Menikmati Memek Mbak Salsa Yang Tembem
Cerita Dewasa Ā· 18+
Mbak Salsa adalah anak tetangga nenekku di desa daerah Cilacap yang ikut dengan keluargaku di Kota Semarang sejak SMP. Waktu SD ia sekolah di desa, setelah itu ia diajak keluargaku di kota untuk melanjutkan sekolah sekaligus membantu keluargaku terutama merawat aku. Kami sangat akrab bahkan di juga sering ngeloni aku. Mbak Salsa ikut dengan keluargaku sampai dia lulus SMA atau aku kelas 2 SD dan dia kembali ke desa. Namanya juga anak kecil, jadi aku belum ada perasaan apa-apa terhadapnya.
Setelah itu kami jarang bertemu, paling-paling hanya setahun satu atau dua kali. Tiga tahun kemudian ia menikah dan waktu aku kelas dua SMP aku harus pindah luar Jawa ke Kota Makassar mengikuti ayah yang dipindah tugas. Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi. Kami hanya berhubungan lewat surat dan kabarnya ia sekarang telah memiliki seorang anak. pada waktu aku lulus SMA aku pulang ke rumah nenek dan berniat mencari tempat kuliah di Kota Yogya.
Sesampai di rumah nenek aku tahu bahwa Mbak Salsa sudah punya rumah sendiri dan tinggal bersama suaminya di desa seberang. Setelah dua hari di rumah nenek aku berniat mengunjungi rumah Mbak Salsa. Setelah diberi tahu arah rumahnya (sekitar 1 km) aku pergi kira-kira jam tiga sore dan berniat menginap. Dari sinilah cerita ini berawal.
Setelah berjalan kurang lebih 20 menit, akhirnya aku sampai di rumah yang ciri-cirinya sama dengan yang dikatakan nenek. Sejenak kuamati kelihatannya sepi, lalu aku coba mengetok pintu rumahnya.
āYa sebentar..ā terdengar sahutan wanita dari dalam.
Tak lama kemudian keluar seorang wanita dan aku masih kenal wajah itu walau lama tidak bertemu. Mbak Salsa terlihat manis dan kulitnya masih putih seperti dulu. Dia sepertinya tidak mengenaliku.
āCari siapa ya?ā tanya Mbak Salsa.
āAnda Mbak Salsa kan?ā aku balik bertanya.
āIya benar, anda siapa ya dan ada keperluan apa?ā Mbak Salsa kembali bertanya dengan raut muka yang berusaha mengingat-ingat.
āMasih inget sama aku nggak Mbak? Aku Pablo Mbak, masak lupa sama akuā, kataku.
āKamu Pablo anaknya Pak Parto?ā kata Mbak Salsa setengah nggak percaya.
āYa ampun Pablo, aku nggak ngenalin kamu lagi. Berapa tahun coba kita nggak bertemu.ā Kata Mbak Salsa sambil memeluk tubuhku dan menciumi wajahku.
Aku kaget setengah mati, baru kali ini aku diciumi seorang wanita. Aku rasakan buah dadanya menekan dadaku. Ada perasaan lain muncul waktu itu.
āKamu kapan datangnya, dengan siapaā kata Mbak Salsa sambil melepas pelukannya.
āSaya datang dua hari lalu, saya hanya sendiri.ā kataku.
āEh iya ayo masuk, sampai lupa, ayo duduk.ā Katanya sambil menggeret tanganku.
Kami kemudian duduk di ruang tamu sambil mengobrol sana-sini, maklum lama nggak tetemu. Mbak Salsa duduk berhimpitan denganku. Tentu saja buah dadanya menempel di lenganku. Aku sedikit terangsang karena hal ini, tapi aku coba menghilangkan pikiran ini karena Mbak Salsa sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri.
āEh iya sampai lupa buatin kamu minum, kamu pasti haus, sebentar ya..ā kata Mbak Salsa ditengah pembicaraan.
Tak lama kemudian ia datang, āAyo ini diminumā, kata Mbak Salsa.
āKok sepi, pada kemana Mbak?ā Tanyaku.
āOh kebetulan Mas Heru (suaminya Mbak Salsa) pergi kerumah orang tuanya, ada keperluan, rencananya besok pulangya dan si Deni (anaknya Mbak Salsa) ikutā jawab Mbak Salsa.
āBelum punya Adik Mbak dan Mbak Salsa kok nggak ikut?ā tanyaku lagi.
āBelum Pablo padahal udah pengen lho.. tapi memang dapatnya lama mungkin ya, kayak si Deni dulu. Mbak Salsa ngurusi rumah jadi nggak bisa ikutā katanya.
āEh kamu nginep disini kan? Mbak masih kangen lho sama kamuā katanya lagi.
āIya Mbak, tadi sudah pamit kokā kataku.
āKamu mandi dulu sana, ntar keburu dinginā kata Mbak Salsa.
Lalu aku pergi mandi di belakang rumah dan setelah selesai aku lihat-lihat kolam ikan di belakang rumah dan kulihat Mbak Salsa gantian mandi. Kurang lebih lima belas menit, Mbak Salsa selesai mandi dan aku terkejut karena ia hanya mengenakan handuk yang dililitkan di tubuhnya. Aku pastikan ia tidak memakai BH dan mungkin CD juga karena tidak aku lihat tali BH menggantung di pundaknya.
āSayang Pablo ikannya masih kecil, belum bisa buat laukā kata Mbak Salsa sambil melangkah ke arahku lalu kami ngobrol sebentar tentang kolam ikannya.
Kulihat buah dadanya sedikit menyembul dari balutan handuknya dan ditambah bau harum tubuhnya membuatku terangsang. Tak lama kemudian ia pamit mau ganti baju. Mataku tak lepas memperhatikan tubuh Mbak Salsa dari belakang. Kulitnya benar-benar putih. Sepasang pahanya putih mulus terlihat jelas bikin burungku berdiri. Ingin rasanya aku lepas handuknya lalu meremas, menjilat buah dadanya, dan menusuk-nusuk selangkangannya dengan burungku seperti dalam bokep yang sering aku lihat. Sejenak aku berkhayal lalu kucoba menghilangkan khayalan itu.
Haripun berganti petang, udara dingin pegunungan mulai terasa. Setelah makan malam kami nonton teve sambil ngobrol banyak hal, sampai tak terasa sudah pukul sembilan.
āPablo nanti kamu tidur sama aku ya, Mbak kangen lho ngeloni kamuā kata Mbak Salsa.
āApa Mbak?ā Kataku terkejut.
āIya.. Kamu nanti tidur sama aku saja. Inget nggak dulu waktu kecil aku sering ngeloni kamuā katanya.
āIya Mbak aku ingetā jawabku.
āNah ayo tidur, Mbak udah ngantuk nihā kata Mbak Salsa sambil beranjak melangkah ke kamar tidur dan aku mengikutinya dari belakang, pikiranku berangan-angan ngeres. Sampai dikamar tidur aku masih ragu untuk naik ke ranjang.
āAyo jadi tidur nggak?ā tanya Mbak Salsa.
Lalu aku naik dan tiduran disampingnya. Aku deg-degan. Kami masih ngobrol sampai jam 10 malam.
āTidur ya.. Mbak udah ngantuk bangetā kata Mbak Salsa.
āIya Mbakā kataku walaupun sebenarnya aku belum ngantuk karena pikiranku semakin ngeres saja terbayang-bayang pemandangan menggairahkan sore tadi, apalagi kini Mbak Salsa terbaring di sampingku, kurasakan burungku mengeras.
Aku melirik ke arah Mbak Salsa dan kulihat ia telah tertidur lelap. Dadaku semakin berdebar kencang tak tahu apa yang harus aku lakukan. Ingin aku onani karena sudah tidak tahan, ingin juga aku memeluk Mbak Salsa dan menikmati tubuhnya, tapi itu tidak mungkin pikirku. Aku berusaha menghilangkan pikiran kotor itu, tapi tetap tak bisa sampai jam 11 malam. Lalu aku putus kan untuk melihat paha Mbak Salsa sambil aku onani karena bingung dan udah tidak tahan lagi.
Dengan dada berdebar-debar aku buka selimut yang menutupi kakinya, kemudian dengan pelan-pelan aku singkapkan roknya hingga celana dalam hitamnya kelihatan, dan terlihatlah sepasang paha putih mulus didepanku beitu dekat dan jelas. Semula aku hanya ingin melihatnya saja sambil berkhayal dan melakukan onani, tetapi aku penasaran ingin merasakan bagaimana meraba paha seorang perempuan tapi aku takut kalau dia terbangun. Kurasakan burungku melonjak-lonjak seakan ingin melihat apa yang membuatnya terbangun. Karena sudah dikuasai nafsu akhirnya aku nekad, kapan lagi kalau tidak sekarang pikirku.
Dengan hati-hati aku mulai meraba paha Mbak Salsa dari atas lutut lalu keatas, terasa halus sekali dan kulakukan beberapa kali. Karena semakin penasaran aku coba meraba celana dalamnya, tetapi tiba-tiba Mbak Salsa terbangun.
āPablo! Apa yang kamu lakukan!ā kata Mbak Salsa dengan terkejut.
Ia lalu menutupi pahanya dengan rok dan selimutnya lalu duduk sambil menampar pipiku. Terasa sakit sekali.
āKamu kok berani berbuat kurang ajar pada Mbak Salsa. Siapa yang ngajari kamu?ā kata Mbak Salsa dengan marah.
Aku hanya bisa diam dan menunduk takut. Burungku yang tadinya begitu perkasa aku rasakan langsung mengecil seakan hilang.
āTak kusangka kamu bisa melakukan hal itu padaku. Awas nanti kulaporkan kamu ke nenek dan bapakmuā kata Mbak Salsa.
āJa.. jangan Mbakā kataku ketakutan.
āMbak Salsa kan juga salahā kataku lagi membela diri.
āApa maksudmu?ā tanya Mbak Salsa.
āMbak Salsa masih menganggap saya anak kecil, padahal saya kan udah besar Mbak, sudah lebih dari 17 tahun. Tapi Mbak Salsa masih memperlakukan aku seperti waktu aku masih kecil, pakai ngeloni aku segala. Trus tadi sore juga, habis mandi Mbak Salsa hanya memakai handuk saja didepanku. Saya kan lelaki normal Mbakā jelasku.
Kulihat Mbak Salsa hanya diam saja, lalu aku berniat keluar dari kamar.
āMbak.. permisi, biar saya tidur saja di kamar sebelahā kataku sambil turun dari ranjang dan berjalan keluar.
Mbak Salsa hanya diam saja. Sampai di kamar sebelah aku rebahkan tubuhku dan mengutuki diriku yang berbuat bodoh dan membayangkan apa yang akan terjadi besok. Kurang lebih 15 menit kemudian kudengar pintu kamarku diketuk.
āPablo.. kamu masih bangun? Mbak boleh masuk nggak?ā Terdengar suara Mbak Salsa dari luar.
āYa Mbak, silakanā kataku sambil berpikir mau apa dia.
Mbak Salsa masuk kamarku lalu kami duduk di tepi ranjang. Aku lihat wajahnya sudah tidak marah lagi.
āPablo.. Maafkan Mbak ya telah nampar kamuā katanya.
āSeharusnya saya yang minta maaf telah kurang ajar sama Mbak Salsaā kataku.
āNggak Pablo, kamu nggak salah, setelah Mbak pikir, apa yang kamu katakan tadi benar. Karena lama nggak bertemu, Mbak masih saja menganggap kamu seorang anak kecil seperti dulu aku ngasuh kamu. Mbak tidak menyadari bahwa kamu sekarang sudah besarā kata Mbak Salsa.
Aku hanya diam dalam hatiku merasa lega Mbak Salsa tidak marah lagi.
āPablo, kamu bener mau sama Mbak?ā tanya Mbak Salsa.
āMaksud Mbak?ā kataku terkejut sambil memandangi wajahnya yang terlihat bagitu manis.
āIya.. Mbak kan udah nggak muda lagi, masaā sih kamu masih tertarik sama aku?ā katanya lagi.
Aku hanya diam, takut salah ngomong dan membuatnya marah lagi.
āMaksud Mbak.., kalau kamu bener mau sama Mbak, aku rela kok melakukannya dengan kamuā katanya lagi.
Mendengar hal itu aku tambah terkejut, seakan nggak percaya.
āApa Mbakā kataku terkejut.
āBukan apa-apa Pablo, kamu jangan berpikiran enggak-enggak sama Mbak. Ini hanya untuk meyakinkan Mbak bahwa kamu telah dewasa dan lain kali tidak menganggap kamu anak kecil lagiā kata Mbak Salsa
Lagi-lagi aku hanya diam, seakan nggak percaya. Ingin aku mengatakan iya, tapi takut dan malu. Mau menolak tapi aku pikir kapan lagi kesempatan seperti ini yang selama ini hanya bisa aku bayangkan.
āGimana Pablo? Tapi sekali aja ya.. dan kamu harus janji ini menjadi rahasia kita berduaā kata Mbak Salsa.
Aku hanya mengangguk kecil tanda bahwa aku mau.
āKamu pasti belum pernah kan?ā kata Mbak Salsa.
āBelum Mbak, tapi pernah lihat di filmā kataku.
āKalau begitu aku nggak perlu ngajari kamu lagiā kata Mbak Salsa.
Mbak Salsa lalu mencopot bajunya dan terlihatlah buah dadanya yang putih mulus terbungkus BH hitam, aku diam sambil memperhatikan, birahiku mulai naik. Lalu Mbak Salsa mencopot roknya dan paha mulus yang aku gerayangi tadi terlihat. Tangannya diarahkan ke belakang pundak dan BH itupun terlepas, sepasang buah dada berukuran sedang terlihat sangat indah dipadu dengan puting susunya yang mencuat kedepan. Mbak Salsa lalu mencopot CD hitamnya dan kini ia telah telanjang bulat. Penisku terasa tegang karena baru pertama kali ini aku melihat wanita telanjang langsung dihadapanku. Ia naik ke atas ranjang dan merebahkan badannya terlentang. Aku begitu takjub, bayangkan ada seorang wanita telanjang dan pasrah berbaring di ranjang tepat dihadapanku. Aku tertegun dan ragu untuk melakukannya.
āAyo Pablo.. apa yang kamu tunggu, Mbak udak siap kok, jangan takut, nanti Mbak bantuā kata Mbak Salsa.
Segera aku melepaskan semua pakaianku karena sebenarnya aku sudah tidak tahan lagi. Kulihat Mbak Salsa memperhatikan burungku yang berdenyut-denyut, aku lalu naik ke atas ranjang. Karena sudah tidak sabar, langsung saja aku memulainya. Langsung saja aku kecup bibirnya, kulumat-lumat bibirnya, terasa ia kurang meladeni bibirku, aku pikir mungkin suaminya tidak pernah melakukannya, tapi tidak aku hiraukan, terus aku lumat bibirnya. Sementara itu kuarahkan tanganku ke dadanya. Kutemukan gundukan bukit, lalu aku elus-elus dan remas buah dadanya sambil sesekali memelintir puting susunya.
āOoh.. Pablo.. apa yang kau lakukan.. ergh.. sshh..ā Mbak Salsa mulai mendesah tanda birahinya mulai naik, sesekali kurasakan ia menelan ludahnya yang mulai mengental.
Setelah puas dengan bibirnya, kini mulutku kuarahkan ke bawah, aku ingin merasakan bagaimana rasanya mengulum buah dada. Sejenak aku pandangi buah dada yang kini tepat berada di hadapanku, ooh sungguh indahnya, putih mulus tanpa cacat sedikitpun, seperti belum pernah terjamah lelaki. Langsung aku jilati mulai dari bawah lalu ke arah putingnya, sedangkan buah dada kanannya tetap kuremas-remas sehingga tambah kenyal dan mengeras.
āEmmh oh aarghhā Mbak Salsa mendesah hebat ketika aku menggigit puting susunya.
Kulirik wajahnya dan terlihat matanya merem melek dan giginya menggigit bibir bawahnya. Kini jariku kuarahkan ke selangkangannya. Disana kurasakan ada rumput yang tumbuh di sekeliling memeknya. Jari-jariku kuarahkan kedalamnya, terasa lubang itu sudah sangat basah, tanda bahwa ia sudah benar-benar terangsang. Kupermainkan jari-jariku sambil mencari klentitnya. Kugerakkan jari-jariku keluar masuk di dalam lubang yang semakin licin tersebut.
āAargghh.. eemhh.. Pablo kam.. mu ngapainn oohh..ā kata Mbak Salsa meracau tak karuan, kakinya menjejak-jejak sprei dan badannya mengeliat-geliat.
Tak kupedulikan kata-katanya. Tubuh Mbak Salsa semakin mengelinjang dikuasai nafsu birahi. Kuarasakan tubuh Mbak Salsa menegang dan kulihat wajahnya memerah bercucuran keringat, aku pikir dia sudah mau klimaks. Kupercepat gerakan jariku didalam memeknya.
āOhh.. arghh.. oohh..ā kata Mbak Salsa dengan nafas tersengal-sengal dan tiba-tiba..
āOohh aahh..ā Mbak Salsa mendesah hebat dan pinggulnya terangkat, badannya bergetar hebat beberapa kali. Terasa cairan hangat memenuhi memeknya.
āOhh.. ohh.. emhh..ā Mbak Salsa masih mendesah-desah meresapi kenikmatan yang baru diraihnya.
āPablo apa yang kamu lakukan kok Mbak bisa kayak giniā tanya Mbak Salsa.
āKenapa emangnya Mbak?ā Kataku.
āBaru kali ini aku merasakan nikmat seperti ini, luar biasaā kata Mbak Salsa.
Ia lalu bercerita bahwa selama bersama suaminya ia tidak pernah mendapatkan kepuasan, karena mereka hanya sebentar saja bercumbu dan dalam bercinta suaminya cepat selesai.
āMbak sekarang gilirankuā kubisikkan ditelinganya, Mbak Salsa mengangguk kecil.
Aku mulai mencumbunya lagi. Kulakukan seperti tadi, mulai dari bibirnya yang kulumat, lalu buah dadanya yang aku nikmati, tak lupa jari-jariku kupermainkan di dalam memeknya.
āAarghh.. emhh.. ooh..ā terdengar Mbak Salsa mulai mendesah-desah lagi tanda ia telah terangsang.
Setelah aku rasa cukup, aku ingin segera merasakan bagaimana rasanya menusukkan burungku ke dalam memeknya. Aku mensejajarkan tubuhku diatas tubuhnya dan Mbak Salsa tahu, ia lalu mengangkangkan pahanya dan kuarahkan burungku ke memeknya. Setelah sampai didepannya aku ragu untuk melakukannya.
āAyo Pablo jangan takut, masukin ajaā kata Mbak Salsa.
Perlahan-lahan aku masukkan burungku sambil kunikmati, bless terasa nikmat saat itu. Burungku mudah saja memasuki memeknya karena sudah sangat basah dan licin. Kini mulai kugerakkan pinggulku naik turun perlahan-lahan. Ohh nikmatnya.
āLebih cepat Pablo arghh.. emhhā kata Mbak Salsa terputus-putus dengan mata merem-melek.
Aku percepat gerakanku dan terdengar suara berkecipak dari memeknya.
āIya.. begitu.. aahh.. ter.. rrus.. arghh..ā Mbak Salsa berkata tak karuan.
Keringat kami bercucuran deras sekali. Kulihat wajahnya semakin memerah.
āPablo, Mbak mau.. enak lagi.. oohh.. ahh.. aahh.. ahh..ā kata Mbak Salsa sambil mendesah panjang, tubuhnya bergetar dan kurasakan memeknya dipenuhi cairan hangat menyiram penisku.
Remasan dinding memeknya begitu kuat, akupun percepat gerakanku dan.. croott.. akupun mencapai klimaks aahh.., kubiarkan air maniku keluar di dalam memeknya. Kurasakan nikmat yang luar biasa, berkali-kali lebih nikmat dibandingkan ketika aku onani. Aku peluk tubuhnya erat-erat sambil mengecup puting susunya menikmati kenikmatan sex yang sesungguhnya yang baru aku rasakan pertama kali dalam hidupku. Setelah cukup kumenikmatinya aku cabut burungku dan merebahkan badanku disampinya.
āMbak Salsa, terima kasih ya..ā kubisikkan lirih ditelinganya sambil kukecup pipinya.
āMbak juga Pablo.. baru kali ini Mbak merasakan kepuasan seperti ini, kamu hebatā kata Mbak Salsa lalu mengecup bibirku.
Kami berdua lalu tidur karena kecapaian.
Kira-kira jam 3 pagi aku terbangun dan merasa haus sekali, aku ingin mencari minum. Ketika aku baru mau turun dari ranjang, Mbak Salsa juga terbangun.
āKamu mau kemana Pablo..ā katanya.
āAku mau cari minum, aku haus. Mbak Salsa mau?ā Kataku.
Ia hanya mengangguk kecil. Aku ambil selimut untuk menutupi anuku lalu aku ke dapur dan kuambil sebotol air putih.
āIni Mbak minumnyaā kataku sambil kusodorkan segelas air putih.
Aku duduk di tepi ranjang sambil memandangi Mbak Salsa yang tubuhnya ditutupi selimut meminum air yang kuberikan.
āAda apa Pablo, kok kamu memandangi Mbakā katanya.
āAh nggak Papa. Mbak cantikā kataku sedikit merayu.
āAh kamu Pablo, bisa aja, Mbak kan udah tua Pabloā kata Mbak Salsa.
āBener kok, Mbak malah makin cantik sekarangā kataku sambil kukecup bibirnya.
āPablo.. boleh nggak Mbak minta sesuatuā kata Mbak Salsa.
āMinta apa Mbak?ā tanyaku penasaran.
āMau nggak kamu kalau..ā kata Mbak Salsa terhenti.
āKalau apa Mbak?ā kataku penuh tanda tanya.
āKalau.. kalau kamu emm.. melakukannya lagiā kata Mbak Salsa dengan malu-malu sambil menunduk, terlihat pipinya memerah.
āLho.. katanya tadi, sekali aja ya Pablo.., tapi sekarang kok?ā kataku menggodanya.
āAh kamu, kan tadi Mbak nggak ngira bakal kayak giniā katanya manja sambil mencubit lenganku.
āDengan senang hati aku akan melayani Mbak Salsaā kataku.
Sebenarnya aku baru mau mengajaknya lagi, e.. malah dia duluan. Ternyata Mbak Salsa juga ketagihan. Memang benar jika seorang wanita pernah merasa puas, dia sendiri yang akan meminta. Kami mulai bercumbu lagi, kali ini aku ingin menikmati dengan dengan sepuas hatiku. Ingin kunikmati setiap inci tubuhnya, karena kini aku tahu Mbak Salsa juga sangat ingin. Seperti tadi, pertama-tama bibirnya yang kunikmati. Dengan penuh kelembutan aku melumat-lumat bibir Mbak Salsa.
Aku makin berani, kugunakan lidahku untuk membelah bibirnya, kupermainkan lidahku. Mbak Salsa pun mulai berani, lidahnya juga dipermainkan sehingga lidah kami saling beradu, membuatku semakin betah saja berlama-lama menikmati bibirnya. Tanganku juga seperti tadi, beroperasi di dadanya, kuremas-remas dadanya yang kenyal mulai dari lembah hingga ke puncaknya lalu aku pelintir putingnya sehingga membuatnya menggeliat dan mengelinjang. Dua bukit kembar itupun semakin mengeras. Ia menggigit bibirku ketika kupelintir putingnya.
Aku sudah puas dengan bibirnya, kini mulutku mengulum dan melumat buah dadanya. Dengan sigap lidahku menari-nari diatas bukitnya yang putih mulus itu. Tanganku tetap meremas-remas buah dadanya yang kanan. Kulihat mata Mbak Salsa sangat redup, dan ia memagut-magut bibirnya sendiri, mulutnya mengeluarkan desahan erotis.
āOohh.. arghh.. en.. ennak Pablo.. emhh..ā kata Mbak Salsa mendesah-desah.
Tiba-tiba tangannya memegang tanganku yang sedang meremas-remas dadanya dan menyeretnya ke selangkangannya. Aku paham apa yang diinginkannya, rupanya ia ingin aku segera mempermainkan memeknya. Jari-jarikupun segera bergerilya di memeknya. Kugerakkan jariku keluar masuk dan kuelus-elus klentitnya membuatnya semakin menggelinjang tak karuan.
āYa.. terruss.. aarggghh.. emmhh.. enak.. oohh..ā mulut Mbak Salsa meracau.
Setiap kali Mbak Salsa terasa mau mencapai klimaks, aku hentikan jariku menusuk memeknya, setelah dia agak tenang, aku permainkan lagi memeknya, kulakukan beberapa kali.
āEmhh Pablo.. ayo dong jangan begitu.. kau jahat oohh..ā kata Mbak Salsa memohon.
Mendengarnya membuatku merasa kasihan juga, tapi aku tidak akan membuatnya klimaks dengan jariku tetapi dengan mulutku, aku benar-benar ingin mencoba semua yang pernah aku lihat di bokep.
Segera aku arahkan mulutku ke selangkangannya. Kusibakkan rumput-rumpuat hitam yang disekeliling memeknya dan terlihatlah memeknya yang merah dan mengkilap basah, sungguh indah karena baru kali ini melihatnya. Aku agak ragu untuk melakukannya, tetapi rasa penasaranku seperti apa sih rasanya menjilati memek lebih besar. Segera aku jilati lubang itu, lidahku kujulurkan keluar masuk.
āPablo.. apa yang kamu lakukan.. arghh itu kan ji.. jik emhh..ā kata Mbak Salsa.
Ia terkejut aku menggunakan mulutku untuk menjilati memeknya, tapi aku tidak pedulikan kata-katanya. Ketika lidahku menyentuh kelentitnya, ia mendesah panjang dan tubuhnya menggeliat tak karuan dan tak lama kemudian tubuhnya bergetar beberapa kali, tangannya mencengkeram sprei dan mulutku di penuhi cairan yang keluar dari liang kewanitaannya.
āOhmm.. emhh.. ennak Pablo.. aahh..ā kata Mbak Salsa ketika ia klimaks.
Setelah Mbak Salsa selesai menikmati kenikmatan yang diperolehnya, aku kembali mencumbunya lagi karena aku juga ingin mencapai kepuasan.
āGantian Mbak diatas ya sekarangā kataku.
āGimana Pablo aku nggak ngertiā kata Mbak Salsa.
Daripada aku menjelaskan, langsung aku praktekkan. Aku tidur telentang dan Mbak Salsa aku suruh melangkah diatas burungku, tampaknya ia mulai mengerti. Tangannya memegang burungku yang tegang hebat lalu perlahan-lahan pinggangnya diturunkan dan memeknya diarahkan ke burungku dan dalam sekejap bless burungku hilang ditelan memeknya. Mbak Salsa lalu mulai melakukan gerakan naik turun, ia angkat pinggangnya dan ketika sampai di kepala penisku ia turunkan lagi. Mula-mula ia pelan-pelan tapi ia kini mulai mempercepat gerakannya.
Kulihat wajahnya penuh dengan keringat, matanya sayu sambil merem melek dan sesekali ia melihat kearahku. Mulutnya mendesis-desih. Sungguh sangat sexy wajah wanita yang sedang dikuasai nafsu birahi dan sedang berusaha untuk mencapai puncak kenikmatan. Wajah Mbak Salsa terlihat sangat cantik seperti itu apalagi ditambah rambut sebahunya yang terlihat acak-acakan terombang ambing gerakan kepalanya. Buah dadanya pun terguncang-guncang, lalu tanganku meremas-remasnya. Desahannya tambah keras ketika jari-jariku memelintir puting susunya.
āOh emhh yaah.. ohh..ā itulah kata-kata yang keluar dari mulut Mbak Salsa.
āAku nggak kuat lagi Pablo..ā kata Mbak Salsa sambil berhenti menggerakkan badannya, aku tahu ia segera mencapai klimaks.
Kurebahkan badannya dan aku segera memompa memeknya dan tak lama kemudian Mbak Salsa mencapai klimaks. Kuhentikan gerakanku untuk membiarkan Mbak Salsa menikmati kenikmatan yang diperolehnya. Setelah itu aku cabut penisku dan kusuruh Mbak Salsa menungging lalu kumasukkan burungku dari belakang. Mbak Salsa terlihat hanya pasrah saja terhadap apa yang aku lakukan kepadanya. Ia hanya bisa mendesah kenikmatan.
Setelah puas dengan posisi ini, aku suruh Mbak Salsa rebahan lagi dan aku masukkan lagi burungku dan memompa memeknya lagi karena aku sudah ingin sekali mengakhirinya. Beberapa saat kemudian Mbak Salsa ingin klimaks lagi, wajahnya memerah, tubuhnya menggelinjang kesana kemari.
āAhh.. oh.. Mbak mau enak lagi Pablo.. arrghh ahh..ā kata Mbak Salsa.
āTunggu Mbak, ki kita bareng aku juga hampirā kataku.
āMbak udah nggak tahan Pablo.. ahh..ā kata Mbak Salsa sambil mendesah panjang, tubuhnya bergetar hebat, pinggulnya terangkat naik.
Cairan hangat menyiram burungku dan kurasakan dinding memeknya seakan-akan menyedot penisku begitu kuat dan akhirnya akupun tidak kuat dan croott.. akupun mencapai klimaks, oh my god nikmatnya luar biasa. Lalu kami saling berpelukan erat menikmati kenikmatan yang baru saja kami raih.
Hal ini pun sampai sekarang masih kurahasiakan dari siapapun. Setiap saat aku bertemu dengan mbak Salsa, dirinya pasti selalu mengajaku untuk bercumbu karena menikmati setiap rangsangan yang ku berikan.


