Menikmati Memek Empot Ayam
Cerita Dewasa · 18+
Fasa melihat ibunya berbelanja di warung sembako Partodi dari jauh. Fasa sedang berjalan kaki pulang sekolah, asalnya ingin memanggil ibunya tapi tidak jadi melihat ibunya menenteng beberapa kresek berisi barang belanjaan.
Seperti biasanya, Fasa mampir ke warung Partodi buat jajan ngehabisin sisa uang sakunya bersekolah yang setiap pagi dikasih ibunya. Ibunya berjalan dengan kaos T-shirt ketat dan sebuah rok panjang berjalan menyusuri perumahan rumah sederhana tak jauh dari warung Partodi. Mata Fasa mengikuti langkah ibunya dari jauh, tidak berharap ibunya akan membelikannya jajanan di warung Partodi tadi dengan banyaknya kresek belanjaan di tangan.
Di saat bersamaan, bukan hanya mata Fasa yang mengintai gerak-gerik ibunya. Di bawah sebuah pohon mangga terdapat dua pasang mata lain, dua orang pemuda berambut panjang yang sedang bermain kartu turut menikmati tubuh ibunya Fasa yang montok itu. Sebenarnya Fasa baru pindah menempati perumahan ini, makanya dia belum banyak mengenal orang disini selain Partodi tempat mereka berbelanja kebutuhan sehari-hari.
Ibunya Fasa berjalan masuk gang perumahannya sementara Fasa masuk warung Partodi jajan Es krim. Di luar warung, Fasa mendengar dua pemuda yang bermain kartu berbincang.
âEmplok cendol bahenolâ
âBener bray. Aku belum pernah liat tuh perempuan. Baru pindah sini rupanya?â
âWah euy, mun beunang moal dileupaskeun da ku aingâ
Fasa hanya mendengar sambil menjilati Es krim yang stiknya ia pegangi.
âAing apal, salakina sopir treuk. emang anyaran pindah kadieuâ timpal Partodi yang berperut buncit.
Fasa terus menikmati Es krimnya sambil sesekali kepalanya menengok toples permen. Tapi Fasa hanya ingin mendengar obrolan anak-anak tanggung itu.
âEh Partodi, maneh apal imahna dimana?â tanya pemuda berambut panjang yang tangannya dihiasi luka yang masih merah.
âEta di ujung blok A nu dekeut jalan raya, bekas imahna si Rima si tukang asuransi nu geus digarap ku urang sarerea tea âning.â
âGeulis euyâŠâ mereka bertiga mengangkat jempol.
âRek di garap siga si Rima deui ieu teh / Mau dikerjain lagi kaya si Rima nihâ
âPartodi kamu ikut yah?â
âBarang alus.. Moal nolakâ
Fasa semakin tidak mengerti obrolan mereka lalu pergi pulang menggendong tas sekolahnya.
Di rumah ibunya kelihatan berkeringat menyiapkan makan siang. Fasa menyimpan tasnya di kamar tidurnya. Rumah sederhana dengan ua kamar ini tidak luas, ada dapur sekaligus tempat makan, kamar depan untuk Fasa, kamar belakang untuk orangtuanya yang dekat WC, depan pintu kamar ibunya meja makan. Fasa duduk mengambil nasi disana, seperti biasa makanan ibunya membuatnya bernafsu makan.
Ibunya ikut menemani Fasa makan. Sambil makan, Fasa memikirkan PRnya di sekolah yang mesti dikerjakan. Kini dia kelas 6 sebentar lagi akan pergantian semester. Setelah ibunya menyuap nasi beberapa suap, pintu depan tiba-tiba terbuka.
âHei, lagi pada makan nih?â
âBapak!â sahut Fasa berlari memeluk bapaknya.
âMakan bang?â
âNggak deh, abang buru-buru mau narik lagi, abang makan nanti aja.â
Ibunya tangan segera cuci tangan. Seperti biasa, jika bapaknya pulang, ibu Fasa langsung menghentikan apapun aktifitasnya. Begitu setia menantikan kepulangan bapaknya yang hanya beberapa minggu sekali.
âFasa, abisin makannya yaâ kata Ibunya. Ibunya Fasa ambil tas suaminya, bapaknya maasuk kamar tidur. Ibunya Fasa memasukkan baju kotor sang suami ke mesin cuci lalu menyusul ke kamar tidur. Beberapa menit kemudian Fasa bisa dengar suara ibunya mengerang perlahan.
âOhhh bangâŠ. emmmâŠ.!â diikuti dengan bunyi tempat tidur yang mendecit.
Seperti biasa Fasa terus makan. Bunyi suara ibu dan bapaknya yang hanya beberapa langkah bagaikan irama yang melengkapi sajian makan siang Fasa. Suara itu selalu terdengar olehnya saat bapaknya pulang dari perjalanan.
Fasa melihat jam dinding, âbaru lima menitâ dia mengambil minum dan meminumnya perlahan. Suara ibunya semakin kencang mengerang.
âYaaa bang ohhh ahhhhh dikit lagi, banggggg ohhhh, Dewi keluar banggggggâŠ.â
Suara ranjang masih terdengar, Fasa melihat jam dinding sekali lagi âEmmm baru 10 menitâ dia mencuci tangannya.
âTerus banggg, ooohhhh, ya bangg ohhhhhhh terusssss dalemiin bangggâ suara ibunya
âEmmmm aahhh ahhh aahhhhhâ suara bapaknya.
Fasa duduk di sofa membaca majalah.
âOk banggg, Dewi mau keluar lagi niiiiihhâ
âabang jugaaaaâ
Bunyi decitan ranjang semakin terdengar. Bunyi ah dan uh bersahutan. Tiba-tiba suara ibunya meninggi⊠âAhhhhhhhhhâ terdengar oleh Fasa ibunya menarik nafas dengan jelas. Beberapa menit kemudian, ibunya keluar dengan hanya berkemban kain sarung. Rambutnya kusut, mukanya merah. Fasa lihat di bagian pantat ibunya, sarungnya sedikit basah. Ibunya mengambil handuk di dapur lalu ke kamar mandi. Lama juga emaknya mandi. Sementara bapaknya keluar kamar hanya berhanduk duduk depan Fasa sambil tersenyum.
âGimana sekolahnya Fasa?â
âEmmm⊠Fasa harus ikut les malem bapakâ
âKapan?â
âMulai malam iniâ
âJam berapa mulainya?â
âjam lima sampai jam delapan malamâ
âBayar berapa?â
âSeratus ribu sebulanâ
âNanti bapak kasih kamu uangâ
Fasa hanya tersenyum. Senyum Fasa semakin melebar melihat ibunya hampir jatuh saat keluar kamar mandi, saat itu handuk yang melilit badan ibunya terlepas. Fasa bisa dengan jelas melihat buah dada ibunya yang sekal serta perutnya yang putih. Namun selangkangan ibunya gak bisa ditonton Fasa karena ibunya sempat menutupi dengan handuk bagian itu.
âBang Adam mandi dulu sana, nanti kita makan barengâ kata ibunya pada bapak.
Fasa kembali menikmati melihat pantat ibunya saat melangkah masuk ke dalam kamar. Handuk yang dipegangnya hanya menutup bagian depannya saja, tapi pantatnya dibiarkan saja terbuka. Sesekali Fasa merasakan burungnya bergerak-gerak dalam celana, namun dia belum mengerti mengapa demikian. Suatu saat dia akan tanyakan bapaknya. Sementara di luar rumah, tampak pemuda bermata juling yang berambut panjang tadi tergesa meninggalkan rumah Fasa menuju warung Partodi.
Bapaknya Fasa masuk kamar mandi, Fasa masuk ke kamarnya. Dia mengganti pakaian seragamnya. DI luar cuaca semakin panas terik, Fasa menyalakan kipas angin.
âkapan abang pergi lagi?â suara ibunya Fasa terdengar saat mereka makan.
âAbang istirahat sejam dua jam terus pergi lagi, muatan yang abang bawa mesti tiba di Cirebon besok, tidak usah buru-buru.â
âAbang pengen sekali lagi gak nih?â tanya ibunya Fasa.
âGimana nanti aja deh⊠Dewi udah mikirin usulan abang belum yang waktu itu?â
âYang mana bang?â
âItu⊠Temen abang yang ingin make DewiâŠâ
âResek banget sih abang⊠Masak nyuruh Dewi tidur sama si Tedi yang cunihinâ
âSiapa bilang si Tedi?â
âLalu?â
âTedi sama Rezaâ
âReza yang mana sih bangâŠ?â
âItu⊠turunan Arab, yang kata Dewi ganteng mancungâ
âOh⊠yang itu⊠ummmmâŠ!â Dewi membasahi bibirnya dengan lidahnya.
Hati Dewi semakin condong menyetujui usulan suaminya. Membayangkan kesempatan merasakan batang kelamin pria lain mulai menghangatkan selangkangannya. Bukan karena suaminya tidak perkasa, malahan Dewi selalu orgasme di atas ranjang melayaninya. Namun membayangkan akan dipuaskan oleh Tedi dan Reza, terasa memeknya seperti terkena sengatan listrik.
âDewi mau nggak?â
Dewi bangun dan menarik tangan suaminya.
âBiar Dewi pikirin dulu bang. Tapi sekarang Dewi ingin sama abang.â
Fasa sedang mengerjakan PRnya. Di kamar sebelah, sekali lagi dia mendengar suara ibunya mengerang dan mendesis. Semakin lama semakin keras suara erangannya. Fasa pelan-pelan mengeluarkan burungnya dan mengusapnya. Tanpa sadar, dia ikut mendesis.
Aris berlari kecil ke arah warung Partodi. Di bawah pohon mangga tampak Partodi dan Dimas bermain kartu. âKenapa buru-buru Ris?â Dimas menegur sambil mengelus tangan yang terluka karena terjatuh saat bermotor. âAda berita bagus nihâ kata Aris yang bermata juling. Partodi serius menunggu barita yang dibawa Aris, matanya melotot. âTadi aku pergi ngendap-ngendap rumah cewe bahenol tadiâ âterus?â tanya Partodi tak sabaran. âSuaminya pulang, dientot abis-abisan, dia ngejerit ga keruan pas memeknya disodokin. Bukan maen, berisik banget⊠Emang nih cewe ganas banget di kamar brayâ âGa bisa dong, dia kita kerjainâ Dimas kecewa mendengarnya.
âSiapa bilang bray, tadi ku dengar suaminya pergi lagi, anaknya pergi les dari jam 5 â 8 malem, nah jam segitu kita entot tuh cewe.â
Partodi merasakan burungnya bergerak dalam celananya. Memang burungnya sudah sebulan lebih tidak merasakan memeknya cewe, sehabis terakhir ngentotin memeknya Rima, sebelum Rima pindah meninggalkan hutang padanya, sebelumnya dia dan dua temannya beberapa kali menggarap perempuan berkulit putih itu sampai memeknya membengkak lalu setelah itu hutangnya dianggap lunas. Dia sangat puas dengan servis Rima, senilai hutangnya 500.000 daripada harus jajan sama WP.
Sore harinya cuaca sangat panas, kipas angin yang dinyalakan tidak mengurangi rasa panas yang dialami Dewi. Dewi hanya berbalut handuk masuk kamar mandi, Fasa menyiapkan buku untuk les petangnya. Saat keluar kamar, Fasa sempat melihat ibunya masuk kamar mandi, masih jam 4.30, masih ada waktu menunggu ibunya beres mandi.
Dalam kamar mandi Dewi membersihkan badannya. Memeknya yang banyak ditumpahi air mani suaminya hasil persetubuhan siang tadi di korek dan dibasuhnya, rambut dan badannya dibersihkan sepuasnya dengan shampoo dan sabun. Saat membilas memeknya, terlintas pikiran tentang usulan suaminya meminta dirinya ditiduri temannya Tedi dan Reza. Memang dirinya tidak pernah merasakan batang kelamin pria lain dan dia tahu pasti suaminya sebagai supir truk sudah sering ngentotin memek perempuan perempuan lain selama menyupir melintasi berbagai kota.
Memang Dewi menyadari batang penis yang menyodoki memeknya memberinya multi orgasme bukanlah penis yang suci hanya untuknya, tapi juga banyak memuaskan memek-memek perempuan lain. Air mani suaminya tidak hanya ditumpahkan dalam rahim dirinya seorang, tapi juga pada banyak rahim perempuan lain. Sekarang suaminya inginkan rahim Dewi ditumpahi air dari mani batang kemaluan lelaki lain. Mungkin lebih banyak lebih enak. Dia sangat ingin mencobanya. Sementara jemarinya tanpa sadar mengusap ujung kelentitnya, dua jarinya menyelusup liang memeknya. Dia ingin disodok batang penis, sekarang juga.
âIbu!!â terdengar suara Fasa dari luar, Dewi terkejut dari lamunannya menarik dua jari yang bersarang pada memeknya.
âErr.. Iya Fasa..â
âBu, Fasa mau pergi les nihâ
âIya, ibu keluar sekarangâ Dewi menggapai handuk dan melilitkannya pada badannya. Badan basahnya tidak sempat dikeringkan. Fasa melihat tubuh putih ibunya yang basah. Handuk yang pendek tak mampu menutup batang paha ibunya yang montok. Payudara ibunya yang besar tak mampu menutupi bagian atas pahanya saat melangkah menghampiri Fasa.
Fasa memakai tas nya, ibunya menghampiri dan memeluknya. Buah dada montoknya dirapatkan menempel wajah Fasa, ibunya mencium kening Fasa, âUangnya udah diambil?â tanya ibunya.
Fasa hanya mengangguk.
âYa udah, hati-hati di jalan. Pulangnya langsung pulangâ
âIya bu, Fasa langsung pulangâ
âJangan juga mampir ke warung Partodiâ
âIya buâ Fasa pergi sambil berlari sore hari itu, Dewi melihatnya berlalu ke arah warung Partodi. Setelah yakin anaknya sudah jauh, Dewi ingin lanjutkan masturbasikan memeknya sampai orgasme, kalau tidak dia tidak akan bisa tidur.
Saat Dewi hendak menutup pintu, gagang pintu ditahan seseorang dan tubuhnya terdorong ke belakang. Handuk yang dipakainya terjatuh menampakan memeknya yang berambut tipis. Saat dirinya bangkit, tubuhnya sudah dipegangi tiga orang lelaki yang berpakaian serba hitam memakai penutup wajah. Dewi panik dan ketakutan. Tubuhnya diangkat ketiga lelaki itu dibawa ke kamar dan dilemparkan ke atas ranjang.
âMau apa kalian?â Dewi berusaha menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut karena handuknya terjatuh di ruang depan. Ketiga pemuda tidak menjawab selain memegang tubuh Dewi dan mengangkangkan kakinya lebar. Dewi coba meronta tapi tidak berhasil. Dia merasakan buah dadanya diremasi dengan buas hingga kesakitan. Kemudian memeknya merasakan jari tangan masuk sambil memainkan kelentitnya.
âOhh. emmmâ Dewi melenguh, dia berhenti meronta sehingga tangan yang memeganginya melonggar dan kini membelai seluruh tubuhnya. Orang yang mengorek memeknya mulai mengarahkan mukanya pada selangkangan Dewi yang mengeluarkan lendir pelicin. Dewi dapat rasakan lidah orang tersebut mengusap-usap lubang vaginanya dan menghisap kelentitnya.
âAhhh ummm yaaaa yaaâ Dewi mendesah sambil menekan memeknya ke arah wajah penyerangnya. Dua pemuda lagi menghisapi buah dadanya.
Tangan Dewi mulai meraba-raba mencari batang penis lelaki di kiri kanannya. Dia merasakan penis mereka sudah mengeras dalam celana masing-masing. Dewi tidak pedulikan siapa mereka, Dewi hanya ingin batang penis menggasak liang memeknya.
Dimas dan Aris yang merasakan tangan Dewi mengusapi penis mereka, segera berdiri melepaskan penis mereka yang mengeras dari celananya. Sementara Partodi masih terus menciumi belahan memek Dewi yang dibanjirin cairan kawin. Setelah penis Dimas dan Aris menyembul, Dewi langsung memegang kedua penis itu mengocoknya beberapa saat lalu memilih untuk mencium batang penis milik Dimas yang lebih besar.
Dimas menuruti keinginan Dewi dan membantu mengarahkan penisnya pada mulut Dewi. Lidah Dewi menari-nari mengolah kepala penis Dimas, menjulur menjilat precum lalu menghisapnya hingga Dimas mendesis tak terkendali, saat itu juga Dewi mengerang dengan keras.
âOhhh, Dewi nyampeeee emmmmm ahhh!!!â Dia membanjiri muka Partodi dengan lendir orgasmenya. Dengan perlahan Partodi bangkit mengelap mukanya dengan selimut dan melepas celana hitam yang dipakainya tanpa sepatah kata. Kepala penis partodi yang hitam berkilat diarahkan ke gerbang memek Dewi dan sekali dorong, penisnya masuk hingga ke pangkalnya.
âOhhh yaaaaâ Erang Dewi sambil mengangkat pantatnya, kedua kakinya melingkari belakang paha besar Partodi yang berperut buncit.
Fasa merasa kecewa, karena ternyata petang ini tidak ada pelajaran. Gurunya hanya mengisi absen dan mendaftar murid yang ikut kelas malam. Fasa membayar uang yang diberikan bapaknya, sambil mengobrol dengan temannya dia berjalan pulang. Karena masih siang, dia berencana ke warung Partodi, sekali lagi dia kecewa warungnya tutup.
âKemana sih Partodi ini, tadi nutup sekarang masih nutup. Biasanya gak beginiâ umpat Fasa, gagal sudah niatnya jajan sembari pulang.
Selang beberapa saat mengulum penis Dimas, Dewi mengalihkan kuluman pada penis Aris yang dipegangnya sedangkan Partodi masih terus mendorong keluar masuk penisnya dalam memek Dewi semakin cepat. Aris tidak bertahan lama menerima serangan mulut Dewi, walau ketiga pemuda telah berjanji tidak akan berbicara sedikitpun tapi Aris melanggar kesepakatan mereka.
âIsep terus⊠yaaa huh ohhhhh yaaa OOHHhhhh emmm ah!â Aris menembakan air maninya dalam mulut Dewi. Badan Aris menegang. Dewi menelan tiap tetes air mani yang ditumpahkan di mulutnya, diperahnya kepala penis Aris mengeluarkan sisa air maninya sambil menjilatinya. Aris kelojotan lalu baring kelelahan di sebelah badan Dewi.
Setelah melepas penis Aris, Dewi mengocok penis Dimas. Kepalanya terdongak saat Partodi mempercepat genjotannya. Buah dadanya mengayun sesuai irama hentakan penis Partodi.
âYaaaah⊠yang kencangâŠ. doronggggg uhhh uhhh uhhh emmmâ jerit Dewi hendak mencapai orgasme.
Fasa mendekati rumahnya, saat ia hampir mengetuk pintu, ia mendengar erangan dan rintihan ibunya. Dia sangat mengenali erangan itu. Erangan itu hanya terjadi saat bapaknya ada di rumah saja, dia melihat sekitar, di tengoknya di jalan raya Truk yang dikemudikan ayahnya tidak ada, ayahnya belum pulang. Perlahan-lahan, Fasa mendorong pintu yang memang agak terbuka.
Partodi mempercepat ayunan penisnya mengocok memek Dewi.
âAhhh aku mau keluar nih!â
Dimas yang sedang keenakan penisnya dihisapi oleh Dewi menoleh ke arah Partodi.
Fasa mendekati kamar ibunya. Dengan pintu terbuka lebar dan lampu terang menyala, dia dapat melihat segalanya. Di atas ranjang ibunya dikangkangi seorang lelaki berperut buncit berpakaian hitam, celananya merosot sampai lutut mengayunkan pantat pada ibunya. Seorang lagi berpakaian sama berada dekat kepala ibunya, dari celah kakinya Fasa melihat pria itu mendorong burungnya keluar masuk mulut ibunya sedangkan ibunya menghisap batang penis orang itu dengan bernafsu seperti dirinya saat makan Es krim yang dibeli di warung Partodi.
Seorang lagi kelihatan terlentang di sebelah ibunya seperti sedang tidur kecapekan. Orang ini juga merosotkan celananya, kelihatan oleh Fasa penis orang ini kecil, mengerut dengan bulu jembut di bawah perutnya. Fasa menutup mulut menahan tawa melihat ukuran burung orang ini, jauh lebih kecil dari pada burung miliknya.
Orang yang berada di atas paha ibunya tampak sedang bersungguh-sungguh mengerjakan sesuatu, setelah diperhatikan ternyata orang itu sedang menusukkan burungnya yang hitam berkilat pada bagian bawah ibunya keluar masuk. Ibunya tampak mengarahkan kemaluannya menyambut tiap ayunan selangkangan orang itu, seperti ingin ditusuk semakin dalam. Fasa juga melihat rambut kemaluan ibunya yang tipis seolah menyatu dengan rambut kemaluan orang itu yang lebih rimbun.
âKamu keluarin diluar, aku gak mau memeknya terlalu banjir,â kata Dimas.
âAku tau, aku tauâ jawab Partodi sambil tetap mengayunkan penisnya dengan cepat.
âYaa⊠tak apa⊠keluarin aja di mulut Dewi⊠ohhh kocok terussss!â sambil tangannya mengocok penis Dimas
âUmmmm yaaa aku mau keluar niiiiâ cepat-cepat Partodi memegang pangkal penisnya dean segera mendorongkan pada mulut Dewi. Dewi langsung menggapai batang penis Partodi sambil menghisapnya kuat-kuat dengan mulut. Partodi segera menembakan air maninya memenuhi mulut Dewi. Panas berhamburan air mani Partodi dan Dewi berusaha menelan secepat mungkin agar tidak mengganggu pernafasannya.
Bingung juga saat Fasa melihat ibunya meminum air kencing lelaki itu lahap sekali.
Sementara Dimas mengambil alih posisi Partodi tadi dengan memasukkan kelaminnya dalam memek Dewi dan mulai menggenjot.
âOhhhhh emmmmâ Dewi mengerang. Partodi rubuh terlentang di sebelahnya.
Fasa melihat batang penis hitamnya mengecil tapi masih besar, jauh lebih besar dibanding temannya yang telentang di sebelah sana.
Kali ini Dewi duduk merangkul badan lelaki yang menyetubuhinya sekarang. Dimas yang sedari tadi menahan air maninya menyembur mengayun penisnya perlahan untuk bertahan. Dewi yang menyadari gerakan Dimas bergerak lembut, sejenak mengumpulkan tenaga. Kemudian barulah Dimas menggenjotnya dengan agak keras.
âTusuk bang⊠ohhh⊠Dewi mau keluar juga nih uhhhhâ Dewi memegang tangan Dimas yang berdiri di depannya, dia merasakan bekas luka di tangan itu tapi dia juga turut menggoyangkan pinggulnya menjemput orgasme. Memeknya diempot-empot ayamkan pada bataâng penis Dimas yang keluar masuk dengan cepat.
Aris bangun kembali menonton Dewi dengan Dimas bersetubuh, tangannya mengocok penis yang kembali menegang. Dia ingin merasakan memeknya Dewi dengan batang penisnya malam ini.
âYaaa emmm yaaa dikit lagi, goyangg terusss⊠terusss aaaa Dewi keluaaaaaar niiiiiâ
âOh ! Ahh!â
Dimas mencabut penisnya lalu menembakan air mani di atas perut Dewi , berloncatan dari lubang kencing. Dewi menggapai batang penis yang berejakulasi, membantu mengocokinya mengeluarkan air mani yang banyak dan kental.
âItu bukan air kencingâ pikir Fasa. Dia merasakan burung miliknya mengeras dibalik celana. Tangannya meremasi burungnya dan merasakan semacam nikmat.
Dewi kembali membaringkan kepalanya di bantal sambil menarik nafas panjang. Dimas rubuh telentang di atas lantai. Air mani Dimas menggumpal dan meleleh di atas perut Dewi, pelan-pelan Dewi mengambil selimut di sebelahnya membersihkan air mani itu.
âMbak, saya ingin sekaliâ tanya Aris.
Dewi menatap mata Aris yang juling dan memakai penutup wajah. Pandangan Dewi beralih ke jam dinding, masih jam 7.30, Fasa pulang jam 8. Masih sempat pikirnya.
âSekali aja yaâ sambil membuka selangkangannya kembali.
Aris mengarahkan posisinya dan mendorong penisnya dengan bertenaga, sekali saja pangkal penisnya didorong, masuk seluruhnya dalam memek Dewi yang empot-empotan.
âOh!â ringis Dewi. Dia hanya menahan genjotan Aris.
Aris mulai mengayunkan pompaan penisnya. Pelan awalnya, tapi tak lama kemudian berubah menjadi genjotan yang cepat.
âJangan nafsu gitu dong, pelan-pelan ajaâ tegur Dewi.
âSaya gak tahan mbak⊠empotan mbak kuat bangetâ
Dewi tahu anak muda yang menyetubuhinya tak kan lama bertahan.
âCrott di dalem mbak aja, mbak gak papaâ
âOohhhh ahâ Aris akhirnya melepaskan air maninya ke dalam rahim Dewi. Dia telungkup di atas badan Dewi.
Dimas dan Partodi berdiri dan membetulkan celana yang dipakainya masing-masing. Dewi masih mengangkang di atas ranjang, pelan-pelan dia dorong tubuh Aris ke sebelahnya.
âTemennya udah mau pulang tuhâ bisik Dewi.
âMakasih banget ya mbakâ
Dewi melihat ke dalam mata Aris lalu berpaling pada jam dinding. Aris turut bergegas memakai pakaiannya kembali. Dimas menghampiri sambil meremas buah dada Dewi. Partodi menusukan dua jarinya pada memek Dewi yang mengalirkan air mani Aris di atas sprei. Aris hanya menggenggam tangan Dewi.
âTerima kasih mbak.â
Fasa sudah bersembunyi di kamarnya, dia dengar langkah kaki keluar dari rumahnya. Fasa memperosotkan celananya, mengeluarkan burungnya yang besar dan panjang sambil mengocoknya. Sensasi nikmat dirasakan syaraf badannya. Berdiri dekat pintu kamarnya, Fasa terus mengocok, dalam pikirannya terulang kejadian yang baru dia lihat di kamar ibunya, kocokannya makin cepat.
Dewi berdiri perlahan-lahan, rasa pegal di badannya terutama di pangkal pahanya hilang saat berdiri. Air mani orang ketiga yang menyetubuhinya meleleh menyusuri bagian dalam pahanya dari memeknya. Dewi menggeliatkan badan beberapa kali. Kini hampir jam 8, Fasa bentar lagi pulang pikirnya. Dengan bertelanjang bulat dia keluar kamar mengambil handuk yang ada di ruang tamu rumahnya setelah dilepas ketiga pemuda tadi. Di luar kamar dia melihat pintu rumah sudah rapat ditutup ketiga orang tadi. Dia melihat handuknya tergeletak dekat kursi.
Saat Dewi melewati kamar anaknya, dia mendengar suara erangan dari sana. Pelan-pelan dia dorong pintu kamar Fasa, dengan mulut menganga dia melihat Fasa berdiri dengan agak membungkuk mengocok burungnya yang besar dan panjang. Mata Fasa terpejam. Dewi tak menyangka burung anaknya sudah hampir sebesar milik bapaknya Fasa. Tanpa sadar dia menghampiri Fasa.
ââ ââ ââ ââ
Masih jelas dalam pikiran Fasa, bayangan bagaimana si lelaki bertopeng itu memasukkan burungnya yang hitam ke dalam memek ibunya sampai-sampai ibunya mendesis dan mengerang seperti erangan yang biasanya selalu didengar setiap bapaknya ada di rumah. Tangan Fasa mengurut burungnya lagi. Lendir pelicin yang keluar dari ujung burungnya semakin banyak membuat kocokannya semakin lancar. Tiba-tiba Fasa merasakan bahunya dipegangi orang. Fasa membuka matanya. Dia melihat ibunya yang masih bertelanjang bulat berada di hadapannya.
âIbu!â seru Fasa sambil memeluk ibunya. Dua buah dada ibunya menempel rapat pipinya.
âGak apa-apa Fasa⊠gak papaâ sambil membelai kepala anak tunggalnya itu. Dia membawa anaknya duduk di tepian ranjang. Fasa cuma menurut.
âUdah lama Fasa pulangnya?â Fasa menganggukkan kepalanya.
âGurunya gak jadi ngajar di kelas malam ini. Miss Sarah gak bisa datang. Pak Lili cuman nagih iuran ajaâ Fasa mendongak melihat wajah ibunya yang cantik, berwajah lonjong dengan bibir tipis. Ibunya masih terus membelai rambutnya. Tangan Fasa masih terus memeluk pinggang ibunya. Burungnya yang keras tadi kini agak mengendur tapi masih saja besar mengembang. Kelihatan di ujung kepala burungnya masih meleleh air precum menjuntai.
âFasa tadi ngelihat apa yang terjadi sama ibu di kamar ibu?â Fasa menganggukkan kepala.
âSiapa sih mereka itu?â
âIbu juga gak tauâ walau pun dalam pikirannya Dewi sudah bisa menebak siapa sebenarnya mereka bertiga itu.
âMemangnya kenapa mereka datang ke rumah kita bu?â
âGak tau.eeemmm mungkin mereka ingin bersenang-senang dengan ibuâ
âBersenang-senang???â Fasa heran.
âIyaaaâŠ, bersenang-senang orang dewasa tuh bersenang-senang dengan cara mereka sendiriâ
âIbu gak papa?â
âNggak kok⊠eh, emmm ibu juga tadi ikut bersenang-senangâ
âTapi kenapa mereka pakai topeng?â
âKarena⊠karena mereka cuma mau bersnang-senang sama ibu tapi gak mau dikenalin sama ibuâ
âRibet bangetâ
âEmang ribet, tapi emang gitu mereka inginnyaâ
Perlahan-lahan Dewi memegang batang burung anaknya.
âBisa nggak Fasa rahasiakan kejadian malam ini?â tangannya mulai mengocoki kontol anaknya.
Fasa mendesis sambil matanya melotot-lotot melihat wajah ibunya.
âFasa janji Fasa gak bakal bilangin orang lainâ Janji Fasa sambil menunduk melihat tangan ibunya membelai kepala burungnya.
âSiapapun?â tanya Dewi.
âSiapapunâ jawab Fasa.
âKe bapak juga nggak?â
âKe bapak juga nggakâ
Dewi terus mengocoki kontol anaknya. Tangan Fasa mulai bermain dengan buah dada ibunya.
âooohhhhhâŠâ erang Fasa.
âEnakâŠ?â tanya ibunya.
âEmmm iyaaa⊠buâ.
Dewi berdiri.
âFasa tiduran biar ibu bantu kocokinâ
Fasa mengikuti perintah ibunya seperti disihir. Hatinya gembira dan berdebar-debar. Dewi mulai kembali mengocoki kontol anaknya. Fasa cuma mengangkat kepala di atas bantal untuk melihat perilaku ibunya. Perlahan dia melihat ibunya menunduk dan memasukkan burungnya ke dalam mulut. Hangat. Enak banget.
Ibunya membungkuk menghisap burungnya. Tangannya masih terus mengocok ke atas ke bawah di bagian pangkal burungnya. Fasa mulai memegangi kepala ibunya. Sesekali Atan merasakan lidah ibunya menjilati biji burungnya hingga sampai ke lubang pantatnya. Terangkat-angkat pantat Fasa jadinya.
âEnak?â tanya Dewi lagi sambil tangannya terus mengocoki kontol anaknya. Dia tersenyum melihat muka Fasa yang ikut senyum dan menggangukkan kepalanya disusul mulutnya menganga keenakan.
âOhh⊠ibu, Fasa mau pipisâŠâ tiba-tiba tubuh Fasa menegang.
Dewi dengan cepat memasukkan kontol anaknya ke dalam mulutnya disambut Fasa menembakkan air mani pertama dalam hidupnya. Banyak. Kental. Dewi terus mengocoki kontol Fasa sambil terus menghisap kepala kontol anaknya itu.
Di warung Partodi dengan pintu tertutup masih terdengar suara orang mengobrol di dalamnya. Kalau tadi lampunya dimatikan, sekarang lampu menyala. Partodi memasukkan topeng hitam ke laci di belakang counter warungnya. Dia mengambil tiga botol minuman lalu membukanya dan membawa pada Dimas dan Aris.
âNya, ceuk aing oge, awewe nu tadi maenna hadeâ sambil duduk di sebalah Dimas dan Aris. Aris bersandar kecapeâan. Matanya dipejamkan tak tahu apa mau ngomong apa lagi.
âEmang alus maenna, aing teu kuat kana empot-empotan henceutnaâ sahut Dimas sambil meminun minuman di depan nya.
âTi kabehan awewe di kompleks ieu nu ku urang garap, manehna panghadena / dari semua cewe di kompleks yang kita pake, dia paling hebatâ sambung Aris sambil membuka matanya.
âKita garap lagi dia aja apa? sekali lagiâ usul Partodi.
âHayang modhar ari sia Partodi? itu melanggar pantangan operasi penggarapan kitaâ bantah Dimas.
âBenar itu Partodi! Sabar aja deh, aku gak pengen ketangkepâ balas Aris mendukung pendapat Dimas.
Malam itu Fasa tidur dengan nyenyak. Sehabis dia menumpahkan air mani pertamanya, ibunya membuatkan susu hangat dan sehabis minum, ibunya mengocok burungnya lagi sekali sebelum dia tidur. Ketika Dewi masuk kamarnya, hidungnya mencium bau air mani di seluruh kamar. Dewi terus saja naik ke ranjang. Kecapean. Mungkin karena terlalu banyak ngentot satu hari satu malam. Dalam keadaan telanjang bulat Dewi tertidur mimpikan suaminya.
Dewi tidak keluar rumah selama dua hari. Dia tidak pergi ke warung Partodi. Kebetulan juga kebutuhan hariannya masih mencukupi. Sementara Fasa juga sibuk dengan sekolahannya.
Sorenya mengerjakan PR lalu berngkat les sampai malam. Hanya saja sebelum tidur dia meminta ibunya ngocokin burungnya beberapa kali. Dewi tidak keberatan memenuhi permintaan anaknya. Yang penting rahasia kejadian dia diperkosa tiga orang malam itu tidak diketahui orang lain.
Partodi, Dimas dan Aris kadang berharap supaya Dewi datang berbelanja ke warung Partodi untuk membeli sesuatu. Setidaknya mereka jadi bisa melihat tubuh yang paling menarik yang pernah mereka setubuhi. Pagi itu sebelum pergi sekolah, Fasa meminta ibunya mengocok burungnya sekali.
âKenapa sih, selalu minta diginiin sebelum pergi ke sekolah?â sambil tangannya membuka resleting celana anaknya yang masih duduk di meja makan.
âBurung Fasa ini keras terus di dalam kelas, apalagi pas Miss Sarah ngajarâ
Dewi mengeluarkan kontol anaknya yang mulai mengeras.
âMiss Sarah seksi, pas dia duduk Fasa bisa keliatan celana dalamnya. Dia pakai rok yang pendekâ
Dewi mulai menghisap kontol anaknya.
âKalo udah gitu pasti burungnya Fasa ngegedein, nonjol depan celanaâ
Dewi terus menyepong kontol anaknya. Tangannya mengocok batang kontol yang besar itu.
âHabis itu Miss Sarah selalu datangi meja Fasa. Kayaknya sih dia ngeliat burungnya Fasa. Fasa sampe maluâ
âTerus Fasa ngapain?â tanya ibunya.
âFasa tutupin pakai buku, pas istirahat Fasa selalu ke WC nge, ngeâŠâ
âNgeloco?â
âIya⊠ngeloco sampe pipis enak⊠tapi susah lama keluarnya⊠kalau sama ibu pasti cepet Ummmâ
Fasa mengangkat pantatnya.
Dewi tahu anaknya udah mau nyampe. Dia mempercepat hisapannya pada kontol Fasa.
âOhhh⊠ibuuuuuuâ Fasa keluar.
Dewi terus menghisap dan menelan setiap tetes air mani yang dikeluarkan. Setelah reda, Dewi membersihkan kontol anaknya dengan lidahnya kemudian memasukkan kontol tersebut ke dalam celana Fasa.
âUdah mau telat nih, cepetan pergi sekolah sanaâ Dewi kemudian bangkit berdiri lalu membetulkan rambut anaknya dan mengecup keningnya.
âAti-ati di jalan, belajar yang rajinâ
Fasa melangkah keluar rumah.
Dewi berias depan kaca memakai jeans ketat dengan T shirt hitam. Dia harus belanja di warung Partodi. Persedian nya sudah habis. Apalagi dia merasa ingin melihat wajah si buncit Partodi. Dia sangat yakin malam itu perbuatan Partodi dan temanânya. Dewi mau godain Partodi di pagi buta begini. Sambil membawa keranjang plastiknya, mengunci pintu lalu berjalan ke warung Partodi. Ketika berjalan, Dewi teringat telepon dari suaminya, Adam menanyakan tentang usulannya ngeseks bareng Tedi dan Reza.
âSesuka hati abang dehâ jawab Dewi. âDewi cuma ngikut ajaâ sambungnya lagi.
Suaminya gak kasih tahu apa-apa hanya tertawa saja mendengar jawaban Dewi. Punya suami aneh. Tapi Dewi suka dengan sikapnya, permainan ranjangnya. Dewi bahagia.
Dewi melangkah lebar supaya cepat sampai ke warung Partodi. Setelah sampai ternyata ramai orangnya. Saat itu dua orang anak SMA membeli rokok. Melihat Dewi datang mereka mensiut-siut pada Dewi. Dewi tidak menanggapinya.
âHei,â seru Partodi, bergegas keluar dari warung.
âNgapain kalian siut-siut?â
Dewi melihat Partodi cuman bersarung sambih berkaos oblong putih saja. Dia lihat Partodi memegang baju anak SMA itu.
âKenapa bang⊠ada apa nih??â
âEh bocah, ini istri orang jangan digodainâ sambil menampar muka anak SMA itu.
âMaaf bang ampuunnâ
âPergi sana kalianâ Anak SMA dua ekor itu bergegas lari.
âKurang ajar tuh anak.. ganggu isteri orang ajaâ
Dewi mendekati Muthu.
âTerima kasih mas Partodiâ
âAh gapapa kok mbak anak-anak sekarang nih emang pada nakalâ
Partodi masuk ke dalam warung. Dewi mengikuti dari belakang.
âMbak mau belanja apa hari ini?â Matanya mulai menjelajahi tubuh Imah dari rambut ke tumitnya. Dewi bertindak cuek saja pura-pura tidak tahu tingkah laku Partodi. Dia berjalan di depan Partodi sambil menggesekkan pantatnya kebagian burung Partodi. Kemudian dia menungging mencari bawang di bagian bawah rak dagangan. Partodi jadi serba salah dibuatnya. Kontolnya menegang di dalam sarung. Dia rapatkan kontolnya ke pantat Imah yang sedang menungging.
âMbak pengen beli bawang?â
âBawang saya masih ada, pisang ada nggak?â
âPisang kaya gimana mbak?â Dia mula menggesekan kontolnya ke pantat Dewi.
Dewi berakting masih seperti mencari sesuatu di rak. Dia bisa rasakan kontol Partodi mengeras di atas belahan pantatnya.
âEmmmm, pisangnya mas Partodi udah keras tuhâ
âWeleh-weleh, Mbak pengen pisang apa pengen kontol?â
âMas Partodi jual kontol juga toh?â Dewi mulai berdiri.
Partodi mulai mendekat lagi. Tangannya mulai merangkul pinggang Dewi.
âBesar gak kontolnya mas Partodi?â
âWeleh-weleh. masa mbak gak inget malam itu kan dipake ngentotin mbak?Opppsâ Partodi menyadari dia ngomong kelepasan.
Dewi berbalik mengadap Partodi. Tangannya segera meremas kontolnya Partodi. Dia genggam kuat-kuat.
âJadi kamu kan yang ngentotin aku malam itu yah?â
âWeleh-weleh salah ngomong deh Weleh-weleh ampun mbak.. ampunnâ
âSekarang kamu kasih tahu siapa lagi dua orang waktu ituâ tangannya terus meremas kontolnya Partodi dengan lebih kuat lagi.
âWeleh-weleh sakitlah mbak ampuunnnn. Itu mereka suka usil hah sakittttt mbak itu Dimas dan Aris aduhhhhhâ
Dewi cuma tersenyum. Dia udah ngeh dan yakin memang pemerkosanya mala itu adalah Partodi dan dua pemuda yang selalu main kartu di depan warung ini. Dia ingat benar perut buncit Partodi, bekas luka di lengan Dimas dan mata juling si Aris.
âSiapa lagi yang kalian garap di perumahan ini.. bilang..â
âItu aduhhhh engggg. Si Putri. errr Rima emm teh Meike.. Leniâ Partodi menyebut hampir semua istri orang dan anak gadis penghuni perumahan yang dibawah tiga puluh tahun termasuk Miss Sarah.
âKamu mau mbak lapor polisi?â
âNggak, mbakkk tolong mbak jangan laporâ
âKalau gak mau.. mulai hari ini kamu dengerin omongan mbak paham??â
âIya mbakkkâŠ. aduuhhh tolong lepasin mbakkkâ
âKamu suka gak ngegarap mbak malam itu?â Dewi lepaskan kontolnya perlahan-lahan.
âHebat banget mbak maennya⊠Badan mbak mulusâ
âKalau gitu, mau lagi gak di lain waktu?â
âMau mbakâŠâ
âKalau mau, mbak ga pengen diperkosa lagi sama kalian, biar nanti mbak panggil kalian buat ngentot mbak, bisakan?!â
âBisa mbak, makasih mbaaakâ
Dewi lalu megusap kontol Partodi yang telah kembali mengecil di balik sarung.
âOhhhâ Partodi mendesah.
âMbakkkk.. si Dimas sama si Aris gimana dong?â
âMereka boleh datang kalau mbak suruh, mengerti!?â
âMengerti mbakâ
Dewi mendapati kontolnya Partodi udah kembali mengeras. Dewi menyingkap sarungnya Partodi. Ternyata Partodi tidak pakai celana dalam. Dewi memegang batang kontol Partodi dan mengocoknya beberapa kali. Kepala kontol Muthu berkilatan membesar. Dewi sudah benar-benar mengenali batang kontol itu. Kontol yang pernah menyodoki lubang syahwatnya dan pernah menembakan isinya dalam mulut Dewi.
Tangan Dewi terus mengocok kontol hitam itu beberapa kali lagi. Dewi cuma tersenyum. Bukannya dia tidak hory dengan kontolnya Partodi tapi sengaja mau kasih pelajaran buat si pemilik warung.
âUdah dulu dehâ Dewi melepas batang kontol yang sedang tegang.
âWeleh-weleh⊠mbak tolongin dongâ
âGak bisa mbak buru-buru nih.. sebentar lagi suami mbak pulang anak mbak pulang.. buat makan siangâ Dewi lalu bergegas pergi.
âMbak.. tolong beresin dong kontol saya nihâ
âLain kali deh mbak kasih⊠bukan hari ini. Nah ini daftar barang yang mbak ingin beliâ
Partodi buru-buru mengambil daftar belanjaan, menjatuhkan sarungnya berdiri mencari barang yang ingin dibeli.
âMbak mah ah, kentang deh udah ngacung keras-keras. Kena tanggung.â
Dewi cuma senyum melihat gelagat Partodi. Di jalan raya sebelah rumahnya kelihatan 3 buah truk berhenti. Sopirnya yang berbadan besar kelihatan pada turun. Salah satunya adalah Adam suami Dewi, membawa tasnya berjalan ke arah rumahnya
Dewi berjalan meninggalkan warung Partodi, di tangannya sebuah keranjang berisikan barang keperluan sehari-hari. Hatinya riang karena Partodi tidak meminta bayaran sedikitpun kali ini.
âTerimalah sebagai tanda terima kasih saya mbakâ kata Partodi.
Mengingatnya Dewi hanya tersenyum, ada untungnya dia dikangkangi malam itu meskipun dipaksa. Hadiah sekeranjang ini cukup untuk makan beberapa hari kedepan, sebelumnya dia tidak pernah berpikir mendapat bayaran setelah dirinya dientot orang. Seenggaknya sampai sekarang dia bukan selevel pelacur yang ngentot untuk bayaran.
Fasa masuk dalam kelas selesai upacara. Kepala sekolah mengingatkan pentingnya Bahasa Inggris terutama untuk mereka yang akan Ujian kelulusan SD. Fasa bersemangat mempelajari bahasa asing itu, mungkin dia perlu lebih akrab dengan gurunya, Miss. Sarah.
Miss Sarah memakai rok yang longgar, hari ini. Fasa merasa lega setidaknya Miss Sarah tidak berpenampilan seksi dengan baju ketat, yang akan membuat burungnya membesar keras. Namun demikian, kali ini berbeda karena selain Miss Sarah tidak berpenampilan seksi tadi pagi di rumah ibunya telah membantu mengocokkan burungnya.
Fasa membuka buku pelajaran di atas meja, menanti guru yang biasanya membuat burungnya berdiri dengan keras, Miss Sarah.
Dewi masuk ke dalam rumah melihat pintu rumahnya terbuka dan di pintu dilihatnya tiga pasang sepatu yang salah satunya milik suaminya.
Terasa memeknya berdenyut, dua hari ini memeknya tidak dijejali batang penis selepas bersama suami dan Partodi dan teman-temannya. Selain itu Dewi hanya membantu menghisap dan mengocokkan burungnya Fasa waktu malam dan pagi, yang mengecewakan memeknya karena tidak memperoleh kepuasan yang seharusnya. Obrolannya dengan Partodi tadi juga membuat memeknya ingin dijamah batang penis. Dewi mempercepat langkahnya.
âHeiâ sapa Dewi ketika masuk dalam rumahnya. Adam, suaminya merangkul Dewi sambil menyimpan keranjang belanjaan. Dewi lalu memeluk suaminya sambil mengecup bibirnya hangat, mesra, penuh kasih sayang. Adam membimbing istrinya ke dalam kamar, di kamar Dewi menarik handuk yang membalut badan Adam.
âDewi kangen sama abangâ sambil melutut dan mulai menghisap batang penis Adam yang sudah menegang.
Tanpa disadari Dewi, di ruang tamu tadi ada Tedi dan Reza, perlahan Tedi bangun menutupkan pintu rumah. lalu kembali duduk. Reza hanya tersenyum melihat aksi Dewi dan Adam. Di ruang tamu mereka bisa mendengar erangan Adam keenakan.
âOhh sayang⊠isepin terus⊠emmmmâ
Tedi membuka celananya. Dikeluarkan batang penis 17 cmnya sambil mengocokkan perlahan. Reza lalu mengikuti perbuatannya. Penisnya yang 22 cm ikut diurut perlahan. Adam mengangkat Dewi yang berlutut, membantu melepaskan kaos hitam dan beha. Dewi sendiri melepas celana yang dipakainya beserta celana dalam. Hingga tinggal tubuh putihnya yang montok tak berbusana dengan buah dada yang mengkal, bulat dan besar. Adam memeluk Dewi sambil menciuminya. Tangannya meremasi memek Dewi yang membukit beberapa kali, sambil jarinya perlahan dimasukkan ke dalam.
Dewi membukakan kakinya, mendorong memeknya ke arah jari suaminya supaya bisa dimasuki lebih dalam. Tangannya masih mengocok batang penis Jimi yang seperti biasa besar dan keras dengan precum yang mulai keluar.
âBanggg, Dewi pengenâ pinta Dewi.
Adam hanya tersenyum, tangannya pindah meremasi buah dada Dewi yang memejamkan mata.
âBanggg, Dewi udah ga tahan nih banggg, ayolah bang.â tangannya terus membelai dan mengocok batang penis Adam.
Adam menarik tangan istrinya keluar kamar.
âAbang mau kemana sihâ Dewi mengikuti keluar kamar, masih menggenggam penis suaminya yang keras dan berdenyut
âDewi⊠sayangâ bisik Adam pelan. Dewi menatap wajah suaminya, tangannya memegang kepala Adam sementara satunya lagi mengocoki penis Adam. Tanpa disadari Dewi di belakangnya berdiri Tedi dan Reza. Pantat Dewi yang bulat montok bergoyang diremasi jemari Adam sambil belahan pantatnya dibuka perlahan, memperlihatkan lubang anus sampai dengan batas dengan memeknya yang berambut halus.
âDewi⊠kita kedatangan tamu tuh.â Adam mengarah ke belakang Dewi.
Perlahan Dewi membalikan wajahnya, tangannya masih merangkul suaminya. Dewi benar-benar melihat dua orang lelaki berbadan tegap berdiri di belakangnya. Mereka sama-sama sudah bertelanjang bulat. Dewi memperhatikan dua tubuh lelaki yang dikenal sebagai teman baik suaminya bertelanjang. Penis mereka menjuntai besar dan panjang. Apalagi penis milik Reza yang besarnya menyamai milik anaknya Fasa.
Terkejut Dewi melihatnya, adrenalinnya terpacu. Dewi melihat dada Tedi yang bidang sementara dada Reza bidang berbulu. Meskipun perut bang Reza agak buncit, tapi tak sebuncit milik Partodi. Dewi melihat wajah mereka tersenyum dengan nafas memburu. Tangan mereka membelai penis masing-masing yang mengembang.
âDewi malu bangâ ujar Dewi memandang suami yang dipeluknya.
Tedi mengangkat kursi meja di ruang tamu kepinggir, hingga ruang tamu menjadi luas dialas karpet.
âMereka tamu istimewa kita, teman akrab abang paling dekatâ Adam mengecup bibir Dewi, âmereka udah lama berharap menikmati tubuh Dewi.â
Dewi memalingkan mukanya kembali ke arah mereka. Suaminya membelai buah dada istrinya sambil satu tangannya menepuk panta Dewi.
âAbang gak papa?â
Tedi mendekati tubuh Dewi yang berdiri, dirabanya buah dada Dewi yang bulat lalu meremasnya pelan. Sementara Reza membelai jembut Dewi dan meremasi memeknya.
âOhhhh bangggâ Dewi melebarkan kakinya dan tangannya pindah ke batang penis Reza dan Tedi yang menjuntai besar dan panjang. Adam agak mendorong istrinya ke depan hingga Dewi berlutut dan menjilati kepala penis Reza. Dia membuka lebar mulutnya agar bisa memasukan kepala penis Reza yang berukuran besar. Sambil kedua tangannya mengocok penis Tedi dan Reza.
âEmmmm yaâ erang Reza, tangannya membelai rambut Dewi. Sementara Tedi masih membelai buah dada Dewi. Adam duduk di sofa mengurut penisnya yang tegang. Ini kali pertama dirinya melihat sang istri mencumbu lelaki lain.
Nafsu Dewi di ubun-ubun. Dewi beralih menghisap batang penis Tedi. Permainan mulut dan lidahnya yang ganas membuat kedua lelaki tidak tahan. Reza lalu merebahkan badan Dewi di atas karpet. Tangannya meremas buah dada dan memek Dewi. Dewi mengerang dan mendesis sambil terus menghisap batang penis Tedi.
Sambil membuka selangkangan Dewi agar melebar, Reza menciumi memek Dewi. Lidahnya menyapu setiap bagian di memek Dewi. Giginya sesekali menggigit halus kelentit Dewi yang tersembul. Dewi hanya bisa mengerang sambil mengangkat pantat dan menarik rambut Reza ke arah lubang kemaluannya. Reza lalu memakai jarinya untuk dicolokkan pada memek Dewi. Satu, dua, tiga jari masuk terbenam dalam memek Dewi sambil lidahnya menjilati lendir pelumas dari lubang memek Dewi.
âAhhhh uogghhhh emmmmâ Dewi mengerang. Pantatnya terangkat-angkat. Hisapan pada batang penis Tedi semakin kuat.
âAwwww eghhhh ohhh yaaa isepin terus Wi⊠isepin yang kuat teruuuuuussss!!!!â
Adam terus memperhatikan tingkah pola yang berlangsung dihadapannya. Tangannya masih mengusapi penisnya yang tegang. Tiba-tiba Dewi melepas batang penis yang tengah dihisapnya.
âBangggggg Dewi nyampeeeee nih bangggggg aghhhh yaaaaa!!!!!â
Reza terus menghisap memek Dewi walau mengecap panasnya lendir orgasme di wajahnya. Rasa memek yang asin anyir itu menjadi semakin asin. Jemarinya merasakan memek Dewi sudah sangat basah. Pelan-pelan dia angkat wajahnya, melipat paha Dewi ke arah dadanya dan dia menusuk batang penisnya yang besar, panjang dan keras ke mulut memek Dewi dengan ganas. Dewi mengangkat kepalanya. Tangan kirinya terus mengocok penis Tedi sementara yang kanan mengarahkan penis Reza yang menyundul-nyundul mencari sasaran. Dengan mata sayu dia mentap mata Reza.
âPelan-pelan ya bangâ Reza hanya tersenyum menganggukkan kepala. Dewi mengarahkan kepala penis Reza yang hampir sebesar telur ayam ke memeknya. Digesekannya di sekujur bibir memeknya yang licin berlendir. Hingga benar-benar diarahkan ke gerbang rahim Dewi. Reza seolah mengerti dan mendorong penisnya dengan lembut.
âOhhhhh gede banget bangggggâ Dewi merasakan bibir memeknya masuk ke dalam.
âUghhhhhh, tekan perlahan bangâ penis Reza terus menusuk lubang nikmat Dewi. Setelah itu Dewi merasakan serasa ditikam sampai perutnya. Dewi menggigit bibir.
âAghhhhhhh uhhhâ tangan Dewi memegang batang penis yang menyumbat sesak lubang memeknya dan masih bersisa sebagian.
âAbang tarik dulu bangâ
Reza menarik separuh keluar.
âOhhhhhhhh!!!!!!â erang Dewi.
âDorong semua bang⊠emmmmm sampai mentok banggg ouuuuuuu.. emmâ tangan Dewi membelai kelentitnya dapat merasakan jembut lebat Reza menyentuh punggung tangannya.
âOh yaaaaaahh, emmmâ Dewi mulai menyesuaikan diri dengan pengunjung memeknya yang keras itu. Sambil kembali mulutnya menghisap penis Tedi yang hanya digenggamnya sedari tadi.
Reza mulai menggenjot maju mundur dengan tempo pelan-pelan.
âSempit banget, punyanya DewiâŠâ sambil tangannya menjamah buah dada Dewi dengan satu tangan.
Adam bergerak ke sebelah Dewi sambil mengarahkan tangan istrinya pada batang penisnya.
ââ
Fasa menunggu lama di ruang guru menunggu Miss Sarah. Kemudian Miss Sarah datang menghampirinya.
âFasa tunggu Miss sebentar yah, kita pulangnya bareng. emmm Miss Sarah mau ngobrol sama Fasaâ Fasa hanya mengangguk.
ââ
Di warung Partodi, beberapa puluh meter dari rumah Fasa. Partodi ngobrol sama Dimas dan Aris.
âPerempuan yang kita garap kemaren lusa udah tau sama kita, dia ngancam jangan ngegarap dia lagi. Dia bilang, biar dia yang ngasih tau kita kapan dia bisa digarap kapan gak bisanya.â
âSiapa yang ngasih tau?â tanya Dimas.
Partodi diam, karena dia yang ngasih tau Dewi bahwa mereka pelakunya.
âTapi kita jangan khawatir karena dia gak bakal kasih tau siapapun. Tadi pagi di ngomong gitu ke aku.â sambung Partodi. Obrolan mereka berhenti saat Partodi melayani pembeli, Leni dan teh Meike.
âPagi teh.. Beli apa teh Meike, neng Leni mau beli apa?â tanya Partodi ramah.
Dimas dan Aris memperhatikan kedua perempuan dengan ekor matanya sambil nermain kartu. Kedua perempuan itu sudah pernah mereka sikat juga. Mereka tahu buah dada teh Meike bulat dengan puting hitam menonjol dan rambut jembut yang rimbun hampir menutupi lubang memeknya. Buah dada Leni kecil, putingnya agak berwarna pink dengan jembut memeknya sedikit dan dicukur rapi. Belum lama ini Leni mereka setubuhi. Dimas masih ingat dia saat dia menjilati memek Leni hingga Leni orgasme dua kali berturut-turut.
Melihat pantat teh Meike dan Leni mebuat Aris, Dimas, dan Partodi terbakar syahwatnya. Mungkin pantangan mereka untuk mengulangi menggarap perempuan incarannya masti ditinjau ulang. Teh Meike dan Leni membeli sayur mayur dan daging ayam dengan ramah pada Partodi.
ââ
Di rumah Fasa, nyaring terdengar erangan ibunya, âyang cepet banggggg Dewi nyampeeeeeeee niiiih.â
ââ
Di sekolah, Fasa memikirkan Miss Sarah yang selalu membuat burungnya keras berdiri. Mungkin hal ini artinya dia sudah dewasa dan harus segera âbersenang-senangâ seperi ibunya âbersenang-senangâ dengan bapaknya dan para penyusup waktu itu. Apapun bisa saja terjadi.
Beberapa minggu kemudian, Fasa melangkah cepat ke arah WC sekolah. Kali ini Miss Sarah kembali membuatnya terangsang. Duduk di atas mejanya dengan memakai rok pendek hampir ke pangkal paha sambil menjelaskan pelajaran pada murid-murid. Burung Fasa benar-benar membesar keras dibuatnya. Langkahnya makin cepat ke WC sekolah.
Sesampainya di dalam WC, Fasa langsung mengeluarkan burungnya. Dengan meludahi telapak tangannya dia mulai ngeloco. Dia tidak tahan melihat paha putih Miss Sarah. Fasa membayangkan bagaimana dia melihat ibunya bersenang-senang dengan lelaki bertopeng dan dia membayangkan seandainya Miss Sarah memintanya untuk bersnang-senang sebagaimana ibunya bersenang-senang dengan orang bertopeng tempo hari. Atan langsung saja merasakan nikmat saat air maninya mau keluar.
âUhh yaaaaahhh Uhhhhhhâ seketika itu air maninya keluar ujung burung Fasa deras ke lubang kloset. Saat itu juga dia merasakan tangan kasar di atas bahunya. Dengan muka pucat dia berpaling.
Guru Disiplin Pak Lambertus Wanggai berdiri tegak dibelakangnya. Rupanya saat terburu-buru tadi dia lupa untuk menutup rapat pintu WC.
âFasa lagi ngapain?â
Belum sempat Fasa menjawab Guru Disiplinnya menariknya keluar WC.
âGak boleh kaya gitu, Fasa⊠sekarang Fasa ikut bapakâ dengan mearik sletingnya ke atas Fasa mengikut saja Pak Lambertus.
Gurunya membawa Fasa naik ke dalam mobil. Fasa kebingungan.
âSekarang kasih tau bapak⊠Dimana rumah Fasa?â dalam keadaan takut Fasa memberitahu alamat rumahnya. Pak Lambert lalu mengarahkan mobilnya kesana.
âKasus ini ⊠bapak harus ngasih tahu bapaknya Fasaâ
âBapaknya Fasa gak ada di rumahâ
âBerarti ke Ibunya Fasaâ
Fasa diam sepanjang perjalanan ke rumahnya.
âMana rumahnya Fasa?â
âItuâŠyang di ujungâ
Mereka turun dari mobil, berjalan menuju ke arah rumah paling ujung yang kelihatannya sepi sekali.
Dewi menyiapkan cucian pakaiannya lalu dimasukkan ke dalam keranjang cuci untuk dijemur diluar rumah nantinya. Dia mengelap tubuhnya yang basah kuyup lalu melilitkan handuk ke tubuhnya yang montok. Ketika itu pintu rumah di ketuk orang.
âSiapa?â
âFasa, bu!â
âFasa?â sambil bergegas ke pintu. Kenapa jam segini udah pulang.
Dewi membuka pintu.
Fasa nongol di depan pintu dengan seorang Pria berkulit hitam yang tinggi dan berbadan kekar. Berpakaian rapi dan berdasi.
Lambertus Wanggai melihat tubuh montok Dewi yang hanya dibalut handuk yang kecil.
âMaaf nyonya⊠saya mau bicara sama nyonya mengenai anak nyonyaâ
âErr⊠silakan masukâ
Guru Disiplin masuk bersama Fasa.
âSilakan duduk pak guru.. saya mau ganti baju dulu sebentarâ
Dewi pun masuk kamar.
âFasaâ Dewi memanggil Fasa masuk kamarnya.
Fasa lalu masuk ke kamar ibunya
Dewi bertanya kepada anaknya apa yang terjadi. Fasa menceritakan satu persatu dengan berbisik agar gurunya tidak mendengar di ruang tamu.
Dewi meminta anaknya pergi ke warung Partodi dan jangan dulu pulang sebelum dia dipanggil.
âPak guru duduk dulu bentar, saya ada sedikit urusanâ lalu Dewi masuk ke dapur mencari akal sambil membuatkan air untuk Pak Lambert.
Pak Lambert gelisah di luar, namun dibuat santai. Apa salahnya menunggu, lagian Ibunya Fasa terlihat benar-benar sangat seksi. Saat Dewi melamun tiba-tiba ada orang mengetuk pintu. Dewi bergegas keluar membukanya.
Dewi melihat Tedi berdiri di depan pintu.
âAkang!â Tedi sambil nyengir melangkah masuk lalu Dewi menguncikan pintu.
âAkang, ini Pak Lambert.. Gurunya Fasaâ Tedi bersalaman namun belum sempat dia duduk di kursi, Dewi menarik Tedi ke dalam kamar.
âSebentar , Pak guruâŠâ pinta Dewi.
Pintu kamar Dewi biarkan terbuka. Dari ruang tamu, Pak Lambert bisa melihat bagian kaki siapa sahaja yang berbaring di atas ranjang dalam kamar itu.
âAda apa nih, Wi?â tanya Tedi.
âAkang mau ngewekin Dewi?â sambil memeluk pinggang Tedi.
âIyalah⊠kalau enggak, ngapain akang mampir siniâ sambil tangannya mulai meremasi pantat Dewi.
âFasa ada masalah di sekolah, makanya gurunya datang tu, mungkin Fasa akan dihukum, Dewi gak mau Fasa dihukum di sekolah, takut nanti abang Adam marahin Dewiâ terang Dewi panjang lebar sambil tangannya mulai menggosoki kontol Tedi yang sedang tegang. Tangannya mulai membuka celana Tedi.
âTerus sekarang Dewi pengen akang ngapain atuh?â
âYa udah akang ewekin aja Dewi kaya yang akang pengen, tapi habis itu akang ajak pria hitam di luaritu ngewekin Dewi jugaâ
âEmmm ..akang ngertiâ tangannya mulai membuka pakaiannya dan Dewi juga menanggalkan semua baju yang dipakainya.
Dewi naik ke atas ranjang dan Tedi langsung memainkan aksinya. Dia jilatin memeknya Dewi sambil menghisap kelentit di atas memek Dewi.
âAuuuuh emmmm!âŠâ Dewi mulai mendesah keenakan.
Di luar, Pak Lambert masih membaca majalah yang ada di depannya. Pikirannya tertuju pada Ibu dan Bapaknya Fasa yang sedang obrolkan mengenai masalah Fasa. Tiba-tiba telinganya mendengar suara desahan keenakan dari mulut Dewi. Dari ruang tamu itu, bisa kelihatan jelas kaki ibunya Fasa sedang ditindihi kaki âsuaminyaâ. Pak Lambert tidak mengetahui bahwa Tedi cuman sahabat bapaknya Fasa.
Tedi menyetubuhi Dewi dengan brutal. Mengetahui bahwa perbuatannya itu sedang diintip orang lain menambah gairahnya. Lagian dia sudah dua hari ini dalam perjalanan membawa truk mengatar muatannya.
âUh yaaa, kencengin kanggggggâ keluh Dewi bernafsu.
Pak Lambert berdiri dari tempat duduknya dan perlahan-lahan berjalan menuju ke pintu kamar Dewi. Dia yakin Ibu dan bapaknya Fasa sedang melakukan hubungan seks. Saat berada dekat pintu kamar Dewi, kelihatan semua yang terjadi di atas ranjang.
Dewi yang separuh memejamkan mata bisa melihat sosok Pak Lambert sedang memperhatikan dirinya di dekat pintu. Dia pun memberikan tontonan erotis dengan erangan dan desahan yang manja. Dewi angkat kedua kakinya ke atas dan sesekali diangkat pantatnya agar kontol Tedi masuk semakin dalam lagi.
âYahhhhh, kocok yang kenceng kangggâŠâ jerit Dewi saat dirinya hampir muncak. Tedi terus bekerja keras, dia juga semakin dekat meraih klimaks syahwatnya. Sementara Pak Lambert mengusap kontolnya yang panjang dan besar dalam celana bahannya, sudah tidak tahan melihat adegan yang tersajikan jelas didepan matanya.
âOK banggggg pejuhin Dewit sekaranggggggâ pinta Dewi. Tedi menekan sedalam-dalamnya kontolnya ke dalam tubuh Dewi.
âYeahhhhhhhhhâ jerit Dewi ketika merasakan semprotan demi semprotan yang dilepaskan Tedi ke dalam rahimnya.
âAhhhhhhhhhhhâ erang Tedi.
Tedi cepat-cepat bagun setelah mencabut kontolnya dari memek Dewi. Air maninya meleleh keluar dari memek Dewi masih panas setelah ditumpahkan. Pak Lambert berangsur mundur ke arah kursinya kembali, tetapi âŠ
âPak guru!â dia mendengar suara âbapaknyaâ Fasa.
Lambert menoleh dan melihat Tedi masih bertelanjang dengan kontol yang basah menjuntai. Lambert terbengongâ di ruang tamu. âSekarang gilirannya Pak Guruâ seru Tedi.
Lambert semakin terbengong.
Dewi mendengar seruan Tedi pada Lambert, cepat-cepat bangun membersihkan dirinya dari air mani dengan memakai handuk. Dia menyadari Pak Lambert sedang kebingungan dalam dilema.
Dia berdiri di pintu sambil tersenyum. âMari pak, naekin saya â
âNggak papa, bu?â jawab Lambert.
Dewi melangkah ke luar menghampiri. Buah dadanya yang besar dan tegang bergoyang mengikut langkahnya. âMasa sih pak guru yang setampan ini nggak suka sama perempuan?â tangannya mulai membelai kontol Lambert yang besar dan panjang dalam celana. Dewi membuka sleting celana lambert dan merogohkan tangannya ke dalam celana dimana kontol pria Timur itu sedang mengembang.
âBurungnya gede nih Pakâ tangannya mulai menggenggam kontol yang besar di dalam celana yang sempit.
Tangan Pak Lambert mulai memeluk badan Dewi.
âBawa ke kamar Wi!â pinta Tedi sambil berjalan mengekori.
Di dalam kamar Dewi duduk di pinggir ranjang dan mulai membuka celana Lambert. Hingga nongol keluar kontol yang panjang dan besar. Tedi duduk disebelah Dewi sambil membelai buah dada Dewi.
âLihatin banggg gede bangetâ Dewi mulai mengocoki kontol Lambert. Lalu dia mulai menunduk menghisap kepala penis. Hanya helmnya saja yang masuk dalam mulutnya, batangnya hanya diurut dengan tangan.
Setelah beberapa kali menghisap kepala penis yang besar dan menjilati seluruh batangnya sampai ke biji testisnya yang juga besa. Dewi mundur ke atas ranjang. Dia mengambil sebuah bantal dan mendudukinya dengan pantat. Lambert menghampiri dengan kontolnya keras menjuntai.
âYang lembut ya⊠Pak guruâ pinta Dewi.
Lambert cuma senyum sambil mendorong kepala penisnya ke mulut vagina Dewi.
Dewi membuka mulut vaginanya dengan jari supaya bisa dimasuki dengan lebih mudah. Lambert menekan kepala penisnya. Dewi menggigit bibir. Tangannya memegangi paha Lambert.
Lambert semakin menekan. âAughhhhh⊠gedee bangeeeeettâ jerit Dewi.
Lambert menarik sedikit lalu mendorongnya lagi perlahan, membiarkan vagina Dewi menyesuaikan diri dengan ukuran penisnya. Sementara Tedi ikut merangsang dengan menghisap buah dada Dewi dengan rakus.
Dewi menarik nafas, dia coba merilekskan otot vaginanya. Batang penis yang besar itu seperti ingin menyobek vaginanya tetapi air mani yang banyak ditembakan oleh Tedi dalam rahimnya banyak membantu melicinkan kontol Lambert untuk masuk.
Dewi menganggukkan kepala pada Lambertn menandakan bahwa dia sudah siap. Lambert menarik sedikit penisnya.
âEmmmmmmmâ rintih Dewi.
Lambert menekan perlahan-lahan ke dalam.
âOooohhhhhhhhhhh augggâŠâŠaaaaahhhhhhhh yeaaaaahhhhh emmmhhâ
Lambert mulai menggenjot pangkal kemaluannya dengan tempo yang pelan. Tubuh Dewipun berayun ayun menerima genjotannya. Tangan Dewi bergerak mencari penis Tedi yang di sebelahnya.
âSiniin kang ohhh⊠Biar Dewi isepppiiiinnnn uuuuhhhhâ
Tedi mendorong penisnya ke mulut Dewi. Dewi menghisapnya dengan bernafsu.
Lambert tidak kalah bernafsu mendorong kontolnya keluar masuk memek Dewi. Dia tidak pernah merasakan ngentot memek perempuan seputih dan secantik Dewi, kini dia sangat menikmatinya. Memang dia selalu ingin ngentotin gadis lokal berkulit putih, tetapi dia takut. Kali ini tidak disia-siakannya dengan menikmati hidangan orangtua Fasa habis-habisan.
Lambert merubah posisi cowgirl dengan gaya misionaris. Dewi meraih satu orgasme dengan Lambert tetapi masih bertenaga untuk meneruskan. Tedi bisa melihat dengan jelas kontol Lambert keluar masuk memek Dewi. Kontol yang besar tak disunat dengan lendir putih sekelilingnya masuk hampir keseluruhannya ke dalam memek sempit Dewi. Tangan kasar Lambert menjamah kedua buah dada Dewi yang bergoyang hingga Dewih hilang kendali dan terus muncak kedua kalinya dengan Lambert. Dewi telungkup di atas badan legam Lambert yang berbulu
Rehat beberapa menit. Posisi mereka kembali berubah. Kali ini doggie. Dewi mengangkat pantatnya menerima genjotan kontol Lambert. Buah dadanya yang bulat berayun setiap kali Lambert menghentak masuk kontolnya yang besar dan panjang itu. Tangan Dewi menggenggam erat sprei ranjang yang sudah tidak lagi menutupi kasur empuk tempat tidurnya dengan sempurna.
Tiba-tiba Dewi melihat Tedi berada di depannya. Kontol Tedi yang tegang mengacung di depan mata dekat dengan wajahnya. Dewi paham sekali Tedi juga tidak tahan melihat dirinya dientoti Lambert dengan berbagai posisi. Waktu berjalan dengan begitu cepat. Lambert masih sanggup bertahan walau pun Imah sudah meraih tiga kali orgasme.
Dewi menghisapi kontol Tedi seperti kesetanan. Dia ingin Tedi segera menembakan air mani dalam mulutnya. Tedi memegang kiri kanan kepala Imah dan mengayunkannya ke arah kontolnya. Dia sempat senyum ke arah Lambert sambil menahan nikmat.
âOk Pak guruâŠ. kita semprot barenganâ usul Tedi.
âOKâŠâ jawab Lambert, sambil mengayun dengan lebih cepat dan dalam lagi.
Dewi dapat merasakan kedua kontol yang menyodoki tubuhnya benar-benar membesar hampir menumpahkan isinya. Dia menenangkan dirinya yang tersulut syahwat lagi. Dia tidak lagi perlu bekerja keras, cuma menanti pancuran nikmat yang bakal ditumpahkan ke dalam rongga badannya saja. Dewi sadari dia juga akan orgasme sebentar lagiâŠ.


