ML Sewaktu Di Singapore
Cerita Dewasa · 18+
Sore hari, aku sudah beberes mau pulang, telponku bunyi, ternyata dari mas Hide. Dia ngajak aku nemenin dia ke singapore. Aku seneng banget jadinya. âMau ngapain mas ke singapore?â tanyaku. âAku ada bisnis di johor bahru, Nes. Kan lebih asik kalo ditemenin kamu. Kamu bisa gak?â tanyanya. âBerapa hari mas?â jawabku bertanya lagi. âPaling lama 3 hari, kamu punya paspor gak?â jawabnya. âWah, Ines mesti pamit ya dari kantor. Paspor Ines gak punya mas, kalo ktp sih adaâ, jawabku bercanda. âKamu cuti aja dari kantor Nes, bikin paspor gampang kok. Nanti biar temenku yang urusin, 2 hari juga beres. Jadi kamu mau yaâ, jawabnya lagi. âIya deh mas, kapan mau urus paspornya, terus berangkatnya kapanâ, lanjutku. ââBesok temenku akan kontak kamu, siapkan aja dokumen yang diperlukan. Berangkatnya nanti kita tentukan kalo paspor kamu udah beresâ, katanya.
Aku pamit dari kantor untuk besok masuk siang. Keesokan harinya, pagi2 temen mas Hide sudah menjemputku untuk ke kantor imigrasi. Karena koneksi yang kuat, proses pembuatan paspor berjalan cepat. 3 hari kemudian pasporku sudah jadi dan diantar ke tempat ku. Mas Hide nelpon lagi, âUdah jadi kan Nes paspornya. Kapan kamu bisa pamit dari kantor supaya aku bisa arrange perjalanan kitaâ, tanyanya. âBesok Ines kabari ya masâ, kataku. âKenapa gak sore ini ajaâ, deseknya. âDah ngebet sama Ines ya mas. Iya deh ntar sorean Ines kabari lagiâ, aku guyonin dia. Aku pamit lagi dari kantor untuk cuti 3 hari. Kebetulan load kerjaan sedang rendah sehingga lusa aku sudah diijinkan untuk mulai cuti. Aku mengabarkan ini ke mas Hide. âOke Nes, kita berangkat lusa siang ya, nanti aku jemput kamuâ, katanya memastikan.
Lusa siang, aku sudah duduk disamping mas Hide di pesawat. Mas Hide mesra sekali ke aku selama di pesawat, sehingga pramugarinya menyangka kami sedang honey moon. Aku iyakan saja untuk tidak mengundang komentar lebih jauh. âNes, rencananya, besok aku akan ke Johor bahru. Kalo selesai aku kembali ke singapore, kalo urusanku belum selesai aku nginep di Johor baru, besok siangnya aku baru balikâ, katanya. âYah, kalo mas nginep terus Ines ngapainâ, aku merajuk. âYa kamu jalan2 aja, belanja juga boleh. Hotel kita di pusat keramaian kok, bisa jalan kakiâ, jawabnya membujuk.
Sesampainya di hotel, mas Hide ngajak aku jalan2 dulu disekitar hotel. âMau belanja Nesâ, tanya mas Hide ketika melewati department store yang besar. âInes mau beli bikini boleh gak masâ, tanyaku. âBoleh aja, ntar dipake kalo berenang sama aku yaâ, jawabnya. âMemangnya kita mau berenang mas?â Tanyaku. âIya berenang di ranjangâ, jawabnya sambil tersenyum. âMaunyaâ, jawabku sambil mencubit pinggangnya. âBeli bikininya yang seksi ya Nesâ, katanya. Aku memilih bikini yang seksi dan mini. âIni bagus gak masâ, tanyaku. âBagus, beli aja beberapa Nes, biar tiap ronde kamu pake bikini yang berlainanâ, jawabnya. Aku memlihi beberapa bikini, kemudian mas Hide juga membelikan aku pakaian, juga daleman yang seksi, minim dan tipis. Dalemannya juga model bikini, yaitu yang ditaliin bra dan cd nya. Setelah itu aku diajaknya cari makanan. Kenyang baru kembali ke hotel. Di kamar, langsung aja mas Hide nyuruh aku pake bikini yang baru dibeli. âBuat menghangatkan suasana Nesâ, katanya sambil mengeluarkan soft drink yang dibelinya di airport dari lemari es.
Mas Hide melotot melihat aku muncul dengan bikiniku yang minim dan seksi itu. Toketku seakan mau tumpah dari branya yang minim sekali. Demikian pula jembutku berhamburan dari cd bikini yang model g string itu. âNes, duduk disebelahku, kamu mau gak aku pijitinâ, tanyanya. Dia hanya memakai celana panjangnya saja. Akupun duduk membelakanginya. Dia mulai memijit pelan keningku dari belakang. Tak terasa dari kening turun ke kuduk. Aku hanya terpejam saja menikmati pijitannya, turun lagi ke pundak. âEnak masâ, kataku. âMemangnya mas pernah jadi tukang pijit yaâ, godaku. Dia diam saja, tapi tangannya meluncur ke toketku. Jarinyanya mulai menelusuri toketku, dielus2nya dengan lembut. Aku terdiam, napasku mulai memburu terengah. Jarinya diselipkan ke braku dan mengkilik2 pentilnya. Pentilku langsung mengeras, âMaasâ, lenguhku. Dia langsung saja meremes2 toketku dengan penuh napsu.
Aku bersandar di dadanya yang bidang. Dia mulai menciumi leherku sementara kedua toketku terus saja diremes2, sehingga napsuku makin berkobar. Kemudian dia minta aku berbalik sehingga kami duduk berhadapan. Aku tak menunggu lama, dia segera mengecup bibirku. Kubalas dengan ganas. Bibirku dikulumnya, lidahnya menjalar didalam mulutku sementara tanganku segera turun mencari tongkolnya. Kuusap2, terasa sekali tongkolnya sudah ngaceng berat, keras sekali. Segera ikat pinggangnya kubuka, celananya kubuka. Dia berdiri sehingga celana panjangnya meluncur ke lantai. tongkolnya yang besar panjang itu nongol dari bagian atas CD nya yang mini.
Kami segera bergelut. Dia terus meremas-remas toketku sementara aku mengocok tongkolnya. âMas keras banget, gede lagiâ, kataku sambil jongkok didepannya, melepas cdnya dan menciumi tongkolnya dan menghisap daerah sekelilingnya termasuk biji pelernya. âAah Nes, kamu pinter banget bikin aku nikmatâ, erangnya. âaaaduuuuuhhâŠ. NesâŠ.. enak banget emutanmuâ. tongkolnya kujilati seluruhnya kemudian kumasukkan ke mulutku, kukulum dan kuisep2. Kepalaku mengangguk2 mengeluar masukkan tongkolnya di mulutku. Akhirnya dia gak tahan lagi. Aku dibaringkannya diranjang. Sambil terus meremas2 toketku tangan satunya nyelip ke balik cd bikiniku yang g string itu. Otomatis pahaku mengangkang, sehingga dia dengan mudah mempermainkan jembutku yang lebat. âMas, geliâ, erangku. âgeli apa nikmat Nesâ, tanyanya. âDua2nya mas, Ines di***** dong mas, udah kepengin banget nihâ, kataku to the point.
Tangannya menyusup ke punggungku sambil mengecup bibirku. Tali pengikat braku ditariknya sehingga toketku membusung menantang untuk diremas dan dikenyot pentilnya, tanpa penutup lagi. Ikatan CD bikiniku ditariknya dengan mulutnya sehingga lepaslah semua penutup tubuhku yang minim. âNes kamu napsuin banget dehâ, katanya. DIa langsung saja menindihku. tongkolnya diarahkan ke belahan memiawku yang sudah basah dan sedikit terbuka, lalu dia menekan tongkolnya sehingga kepala tongkolnya mulai menerobos masuk memiawku. Aku mengerang keenakan sambil memeluk punggungnya.Dia kembali menciumi bibirku. Lidahnya menjulur masuk mulutku lagi dan segera kuisep2. sementara itu dia terus menekan pantatnya pelan2 sehinggga kepala tongkolnya masuk memiawku makin dalam dan blessâŠâŠ tongkolnya sudah masuk setengahnya kedalam memiawku. âAah, tongkol mas nikmat banget masâ, erangku sambil mencengkeram punggungnya. Kedua kakiku kulingkarkan di pinggangnya sehingga tongkol besarnya langsung ambles semuanya di memiawku. âMas, ssh, enak mas, terusinâ, erangku.
Aku menggeliat2 ketika dia mulai mengeluarmasukkan tongkolnya di memiawku. Aku mengejang2kan memiawku meremes2 tongkolnya yang sedang keluar masuk itu. âNes, nikmat banget empotan memiaw kamuâ, erangnya. Dia memelukku dan kembali menciumi bibirku, dengan menggebu2 bibirku dilumatnya, aku mengiringi permainan bibirnya dengan membalas mengulum bibirnya. Terasa lidahnya menerobos masuk mulutku. Dia mengenjotkan tongkolnya keluar masuk makin cepat dan keras, aku menggeliatkan pinggulku mengiringi keluar masuknya tongkolnya di memiawku. Setiap kali dia menancapkan tongkolnya dalam2 aku melenguh keenakan. Terasa banget tongkolnya menyesaki seluruh memiawku sampe kedalem. Karena lenguhanku dia makin bernapsu mengenjotkan tongkolnya. Gak bisa cepet2 karena kakiku masih melingkar dipinggangnya, tapi cukuplah untuk menimbulkan rangsang nikmat di memiawku. Kenikmatan terus berlangsung selama dia terus mengenjotkan tongkolnya keluar masuk, akhirnya aku gak tahan lagi. Jepitan kakiku di pinggangnya terlepas dan kukangkangkan lebar2. Posisi ini mempermudah gerakan tongkolnya keluar masuk memiawku dan rasanya masuk lebih dalam lagi.
Tidak lama kemudian aku memeluk punggungnya makin keras âMas, Ines mau nyampe masâ. âKita bareng ya Nesâ, katanya sambil mempercepat enjotannya. âMas, gak tahan lagi mas, Ines nyampe mas,aakhâ, jeritku saking nikmatnya. Kakiku kembali kelingkarkan di pinggangnya sehingga tongkolnya nancep dalam sekali di memiawku. memiawku otomatis mengejang2 ketika aku nyampe sehingga bendungan pejunya bobol juga. âAkh Nes, aku ngecret Nes, akhâ, dia mengerang sambil mengecretkan penjunya beberapa kali di memiawku. Dengan nafas yang terengah engah dan badan penuh dengan keringat, aku dipeluknya sementara tongkolnya masih tetep nancep di memiawku. aku menikmati enaknya nyampe. Setelah gak ngos2an, dia mencabut tongkolnya dari memiawku. Tongkolnya berlumuran lendir memiawku dan pejunya sendiri. Dia berbaring disebelahku. ânes, kamu nikmat banget deh kalo di*****. Kamu yang paling nikmat dari semua abg yang pernah aku *****â, katanya sambil mengelus2 pipiku. âmakanya Ines tinggal sama mas aja ya, biar mas gak usah repot cari abg kalo pengen ng*****. Udah tersedia di rumahâ, kataku sambil tersenyum. Dia diam saja.
Hari sudah gelap ketika kami selesai ng*****. Aku merasa lapar lagi,padahal tadi menjelang sore baru makan. âMas, Ines laper lagi masâ, kataku. âIya Nes, aku juga laper lagi nih, abis kerja keras sihâ, jawabnya. âMandi yukâ ajaknya. Kami bercanda-canda di kamar mandi seperti anak kecil saling menggosok dan berebutan sabun, dia kemudian menarik tubuhku merapat ke tubuhnya. Aku duduk dipangkuannya dan tangannya mengusap2 pahaku. âKamu cantik sekali, Nesâ, rayunya. Tangannya pidah ke bukit memiawku mempermainkan jembutku yang lebat. Dia bisa melakukan itu karena aku mengangkangkan pahaku.
Tangannya terus menjalar ke atas ke pinggangku. âgeli masâ, kataku ketika tangannya menggelitiki pinggangku. Aku menggeliat2 jadinya. Segera tangannya meremes2 toketku.âtoket kamu besar ya Nes, kenceng lagiâ, katanya. âmas suka kanâ, jawabku. âya Nes, aku suka sekali setiap inci dari tubuhmuâ, jawabnya sambil terus meremes2 toketku. DIa kemudian mencium bibirku. Akhirnya usailah kemesraan di kamar mandi. Kami saling mengeringkan badan, berpakaian â aku mengenakan pakaian yang dibelikannya tadi. âbagus gak masâ, kataku memamerkan pakian baruku. âBagus Nes, kamu pake apa juga bagus, kamu cantik banget sihâ. jawabnya. âKalo gak pake baju masâ, kataku lagi. âlebih bagus lagi, napsuinâ, jawabnya. âMakan yuâ. Kami keluar kamar sambil berpelukan, mencari tempat yang romantis untuk makan malam. Sehabis makan, kami jalan2 untuk mennikmati suasana malam di singapore. Hampir tengah malem baru balik ke hotel.
Di kamar, aku kembali mengenakan bikiniku yang lain, dia sudah berbaring diranjang hanya mengenakan cd. tongkolnya yang belum aku apa2in sudah ngaceng berat, nongol keluar dari bagian atas cd minimnya.Aku menjatuhkan dirinya dipelukan dadanya yang bidang. Segera dia mengecup bibirku, beralih ke leherku dan kemudian turun ke toketku. Toketku diremes2nya, aku terengah, napsuku berkobar lagi. Braku disingkapkan sehingga pentilku nongol dan diemutnya.
Ikatan braku diuraikannya sehingga dia makin mudah meremas toket dan mengemut pentilku. Tangan satunya menjalar kebawah, menyelip ke balik cd bikiniku yang minim dan langsung menerobos lebatnya jembutku dan mengilik2 itilku. âaakh mas, pinter banget ngerangsang Inesâ, erangku. Aku mengangkangkan pahaku supaya kilikannya di itilku makin terasa. Kilikan di itilku membuat aku makin liar. Tanganku mencari tongkolnya, kuremes dan kepalanya yang nongol kukocok2. Aku bangkit dari pelukannya dan membuka cdnya. tongkolnya langsung tegak berdiri dengan kerasnya. tongkolnya kuraih, aku jilati. Pertama cuma kepalanya aku masukkan ke mulutku dan kuemut2. Dia meraih pantatku dan menarik aku menelungkup diatasnya. Ikatan cdku dilepasnya sehingga terpampanglah memiawku di depan mukanya. Dia mulai menjilati memiawku,aku menggelinjang setiap kali dia mengecup bibir memiawku. Dengan kedua tangannya, dia membuka memiawku pelan2, terasa lidahnya menjulur menjilati bagian dalam bibir memiawku.
Aku melepaskan emutanku di tongkolnya dan mengerang hebat, âMas aakhâ. Pantatku menggelinjang sehingga mulutnya melekat erat di memiawku. âTerus mas aakhâ, erangku lagi, kemudian terasa itilku yang mmnjadi sasaran berikutnya, aku makin mngerang keenakan. memiawku makin kebanjiran lendir yang terus merembes, soalnya aku udah napsu banget. Cukup lama dia mengemut itilku dan akhirnya âMas, Ines nyampe mas, aakhâ, erangku. âMas nikmat banget deh, belum di***** udah nikmat begini maasâ. Aku memutar badanku kesamping dan berbaring disebelahnya. Dia bangun dan mencium bibirku. Dia mengambil soft drink dan diberikannya kepadaku. Aku minum sedikit untuk meredakan napasku yang ngos ngosan. Kemudian aku dinaikinya, ditancapkannya tongkolnya kememiawku dan didorongnya masuk pelan2, âMas, enak, masukin semuanya mas, teken lagi mas, akhâ, erangku merasakan nikmatnya tongkolnya nancep lagi di memiawku. Dia mengenjotkan keluar masuk, ketika tongkolnya sudah nancep kira2 separonya, dia menggentakkan pantatnya kebawah sehingga langsung aja tongkolnya ambles semuanya di memiawku. âMas, aakhâ, erangku penuh nikmat.Dia mengenjotkan tongkolnya keluar masuk makin cepet, sambil menciumi bibirku sampe akhirnya, âMas, Ines nyampe mas, oohâ, aku mengejang2 saking nikmatnya. memiawku otomatis ikut mengejang2. Dia meringis2 keenakan karena tongkolnya diremes2 memiawku dengan keras, tapi dia masih perkasa. Kemudian dia mencabut tongkolnya dan minta aku nungging.
Dia menciumi kedua bongkahan pantatku, dengan gemas dia menjilati dan mengusapi pantatku. Mulutnya terus merambat ke selangkanganku. Aku mendesis merasakan sensasi waktu lidahnya menyapu naik dari memiawku ke arah pantatku. Kedua jarinya membuka bibir memiawku dan dia menjulurkan lidahnya menjilati bagian dalem memiawku. Aku makin mendesah gak karuan, tubuhku menggelinjang. Ditengah kenikmatan itu, dia dengan cepat mengganti lidahnya dengan tongkolnya. Aku menahan napas sambil menggigit bibir ketika tongkol besarnya kembali nancep di memiawku. âMasâ, erangku ketika akhirnya tongkolnya ambles semuanya di memiawku. Dia mulai mengenjotkan tongkolnya keluar masuk, mula2 pelan, makin lama makin cepat dan keras. Aku kembali mendesah2 saking enaknya. Toketku diremes2nya dari belakang, tapi enjotan tongkolnya jalan terus. Ditengah kenikmatan, dia mengganti posisi lagi, dia duduk di sofa dan aku duduk dipangkuannya membelakanginya. tongkolnya sudah nancep semuanya lagi di memiawku. Aku mengangkat kedua tanganku dan melingkari lehernya, lalu menolehkan kepalaku sehingga dia langsung melumat bibirku. Aku semakin cepat menaik turunkan badanku sambil terus ciuman dengan liar. Tangannya gak bosen2nya ngeremes toketku.
Pentilku yang sudah keras itu diplintir2nya. Gerakanku main liar saja, aku makin tak terkendali menggerakkan badanku, kugerakkan badanku sekuat tenaga sehingga tongkolnya nancep dalem banget. âMas, Ines dah mau nyampe lagi mas, aduh mas, enak bangetâ, erangku. Tau aku udah mau nyampe, dia mengangkat badanku dari pangkuannya sehingga tongkolnya yang masih perkasa lepas dari memiawku. âKok brenti masâ, tanyaku protes. Aku ditelentangkan lagi diranjang, aku dinaikinya dan kembali ditancepkannya tongkolnya kedalam memiawku. Dengan sekali enjot, tongkolnya sudah ambles semuanya. Dia mulai mengenjotkan tongkolnya keluar masuk dengan cepat. memiawku mulai berkontraksi, mengejan, meremes2 tongkolnya, tandanya aku dah hampir nyampe. Dia makin gencar mengenjotkan tongkolnya, dan âMas, Ines nyampe mas, akhâ, jeritku. Diapun merasakan remesan memiawku karena nyampe. enjotannya makin cepat saja sehingga akhirnya, âNesâŠâ dia berteriak menyebut namaku dan terasa pejunya ngecret dengan derasnya di memiawku. âMas, nikmat banget ya malem ini, lagi masâ, tanyaku. âistirahat ya Nes, besok aku kan mesti ke Johor Baru, nanti letoyâ, jawabnya. Dia mencabut tongkolnya dan terkapar disebelahku. Tak lama kemudian aku terlelap karena lemes dan nikmat.
Aku terbangun karena sinar matahari yang menerangi kamar. Dia ternyata sudah rapi dan membangunkanku dengan membuka tirai jendela. âEnak bener tidurnya Nes, aku udah mau pergi. Di amplop ada Sing dollar, terserah kamu mau pake buat apa, ikut tur, belanja lagi, makan atau apa saja deh. Nanti aku kabari apakah aku pulang malem ini atau besok, ya sayangâ, katanya sambil mencium pipiku. âYah kalo mas gak pulang malem ini, Ines ngapain dongâ, jawabku merajuk. âYa kamu bikin kegiatan sediri aja, tadi malem kan udah sampe lemes ng*****nya. Kalo gak sempet ng***** lagi di hotel, di jakarta kan juga masih banyak kesempatanâ, katanya menghiburku. âUdah ya, aku pergi duluâ. Diapun meninggalkan kamar. Aku masih terbaring bermalas2an di ranjang. Walaupun aku masih bertelanjang bulat, dia tetap saja pergi berbisnis tanpa mencolek2 aku pagi ini. Ya udah mau apa lagi kan, dinikmati saja, apalagi dia meninggalkan sejumlah uang yang tidak sedikit.
Aku masih terkapar beberapa lama di ranjang, kemudian aku mandi dan turun ke coffee shop untuk makan pagi. Di coffee shop aku terpesona melihat pemandangan di kolam renang, kolam dengan air yang membiru dan dikelilingi pepohonan rindang sehingga teduh sekali di sekitar kolam renang. Saat itu kolamnya masih sepi. Timbul ide ku untuk bermalas2an di kolam renang saja. Aku kembali kekamar, mengenakan bikiniku yang tidak terlalu minim untuk menyembunyikan jembutku agar tidak terlalu ngintip keluar, aku mengenakan sarung dan turun lagi ke kolam renang. Aku memilih tempat yang strategis sehingga dapat mengawasi seluruh kolam, pesan minuman dan berbaring saja didipan, sarung kulepaskan. Aku mengenakan kacamata hitam. Pesanan minumanku datang dan langsung kucicipi. Kemudian aku hanya berbaring saja melamun, lama2 kantuk kembali menyerangku, sehingga tanpa terasa aku tertidur lagi. Tidak tau berapa lama aku tertidur, aku terbangun karena ada suara yang menggeser dipan disebelahku. Aku melihat ada cowok bule ganteng banget dan badannya kekar. Ngantukku langsung hilang melihat ketampananannya. Walaupun wajahnya bule, tapi kulitnya gak putih tapi agak kecoklatan dan rambutnya hitam. Dia cuma pake celana pendek gombrong. Dadanya telanjang dan berbulu.
âSori, aku mengganggu tidurmu?â, tanyanya sambil tersenyum. âNamaku Mike, kamu?â. Dia bicara bahasa Inggris. Aku membuka kacamataku, mataku masih memperlihatkan keterpesonaannku. Dia hanya tersenyum kutatap seperti itu. âBisa cakap Melayu?â tanyaku. âBisa, walaupun tidak lancar. Ayahku orang Inggris dan ibuku orang Malay. Aku tinggal di KL dan berada di Singapore untuk satu urusan. Kamu sendiri?â, jawabnya sambil bertanya. âAku Ines, Temanku sedang ke Johor Bahru untuk bisnisnya. Dia baru pulang nanti sore kalo urusannya selesai, kalo belum ya besokâ, jawabku. âKasian sekali, ke Singapore tidak ada kawan. Boleh aku temani?â tanyanya lagi. âDengan senang hatiâ, jawabku. âInes, kamu cantik dan seksi sekaliâ, katanya memuji. âAku suka sekali sama prempuan Malay, kulitnya tidak putih dan montok2?, katanya sambil tersenyum. Kami terlibat dalam obrolan yang seru,ngantukku langsung hilang. Tanpa terasa sudah menjelang siang. Dia mengajakku makan siang, âpesan saja dan kita makan di sini, OK?â tanyanya. âOKâ, jawabku. Kami pesan makanan dan terus ngobrol sampai pesanan makanan datang. Selesai makan, dia mengajakku nerusin ngobrol di kamarnya. Aku sudah menduga apa maksudnya. Aku mengiyakan saja, memakai sarungku dan mengikuti dia naik kekamarnya.
Di kamar,dia berbaring diranjang dan aku duduk disebelahnya. âNes, aku napsu sekali liat badan kamuâ, katanya terus terang. Langsung kulirik daerah tongkolnya, kelihatannya sudah mulai ngaceng karena kelihatan ngegelembung. Dia mengelus2 punggungku, terus tangannya pindah mengelus pahaku, merayap makin dalam sehingga menggosok memiawku dari luar CD bikiniku. Aku mengangkangkan pahaku sehingga jarinya menggosok2 belahan memiawku, tetap dari luar cd. âSsh Mikeâ, erangku. âNes, kamu maukan ng***** dengan akuâ, tanyanya sambil tersenyum, jarinya terus saja mengelus belahan memiawku dari luar. Dia mulai menjilati pahaku, jilatannya perlahan menjalar ketengah. Aku hanya dapat mencengkram sprei ketika kurasakan lidahnya yang tebal dan kasar itu menyusup ke pinggir cd bikiniku yang disingkirkan dengan jarinya lalu menyentuh bibir memiawku. Bukan hanya bibir memiawku yang dijilatinya, tapi lidahnya juga masuk ke liang memiawku, rasanya wuiihh..gak karuan, geli-geli enak. Tangannya yang terus mengelus paha dan pantatku mempercepat naiknya napsuku.
Sesaat kemudian, dia menarik lepas ikatan cd bikiniku. Matanya seperti mau copot melihat memiawku yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi. Dia mendekap tubuhku dari belakang dalam posisi berbaring menyamping. Dengan lembut dia membelai permukaannya yang ditumbuhi jembut yang lebat. Sementara tangan yang satunya mulai naik ke toketku, darahku makin bergolak ketika telapak tangannya yang kasar itu menyusup ke balik bra-ku kemudian meremas toketku dengan gemasnya. âNes, toket kamu besar dan keras. Jembut kamu lebat sekali, pasti napsu kamu besar yaâ tanyanya dekat telingaku sehingga deru nafasnya serasa menggelitik. Aku hanya terdiam dan meresapi dalam-dalam elusan-elusan pada daerah sensitifku. Dia makin getol, jari-jarinya kini bukan hanya mengelus memiawku tapi juga mulai mengorek-ngoreknya, cup bra-ku yang sebelah kanan diturunkannya sehingga dia dapat melihat jelas toketku dengan pentil yang sudah mengeras. Aku merasakan tongkol keras di balik celananya yang digesek-gesek pada pantatku. Dia kelihatan sangat bernafsu melihat toketku yang montok itu, tangannya
meremas-remas dan terkadang memilin-milin pentilnya. Remasannya semakin kasar dan mulai meraih yang kiri setelah dia pelorotkan cup-nya. Ketika dia menciumi leherku, terasa olehku nafasnya juga sudah memburu, bulu kudukku merinding waktu lidahnya menyapu kulit leherku disertai kecupan. Aku hanya bisa meresponnya dengan mendesah dan merintih, bahkan menjerit pendek waktu remasannya pada toketku mengencang atau jarinya mengebor memiawku lebih dalam.
Kecupannya bergerak naik menuju mulutku meninggalkan jejak berupa air liur dan bekas gigitan di permukaan kulit yang dilalui. Bibirnya akhirnya bertemu dengan bibirku menyumbat eranganku, dia menciumiku dengan gemas. Dia bergerak lebih cepat dan melumat bibirku. Mulutku mulai terbuka membiarkan lidahnya masuk, dia menyapu langit-langit mulutku dan menggelikitik lidahku dengan lidahnya sehingga lidahku pun turut beradu dengannya. Kami larut dalam birahi, aku memainkan lidahku di dalam mulutnya. Setelah puas berciuman, dia melepaskan dekapannya dan melepas kolor celana pendeknya. Maka menyembullah tongkolnya yang
sudah ngaceng dari tadi. Aku melihat takjub pada tongkol yang begitu besar dan berurat, belum pernah aku melihat tongkol sebesar dan sepanjang tongkolnya. Ini tongkol terbesar dan terpanjang yang pernah kulihat. Kebayang besarnya kenikmatan yang akan aku dapatkan kalo tongkol extra besar itu keluar masuk di memiawku. Akupun pelan-pelan meraih tongkolnya, ya ampun tanganku tak muat menggenggamnya, sungguh fantastis ukurannya. âAyo Nes, emutin tongkolkuâ katanya. Kubimbing tongkol dalam genggamanku ke mulutku , uuhh.. susah sekali memasukkannya karena ukurannya. Terasa asin waktu lidahku menyentuh kepalanya, namun aku terus memasukkan lebih dalam ke mulutku lalu mulai memaju-mundurkan kepalaku. Selain mengemut tanganku turut aktif mengocok ataupun memijati biji pelirnya. âUaahh.. ennakk banget, kamu udah pengalaman yahâ ceracaunya menikmati emutanku, sementara tangannya yang bercokol di toketku sedang asyik memelintir dan memencet pentilku. Tangan kanannya tetap saja mempermainkan memiaw dan itilku. Aku menggelinjang gak karuan, tapi tongkolnya tetap saja aku emut. Aku hanya bisa melenguh tidak jelas karena mulutku penuh dengan tongkolnya yang besar. âNes, kita mulai aja ya. Aku udah gak tahan nih pengen menikmati memiaw kamuâ, katanya. Dia menelentangkanku, ikatan braku dilepasnya dengan sekali tarikan. Dia mengambil posisi ditengah kangkanganku, tongkolnya yang besar dan keras diarahkannya ke memiawku yang sudah makin basah. Aku menggeliat2 ketika kurasakan betapa besarnya tongkol yang menerobos masuk memiawku pelan2. memiawku berkontraksi kemasukan tongkol gede itu. ânes, memiaw kamu peret bangetâ, katanya sambil terus menekan masuk tongkolnya pelan2. âabis tongkol kamu besar sekali. memiaw Ines belum pernah kemasukan yang sebesar tongkol kamu, masukin terus Mike, nikmaat banget deh rasanyaâ, jawabku sambil terus menggeliat. Setengah tongkolnya telah masuk. Dan satu sentakan berikutnya, seluruh tongkolnya telah ada di dalam memiawku. Aku hanya memejamkan mata dan menengadahkan muka saja karena sedang mengalami kenikmatan tiada tara. Dia mulai mengenjotkan tongkolnya keluar masuk dengan pelan, makin lama makin cepat karena enjotannya makin lancar. Terasa memiawku mengencang meremas tongkolnya yang nikmat banget itu. Tangannya mulai bergerilya ke arah toketku. ToketKu diremas perlahan, seirama dengan enjotan tongkolnya di memiawku. Aku hanya menoleh ke kanan dan ke kiri, Pinggulku mengikuti goyangan pinggulnya. tongkolnya terus saja dikeluar masukkan mengisi seluruh relung memiawku. Sambil mengenjotkan tongkolnya, dia mengemut pentilku yang keras dengan lembut. Dimainkannya pentil kanan dengan lidahnya, namun seluruh permukaan bibirnya membentuk huruf O dan melekat di toketku. Ini semua membuat aku mendesah lepas, tak tertahan lagi. Dia mulai mempercepat enjotannya. Aku makin sering menegang, dan merintih, âAh⊠ahâŠâ Dalam enjotannya yang begitu cepat dan intens, aku menjambak rambutnya, âAaahhh Mike, Ines nyampee,â lenguhan panjang dan dalam keluar dari mulutku. Aku udah nyampe. Tanganku yang menjambak rambutnya itu pun terkulai lemas di pundaknya. Dia makin intens mengenjotkan tongkolnya. Bibirku yang tak bisa menutup karena menahan kenikmatan itu pun dilumatnya, dan aku membalasnya dengan lumatan juga. Kami saling berpagut mesra sambil bergoyang. Tangan kanannya tetap berada
ditoketku, meremas-remas, dan sesekali mempermainkan pentilku. Terasa memiawku mencengkeram tongkol gedenya. âUhhh,â dia mengejang. Satu pelukan erat, dan sentakan keras, tongkolnya menghujam keras ke dalam memiawku, mengiringi muncratnya pejunya. Tepat saat itu juga aku memeluknya erat sekali, mengejang, dan menjerit, âAahhhâ. Kemudian pelukanku melemas. Aku nyampe untuk kedua kalinya, namun kali ini berbarengan dengan ngecretnya pejunya. Setelah dengusan napas mereda, dia mencabut tongkolnya dari memiawku dan terkapar disebelahku. âMike, tongkol kamu lemes aja udah gede, gak heran kalo ngaceng jadi gede banget. Bener kata temen Ines, makin gede tongkol yang masuk, makin nikmat rasanyaâ, kataku. âmemangnya tongkol yang biasanya masuk ke memiaw kamu kecil2 ya Nesâ, tanyanya. âGede2 sih Mike, tapi gak ada yang segede tongkol kamu, tapi nikmat banget dehâ, jawabku sambil menguap. âIya Nes, aku sering ng***** dengan perempuan Malay, tapi dengan kamu yang paling nikmat.memiaw kamu kenceng sekali njepit tongkolku dan empotannya luar biasaâ, katanya memuji. Aku cuma tersenyum, Tak lama kemudian aku terlelap. Aku terbangun karena hpku bunyi, sms dari mas Hide yang mengabarkan bahwa dia gak pulang malem ini, aku disuruh have fun sendiri. dia akan pulang sebelum makan siang, supaya bisa makan siang dengan aku sebelum check in di airport. âMike, temenku baru kembali besok sebelum makan siang. Jadi kita akan punya banyak waktu untuk dinikmati yaâ, kataku kepada dia yang juga sudah terbangun. Dia hanya tersenyum. âAYo mandi, abis itu kita cari makan dan menikmati night life di Singaporeâ, jawabnya sambil bangkit dari ranjang menuju kamar mandi. Gak lama kemudian dia sudah keluar dari kamar mandi dan giliranku untuk membersihkan diri. Setelah rapi berpakaian, dia mengajakku keluar, ternyata sudah gelap. Dia mencari tempat makan yang romantis ditepi laut, Habis makan dia mengajakku ke pub untuk melewatkan malam. Lewat tengah malam baru kami kembali ke hotel.
Aku membuka pakaianku dan hanya mengenakan daleman yang tipis berbaring diranjang, diapun segera melepas pakaiannya meninggalkan cd nya saja dan berbaring disebelahku. kemudian tangannya mulai meremas-remas pantatku dengan gemas. setelah itu tangannya mulai menyusup ke dalam cdku dan meremas kembali pantatku dari dalam. Kemudian, dia mengangkat satu kakiku dan menahannya selagi tangan satunya meraih memiawku. âOhh.. Mike,â rintihku. kurasakan napsuku mulai naik, Jarinya dengan lincah menggosok-gosok lubang memiawku yang mulai basah. Nafasku juga mulai cepat dan berat. ia membuka cdku dan membuka lebar-lebar pahaku sehingga memiawku terpampang lebar untuk dijelajahi oleh tangannya. dengan sigap tangannya kembali meraih memiawku dan meremasnya. Dia menjilati telingaku ketika tangannya mulai bermain diitilku. Napsuku sudah tak tertahankan lagi. Aku mulai mendesah-desah tak keruan. Jilatan maut di telingaku menambah nafsuku. Dia terus menekan-nekan itilku dari atas ke bawah. aku meracau tak karuan. âAhh.. Shh.. Mikeâ desahku bernafsu. Jarinya dengan lihai menggosok-gosok dan menekan itilku dengan berirama. Rasanya bagaikan melayang dan desahanku berubah menjadi rintihan kenikmatan. Tak sampai 15 menit kemudian, aku nyampe. âMike, nikmat banget, belum di***** saja sudah nikmat,â desahku, tanganku meremas tangannya yang sedang bermain di itilku dengan bernafsu. Di luar perkiraanku, dia malah memperkeras dan mempercepat gerakannya. Dia merentangkan kedua pahaku. Kurasakan jilatan lidah di bibir memiawku, rasa menggelitik yang luar biasa menyerang tubuhku. Jilatan itu menjalar ke itilku, kurasakan gigitan lembut di itilku yang kian merangsang napsu-ku. Aku melenguh keras disertai jeritan-jeritan kenikmatan yang seakan menyuruh dia untuk terus dan tak berhenti. Melihat reaksiku, dia terus menggesekan jarinya di liang memiawku yang sudah membanjir. Tak kuasa menahan nikmat, aku pun mendesah keras terus-menerus. Aku meracau tidak beraturan. Kemudian
kurasakan sensasi yang luar biasa nikmatnya tak lama kemudian. memiawku mengeluarkan cairan deras bening, aku nyampe untuk kedua kalinya. âmike, oohâ, lenguhku. Dia membuka braku dan meremas toketku dengan sangat keras. Aku melenguh sakit, kemudian pentilku yang menjadi sasaran berikutnya, dipilin dan dicubitnya pelan. Napsuku kembali berkobar, memiawku kembali membasah, âmike, *****in Ines sekarang, Ines udah napsu banget Mikeâ, erangku. Diapun mencopot cdnya, tongkol besarnya sudah ngaceng berat mengangguk2. Dia menggesekkan kepala tongkolnya ke bibir memiawku yang sudah basah. Aku merasakan sensasi lebih daripada jilatan lidahnya di memiawku sebelumnya hingga kutanggapi sensasi luar biasa itu dengan rintihan keras kenikmatan. âAhh! Mike.. Ohh.. *****in Inesâ racauku. Dengan perlahan ia memasukkan kepala tongkol ke dalam memiawku, segera dia menyodok-nyodok tongkolnya dengan kuat dan keras di memiawku. Rasanya nikmat sekali. Dia mendesah terus-menerus memuji kerapatan dan betapa enaknya memiawku. tongkolnya yang panjang dan besar terasa menyodok bagian terdalam memiawku hingga membuatku nyampe lagi. âMike, Ines nyampe Mike, aakh nikmatnyaâ, erangku. Kemudian dia membalikkan badanku yang telah lemas dan menusukkan tongkolnya ke dalam memiawku dari belakang. Posisi doggie ini lebih nikmat karena terasa lebih menggosok dinding memiawku
yang masih sensitif. âOh Ines.. memiawmu bagaikan sorga, Mau deh aku ng*****in kamu tiap hari Ahh..â Akhirnya setelah menggenjotku selama setengah jam, dia ngecret didalam memiawku. Pejunya terasa dengan kuat menyemprot dinding memiawku. Dia menjerit-jerit nikmat dan badannya mengejang-ngejang. Tangannya dengan kuat meremas toketku dan menarik-narik pentilku. Setelah reda, dia berbaring di sebelahku dan menjilati pentilku. Pentilku disedot-sedot dan digerogotinya dengan gemas. Tampaknya dia ingin membuatku nyampe lagi.
Tangannya kembali menjelajahi memiawku, namun kali ini jarinya masuk ke dalam memiawku. Dia
menekan-nekan dinding memiawku. Ketika sampai pada suatu titik, badanku mengejang nikmat dan
dia tampaknya senang sekali hingga jarinya kembali menggosok-gosok daerah rawan itu dan menekannya terus menerus. Wow! Rasanya ajaib sekali! nikmatnya tak tertahankan. Ternyata itulah G-Spot. Aku tidak bertahan lama dan akhirnya nyampe lagi untuk kesekian kalinya. Badanku mengejang dan memiawku kembali berlendir. âMike nikmat banget deh malem ini, Ines mau deh tinggal sama kamu asal di***** pake tongkol besar kamu tiap malem, kamu bisnis di Jakarta aja, nanti Ines tinggal sama kamuâ, kataku. Pinter banget dia merangsang aku dan membuat aku nyampe, baik pake tongkolnya maupun pake jarinya. Segera akupun tertidur kelelahan.
Ketika kau terbangun hari udah siang, dia masih saja mendengkur disampingku. Aku bangun ke kekamar mandi untuk kencing, cuci muka dan sikat gigi. Ketika kembali ke ranjang dia masih saja mendengkur. Aku ngintip dibalik korden kamar, matahari udah tinggi juga. Aku melihat jam tanganku, udah jam 8 lewat. Korden kusibakkan, dia terbangun karena silau, matanya dipicingkan untuk mengurangi silaunya sinar yang masuk kamar. kulihat tongkolnya sudah tegak seperti tiang bendera. dia ke kamar mandi, terdengar kloset berbunyi, rupanya dia kencing. gak lama lagi terdengar dia menyikat gigi. ketika dia kembali ke kamar, aku udah berbaring di ranjang lagi menantikan serangan pagi. aku melihat tongkol besarnya masih aja ngaceng dengan kerasnya walaupun dia udah kencing. Dia duduk disampingku dan mencium bibirku. âPagi sayang, kita main lagi yoâ, ajaknya. Kembali dia menciumku, aku menyambut ciumannya dengan napsu juga, bukan cuma bibir yang main, lidah dan ludah pun saling belit dan campur baur dengan liarnya. Sebelah kakiku ngelingker di pinggulnya supaya lebih mepet lagi. Tangannya mulai main, menjalari pahaku. Tangannya terus menjalar sampai menyentuh celah di pangkal pahaku. memiawku digelitik-gelitik. Aku menggelepar merasakan jari-jarinya yang nakal.
Bibir kulepas dari bibirnya. âHmmhhhâŠenak, Mike.â jeritku. jari-jarinya tambah nakal, menusuk lubang memiawku yang sudah berlendir dan mengocoknya. Aku tambah menjerit-jerit.
âMikeâŠhhhâŠmasukkin tongkol kamu, Ines udah nggak tahan..hhhhâŠhhhâŠâ Dia segera memposisikan diatasku yang sudah telentang mengangkang. tongkolnya ditancapkan ke memiawku, aku melenguh keenakan, âMike tongkol kamu nikmat banget dehâ. tongkolnya didorongnya lagi sampai mentok. âMike..oohhh..nikmatnyaâ jeritku. tongkolnya dikocok keluar masuk memiawku. aku mulai mengejang-ngejang lagi dan bibirku tak henti-henti menyuarakan kenikmatan. Kurang lebih dua puluh menitan akhirnya dia ngecret. Ugh, rasanya enak benerâŠ!pejunya berhamburan keluar, bermuncratan dan menembak-nembak didalam memiawku. Aku sendiri sudah beberapa kali nyampe sampe memiawku mengejang-ngejang keenakan. Lendir dari memiawku membanjirâŠmeleber di paha, betis dan pantatku. Aku menggeletak lemas. Aku dan dia sama-sama mandi keringat.
Nafasnya terengah-engah tak beraturan. Dalam nada tersengal-sengal aku minta lagi, âInes masih kepengen lagiâŠâ. dia merebahkan badannya di sampingku. Dia kembali menciumku. Aku ladenin ciumannya. Dia menindih badanku sambil menciumku. Lidah ketemu lidah, membelit, dan saling menjilat. Aku menggumam gumam kenikmatan, sambil berciuman dia menggoyang-goyang pinggulnya sampai tongkolnya yang telah ngaceng lagi terasa kena di memiawku. Bosen ciuman, bibir dan lidahnya menjalar ke kuping leher bahu, ketiak, terus ke toketku. Dia gemes banget ngeliat pentilku yang lumayan gede, kecoklat-coklatan dan mencuat ke atas itu. Dia menjilat pentilku dengan rakus sampai Aku ngerasa geli. Pentil sebelah kanan digigitnya dengan lembut, lidah nya menggelitik pentilku di sela-sela gigi depannya, sementara toket sebelah kiriku di remas-remas. Tubuhku menggelinjang karena geli dan nikmat. Setelah beberapa saat di permainkan, toketku terasa mengeras dan pentilnya tegak. Lendir memiawku mengalir dan terasa basah di perutku. âMike, gantian Ines yang ngemut tongkol kamu yaâ, kataku sambil menelentangkan badannya diranjang. Aku mulai beraksi. Kupegang tongkolnya dengan kelima jariku. Kukocok-kocok batangnya perlahan. Dia menggumam pelan, âEnak Nes, terus..â Lidahku mulai merambat ke kepala tongkolnya, kujilati cairan yang mulai muncul di lubang kencingnya. Lalu lidahku menggeser ke batangnya, menjelajahi tiap jenjang tongkolnya. Tangan kiriku mengelu-mengelus biji pelernya. âNesâŠâ gumamnya pelan. âenak banget, geli-geli nikmatâ.
Aku hanya tersenyum ngeliat dia merem-melek kayak gitu. Terus aku membuka mulutku dan menjejalkan tongkolnya masuk ke dalam mulutku. tongkolnya kuisep kenceng-kenceng, lalu dengan mulut kukocok tongkolnya turun naik turun naik âŠuuuuggggghhhhâŠsedap .enakâŠmmmmhhhhâŠâ, erangnya. Aku lalu merubah posisiku untuk melakukan 69. aku di atasnya dan menyorongkan pantatkua ke mukanya. Dia nggak nunggu dua kali, langsung aja dia menjilati memiawku yang berlendir dan merekah merah itu. bibirnya menyedot lubang memiawku, menghisap lendirnya. lidahnya dimasukin ke dalam lubang memiawku, menjilati dinding-dinding basah, sementara jari
nya mempermainkan itilku. Aku mengerang-ngerang dengan tongkolnya di mulutku, menyuarakan
kenikmatan. Lendir dari memiawku membajir membasahi mukanya. Aku melepaskan tongkolnya dari mulutku dan meminta dia menyodok aku dari belakang. Waktu tongkolnya masuk, aku hanya merintih pelan. tongkolnya dienjotkan keluar masuk dengan kencang, aku hanya bisa mengejang-ngejang menahan nikmat. Tangannya ikut nimbrung merangsang itilku. Kocokan tongkol di memiawku dan kilikan jarinya di itilku membuat aku mengerang dan menjerit-jerit kenikmatan. Sudah dua kali memiawku berkontraksi karena aku nyampe, tapi dia terus mengocok tongkolnya keluar masuk sampai aku lemes. Cairan memiawku membecek, meleleh turun ke paha. Setelah aku nyampe yang ke empat kali di ronde ke dua itu, dia akhirnya ngecret lagi.
âMike, nikmat banget pagi ini, lebih nikmat dari semalem, aku sampe berkali2 nyampe baru kamu ngecretâ, lenguhku lemes. âKapan kita berbagi kenikmatan lagi Nesâ, tanyanya. âmakanya kamu bisnis di Jakarta saja, nanti Ines tinggal sama kamu. Tiap malem kita bisa berbagi kenikmatan kanâ, jawabku. âOk deh, nanti aku liat kemungkinannyaâ, jawabnya. âKalo kamu ke Jakarta, kontak Ines yaâ, kataku lagi. Dia mencabut tongkolnya dari memiawku dan memesan agar makan pagi dikirim ke kamar untuk 2 orang. Aku segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ketika aku sedang membilas badanku terdengar bel pintu, pasti makan pagi sudah siap. Selesai mandi aku keluar, makan pagi sudah tersedia di meja, Mike sedang menikmati makan paginya. Segera aku nimbrung. Selesai makan, aku pamit kembali ke kamarku, kawatirnya mas Hide sampe lebih awal, dia menciumku lama sekali. Di kamarku aku beberes barang2 ke koper, barang mas Hide juga kubereskan dikopernya. Selesai beberes, terdengar bel, mas Hide sudah nyampe. Aku cuma pake daleman, âBeres bisnisnya masâ, tanyaku. âBeresâ, jawabnya. âKamu udah beberes yaâ, katanya lagi. âines sudah siap ngelayanin mas seronde lagi nihâ, kataku sambil tersenyum. âWaktunya sayang udah mepet Nes, padahal aku udah napsu banget liat kamu cuma pake daleman gini. Nanti cari kesempatan di Jakarta ya sayangâ, jawabnya. âKamu pakaian saja,kita check out dan terus ke airport, cari makannya di airport sajaâ, katanya lagi. Dia gak tau aja bahwa semalem aku sangat menikmati enjotan tongkol yang lebih besar dari tongkolnya.,,,,,,,,,,,,,,,,,,


