian keras kepala ya!!â, kata Tia marah. Tapi dirinya tidak segera mengeluarkan penisku dari memeknya.
Aku tersenyum nyengir,
âMasih ada 2 film lagiâ, kataku
âSemakin kami pose apa lagi?!â tanya Tia
âKamu tidur miring, lalu aku dari belakangâ, kataku
âSemacam yang tadi lagi dong?!â katanya.
âIya, tapi ada bedanyaâ, aku tersenyum.
Tia tetap berlagak judes, tapi diam dan mengikuti arahan gayaku. Dirinya tidur miring, kuatur kamera untuk memotretnya, hari ini kusetel 1 menit, lalu aku memposisikan diri dibelakang Tia. Satu kaki Tia diangkat sedikit jadi memeknya kelihatan, lalu ujung penisku menempel di memeknya.
Masih ada 50 detik lagi.
âSiap?â, kataku.
âIyaâ, Tia menyahut.
Seusai Tia menjawab, maka kudorong pantatku jadi penisku masuk lagi ke memeknya.
âAhh..âTia kaget, tapi tidak bereaksi.
Menonton dirinya tidak bereaksi maka kuayun pantatku jadi penisku keluar lalu masuk lagi ke memeknya.
âAhhâ Tia mendesah lagi.
Akhirnya kuberanikan diri kuayun semakin menerus jadi penisku keluar masuk memeknya berulangkali.
âAhh..ahh..ahhâ, Tia juga berulangkali mendesah setiap penisku menusuk memeknya.
âAh..ah..kok.. la..maâŠya.. ka..me..ra..nya..Ahâ, Tia semakin mendesah.
âCepretâ kamera otomatis memotret.
âSu..dah tuh..â, kata Tia terengah.
Aku tidak peduli, dan semakin mengayun pantatku. Tia diam saja. Akhirnya kubalikkan tubuhnya sampai terlentang kembali, aku merayap diatasnya. Kuluruskan penisku dan kudesakkan kecelah memeknya. Tia mendekapku erat, sambil membalas menggoyang-goyangkan pinggulnya dan mengerang-ngerang.
Akhirnya kami meperbuat hubungan sex di rumah kecil pinggir danau itu. Kami mengulanginya 2 kali lagi sampai malam tiba. Berakhir 3 babak sex itu, kami berkemas pulang. Kebetulan bajuku telah kering. Diperjalanan kurang lebih Bukittinggi, tidak lupa kami mampir di rumah makan untuk memulihkan energi.
Tia mengambil semua rol film dan minta aku menghubungi kawan di toko film. Untuk menjaga kerahasiaan, Tia minta proses cuci cetak diperbuat bersama. Kalau kawanku tidak memberi izin maka tidak butuh cuci cetak dan klise langsung dibakar. Aku setuju saja.
Untungnya kawanku mau mengerti dan memberi Tia dan aku peluang untuk mencetak sendiri di malam hari. Dirinya ambil semua gambar bugil dirinya, sedangkan gambar bugil kami berdua dan dua gambar seks kami diberbaginya padaku. Tia tidak mau menyimpan gambar seks itu takut ketahuan. Sedangkan gambarbugil dirinya bakal disimpan dengan cara rahasia, kalaupun ketahuan bakal bilang bahwa dipotret sendiri pake timer.
Dia minta pendapatku dua gambar bugil dirinya yang paling baik yang mana. Aku tunjuk gambar bugilnya yang tidur agak terlentang dikasur dan gambar bugil yang berdiri didekat jendela jadi memunculkan sedikit efek siluet. Lalu dirinya mencetak kedua gambar itu sekali lagi, dan diberbagi kepadaku.
âAku bakal bakar klisenya. Jaga baik-baik semua gambar yang aku kasih buat kamu. I thrust youâ, katanya sambil mencium pipiku.
âOkeâ kataku. Dan aku tertawa2 kecil.
âAda yang lucu?â, tanya Tia
âIya, aku tetap merasa lucu menonton gambar kalian yang menunjukkan ekspresi wajah campuran antara kaget, sakit dan nikmat, waktu aku pertama kali iseng mencobloskan kontolku ke memekmuâ, aku tersenyum.
Tia meninju pundakku,
âAwas ya!â, katanya sambil ikut tertawa. ,,,,,,,,,,,,,,,,,


