Keluarga Anaconda
Cerita Dewasa Β· 18+
Cerita Sex Keluarga Anaconda – Bima anak berumur 18 tahun. Sebentar lagi dia lulus SMA. Dia tinggal bersama bapak dan kakeknya. Untuk ukuran anak umur 18 tahun, badan Bima cukup besar dan kekar. Itu karena setiap pulang sekolah Bima membantu bapak dan kakeknya mengurusi sawah. Apa saja dia kerjakan.
Bapak Bima, Pak Trisno adalah duda yang ditinggal minggat oleh istrinya. Dia mengurusi Bima seorang diri semenjak Bima berumur lima tahun. Selain mengurusi sawah, tidak ada hal lain yang dilakukan oleh Pak Trisno. Dia suka mendengarkan lagu-lagu keroncong di tape tua yang ada di rumah dan minum kopi sambil bercerita dengan kakek Bima, Mbah Sinyo.
Semenjak nenek Bima meninggal, Pak Trisno mengajak Mbah Sinyo untuk tinggal bersama mereka. Jadilah ketiga laki-laki ini tinggal serumah.
Pak Trisno sendiri sebenarnya lumayan ganteng. Untuk ukuran bapak-bapak desa, badannya kuat dan sehat. Warna kulitnya cokelat tua dan ototnya menonjol kemana-mana. Dia memiliki otot dada yang besar, perut kotak-kotak dan paha yang besar.

Sebuah hasil yang didapatkan dari kerja di sawah seharian. Selain itu Pak Trisno juga suka tertawa. Itu sebabnya ibu-ibu dan para janda suka menggodai Pak Trisno. Berharap Pak Trisno memperistrinya. Tapi menurut kabar yang beredar Pak Trisno sudah terlanjur jatuh cinta dengan istrinya sehingga patah hatinya belum bisa diobati.
Mbah Sinyo sendiri juga sama kekarnya dengan Pak Trisno. Hanya saja badannya lebih kurus. Tapi masih kekar dan berotot. Dan memang kulitnya memang sudah agak berkeriput. Rambutnya juga sudah beruban. Tapi hal tersebut justru menambah keseksiannya.
Yang membuat dilema adalah Bima menyadari bahwa sepertinya dia menyukai laki-laki. Meskipun dia sangat tampan, dengan kulit sawo matang, rambut gondrong yang membuatnya macho dan bewok yang membuatnya garang, tapi dia sama sekali tidak tertarik dengan perempuan.
Entah kenapa bayangan perempuan telanjang justru membuatnya ingin muntah. Namun justru ketika dia melihat laki-laki, apalagi yang berotot, dia jadi ngaceng dan bergairah.
Akhir-akhir ini Bima birahinya semakin meninggi. Entah kenapa setiap kali melihat bapaknya atau bahkan kakeknya sendiri tidak memakai baju, dia ingin sekali berhubungan badan dengan mereka.
Dan Bima sadar bahwa ini salah. Ini semua salah. Menyukai sesama laki-laki sangat tabu. Apalagi nafsu dengan orang tua sendiri. Sangat terlarang.
Tapi Bima tidak bisa menahannya. Itu sebabnya dia selalu sembunyi-sembunyi menahan hawa nafsunya. Dia tidak pernah coli kalau memang sedang ingin. Dia menahan agar dia tidak bergerak terlalu jauh.
Karena hanya ada lelaki di dalam rumah, sudah sering kali Bima melihat bapak dan kakeknya telanjang. Dan dia merasa ingin memegang kontol mereka. Apalagi kontol Pak Trisno, bapaknya sendiri, yang sangat tebal dan besar. Panjangnya mungkin 22 senti. Tapi tebalnya benar-benar luar biasa.
Itu sebabnya teman-teman ronda Pak Trisno memanggil bapak Bima dengan sebutan “anaconda”. Itu karena memang kontol Pak Trisno sangat besar.
Bima bahkan sempat pergi ke pesantren selama sebulan atas kemauan sendiri ketika liburan sekolah untuk menyadarkan dirinya. Tapi di pesantren justru keinginannya menjilati kontol semakin menjadi-jadi. Karena dia terpaksa tidur seruangan dengan laki-laki. Dan banyak disana yang setipe dengan selera Bima.
Hari itu hari Minggu. Biasanya hari Minggu memang giliran Bima memasak. Pak Trisno dan Mbah Sinyo sedang ada di sawah. Jadi petani memang tidak ada hari libur. Mereka harus selalu mengurusi apa yang ada di sawah.
Setelah selesai memasak, Bima memasukkan hasil masakannya ke rantang. Dia membawa cangkul dan rantang dan siap membawanya ke sawah.
Di tengah jalan banyak gadis-gadis muda yang belajar motor dengan genit menyapa Bima. Bima tersenyum ramah. Yang jadi perhatian dia justru pemuda-pemuda kampung yang mandi tanpa busana di pancuran terbuka dekat kali. Mereka menyapa Bima dan mengajaknya main bola.
“Yo, engko tak susul (ya, nanti aku nyusul),” kata Bima.
Bima kemudian terus berjalan ke arah sawah.
Bima kemudian sampai di pondok. Pondok milik Pak Trisno ada di tengah sawah dan dikelilingi oleh pohon singkong. Jadi lumayan sejuk dan enak buat tidur siang. Karena tidak terganggu oleh banyak orang.
Ketika Bima sampai dekat pondok, dia justru mendengar suara-suara aneh.
Dia mendengar suara desahan Pak Trisno.
Bima berjalan dengan pelan, berusaha tidak membuat suara.
Kemudian dia mengintip dari sela-sela pohon singkong. Dan dia kaget sekali dengan apa yang dia lihat.
Pak Trisno bersandar di sandaran, tidak memakai baju dan celana pendek warna biru tuanya yang sudah pudar (Pak Trisno tidak pernah memakai celana dalam) sudah sampai dengkul.
Kakinya dilebarkan. Dan di ujung pahanya, ada kontol hitam tebal besar yang berurat sedang keluar masuk mulut Mbah Sinyo.
Bima menutup mulutnya shock. Dia langsung sadar dengan suara di sekitarnya. Dia menaruh rantang dan cangkulnya di tanah dan mendekat. Mengintip.
Pak Trisno merokok Dji Sam Soe sambil sesekali memegang kepala Mbah Sinyo yang menjilati kontol Pak Trisno dengan penuh bernafsu.
“Oh yo, Pak. Ojo lali ngko ngeterke gabah nang juragan Bambang (oh iya, Pak, jangan lupa nanti mengantarkan gabah ke juragan Bambang),” kata Pak Trisno disela-sela ngerokoknya.
Mbah Sinyo melepas kontol Pak Bambang dari mulutnya. Bima bisa melihat kontol hitam tersebut berkilauan terkena sinar matahari. Penuh dengan ludah. Mbah Sinyo memandang Pak Trisno dengan serius.
“Yo ngko gampang. Bima ae sing budal (Ya nanti gampang. Bima saja nanti yang berangkat),” kata Mbah Sinyo kemudian dia langsung menyantap lagi kontol Pak Trisno.
“Slurrrp… slurrp…” suara Mbah Trisno menyedot kontol Pak Trisno membuat Bima makin shock.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
Bima bingung tapi dia tahu yang pasti kontolnya ngaceng luar biasa.
“Asu tenan sedotanmu, Pak (Anjing banget sedotanmu, Pak),” kata Pak Trisno.
“Yokpo? Joskan? (Gimana? Enak kan?),” kata Mbak Sinyo sambil menjilati lubang kontol Pak Trisno.
“Doyan men karo kontol (doyan amat sama kontol),” sahut Pak Trisno.
“Cepetan tokno pejuhmu. Tak ombene (Cepetan keluarin pejuhmu. Mau kuminum),” kata Mbah Sinyo.
“Wis gak kuat ta? (Sudah nggak kuatkah?),” Jawab Pak Trisno sambil memukul-mukulkan kontolnya yang keras seperti tongkat ke wajah Mbah Sinyo.
“Iyo iki kontolku wis kepingin muncrat (iya ini kontolku juga ingin muncrat),” kata Mbah Trisno.
“Yowis iki. Bima yo maringene rene nggowo panganan (Yaudah ini. Bima bentar lagi juga kesini bawa makan siang),” kata Pak Trisno.
Pak Trisno kemudian mengocok kontolnya di depan wajah Mbah Sinyo. Mbah Sinyo mengeluarkan lidahnya seperti anjing sementara tangannya mengocok kontolnya.
Pak Trisno menjambak kepala Mbah Trisno kemudian memuncratkan pejuh kental ke wajahnya. Mbah Trisno memejamkan matanya, menerima crotan pejuh ini dengan bahagia. Kemudian dia menjilati pejuh dari kontol Pak Trisno dengan raut muka binal. Pak Trisno tertawa.
“Pak… pak… wis tuwek kok doyan men pejuh (Pak Pak, udah tua kok doyan banget pejuh),” kata Pak Trisno.
“Ahhh…” Mbah Sinyo menjerit keenakan. Sepertinya dia keluar. “Wong pejuh anake dewe. Yo enak (Namanya juga pejuh anak sendiri. Ya enak),” lanjut Mbah Sinyo.
Kemudian Pak Trisno melakukan sesuatu yang membuat Bima makin shock.
Pak Trisno mendekat ke Mbah Sinyo dan menjilati pejuhnya sendiri di wajah Mbah Sinyo. Dia menjilati semua pejuh itu kemudian Pak Trisno berciuman dengan Mbah Sinyo. Setelah berciuman lama, Mbah Sinyo berbisik, “Wenak men pejuh anakku (Enak banget pejuh anakku).”
Keduanya tersenyum kemudian berpelukan.
Bima tidak tahu harus merasakan apa.
Bersambung…
Setelah kejadian di pondok sawah itu, Bima mencoba untuk memperhatikan hubungan bapaknya dengan kakeknya lebih teliti. Dia mengintai mereka dan melihat apakah ada yang aneh. Dan ternyata jawabannya tidak ada.
Ketika Bima pura-pura datang sepuluh menit kemudian setelah Mbah Sinyo mengenyoti kontol anaknya sendiri, mereka bercanda dan bercengkerama seperti biasa. Seperti layaknya anak dan bapak. Yang tentu saja membuat Bima curiga.
Pun ketika mereka sampai di rumah, hubungan antara Pak Trisno dan Mbah Sinyo masih sama saja. Mereka bercanda dan terus mengobrolkan hal-hal tidak penting seperti berita politik, apa yang terjadi di sawah, apa yang terjadi di kampung dan bahkan sesekali membuat lelucon jorok soal Lastri, janda kampung yang terkenal dengan dadanya yang besar.
Baik di depan umum, seperti ketika Mbah Sinyo dan Pak Trisno bercengkerama dengan orang-orang kampung, atau di dalam rumah, mereka tidak menunjukkan keanehan. Tidak ada tanda-tanda bahwa mereka terlibat dalam sebuah hubungan terlarang. Dan ini membuat Bima bingung sekali.
Bima bahkan bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah dia terlalu homo sampai-sampai dia berhalusinasi? Tapi dia yakin sekali apa yang dia lihat malam itu sangat nyata.
Hari itu Bima bermain bola bersama teman-teman kampungnya. Diantara semua pemain bola, Bima sebenarnya diam-diam naksir Firman, teman satu timnya.
Firman sendiri seusia dengan Bima. Bedanya Firman tidak sekolah SMA karena Firman merasa bodoh. Dia sudah tidak naik kelas dua kali dan akhirnya memutuskan untuk langsung mengurusi tambak lele milik keluarganya. Yang tentu saja membuat Bima agak sedikit patah hati karena sebenarnya dia suka berjalan berdua ke sekolah bersama-sama.
Berbeda dengan Bima yang agak sedikit kurus, badan Firman sangat gempal. Mengingatkannya pada Pak Trisno. Tapi kulit Firman masih sangat kencang dan otot-ototnya terlihat keras. Wajahnya khas mas-mas jawa. Rahangnya tegas. Matanya ramah dan senyumnya bagus.
Ada bulu-bulu halus tebal dari pusar menuju jembutnya. Dan setiap kali mereka bermain bola dan Firman melepas bajunya, Bima menahan sekuat tenaga untuk tidak ngaceng. Dia pernah suatu kali bermain bola tanpa sempak dan akhirnya dia jadi pura-pura cedera supaya semua orang tidak melihatnya ngaceng di balik celana bolanya.
Seperti halnya lelaki di kampung lainnya, Firman dan Bima sering mandi bersama. Walaupun sekarang sudah jarang. Tapi dulu, ketika mereka masih SMP, mereka sering mandi bersama di pancuran dekat sawah atau di kali. Dan Bima tahu betapa besar dan betapa menariknya kontol Firman.
Firman juga yang mengajari Bima untuk coli pertama kali. Kejadiannya empat tahun lalu. Kelas 2 SMP ketika mereka mencari ikan di kali. Firman bercerita bahwa dia baru saja menonton video porno di rumah Lik Panji. Disana dia diajari coli oleh pakleknya sendiri. Firman pun mencobanya di rumah dan dia ketagihan.
Bima yang polos tidak tahu apa-apa. Akhirnya mereka berdua coli di gubuk dekat situ. Dan Bima langsung merasakan surga untuk pertama kalinya. Bima tidak tersadar bahwa waktu itu dia merasakan orgasme luar biasa ketika dia menatap Firman mengocok kontolnya.
Hari ini Firman entah kenapa terlihat lebih tampan dari biasanya. Dia baru saja pulang dari Jakarta. Sepertinya dia tidak sempat untuk beres-beres karena jambang dan brewoknya tumbuh dengan halus, menghiasi rahangnya yang sangat bagus. Bima bersyukur bahwa dia memakai sempak hari ini karena sedari tadi dia merasakan kontolnya bergejolak di dalam celananya.
Sehabis main bola, Firman dan Bima bersama yang lain nongkrong di dekat pancuran di sawah sambil merokok. Beberapa memutuskan mandi. Firman dan Bima sendiri duduk dekat kali dan tertawa-tawa melihat teman-teman mereka mandi sambil saling bermain-main.
“Awakmu mari lulus kuliah ta (Kamu abis lulus mau kuliah?)?” Tanya Firman.
“Mbuh. Koyoke sih ngunu. Tapi yo mbuh lek gak ono duwike (Nggak tau. Kayaknya sih gitu. Tapi nggak tau lagi kalo nggak ada uangnya),” jawab Bima.
“Onoklah pasti. Wong koyok awakmu kudu kuliah, Ma. Sayang. Mosok pinter-pinter ngurusi tegal terus (Adalah pasti. Orang kayak kamu harus kuliah, Ma. Sayang. Masa pinter-pinter ngurusin sawah terus?),” kata Firman sambil menatap serius ke Bima. Jantung Bima deg-degan tidak karuan.
“Yo emange salah ngurus tegal (Emangnya salah ngurusin sawah?)?” Tanya Bima.
“Nggak sih,” Firman tertawa.
“Awakmu dewe nang Jakarta lapo toh (Kamu sendiri dari Jakarta ngapain?)?” Tanya Bima.
“Biasa,” Firman nyengir. “Urusan masa depan. Koncomu iki telung ulan kas rabi lho (Temanmu ini tiga bulan lagi menikah lho.” Senyum Firman terlihat sangat lebar.
Hati Bima mencelos. Dia tahu, dia bukan siapa-siapanya Firman. Tapi dia merasakan patah hati yang amat sangat.
“Wah, selamat yo. Undangen aku!” kata Bima.
“Yo jelas tah. Sopo maneh sing ngancani aku ngkokn nang Jakarta (Siapa lagi yang nemenin aku nanti ke Jakarta),” kata Firman sambil memeluk Bima dari belakang.
Kalau saja Firman tahu apa yang ada di dalam hati Bima.
Setelah bercanda dan berbicara, terdengar adzan Maghrib. Setelah semuanya sepi dan pergi, Bima memutuskan untuk mandi di pancuran. Di bawah air sumber yang bersih itu, dia memikirkan bayangan Firman dan istrinya nanti. Hatinya pilu sekali. Dan Bima menertawakan diri sendiri. Cuman teman kok patah hati.
Jalanan sudah gelap. Lampu-lampu jalanan sudah dinyalakan. Bima kemudian membawa sepatunya dan berjalan kaki tanpa alas ke rumah. Rumah Pak Trisno ada di ujung, dekat sawah. Sendirian. Tetangga mereka adalah sawah-sawah dan beberapa pepohonan. Anak-anak kecil tidak ada yang berani main-main disini lepas Maghrib karena terkesan angker. Padahal tidak ada apa-apa.
Bima kemudian masuk ke rumah. Pintu tidak pernah dikunci karena mereka jarang sekali menerima tamu selepas Maghrib. Tanpa alas kaki, kedatangan Bima di rumah tidak terdeteksi.
Bima masuk ke kamarnya dan bersiap ganti baju ketika dia mendengar sesuatu.
Suara desahan.
Lebih tepatnya suara desahan bapak dan kakeknya.
Jantung Bima berdegup lagi.
Dia berjalan ke arah kamar kakeknya dan mengendap-ngendap. Pintu tertutup. Tapi Bima bisa mengintip isi kamar dengan mudah dengan lubang jendela di atas pintu. Bima mengambil kursi dan mengintip.
Di dalam kamar Bima melihat Mbah Sinyo nungging dan Pak Trisno menghantam pantat Mbah Sinyo dengan kontolnya yang tebal dan keras.
“Plok plok plok plok…” begitu suara.
“Asu, enak tenan goyanganmu, No…” teriak Mbah Sinyo.
“Ojok banter-banter. Ngkok krungu Bima lho (Jangan keras-keras, nanti kedengeran Bima),” kata Pak Trisno sambil terus mengentoti bapaknya sendiri.
“Bima bal-balan karo koncone. Paling mulih Isya (Bima main bola sama temennya. Mungkin pulang Isya),” sahut Mbah Sinyo. “Ah ah ah ah… kontolmu kok iso enak…”
“Yo kontol iki kan gaweanmu, Pak (Kontol ini kan juga bikinanmu, Pak!” Sahut Pak Trisno.
“Plok plok plok…” suara pantat Mbah Sinyo ketemu paha Pak Trisno terdengar begitu keras. Dan Bima melongo menatap ini semua. Kontolnya ngaceng sejadi-jadinya. Melihat ini, Bima langsung memasukkan tangan ke celananya dan mulai mengurut pelan kontolnya.
“Aduh enak men kenthu karo anak dewe (Aduh enak banget ngentot sama anak sendiri),” kata Mbah Sinyo.
“Sempit men silitmu, Pak (Sempit sekali pantatmu, Pak),” jawab Pak Trisno.
Pak Trisno kemudian melepas kontolnya. Mbah Sinyo langsung berbalik dan dia langsung jongkok. Dia mengambil handuk yang ada di kasur, membersihkan kontol Pak Trisno kemudian langsung memasukkan kontol Pak Trisno ke dalam mulutnya.
“Slurrrpp… slurrppp.” Bunyi sedotan Mbah Sinyo terdengar sangat keras.
“Atos men kontolmu, No (Keras sekali kontolmu, No),” kata Mbah Sinyo sambil menatap Pak Trisno.
“Yokpo? Seneng ra ngemut permen daging? (Gimana? Suka nggak ngemut permet daging?),” Tanya Pak Trisno.
“Kok kate takok barang. Lha iki kurang bukti opo? Slurrrpppp (Kok pake nanya segala? Ini kurang bukti apa lagi?),” Mbah Sinyo langsung memasukkan kontol Pak Trisno yang berurat itu ke dalam mulutnya.
Mbah Sinyo kemudian terlentang. Pak Trisno menaruh bantal di pinggul Mbah Sinyo. Kemudian dia memainkan kontolnya di ujung lubang pantat Mbah Sinyo.
“Yokpo? Dikenthu anake dewe enak to? (Gimana? Dientot anak sendiri enak kan?),” Tanya Pak Trisno.
“Rasah kakean omong. Langsung lebokno iku kontol (Gausah kebanyakan omong. Masukin kontolnya),” kata Mbah Sinyo.
“Aaahhhh…. Assuuuuuu…” jerit Mbah Sinyo saat kontol Pak Trisno masuk.
Bima mengocok kontolnya lebih keras.
“Plok plok plok…”
“Ahhhhh…” desah Pak Trisno.
“Enak men kontolmu, No. Nggak nyesel aku kok kenthu bendino (Enak banget kontolmu, No. Nggak nyesel aku kamu entot setiap hari),” kata Mbah Sinyo.
“Lha gak bendino yokpo, wong sampeyan bendino ngemuti kontolku. Yo mesti njaluk kenthu (Gimana nggak tiap hari ngentot, orang kamu setiap hari ngemut kontolku. Ya minta dientot itu namanya),” sahut Pak Trisno.
“Aduh, No, metu aku… (Aduh, No, mau keluar),” teriak Mbah Sinyo.
Mbah Sinyo kemudian mengocok kontolnya. Pak trisno menggenjot Mbah Sinyo lebih cepat.
“Jancoookkk… mettuuu… (Anjing, keluar),” kata Mbah Sinyo. Dan pejuh keluar dari kontol Mbah Sinyo. Muncrat ke perutnya.
Pak Trisno kemudian mencabut kontolnya dan langsung dengan cepat loncat ke kasur dan ngangkang di depan wajah Mbah Sinyo. Dia mengocok kontolnya di depan muka Mbah Sinyo.
“Terimoen iki pejuh anakmu, Pak (Terima ini pejuh anakmu, Pak),” teriak Pak Trisno.
Mbah Sinyo menjulurkan lidahnya.
Pak Trisno kemudian menggelepar. Pejuhnya tumpah ruah di wajah Mbah Sinyo. Begitu muncrat, Mbah Sinyo langsung mencaplok kontol anaknya dan kontol tersebut dilumat. Kontol anaknya sendiri diperah untuk mendapatkan pejuh.
Pak Trisno kemudian melepas kontolnya.
“Keri, Pak (Geli, Pak),” kata Pak Trisno.
“Sek tah. Durung puas (Bentar. Belum puas),” Mbah Sinyo menarik lagi kontol Pak Trisno dan memasukkannya lagi ke dalam mulutnya.
“Wis tuwek kok doyan men kontol (Udah tua kok doyan banget kontol),” kata Pak Trisno sambil tertawa.
Pak Trisno kemudian melepas kontolnya lagi dan tidur bersebelahan bapaknya. Kemudian mereka berpelukan dan berciuman. Pak Trisno menjilati pejuhnya di hidung Mbah Sinyo dan menelannya.
“Asin,” kata Pak trisno.
“Enak. Aku doyan,” kata Mbah Sinyo.
Nafas Bima masih tersengal-sengal. Dia baru saja orgasme menyaksikan bapak dan kakeknya ngentot.
Bersambung…
Sebenarnya itu bukan pertama kali Bima menyaksikan orang ngentot secara langsung. Ya itu memang pertama kalinya dia menyaksikan sesama laki-laki ngentot, bapak-anak pula. Tapi itu bukan pertama kalinya dia menyaksikan orang ngentot.
Pertama kali dia menyaksikan orang ngentot adalah ketika dia SMP kelas tiga. Bima saat itu pulang dari nonton dangdut di kampung sebelah bersama Firman dan teman-teman lainnya. Mereka agak mabuk ciu. Di kampung ini anak laki-laki lebih dimaafkan untuk mabuk ciu daripada lainnya. Jadi Pak trisno pun maklum kalau melihat anaknya pulang bau ciu.
Ketika di jalan pulang, Bima mendengar suara desahan-desahan dari sebuah rumah tetangganya. Rumah Yu Minah. Yu Minah sendiri adalah istri juragan elpiji. Dia salah satu yang terkenal di kampung. Suaminya jarang ada di rumah karena harus mengurusi cabang-cabang distributor mereka yang ada dimana-mana. Isunya dia sebenarnya punya istri muda.
Itu sebabnya Yu Minah sangat kesepian. Dan itu dia mungkin kenapa Yu Minah mau dientot sama preman kampung bernama Eko.
Saat itu Eko berumur 20 tahun. Dia tidak sekolah sejak lulus SD karena sering ada kasus. Dia mencoba SMP selama beberapa semester tapi akhirnya tidak lanjut karena dia hobi berantem.
Semenjak itu Eko ikut om-nya jadi kenek angkot. Dan karena itu Eko makin liar. Dan malam itu Bima menyaksikan keliaran Eko.
Eko mengentoti memek Yu Minah dengan buas. Kontolnya yang lumayan besar keluar masuk dengan bebas ke dalam memek Yu Minah. Yu Minah yang ngangkang, terpejam matanya. Desahannya teratur. Apalagi setiap kali Eko meremas susu Yu Minah.
“Enak men kontolmu, Le (Enak sekali kontolmu, Nak),” kata Yu Minah mendesah.
“Yokpo, Yu? Enak tho kenthu karo aku? (Gimana, Mbak? Enak kan ngewe sama saya?),” kata Eko sambil terus menggenjot.
“Enak teenaaannn… aduhhhhh….” Teriak Yu Minah.
Malam itu, untuk pertama kalinya Bima menyaksikan ada orang yang menelan pejuh. Karena ketika Eko orgasme, dia memaksa Yu Minah menelan pejuhnya. Yu Minah muntah setelahnya.
Lama sekali Bima tidak memikirkan soal Eko sampai hari ini.
Hari ini ketika pulang dan melewati terminal, dia melihat Eko menggodai beberapa teman sekolahnya. Bima yang memang terkenal baik, membawa teman-temannya langsung pergi dari godaan Eko.
“Ojoklah, Ko. Koncoku iku (Janganlah, Ko. Temanku itu),” kata Bima.
“Halah…” Eko yang siang itu sedang mabuk, terlihat marah. Dia kemudian mengayunkan tinjunya ke Bima. Bima belum sempat membalas ketika dia dilerai oleh orang-orang disitu.
Ketika pulang, Pak trisno kaget melihat pipinya lebam.
“Lho, opoo, Le (Kenapa, Nak?),” Tanya Pak trisno.
“Eko. Biasa,” kata Bima.
Tapi Bima bukan pendendam. Sehingga dia dengan cepat melupakan kejadian itu.
Tapi tidak dengan Pak trisno. Dia sakit hati melihat anaknya lebam. Dan malam ini dia punya rencana untuk balas dendam.
***
Bapak Eko bernama Cak Supangat. Cak Supangat sendiri berkerja sebagai tukang bangunan. Badannya bagus walaupun usianya sudah 50-an. Otot-ototnya keras. Kulitnya berwarna cokelat tua seperti warna pohon yang sudah puluhan tahun.
Pak trisno malam ini berdiri di kamar Cak Supangat. Ketika Pak Trisno datang, Cak Supangat langsung cepat menutup semua jendela dan pintu.
Begitu datang, Pak Trisno langsung dibawa ke kamarnya. Dan begitu sampai kamar, Cak Supangat langsung menciumi leher Pak Trisno.
“Aduh, Mas. Wis kangen aku. Kok suwi nggak mrene (Aduh, Mas. Kangen aku. Kenapa lama nggak kesini?),” kata Cak Supangat dengan nafas berat dan mendesah.
Pak Trisno diam saja. Dia hanya menyalakan rokok dan menyaksikan laki-laki paruh baya ini meraba tubuhnya.
Masih berdiri dan menyandar di pintu, Cak Supangat membuka kaos Pak Trisno kemudian menjilati pentil Pak Trisno. Dia menyedot pentil Pak Trisno sementara tangannya memegangi wajah Pak trisno.
“Aduh, enak men susumu, Mas. Aku kepingin nyusu wis pirang-pirang ulan (Aduh, enak sekali susumu, Mas. Aku pengen nyusu kamu udah berbulan-bulan),” desah Cak Supangat.
Kemudian Cak Supangat menurunkan wajahnya. Dia dengan cepat menciumi perut Pak Trisno yang kotak-kotak. Kemudian tanpa waktu lama dia langsung menurunkan celana kain yang dipakai Pak trisno. Kontol Pak Trisno langsung loncat keluar. Agak setengah ngaceng, Cak Supangat menciumi kontol tersebut.
“Aduh, aku kangen karo kontol iki, Mas (Aku kangen sekali sama kontol ini, Mas),” kata Cak Supangat.
Pak Trisno hanya memperhatikan apa yang dilakukan Cak Supangat tanpa mengatakan apa-apa. Dia masih menyandarkan diri di pintu dan merokok rokok Dji Sam Soe-nya.
“Aduh… mabok kontol aku iki….” Desah Cak Supangat sambil menciumi kontol tersebut.
Kontol Pak Trisno akhirnya bangun. Cak Supangat langsung menerima ini dengan senang hati. Dia langsung memasukkan kepala kontol Pak Trisno dengan pelan-pelan ke dalam mulutnya.
“Hmmmpphhh…. Hmmmhhh…” desah Cak Supangat ketika dia mulai menyedoti kontol Pak Trisno. Pak Trisno masih berdiri diam.
“Aduh, Mas. Enak men kontolmu. Aku ketagihaaann….” Desah Cak Supangat ketika dia melepaskan kontol Pak Trisno dan mengocoknya di depan mukanya.
Cak Supangat kemudian duduk di lantai, merasa nyaman, dia membuka kaosnya. Dia memasukkan kontol Pak Trisno ke dalam mulutnya dan mulai memaju mundurkan kepalanya. Dia menikmati ini sekali.
“Hmmmhh… hmhhh…” mulutnya mendesah setiap kali kepala kontol Pak Trisno menyentuh ujung tenggorokannya.
Dan dia menyedot kontol Pak Trisno sambil memainkan pentilnya sendiri.
“Aduh, Mas. Gak kuat aku,” kata Cak Supangat.
Dia langsung melepas celananya kemudian dia nungging di pinggir kasur. Dia menunggu Pak Trisno mengentotinya.
“Ayo, Mas. Kenthu,” kata Cak Supangat.
“Aku mrene kate ngomong (Aku kesini mau bicara),” kata Pak Trisno akhirnya.
“Ngomong opo, Mas?” Tanya Cak Supangat masih nungging.
“Lek awakmu gak iso ndidik Eko, lek aku ngonangi Eko ngantem anakku maneh. Awakmu nggak bakalan iso nikmati kontolku maneh (Kalau kamu gak bisa didik Eko, kalau aku nemuin Eko mukul anakku lagi. Kamu nggak bakalan bisa nikmati kontolku lagi),” kata Pak Trisno sambil menaikkan celananya lagi.
Cak Supangat langsung kaget.
“Lho ono opo to, Mas?”
“Anakmu ngantem Bima maeng awan (Anakmu mukul Bima tadi siang),” kata Pak Trisno.
Pak Trisno kemudian bersiap membuka pintu. Cak Supangat yang telanjang langsung mengejar Pak Trisno.
“Sek talah, Mas. Diomongno disik (Bentar, Mas. Kita omongin dulu),” kata Cak Supangat.
“Sampek Eko njaluk sepuro nang Bima, awakmu nggak bakalan kenthu karo aku maneh (Sampe Eko minta maaf ke Bima, kamu nggak bakalan bisa ngewe sama aku lagi),” kata Pak Trisno bersiap untuk keluar rumah.
“Iyo iyo, Mas. Ngkok tak omongi si Eko (Iya, Mas. Nanti aku bilangin si Eko),” kata Cak Supangat.
“Yo wis,” kata Pak trisno bersiap keluar.
“Tapi, Mas. AKu isih kepingin kontol (Tapi, Mas, aku masih kepingin kontol),” kata Cak Supangat.
“Aku males kenthu,” jawab Pak trisno pendek.
“Yo wis. Tak mut ae. Tapi pejuhne gawe aku yo? (Yaudah. Aku isep aja. Tapi pejuhnya buat aku ya),” kata Cak Supangat langsung memelorotkan celana Pak Trisno.
Cak Supangat langsung menyedoti kontol Pak Trisno sambil mengocok kontolnya sendiri.
“Hmmhhh… hmhhh… enak men kontolmu, Mas,” desah Cak Supangat.
Pak Trisno akhirnya memberikan Cak Supangat pejuh. Dan begitu selesai menelan pejuh Pak trisno, Cak Supangat menembakkan pejuhnya ke tembok.
Dan malam itu, Eko dihajar habis-habisan oleh bapaknya. Dan keesokan harinya, Eko ke rumah Bima dan minta maaf. Menyaksikan ini, Pak Trisno tersenyum.
Malamnya, Cak Supangat terbaring di meja ruang tamu dan lubang pantatnya terisi kontol Pak Trisno.
Sepanjang malam dia berteriak, “Aduh, Mas. Kontolmu enak tenan!”
Bersambung…
Bima tentu saja kebingungan ketika Eko datang ke rumahnya pagi-pagi, dengan muka babak belur dan minta maaf kepadanya. Karena Bima memang hatinya baik, dia sudah melupakan kejadian itu. Tapi tetap saja dia penasaran. Dia bertanya kepada Eko kenapa wajahnya bisa babak belur tapi dia tidak menjawab.
Sementara itu di kamarnya, Pak Trisno tersenyum kesenangan mendengar Eko akhirnya minta maaf. Jitu juga rencana dia mengancam Cak Supangat. Dia menoleh ke kontolnya yang masih ngaceng karena pagi hari. Tidak ada yang bisa menolak kontol besar ini.
Hari itu mereka kedatangan Lik Tono. Lik Tono adalah suami dari Bulek Yayuk, adik dari Pak Trisno. Lik Tono tinggal di Blitar bersama anak dan istrinya. Dia bekerja sebagai penjual tanaman. Bisnisnya lumayan lancar karena dia adalah menantu Pak Trisno yang paling sukses. Biasanya kalau dia datang berkunjung, dia membawakan oleh-oleh. Dan hari ini dia membawakan Bima sepatu.
“Wah, Lik Tono, nggak usah repot-repot (Wah Om Tono, nggak usah repot-repot),” kata Bima menerima sepatunya.
“Halah,” kata Lik Tono sambil meminum kopi.
Malam itu mereka berbicara panjang sepanjang malam. Pak Trisno dan Mbah Sinyo membahas tentang harga gabah dan penjualan hasil panen mereka. Lik Tono bercerita tentang proyek pemerintahan yang dia baru saja dapat. Jam sepuluh malam Bima mengantuk dan pamitan untuk tidur.
Jam satu pagi, karena dia kehausan, Bima terbangun dan berjalan ke dapur. Ketika dia sampai di depan pintu kamar Mbah Sinyo, dia mendengar suara-suara.
Jangan-jangan bapak sama kakeknya ngentot lagi?
Bima langsung mengambil kursi pelan-pelan dan mengintip.
Dia melihat Lik Tono duduk dengan dengkul menyentuh lantai dan Bima melihat Mbah Sinyo dan Pak trisno berdiri. Pak Trisno merokok dengan cool sementara Mbah Sinyo memegang kepala Lik Tono. Lik Tono memasukkan kontol Mbah Sinyo ke dalam mulutnya sementara tangannya mengocok kontol Pak Trisno.
Bahkan Lik Tono pun menyukai kontol. Bagaimana ini bisa terjadi? Pikir Bima.
“Aduh, Lik. Tak bela-belani mrene soale aku wis gak kuat kepingin ngemut kontol-kontolmu (Aduh, Mas, aku niat banget kesini soalnya aku nggak kuat ngemut kontol-kontolmu),” kata Lik Tono sambil menjilati kepala kontol Pak Trisno.
“Kan wis tak kandani. Nggak usah adoh-adoh. Pindah cedek sekitar kene ae. Jarno lek kepingin kontol rasah repot (Kan udah gue bilangin. Nggak usah jauh-jauh tinggalnya. Pindah deket-deket sini aja. Biar kalo kepingin kontol nggak repot-repot),” kata Pak Trisno sambil mengentoti mulut Lik Tono. Pinggungnya bergerak-gerak.
“Ughh… ughhh…” suara kontol di dalam mulut Lik Tono menggema di seluruh ruangan.
“Yokpo kabare anakmu? Putra? Wis pinter ra kenthue? (Gimana kabar anakmu? Putra? Sudah pintar belum ngentotnya?),” tanya Mbah Sinyo.
“Lumayan. Tapi cepet metue (Lumayan tapi cepet keluar),” jawab Lik Tono sekarang dia menjilati biji Pak Trisno yang besar.
Bima makin terheran. Apakah apa yang dia dengar seperti apa yang dia pikirkan. Putra ngentot dengan bapaknya sendiri?
“Yo rapopo. Isih nom yo ngunu iku. Butuh latihan sing akeh (Ya nggak papa. Kalo masih muda emang kayak begitu. Butuh latihan yang banyak),” kata Mbah Sinyo.
“Ayo, Mas Trisno. Tembaken aku. Aku wis gak sabar ngerasakno kontolmu (Ayo, Mas Trisno. Entot aku. Aku sudah nggak sabar ngerasain kontolmu),” kata Lik Tono.
Lik Tono dan Mbah Sinyo kemudian naik ke kasur.
Lik Tono terlentang. Mbah Sinyo ada di sampingnya. Lik Tono dan Mbah Sinyo kemudian berciuman.
“Cpok cpok…” begitu suara lidah mereka saling bersentuhan.
“Ahhhhh… enak, Pak,” kata Lik Tono.
“Tambah suwe tambah binal awakmu. Nyesel ra dadi mantuku (Makin lama, makin binal kamu. Gimana, nyesel nggak jadi menantuku),” tanya Mbak Sinyo kemudian dia mengarahkan kepalanya ke arah pentil Lik Tono. Begitu Mbah Sinyo menghisap pentil Lik Tono, Lik Tono mendesah keras.
“Yo ora mungkin nyesel,” kata Lik Tono.
Kemudian Lik Tono menatap Pak trisno yang sedang mengolesi kontolnya dengan minyak.
Bima mulai mengocok kontolnya. Nafasnya menjadi berat.
“Tapi dadine awakmu ketagigan kontol (tapi kamu jadi ketagihan kontol),” kata Pak Trisno.
“Soale kontolmu ueeennaaakkk tenan, Mass. Ayo cepetan lebokno (Ayo cepat masukin),” bisik Lik Tono.
Bima makin terangsang. Lik Tono biasanya terlihat lumayan berwibawa. Dia kulitnya putih dan bersih. Dia agak sedikit kurus. Perutnya lumayan buncit. Tapi senyumnya bagus sekali dan rambutnya masih tebal walaupun usianya menuju kepala lima. Dan melihatnya menjadi maniak kontol seperti sekarang membuat nafsu Bima semakin menggelora.
“Ayo, Tris, lebokno. Sakno iki ngenteni suwe (Ayo, Tris, masukin. Kasian ini dia nunggu lama),” kata Mbah Sinyo sambil terus menghisap pentil Lik Tono.
Pak Trisno memegang kaki Lik Tono dan menaruhnya di pundaknya. Pak trisno memasukkan ujung kepala kontolnya. Sepertinya Lik Tono sudah sering dientot karena begitu masuk, Pak Trisno tidak kesusahan. Dia langsung mendorong kontolnya yang super besar itu masuk semua.
“Assssuuuuuuu…” teriak Lik Tono sambil memejamkan mata. “Asu tenan kontolmu uenak, Mas,” lanjut Lik Tono.
Pak Trisno melepaskan kontolnya lagi. Dia memutar-mutarkan ujung kepala kontolnya di ujung lubang Lik Tono.
“Ayolah, Mas. Ojok digawe dulinan. (Ayo, Mas. Jangan dipake mainan),” desah Lik Tono.
Pak Trisno tertawa.
“Njaluk opo kowe (Minta apa kamu)?” Tanya Pak Trisno.
“Kontolmu, Mas… ahhh… ah… ayo, Mas. Lebokno kontolmu (Masukin kontolmu),” desah Lik Tono karena sekarang Mbah Sinyo menghisap kontolnya yang tegak.
“Ayo sing banter (Ayo yang keras),” kata Pak Trisno. Masih memainkan kontolnya di depan lubang Lik Tono.
“Ngko krungu Bima yokpo (Nanti kedengeran Bima gimana)?” Tanya Lik Tono.
Bima yang masih mengocok kontolnya di depan pintu masih menatap ini semua dengan nafas yang berat.
“Arep dikenthu po ora (Mau dientot apa gimana)?” Tanya Pak Trisno.
“AYO MAS KENTHUEN AKU KARO KONTOLMU SING GUEDDDEEE (ayo mas, entot aku sama kontolmu yang gede),” jerit Lik Tono.
Dan begitu Lik Tono selesai menjerit, Pak Trisno langsung memasukkan kontolnya ke dalam lubang Lik Tono. Lik Tono mendesah begitu panjang. Dia merasakan kenikmatan yang luar biasa. Lubangnya dipijat dengan kontol besar Pak Trisno dan kontolnya dihisap oleh Mbah Sinyo.
“Plok plok plok…” Hentakan Pak Trisno begitu cepat dan kuat. Mata Lik Tono merem melek. Tangannya memainkan pentilnya sendiri.
“Asu tenan pancene sampeyan Mas Trisno. Gara-gara sampeyan aku dadi ketagihan kontol (Anjing emang lo, Mas Trisno. Gara-gara kamu aku jadi ketagihan kontol),” kata Lik Tono masih merem melek keenakan.
“Tapi enak to?” tanya Pak Trisno.
“Enak tenan bangsaaattt aduuuhhh…” kata Lik Tono ketika Pak Trisno mengeluarkan kontolnya kemudian menusuknya lagi secara tiba-tiba.
Mbah Sinyo sepertinya tak kuat menahan nafsu. Dia kemudian naik ke atas selangkangan Lik Tono. Dia memasukkan kontol Lik Tono ke dalam lubangnya.
“Asssuuu kontolmu atosss (Anjing, kontolmu keras),” kata Mbah Sinyo.
“Aduh, Pak. Anget men silitmu (Aduh, Pak. Anget sekali pantatmu),” desah Lik Tono.
Bima mengocok kontolnya dengan keras. Sekarang dia melihat bapaknya ngentot adik iparnya sementara adik iparnya ngentot kakeknya.
Suara desahan dan plok-plok masih berlanjut. Puas dengan posisi tidur, mereka kemudian berganti dengan posisi berdiri. Lik Tono terus terusan ngoceh “asu asu” sementara Mbah Sinyo mendesah pelan. Pak Trisno terlihat macho sekali seperti pejantan. Dia menuruti setiap permintaan Lik Tono.
“Aku kepingin ngemut kontolmu, No,” kata Mbah Sinyo.
Mbah Sinyo pun dibaringkan di kasur. Lik Tono kemudian ngentot Mbah Sinyo dengan teratur. Sementara di ujung kepala, Pak Trisno mengentoti mulut Mbah Sinyo. Dengan santapan kontol, Mbah Sinyo akhirnya keluar.
“Assuuuu metuuuu…” kata Mbah Sinyo.
Setelah keluar, Lik Tono langsung nungging. Dia menoleh ke Pak Trisno dengan manja dan mendesah, “Ayo, Mas. Kawini aku.”
Pak Trisno tersenyum. Dengan macho dia menyalakan rokok dan mengentoti Lik Tono seperti anjing. Mbah Sinyo yang sudah keluar membantu merangsang Lik Tono dengan menjilati pentilnya. Kadang mereka berciuman.
“Aduh, Mas…” kata Lik Tono. “Aku kate metu… (Aku mau keluar).”
Mbah Sinyo kemudian langsung mencaplok kontol Lik Tono dan menghisapnya. Lik Tono yang tidak siap, langsung merasakan keenakan. Dia memegang kepala Mbah Sinyo kemudian melolong.
“Bangsat kontolmu, Mas Trisno. Aku metuuuuu (Aku keluar),” teriak Lik Tono.
Mbah Sinyo kemudian menelan pejuh Lik Tono. Ada beberapa sisa pejuh Lik Tono di bibirnya. LIk Tono dan Mbah Sinyo kemudian jongkok di lantai dan Pak Trisno mengocok kontolnya di depan wajah mereka. Keduanya menjilati biji Pak Trisno dan tatapan mereka begitu binal.
“Ayo, Le. Pejuhmu, Le (Ayo, Nak. Pejuhmu, Nak),” kata Mbah Trisno.
“Kontolmu uenak, Mas…” bisik Lik Tono.
“Aaahhhhhhhh….” Kata Pak Trisno sambil memegang kepala Lik Tono.
Pejuh Pak trisno muncrat banyak sekali. Warnanya putih kental dan mewarnai wajah Lik Tono. Mbah Sinyo langsung menjilati pejuh di kontol Pak Trisno. Sementara Pak trisno dengan kerennya merokok dan duduk di tepi kasur.
Mbah Sinyo dan Lik Tono berciuman dengan kontol Pak Trisno di dekat mereka. Mbah Sinyo menjilati pejuh Pak Trisno di wajah Lik Tono dan setelah semua pejuhnya di mulutnya, keduanya berciuman dan bertukar pejuh dan menelannya.
Mereka kemudian menjilati kontol Pak Trisno yang sekarang tersenyum.
“Entenono sepuluh menit. Ronde dua (Tunggu 10 menit lagi. Ronde dua),” kata Pak Trisno.
“Siap, Mas,” kata Lik Tono sambil menjilati batang kontol Pak Trisno yang masih tegak.
Dan Bima sekali lagi muncrat di dalam celananya.
Bersambung…
Malam itu Lik Tono dan Mbah Sinyo tidur bersama Pak Trisno di kamar Pak Trisno. Ketiganya tidur telanjang. Lik Tono tidur dengan sisa pejuh di mulutnya dan tersenyum penuh kepuasan karena rasa kangen yang selama ini ia damba-dambakan sudah terpenuhi.
Selama ini dia hanya bisa puas melihat foto kontol Pak Trisno yang dia dapatkan setiap hari. Tapi baru malam ini dia merasakan kontol Pak Trisno, kakak ipar yang membuatnya tergila-gila dengan kontol.
Pak Trisno bangun sekitaran jam setengah enam, sebelum cahaya matahari masuk ke kamarnya. Dia terbangun karena dia merasakan kehangatan menjalar di seluruh kemaluannya. Ketika dia membuka mata, dia sudah melihat Lik Tono dan Mbah Sinyo berebutan menghisap batang kontolnya.
“Jam piro iki? (Jam berapa ini),” tanya Pak Trisno.
“Seengah eem,” jawab Lik Tono dengan kepala kontol Pak Trisno di dalam mulutnya.
“Hah?”
“Setengah enem,” ulang Lik Tono sambil melepas kepala kontol Pak Trisno dari mulutnya.
Begitu kontolnya bebas, Mbah Sinyo langsung merebut dan menghisap kepala kontol anaknya itu. Sementara itu Lik Tono langsung menjilati biji Pak Trisno yang besar. Dia memasukkan biji sebelah kiri ke dalam mulutnya.
“Hhhhh….” desah Pak Trisno.
Pak Trisno kemudian menaruh kedua tangannya di bawah kepalanya. Dia memejamkan mata. Betapa enaknya pagi-pagi ketika kontol ngaceng sudah ada yang menjilati dan siap menampung pejuhnya. Apalagi ketika dia melihat bapaknya dan adik iparnya sendiri rebutan kontolnya.
Mbah Sinyo kemudian naik dan mulai menjilati perut Pak Trisno yang kotak-kotak. Melihat kontol tebal Pak Trisno bebas, Lik Tono langsung menjemputnya. Dia bernafsu sekali sampai mencoba memasukkan semuanya ke dalam mulutnya.
LEG LEG LEG LEG LEG
Begitu bunyi suara yang dihasilkan ketika kepala Lik Tono maju mundur sambil mencoba menghisap batang kontol Pak Trisno.
“Aduh, Mas. Enak men kontolmu (Enak sekali kontolmu),” kata Lik Tono istirahat sebentar. “Hap…” Kemudian dia langsung memasukkan lagi kontol Pak Trisno ke dalam mulutnya.
“Yo mumpung ndek kene emuten sampe bosen (Ya mumpung disini emut aja sampe bosen),” kata Pak Trisno.
“Nggak bakalan bosen aku,” sahut Lik Tono.
Dia menjilati batang kontol Pak Trisno sambil bernafsu. Liurnya kemana-mana. Pak Trisno menggelinjang sekali. Lik Tono memang jauh lebih suka menghisap kontol daripada Mbah Sinyo. Padahal Mbah Sinyo menyedot pejuh anaknya sendiri setiap hari.
Mbah Sinyo sekarang menjilati pentil Pak Trisno. Pak Trisno memejamkan mata dan mendesah. Enak sekali rasanya.
“Entoten aku yo, Mas,” kata Lik Tono.
Tanpa disuruh, Lik Tono kemudian naik ke atas badan Pak Trisno dan mulai menduduki kontol Pak Trisno. Begitu kepala kontol Pak Trisno masuk, Lik Tono memejamkan mata dan mendesah.
“Uassuuu tenaaannnn kok….” Kata Lik Tono.
Mbah Sinyo kemudian meajukan kepalanya dan menghisap kontol Lik Tono. Sementara Lik Tono menaik turunkan pantatnya, Mbah Sinyo menghisapi kontol menantunya itu.
Pak Trisno diam saja. Dia tahu Lik Tono ingin menikmati kontolnya sendiri. Lagipula Lik Tono akan memberi tahu kalau dia ingin didominasi.
“Asuuuuuu enaaakkkkk…” teriak Lik Tono lagi.
Mbah Sinyo sekarang menciumi pentil Pak Trisno lagi. Pak Trisno mengelus kepala bapaknya itu. Sedari akil balig, bapaknya sudah memuaskannya. Bapaknya yang mengajarinya seks dan bapaknya juga yang mengajarinya menjadi top sejati. Dia sangat senang dan bangga menjadi anak dari Mbah Sinyo.
Mbah Sinyo kemudian beralih ke ketiak Pak Trisno yang tebal dan lebat. Dia suka sekali menjilati ketiak Pak Trisno. Apalagi kalau Pak Trisno habis pulang dari sawah dan berkeringat. Biasanya Pak Trisno dilarang mandi karena Mbah Sinyo mau menjilati dan minum setiap keringat Pak Trisno.
“Aduh, Mas. Metu akuuu…” kata Lik Tono sambil menaikturunkan pantatnya.
Pak Trisno yang perhatian langsung menggenjot pantat Lik Tono dari bawah agar kontolnya bisa menyentuh prostat Lik Tono lebih dalam.
Sebelum kontolnya memuncratkan pejuh, Mbah Sinyo langsung menangkap kontol Lik Tono dan menelan semua pejuh yang keluar. Lik Tono memegang kepala mertuanya dan memejamkan mata.
“JANCCOOOOOKKKKK…” kata Lik Tono.
Lik Tono kemudian turun dari kasur dan kembali menghisap kontol Pak Trisno bersama Mbah Sinyo.
“Sampeyan arep dikenthu ra, Pak? (Kamu mau aku entot nggak, Pak?),” Tanya Pak Trisno.
“Ngko wae (Nanti saja),” kata Mbah Sinyo sambil menghisapi kontol Pak Trisno.
“Yowis,” kata Pak Trisno. “Aduh kebelet nguyuh pisah (aduh kebelet pipis).”
“Ayo. Aku wis suwe ra ngombe uyuhmu (Aku dah lama nggak minum air kencingmu),” kata Lik Tono.
“Yowis. Adus sisan (Ayo, sekalian mandi),” kata Pak Trisno.
Ketiganya pun berjalan ke arah kamar mandi. Di rumah ini memang ada dua kamar mandi. Satu untuk umum, satu lagi di kamar Pak Trisno. Bima tidak pernah bertanya soal ini. Pak Trisno yang suka ngentot di kamar mandi yang mengusulkan ini ke Mbah Sinyo.
Di kamar mandi, Mbah Sinyo dan Lik Tono langsung jongkok dan membuka mulut mereka. Mereka menjilati kontol Pak Trisno dengan binal.
“ASU AKU METU… (anjing gue mau keluar),” kata Pak Trisno.
Lik Tono langsung menangkap kontol Pak Trisno dan membiarkan pejuh Pak Trisno memenuhi mulutnya. Setelah keluar, Lik Tono mengeluarkan kontol Pak Trisno dan membiarkan Mbah Sinyo membersihkan sisa pejuhnya.
Kemudian setelah itu Pak Trisno tersenyum dan mengarahkan kontolnya ke mulut bapak dan adik iparnya. Air kencing keluar dari kontolnya dan membasahi muka mereka berdua. Lik Tono tersenyum bahagia bisa mandi dan minum air kencing kakak iparnya.
“Wenak tenan,” kata Pak Trisno.
“Bima kapan dikasih tau, Mas?” Tanya Lik Tono sambil menjilati biji kontol Pak Trisno.
“Seminggu lagi. Kan seminggu lagi Bima ulang tahun ke-18,” kata Pak Trisno sambil menyabuni dirinya.
“Yah sayang aku gak iso melu (Yah sayang aku ga bisa ikutan),” kata Lik Tono.
“Ngko gampang diatur (Nanti gampang diatur),” kata Mbah Sinyo yang sekarang menyabuni punggung anaknya.
“Aduh gak sabar aku dikenthu karo Bima pisan. Koyoke pinter anakmu iku,” kata Lik Tono sambil mencium Pak Trisno.
Di kamarnya, Bima mengocok kontolnya sendiri membayangkan adegan semalam.
Malam ini Bima akan berulang tahun yang ke-18. Pak Trisno dan Mbah Sinyo sudah mempersiapkan sesuatu malam ini. Malam ini Bima akan menjadi lelaki.
Bima sendiri tidak merasa ada yang spesial. Dan dia juga tidak ingat kalau dia akan ulang tahun sampai ketika dia bertemu Firman di jalan dan dia bertanya apa yang akan Bima lakukan nanti.
“Mbuh (Nggak tau),” kata Bima.
“Halah. Mosok nggak ruh (Masa ga tau),” kata Firman.
“Beneran,” sahut Bima.
“Ra pingin kenthu karo lonte (Nggak pengen ngentot sama lonte)?” Tanya Firman sambil tertawa.
“Halah. Duwite sopo nyewo lonte (Duit siapa nyewa lonte),” jawab Bima santai. Walaupun di dalam hatinya dia lebih ingin ngentot dengan Firman. Dia bahkan tidak memikirkan dia mau jadi bottom atau jadi top. Yang penting ngentot dengan Firman.
Dan Firman siang ini terlihat begitu tampan. Dia berkeringat selepas pulang dari sawahnya. Kakinya masih penuh dengan lumpur. Bulu kakinya membuat Bima deg-degan. Dan keringat di dadanya, membasahi sampai celana bola warna birunya membuat Bima ingin menjilati setiap jengkal tubuh Firman.
Mereka berbicara di sawah dekat kali seperti biasa. Bima sendiri baru saja menyiangi rumput yang ada di sawah. Firman kemudian mengajak Bima mandi.
“Adus ra (Mandi nggak)?” Tanya Firman.
Bima mengangguk. Dia pun mandi di dekat Firman.
Di kampung sudah biasa laki-laki mandi bersama. Tapi kali ini Bima merasa ada yang berbeda. Ketika dia mandi bersama Firman, dia melihat Firman berbicara dengan lebih perhatian kepadanya. Topik pembicaraannya juga serius.
Mereka mandi dengan masih menggunakan celana dalam. Firman memakai celana dalam berwarna biru yang karetnya sudah aus. Sepertinya celana dalam tersebut sudah lama tapi justru itu yang membuat Bima ingin mengendus selangkangan sahabatnya itu.
Belum lagi jendolannya. Entah kenapa Bima merasa Firman sedang ngaceng karena jendolan Firman lebih tebal dan besar daripada biasanya.
“Bokongmu seksi juga ya?” canda Firman.
Bima melihat pantatnya.
“Ah mosok?”
Firman kemudian menepuk pantat Bima dengan sabun. Mereka tertawa-tawa. Ketika Bima mengambil sabun di dekat pancuran, Bima tidak sengaja menyentuh selangkangan Firman dan dia merasakan kontol Firman yang keras. Untuk membuat suasana tidak canggung, Bima kemudian tertawa.
“Ngaceng, Man?”
Firman tertawa.
“Normal lah… Wis suwe ra ngloco (Udah lama nggak coli),” kata Firman.
“Ngloco lah. Jarno gak kaku (Coli lah, biar nggak kaku),” kata Bima.
“Bareng po? Koyok mbiyen (Bareng apa? Kayak dulu),” tawar Firman tertawa.
“Hahaha wegah. Males aku ndelok kontolmu (Males aku liat kontolmu),” elak Bima. Padahal di dalam hatinya dia ingin sekali menyentuh kontol Firman.
“Rupamu (Anjing),” kata Firman. Keduanya tertawa.
Ketika adzan Maghrib terdengar keduanya terpisah.
Malam itu di rumah Bima makan bersama dan menonton TV seperti biasa. Tidak seperti biasanya Mbah Sinyo memberikan teh kepada Bima. Katanya bagus untuk kesehatan. Bima meminumnya tanpa banyak bertanya.
Malamnya Bima tertidur nyenyak sekali.
Dia bermimpi ngentot dengan Firman. Tubuh Firman ada di dimana-mana. Dia melihat Firman jongkok dan menjilati kontolnya.
Ketika dia membuka matanya, tangan Bima sudah diikat dan dia melihat Mbah Sinyo sedang melumat kontolnya. Matanya merem. Dia terus mengeluarkan suara-suara “hmmm mmmm” dari mulutnya. Menikmati sekali kontol cucu di mulutnya.
Bima kaget. Ketika dia mencoba bergerak dia makin kaget karena tangan dan kakinya terikat. Kemudian dia mendengar suara bapaknya.
“Tenang, Le. Iki hadiah ulang tahunmu (Tenang, Nak. Ini hadiah ulang tahunmu),” kata Pak Trisno.
Kemudian dia menurunkan celana pendeknya dan mendekatkan kontol hitamnya ke wajah Bima.
Bersambung…
Bima tidak tahu harus bereaksi apa
Di satu sisi dia merasakan kenikmatan yang tidak dia alami sebelumnya. Kontolnya dikulum kakeknya sendiri. Mbah Sinyo memejamkan mata dan menjilati setiap jengkal kontolnya.
Selangkangannya basah karena ludah Mbah Sinyo. Jembutnya diciumi Mbah Sinyo. Dan dia terus-terusan berkata, “Aduh putuku wis gede (Aduh cucuku sudah besar),” sambil kemudian menjilati kepala kontol Bima.
Sebelum Bima bereaksi kemudian Mbah Sinyo menjilati biji kontol Bima dan Bima merasakan kenikmatan yang tiada sara. Dia tidak tahan untuk tidak bilang “asu” saat Mbah Sinyo memasukkan kedua bijinya ke dalam bijinya. Pak Trisno menggosok kepala Bima dan tersenyum bangga.
“Iki, Nak, ojo lali hadiah ulang tahunmu (Jangan lupa ini hadiah ulang tahunmu),” kata Pak Trisno sambil memajukan kontolnya ke wajah Bima.
Bima tadinya sungkan karena tentu saja ini adalah bapaknya. Walaupun dia mempunyai fantasi yang tidak-tidak soal bapaknya terutama setelah kejadian Mbah Sinyo dan Pak Trisno di sawah, tapi dia tidak bisa melakukan ini. Tapi nafsu berkata lain. Kontolnya merasakan kenikmatan yang tiada tara. Dan Bima hanya bisa mendesah dan membuka mulutnya.
Akhirnya Bima menyerah. Kepala kontol Pak Trisno yang besar masuk ke dalam mulutnya. Dan dengan segera Bima mencium bau kontol.
Rasanya ternyata memabukkan. Rasanya campuran keringat, pesing dan bau lainnya. Tapi entah kenapa perpaduan itu membuat Bima ingin segera memasukkan batang kontol bapaknya sendiri lebih banyak ke dalam mulutnya.
“Hmmmphhh…” desah Bima.
“Wis ngelak koyoke awakmu, Le (Sudah haus sepertinya kamu, Nak),” kata Pak Trisno sambil menggosok kepala anaknya.
“Hmmmpphhh…” kata Bima sambil mencoba menyedot-nyedot kontol bapaknya. Kontol bapaknya terasa begitu penuh di dalam mulutnya. Bima tidak tahu harus menyedot atau menjilatinya. Bima memilih hanya mencoba memasukkan semuanya ke dalam. Tapi ini masalah karena kontol Pak Trisno panjang dan begitu tebal. Akhirnya Bima hanya bisa muat memasukkan separuhnya saja.
Bima menatap bapaknya. Air matanya keluar. Pak Trisno menatap Bima penuh dengan kebanggaan. Di temaram kamar tersebut, Bima menyaksikan dada Pak Trisno yang berotot dan puting yang mencuat keluar berwarna hitam. Menatap dada Pak Trisno, Bima ingin menyedot puting ayahnya sendiri. Hal ini membuat Bima makin ngaceng dan akibatnya dia menyedot kontol bapaknya sendiri dengan lebih bernapsu.
“Aduh, kowe kok pinter, Le, gak perlu diajari (Aduh, kamu kok pinter, Nak, nggak perlu diajari),” kata bapaknya.
“Kontolmu gede tenan, Le. Aku jan seneng duwe putu koyok awakmu. Seneng aku. Pasti iki pejuhe akeh (Kontolmu gede banget, Nak. Aku senang punya cucu seperti kamu. Pasti pejuhnya banyak),” kata Mbah Sinyo di sela-sela menghisap kontol cucunya.
Plak plak plak
Mbah Sinyo mengeluarkan kontol Bima dari mulutnya kemudian dia menampar-namparkan sendiri kontol cucunya ke wajahnya. Wajahnya basah terkena ludahnya sendiri.
“Waduh… jemek men kontolmu, Le. Iki akeh pejuhe mesti. Enak iki gawe aku (Basah sekali kontolmu, Nak. Banyak pejuhnya pasti. Enak buat aku),” kata Mbah Sinyo kemudian dia langsung menghisap kontol cucunya lagi. Dia mengempot-ngempotkan mulutnya kemudian bergerak maju mundur.
Kontol Bima sendiri sebenarnya memang besar. Ketika tadi Pak Trisno dan Mbah Sinyo mengendap-ngendap ke kamar Bima, Mbah Sinyo kaget melihat kontol cucunya. Dia menoleh ke anaknya dan bilang, “Waduh tibake kontole Bima koyok kontolmu, No. Gedi (Waduh ternyata kontolnya Bima kayak kontolmu, No. Besar),” kata Mbah Sinyo.
Malam tadi Mbah Sinyo memang sengaja membuat teh bersama ramuan keluarga yang akan membuat Bima ngaceng semalam. Ramuan ini sudah menjadi ramuan turun temurun keluarga.
Dan karena Bima ulang tahun yang ke-18 malam ini, dia akan mengetahui rahasia keluarga. Mbah Sinyo mendesah keenakan ketika dia menghisap kepala kontol cucunya untuk pertama kalinya.
“Aduh, No, aku wedi ketagihan karo kontole anakmu (Aduh, No, aku takut ketagihan sama kontolnya anakmu),” kata Mbah Sinyo.
“Yo rapopo. Ben ra bosen karo kontolku (Ya nggak papa, biar nggak bosen sama kontolku),” jawab Pak trisno sambil tersenyum melihat bapaknya begitu binal menelan penuh kontol Bima. Kontol Bima panjangnya sekitar 19 sentimeter dan lumayan tebal.
Warnanya cokelat muda dan lurus tegak. Bijinya besar sekali. Dan Mbah Sinyo bisa memasukkan semua kontolnya ke dalam mulutnya. Membuat Pak Trisno terharu karena Mbah Sinyo memang semaniak itu dengan kontol besar.
Pak Trisno kemudian membuka kaos Bima pelan-pelan dan mulai mengikat kedua tangan dan kakinya. Ini dilakukan agar dia tidak melarikan diri karena kaget. Karena ketika pertama kali kontol Pak Trisno dihisap Mbah Sinyo dan Romo Jarwo (kakek Pak Trisno), Pak Trisno panik dan lari dari kamar. Walaupun akhirnya Pak Trisno berhasil ditaklukkan tapi dia tidak ingin kejadian tersebut terjadi malam ini.
Bima masih merasakan kenikmatan tiada tara. Entah apa yang terjadi, tubuhnya terasa panas. Dia pernah merasakan nafsu. Rasa ingin ngentot atau mengeluarkan pejuh. Tapi dia belum pernah merasakan rasa ini sebelumnya.
Rasanya benar-benar tidak bisa diutarakan dengan kata-kata. Mbah Sinyo yang terhormat terlihat begitu binal dengan kontolnya di mulutnya. Suara yang keluar di mulutnya hanya “hmmpphh…” atau suara seperti kecekik karena Mbah Sinyo memaksa masuk semua kontol Bima ke dalam mulutnya.
Sementara itu Bima bisa menikmati kontol bapaknya sendiri yang spektakuler. Tidak heran Mbah Sinyo begitu suka menjilati, menghisap dan menyedoti kontol Pak Trisno. Begitu kontol Pak Trisno masuk ke dalam mulutnya, Bima tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kalau dia tidak bisa menghisap kontol bapaknya.
Rasanya sangat legit dan enak. Apalagi ketika kepala kontol Pak Trisno mengeluarkan pre-cum. Rasanya asin dan segar. Bima terus menyedoti kontol bapaknya.
Pak Trisno paham bahwa anaknya merasa kenikmatan. Dan untuk itulah dia berencana memberikan pengalaman yang lebih dahsyat. Pak Trisno membungkukkan tubuhnya dan menjilati pentil Bima.
“AHHH ASUUUU…” kata Bima melepaskan kontol bapaknya dari mulutnya.
“Opoo, Le (kenapa, nak),” tanya Mbah Sinyo kaget.
Ketika dia melihat apa yang terjadi. Bahwa Pak Trisno sedang menjilati pentil Bima, Mbah Sinyo paham. Dia segera menghisap kembali kontol Bima dan menjilati batangnya dengan penuh nafsu.
“Aduh, aku gak sabar manen pejuhmu, Le,” kata Mbah Sinyo.
“Aduhhh, Pak, enak iku didilat… (Aduh, Pak, eak itu dijilat),” kata Bima tak taham. Dia memejamkan mata.
“Hmmm…?” Pak trisno hanya berdehem dan terus menjilati pentil anaknya. Pentil Bima melenting keras. Warna cokelat muda dan terasa sangat keras di lidahnya.
“Slurrrpp….” Pak Trisno bahkan dengan iseng menjilat dan menyedoti pentil anaknya kemudian sesekali menggigit kecil kontol anaknya.
Ketika Pak Trisno menggigit kecil pentil Bima, pinggul Bima langsung naik karena badannya tidak bisa menerima kenikmatan yang sedemikian rupa. Kaki dan tangannya ingin bergerak. Dia ingin menyentuh dada, lengan, badan ayahnya yang seksi.
Dia ingin mencium ayahnya. Dia ingin menikmati ini semua dengan lebih total. Tapi rasa terkekang ini justru membuat nafsunya melambung. Dan karena ini kontol Bima mengeluarkan lebih banyak pre-cum yang membuat Mbah Sinyo tersenyum kesenangan.
Dia terus melakukan sedotan terhadap kontol Bima yang semakin terasa keras dan kaku di dalam mulutnya. Kepala kontolnya berkedut-kedut ingin mengeluarkan sesuatu. Dan Mbah Sinyo tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan cairan putih kental yang menjadi makanan favoritnya sehari-hari.
Saat Bima menaikkan pinggulnya dan menusuk-nusukkan kontolnya ke tenggorokan Mbah Sinyo, Mbah Sinyo melenguh keras penuh kenikmatan.
“Hmmmhhh… Terusno, Le,” kata MBah Sinyo masih dengan mulut penuh kontol. Cara Mbah Sinyo menyenangkan kontol Bima benar-benar spektakuler. Mbah Sinyo yang sudah menghisap kontol sejak umur 15 tahun memang sudah tahu bagaimana cara memanjakan para pria. Ketika jaman perang, banyak tentara membuang pejuh ke tenggorokan Mbah Sinyo.
Pak Trisno melepaskan bibirnya dari pentil Bima yang melenting. Bima menatap bapaknya dengan tatapan penuh nafsu. Dia mendesah dan membasahi bibirnya.
Pak Trisno kemudian tersenyum, memegang wajah Bima dan mencium bibir anaknya. Ketika bibir mereka bertemu, Bima langsung mendesah dan menggeliat. Aroma Dji Sam Soe di bibir Pak Trisno, kumisnya yang tebal dan lidahnya yang agresif membuat Bima merasakan kenikmatan yang tiada tara.
Bima sama sekali tak menyangka dia akan merasakan ini. Ciuman dengan Pak Trisno. Bima ingin sekali menyentuh Pak Trisno tapi ikatan di tangannya membuat ini semua menjadi terasa lebih liar dan panas.
Pak Trisno melepas ciumannya, tersenyum kemudian menghajar lagi bibir Bima.
“Cpok cpok cpok…” begitu suara yang keluar dari duel lidah antara Pak Trisno dan Bima.
Tangan kapalan Pak Trisno menyentuh dan memainkan pentil kiri Bima yang membuat Bima menggeliat. Saat itulah Bima merasakan sesuatu akan meletus dari tubuhnya. Bima mau berteriak bahwa dia akan keluar, tapi bibirnya terikat dengan bibir bapaknya.
Pak Trisno tahu bahwa Bima akan muncrat dan itu sebabnya dia malah melepas ciumannya dan menyedot dengan keras pentil Bima sebelah kanan.
Bima menggelepar-gelepar. Dia menaik turunkan pinggulnya, mengentoti mulut kakeknya sendiri. Bima menatap bapaknya sedang menyervis pentilnya dan kakeknya menelan mentah-mentah kontolnya yang besar.
“Asuuuu aku metu, Pak (aku keluar, Pak),” kata Bima.
Bima menusukkan kontolnya ke tenggorokan Mbah Sinyo dengan lebih dalam dan akhirnya
CROT CROT CROT CROT CROT CROT…
Enam buah semprotan pejuh tebal masuk ke dalam mulut Mbah Sinyo. Bima melemas. Kontolnya masih tegang.
Mbah Sinyo mengeluarkan kontol dari mulutnya kemudian dia memuntahkan kembali pejuh Bima di permukaan kontol Bima. Bima dan Pak Trisno bersama Mbah Sinyo kini melihat berapa banyak dan seberapa kental kontol Bima. Pak Trisno dan Mbah Sinyo kemudian menyerbu kontol Bima dan mereka menjilati setiap permukaan kontol Bima dan menelan pejuh anak dan cucu mereka.
Bima yang sudah lemas masih shock menatap bapak dan kakeknya rebutan pejuhnya. Ketika Mbah Sinyo menjilat pejuh terakhir yang ada di biji Bima, Pak Trisno menoleh ke Bima dan berkata, “Saiki wayahe awakmu dikentu, Bapak, Le (Sekarang waktunya kamu dientot, Bapak, Nak).”
Bersambung…
Pak Trisno menoleh ke Bima dan berkata, “Saiki wayahe awakmu dikentu, Bapak, Le (Sekarang waktunya kamu dientot, Bapak, Nak).”
“Dicopot disik tangane Bima… (Dicopot dulu tangannya Bima),” kata Mbah Sinyo sambil melepaskan ikatan kaki cucunya. Pak Trisno kemudian melepaskan ikatan kaki anaknya.
Ketika Pak Trisno melepaskan tangan anaknya, badannya menutupi Bima. Pentil Pak Trisno tepat di wajah Bima. Bima memutuskan untuk menjilat dan menyedot pentil ayahnya. Pak trisno langsung memejamkan mata dan mendesah.
“Aduh, Le…” katanya.
Pak Trisno kemudian berdia. Dia membiarkan Bima menyusu pentilnya. Bima memejamkan mata dan tangan kirinya yang sudah lepas kemudian menggerayangi badan bapaknya yang besar dan berotot.
“Sedotanmu enak tenan, Le (Sedotanmu enak sekali, Nak),” kata Pak Trisno.
Pak Trisno memejamkan mata sementara Bima terus menyedoti pentil bapaknya. Pak trisno kemudian melepaskan ikatan tangan kanannya dan sekarang Bima menggunakan kedua tangannya untuk menggerayangi bapaknya.
“Ahhhhhh assuuuu malah tambah didilat (Anjing malah dijilatin),” kata Pak Trisno.
Tangan Bima sekarang menggerayangi paha bapaknya yang berbulu. Bima kemudian menemukan kontol dan biji bapaknya. Ini pertama kalinya dia memegang kontol orang lain selain kontolnya. Bima menyedot-nyedot pentil bapaknya sambil menggerayangi kontol dan biji Pak Trisno.
“Assuuu gak sabar aku merawani kowe, Le,” kata Pak Trisno sambil mengelus-ngelus kepala anaknya dengan penuh cinta.
Melihat anak dan cucunya begitu bernafsu, Mbah Sinyo langsung mendekati selangkangan Bima yang sudah berdiri tegak. Mbah Sinyo kemudian mengangkat kaki Bima dan menjilati batang dan biji cucunya. Bima yang menjilati pentil anaknya semakin bersemangat.
“Aduh, Mbah, enak…” kata Bima disela-sela menyusu pentil bapaknya.
“Menengo ae, Le, digawe enak awakmu bengi iki (Diam saja, Nak, dibuat enak kamu malam ini),” kata Mbah Sinyo sambil menjilati batang cucunya yang tebal. Urat-urat di kontol Bima bermunculan. Biji Bima yang besar menjadi sasarannya. Dia menjilatinya kemudian memasukkan satu per satu bijinya ke mulutnya. Enak sekali rasanya.
Pak Trisno memegang kepala Bima dan memaksa Bima untuk menyusunya. Pak Trisno memejamkan mata. Bima menatap wajah ayahnya yang menggigit bibir menahan kenikmatan ini. Dia terlihat matang dan sungguh seksi.
Tidak heran banyak ibu-ibu yang ingin dikawini bapaknya. Bima kemudian tersadar bahwa justru dialah yang mendapatkan kesempatan untuk dikawini bapaknya. Hal ini membuatnya semakin bernafsu. Dan ketika dia bernafsu, dia menggigiti kecil pentil bapaknya.
Pak Trisno membuka mata dan menatap anaknya. Dia tersenyum.
“Awakmu kok weruh aku seneng dicokot-cokoti, Le (Kamu kok tau aku suka digigit-gigit, Nak?),” tanya bapaknya.
Bima melepas bibirnya dan pentil hitam bapaknya yang berotot. Dada Pak Trisno membumbung dan terlihat sangat seksi. Bima menatap bapaknya dan berkata, “Soale aku yo seneng dicokot-cokot, Pak (Karena aku suka digigit-gigit, Pak),” kata Bima.
Bima kemudian langsung menjilati dan menggigit-gigiti kecil pentil bapaknya. Pak Trisno makin mendekap kepala anaknya. Kepalanya menengadah di atas dan mulutnya terus komat-kamit.
“Ya Gusti enak men sedotane anak lanangku (enak sekali sedotan anak laki-lakiku),” kata Pak Trisno mendesah.
Kesenangan Pak Trisno terhadap sedotan dan gigitan Bima di pentilnya terbukti dengan begitu banyaknya pre-cum yang menetes dan muncul dari kepala kontolnya. Bima yang memegang dan menjelajahi kontol bapaknya dengan tangannya langsung menaikkan pinggul bapaknya. Sekarang dia ingin mencicipi kontol bapaknya.
Pak Trisno tahu bahwa semua orang pasti ketagihan kontolnya yang perkasa. Dia kemudian duduk di atas dada anaknya dan membiarkan Bima memanjakannya. Bima menatap wajah bapaknya dan kemudian menjulurkan lidah dan mencicipi pre-cum bapaknya.
“Aduh, Le,” kata bapaknya.
“Enak, Pak,” kata Bima sambil menelan pre-cum yang sudah dia telan.
“Rasah kuatir. Gak bakalan entek kok (Nggak bakalan habis kok),” kata Pak Trisno.
Bima kemudian mencium kepala kontol bapaknya. Aroma kontol begitu memabukkan. Apalagi kalau kontolnya sebesar kontol Pak Trisno. Jembut Pak Trisno cukup rapi meskipun sudah ada beberapa ubannya.
Dan kontol Pak Trisno yang luar biasa adalah walaupun kepala kontol dan batangnya tebal, semakin ke pangkalnya kontolnya semakin tebal. Yang membuat Bima kesulitan memasukkan semua kontol bapaknya ke tenggorokannya. Dan yang membuat takut kalau nanti Bima dientot bapaknya.
Tapi siapa yang peduli itu kalau kalian punya kontol bapak kalian sendiri yang tebal dan menggiurkan di depan wajah kalian? Bima langsung melumat kepala kontol Pak Trisno dan memaju mundurkan kepalanya.
Pak Trisno memegang perut Bima dan menekukkan punggungnya.
“Assuuuu sedotanmu, Le, jan jos!” Kata Pak Trisno merasakan sedotan yang luar biasa dari mulut putranya.
Bima merasa semakin bangga dengan kata-kata ini. Dia semakin bernafsu menyedoti kontol bapaknya. Apalagi dia bisa melihat bapaknya duduk di perutnya yang sixpack, memamerkan tubuhnya yang telanjang dan keringatnya membuatnya seperti bercahaya di cahaya yang temaram ini.
Bima menyentuh dada dan perut bapaknya yang berotot dan sangat keras sambil terus menyedoti kontolnya. “Hmmmhh… hmhhh…” desah Bima sambil menyerap semua sari pati yang keluar dari kepala kontol Pak Trisno.
Sementara itu Mbah Sinyo masih keranjingan biji Bima. Dia merasa kesenangan menjilati biji cucunya. Kemudian dia mengangkat kaki Bima ke lengannya dan mulai mengerjai lubang cucunya.
Bima yang baru pertama kali merasakan lidah menyentuh lubang pembuangannya langsung kaget. Tapi dia tidak berhenti menghisap kontol bapaknya. Dia malah bersemangat. Dan ketika Mbah Sinyo memasukkan lidahnya lebih dalam ke lubang pantat Bima dengan lebih dalam. Bima kaget sekali.
Perasaan apa ini?
Badannya menggelepar.
Pak Trisno menoleh ke belakang dan melihat bapaknya sedang menjilati pantat cucunya. Pak Trisno memaju mundurkan pinggulnya agar Bima merasakan kenikmatan yang tiada tara. Bima memejamkan mata merasakan ini.
Pak Trisno kemudian turun dari badan Bima.
“Gantian, Pak. Wayahku saiki (Waktuku sekarang),” kata Pak Trisno.
Mbah Sinyo langsung ke atas kemudian dia mencium cucunya. Tidak seperti Pak Trisno, ciuman Mbah Sinyo lebih lembut. Bima sebenarnya lebih menyukai ketika Pak Trisno menciumnya karena sedotan Pak Trisno lebih kuat dan lebih garang. Tapi kelembutan Mbah Sinyo juga ternyata memberikan sensasi tersendiri.
Mbah Sinyo menarik bibirnya, menatap Bima dan tersenyum.
“Mari ngene dadi lanang tenanan awakmu, Le (Sebentar lagi jadi laki-laki sejati kamu, Nak),” kata Mbah Sinyo.
Mbah Sinyo dan Bima kemudian menyaksika Pak Trisno membentangkan kaki bima kemudian menjilati pantat Bima. Tidak seperti Mbah Sinyo yang kalau merimming pantat Bima lebih lembut dan pelan, Pak Trisno sangat bernafsu. Dia seperti marah. Lidahnya kasar tapi lembut pada saat yang bersamaan. Kehangatan ini membuat tubuh Bima berkobar.
Melihat ini Mbah Sinyo langsung mengambil kesempatan. Dia langsung menundukkan kepalanya dan menjilati pentil cucunya. Dia jilat dan dia sedot pentil cucunya yang berwarna cokelat tua itu. Sementara dia menjilat pentil kanannya, tangannya memainkan pentil Bima sebelah kiri. Akibatnya Bima kelabakan.
“Aduh, Mbah… Enaaak…” kata Bima.
Pak Trisno sendiri diam-diam sudah mengambil minyak dan mengoleskannya ke jari-jarinya. Dia memasukkan satu tangannya perlahan ke dalam lubang Bima yang masih perawan. Bima agak kaget ketika jari Pak Trisno masuk. Tapi karena dia mendapatkan rangsangan yang luar biasa dari Mbah Sinyo, dia diam-diam saja.
“Yokpo, Le (Gimana, Nak?),” Tanya Pak Trisno sambil memaju mundurkan jarinya.
“Aneh…” jawab Bima.
“Aneh enak opo yokpo?” Tanya Pak Trisno.
“Mbuh… (Nggak tau),” kata Bima.
Pak Trisno mengocok kontol Bima sambil mengeluarkan jarinya. Kini dia memasukkan kontol putra satu-satunya tersebut ke dalam mulutnya. Bima mendesah keenakan. Pentilnya dijilat dan disedot oleh kakeknya dan kontolnya dimainkan oleh bapaknya. Saat Bima memejamkan mata, Pak Trisno memasukkan dua jarinya.
Bima merasakan sesuatu yang aneh. Rasanya tidak nyaman sekali. Tapi pada saat yang bersamaan, dia menginginkan yang lebih. Rasanya benar-benar tidak bisa diungkapkan. Pentilnya dijarah oleh kakeknya, bapaknya masih memijat batang kontolnya dengan lidahnya dan lubangnya disodok-sodok oleh dua jari.
Ketika Pak Trisno memasukkan tiga jari ke dalam lubangnya, Bima mulai mendesah. Dia merasakan sesuatu yang aneh. Rasanya lebih sakit tapi lebih nikmat.
“Ahhhh aduuhh…” kata Bima.
“Loro, Le (Sakit, Nak?),” tanya Pak Trisno.
“He-em…”
“Yokpo, arep dikenthu bapakmu po yokpo (Gimana mau dientot bapakmu apa gimana)?” Tanya Pak Trisno sambil menjilati kepala kontol Bima yang penuh dengan pre-cum. Tangan kirinya masih terus menyodok-nyodokkan tiga jarinya.
Entah kenapa Bima menjadi terangsang sekali. Membayangkan bapaknya sendiri yang begitu gagah dan tampan mengentotinya, menyatu dengan dirinya seperti sebuah impian liar.
Bima mengangguk.
Pak Trisno melepas jari-jarinya. Pak Trisno paham. Dia mengambil minyak dan mulai melumurkan minyak tersebut ke kontolnya. Kontolnya bergerak-gerak saking ngacengnya. Ia terlihat gagah sekali. Keras dan menjulang. Menantang. Warna cokelat tua-nya terlihat begitu menarik dengan minyak di permukaannya.
Mbah Sinyo paham bahwa cucunya akan segera diperawani. Dia langsung menyedot kontol cucunya. Pak Trisno bersiap-siap dan mengangkangkan kaki anaknya.
“Tahan sakit, yo, Le,” kata Pak Trisno. “Ojok ditahan. Dilemeske wae (Jangan ditahan, dilemesin aja),” Bima mengangguk.
Kontolnya terasa keras sekali di dalam mulut kakeknya. Menyaksikan bapaknya yang terlihat begitu gagah dengan ototnya yang besar, memegang kontolnya dan bersiap memasukkan ke lubangnya membuat Bima deg-degan tapi sekaligus penasaran.
Pak Trisno kemudian mengarahkan kontolnya ke lubang Bima. Tentu saja lubang Bima tidak menyerah. Susah ditembus. Pak Trisno menjilati lagi lubang Bima.
“Dilemeske, Le (Dilemesin, Nak),” kata Pak Trisno.
“Slurrrppp… slurrppp…” Mbah Sinyo masih terus menyedot kontol cucunya.
Lubang Bima sepertinya mulai rileks. Pak Trisno kemudian langsung pelan-pelan memasukkan kepala kontolnya ke lubang Bima. Kepalanya masuk dan Bima langsung berteriak.
“Aduuuhhhh…”
Dia merasa panas sekali. Pantatnya panas sekali. Lubangnya seperti robek. Dan BIma tahu yang berikutnya akan makin sakit karena kepala kontol Pak Trisno bukanlah yang terbesar. Pangkal kontolnya lebih besar.
“Ditahan, Le. Dilemeske,” kata Pak Trisno diam, dia tidak bergerak.
Bima mengangguk. Dia tidak mau membuka mulut karena kalau dia membuka mulut dia akan merintih kesakitan.
Pak trisno memajukan kontolnya lagi. Separuh masuk dan Bima refleks berteriak.
“ASSSUUU LORO, PAK (ANJING, SAKIT, PAK!),” kata Bima.
“Emuten kontolku, Le, jarno awakmu gak ngerasakno loro nemen (Isep kontolku, Nak, biar kamu nggak merasakan sakit beneran),” kata Mbah Sinyo menoleh ke belakang.
Bima mengangguk. Dia memasukkan kontol kakeknya yang dari tadi mengeluarkan pre-cum karena saking bernafsunya. Kontol Mbah Sinyo sebenarnya lumayan besar. Mungkin sekitar 18 sentimeter. Tebalnya sama dengan kontol Bima. Tapi dia yang memiliki kontol terkecil di ruangan ini. Dan Mbah Sinyo benar, begitu Bima menyedot kontol kakeknya, dia merasa lebih rileks. Seperti bayi minta disusui.
Melihat Bima sudah rileks, Pak Trisno memasukkan sisa kontolnya.
“Emhh…” desah Pak Trisno. Dia merasakan betapa sempit dan menggigitnya lubang perawan Bima.
Bima merasakan kesakitan yang luar biasa. Pantatnya panas. Rasanya seperti mau buang air besar tapi tidak bisa dikeluarkan alias tertahan di tengah. Mbah Sinyo tahu soal rasa sakit Bima jadi dia menaik turunkan pinggulnya sehingga Bima terdistraksi oleh hal lain. Mbah Sinyo sekarang mengentoti mulut Bima dengan kontolnya sementara dia menyedoti kontol Bima dengan begitu bernafsu. Bima mengeluarkan begitu banyak pre-cum lezat untuk Mbah Sinyo minum.
Pak Trisno masih diam, dia tidak bergerak. Dia ingin membuat Bima terbiasa dengan kontolnya di dalam lubangnya. Rasa lubang Bima yang begitu nyaman membuat Pak Trisno mendesah. Dia memejamkan mata dan memainkan sendiri pentilnya.
“Oleh digenjot ra, Le (Boleh digenjot nggak, Nak),” tanya Pak Trisno.
Bima melirik ayahnya dan dengan kontol Mbah Sinyo di mulutnya dia mengangguk.
Pak Trisno kemudian memundurkan pantatnya kemudian memajukan lagi. Gerakannya begitu pelan dan konstan.
Bima masih merasa sakit tapi kini dia merasakan sensasi baru. Ada perasaan aneh ketika lubangnya kosong kemudian penuh, kemudian kosong kemudian penuh.
Bima pun mulai mendesah.
“Hmmmmhhmmm… hmhhh…” dengan kontol masih di mulutnya Bima mengeraskan suaranya menggunakan tenggorokan.
Pak Trisno tersenyum. Sepertinya putra laki-lakinya ini mulai menikmati gerakannya.
Pak Trisno pun agak mempercepat gerakannya.
Kini Bima merasakan sesuatu bergetar. Ketika kontol Pak Trisno yang gede sekali menyentuh prostatnya, ada sesuatu dalam tubuhnya yang bergetar. Dan begitu Pak Trisno mempercepat genjotannya, setiap kali prostatnya tersentuh, Bima ingin meledak saking enaknya. Rasa sakit tersebut sekarang menjadi seimbang dengan rasa geli, hangat di dalam tubuhnya.
Bima melepaskan kontol kakeknya karena dia ingin mendesah.
“Asuuuu, Pak, kok dadi rodo penak (Anjing, Pak, kok jadi agak enak),” kata Bima.
“Opo Le?” Tanya Pak Trisno pura-pura tidak tahu. Padahal dia bertanya sambil terus menggenjot pantat putranya sendiri.
PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK
“Enak, Pak…” kata Bima memejamkan kepalanya.
Kontolnya yang ngaceng diremas-remas oleh lidah kakeknya dan pantatnya terus digenjot oleh bapaknya yang macho sekali. Bagaimana kenikmatan ini bisa terjadi.
“Apane sing enak, Le? (Apanya yang enak, Nak?),” tanya Pak Trisno sambil terus menggenjot pantat anaknya.
“Kontolmu, Pak…” kata Bima memejamkan mata. Badannya menggelepar. Dia tidak bisa diam. Apalagi Mbah Sinyo malah mengocok kontolnya dan menyedoti kontolnya.
“Opoo kontol bapak, Le? (Kenapa dengan kontol bapak, Nak?),” tanya Pak trisno dengan raut muka serius.
PLOK PLOK PLOK…
“Enak Pak kontolmu…” kata Bima.
Semakin lama Pak Trisno menyatukan diri dengan anaknya, semakin menggelinjang Bima.
“Sik, Bima, ojo metu sik. Iki mbahmu bakalan ngekeki hadiah (Bentar Bima jangan keluar dulu. Ini kakekmu bakalan ngasih hadiah),” kata Mbah Sinyo yang memposisikan duduk di selangkangan Bima.
Kemudian Mbah Sinyo memasukkan kontol Bima ke dalam lubangnya.
Bima langsung merasakan sensasi baru. Kontolnya menemukan rumah yang hangat, empuk dan sempit sekali.
“Asu, Trisno. Kontole anakmu jan enak tenan (Anjing, Trisno. Kontolnya anakmu enak sekali),” kata Mbah Sinyo memejamkan mata. Kemudian Mbah Sinyo memainkan pentilnya sendiri sambil menaik turunkan pinggulnya.
“Yo mesti. Bapake ae pinter kenthu kok (ya jelas. Bapaknya saja pinter ngentot kok),” kata Pak trisno semakin cepat mengentoti lubang anaknya.
Bima tak tahu lagi harus bereaksi apa. Dia begitu bahagia merasakan kenikmatan tiada tara ini. Lubangnya terus dihajar oleh kontol bapaknya yang tebal dan terasa keras. Lubangnya benar-benar terasa penuh. Rasa sakitnya mulai menghilang dan digantikan dengan perasaan nyaman yang menjalar ke seluruh tubuh.
Kemudian kontolnya seperti diremas-remas oleh lubang kakeknya. Karena rupanya Mbah Sinyo jago sekali mengempot-ngempotkan lubang pantatnya.
Menyaksikan kakeknya begitu binal dan kecanduan kontol dan memainkan sendiri pentilnya, memejamkan mata dan menaik turunkan pantatnya untuk merasakan kontol lebih dalam di lubangnya, Bima menjadi binal.
Dia memegang pantat kakeknya dan sekarang dia ikut bergerak. Dan Bima kaget karena ini membuat hentakan kontol Pak Trisno dan lubangnya juga menjadi lebih keras.
PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK…
“Aduhhh asssuuuuu kontole anakmu jan jos gandos (Aduh, anjis kontolnya anakmu enak sekali),” kata Mbah Sinyo memejamkan mata.
“Yo wis, Pak, iki hadiahmu,” kata Pak trisno.
Pak trisno melepaskan kontolnya dari lubang Bima, kemudian dia membungkukkan badan ayahnya dan memasukkan kontolnya ke dalam lubang Mbah Sinyo.
Mbah Sinyo mendelik saking kagetnya tapi begitu semua kontol Pak Trisno masuk, Mbah Sinyo langsung berteriak-teriak. Dia mengocok kontolnya sambil terus menggerakkan pinggulnya.
“ASSUUU AKU DIKENTHU KARO ANAK LAN PUTUKU DEWEEE… GUSTIII JANCCOOOOKKKKK AKU METUUUU (ANJING GUE DIENTOT SAMA ANAK DAN CUCU GUE SENDIRI. YA TUHAANNN ANJIIINGGG GUE KELUAR…)”
CROT CROT CROT
Pejuh Mbah Sinyo muncrat ke wajah Bima. Ada sekitar tujuh muncratan pejuh hangat membasahi dada dan wajah Bima. Bima hanya tersenyum.
Pak Trisno mencium bibir ayahnya kemudian dia turun dan memasukkan lagi kontolnya ke lubang Bima.
Lubang Bima sekarang jauh lebih mudah untuk dimasuki. Dan begitu kontolnya merasakan pantat Bima yang lebih mencengkeram, Pak Trisno langsung menaruh kaki Bima ke pundaknya.
Mbah Sinyo turun dari selangkangan Bima dan sekarang dia menjilati pentil Bima.
“ASU TENAN KON, PAK, KONTOLMU JAN GEDI (Anjing beneran lu, Pak. Kontol lo gede banget),” kata Bima.
“Seneng awakmu dikenthu karo bapakmu dewe, Le (Suka kamu dientot sama bapakmu sendiri, Nak)?” Tanya Pak trisno.
“Iyo Pak. Kontolmu soale enak nggenjot silitku (Iyo Pak soalnya kontolmu enak nggenjot pantatku),” jerit Bima.
Mbah Sinyo terus menggigiti kecil pentil Bima yang membuat Bima tidak tahu lagi harus merasakan apa.
“Aduh sempit men silitmu, Le. Enak ancene perawan (Aduh sempit sekali pantatmu, Nak. Enak memang kalau perawan),” kata Pak Trisno.
Bima kemudian memegangi perut dan dada Pak Trisno yang berkeringat deras. Pejuh kakeknya di wajahnya terasa begitu seksi.
“Ayo, Pak, metu. Aku kepingin pejuhmu ndek njero (Ayo, Pak, keluar. Aku ingin pejuhmu di dalem),” kata Bima.
“Awakmu doyan pejuh, Le (Kamu doyan pejuh, Nak)?” Tanya Pak Trisno.
“Aku doyan kontolmu. Kenthu bendino yo, Pak, Mbah (Aku doyan kontolmu. Ngentot tiap hari ya, Pak, Mbah),” jerit Bima.
PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK
Genjotan Pak Trisno lebih cepat sampai akhirnya Bima tidak bisa menahan lagi. Kakinya bergetar dan kontolnya berkedut-kedut.
Mbah Sinyo langsung memposisikan kepalanya di depan kontol dan ketika akhirnya kontol Bima mulai muncrat, dia membuka mulutnya.
“ASU PAAAKKKK AKU METU… GENJOT TERUS PAK…” jerit Bima.
CROT CROT CROT CROT CROT CROT CROT
Tujuh muncratan pejuh putih kental membasahi wajah Mbah Sinyo. beberapa masuk ke mulutnya, beberapa mengenai wajah, dagu bahkan sampai rambut Mbah Sinyo.
“Ahhhh…” desah Bima ketika badannya bergetar setelah pejuhnya keluar.
“Assuuu…” jerit Bima ketika Mbah Sinyo memasukkan kontolnya ke dalam mulutnya dan membersihkan pejuh di kontolnya.
Pak Trisno yang dari tadi sudah merasakan kenikmatan, makin kaget ketika kontol besarnya dipijat dan ditarik oleh pantat Bima yang sedang mengejan karena dia muncrat.
Pak Trisno kemudian menusuk kontolnya lebih dalam dan memejamkan mata.
“Iki, Le, pejuh sing gawe awakmu, tak lebokno maneh nang awakmu aahhhhhh (Ini Nak pejuh yang menciptakanmu, kumasukkan lagi ke dirimu aahhhh),” kata Pak Trisno.
CROT CROT CROT CROT CROT
Bima merasakan sesuatu yang hangat masuk ke dalam perutnya. Setiap hentakan Pak Trisno di dalam lubangnya malah semakin membuat Bima bangga dia sudah membuat ayahnya memuncratkan pejuh.
Pak Trisno mengeluarkan kontolnya dari lubang Bima dan Mbah Sinyo sekali lagi menangkap kontol putranya dan membersihkannya dengan mulutnya.
Pak trisno kemudian mencium Bima. Pak trisno menjilati pejuh bapaknya di wajah Bima kemudian mereka saling berbagi pejuh Mbah Sinyo.
“Gak sabar aku kenthu maneh sesuk (Gak sabar aku ngentot lagi besok),” kata Bima lemas.
“Yo saiki ngasuh sik. Mene maneh (Ya sekarang istirahat dulu, besok lagi),” kata Pak trisno.
Malam itu mereka bertiga tidur berpelukan tanpa busana. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Bima merasa lengkap. Bima, akhirnya merasa dia sudah menjadi laki-laki dewasa.
Bersambung…
Bima terbangun sekitar jam lima pagi ketika ayam berkokok dan matahari mulai masuk ke kamarnya. Tapi dia terbangun karena dia merasakan kehangatan di selangkangannya. Ketika dia membuka matanya, dia sudah melihat Mbah Sinyo mengemuti kontolnya dengan mata terpejam. Mbah Sinyo nampak suka sekali dengan kontol Bima.
Bima menoleh ke samping dan menyaksikan ayahnya masih tertidur. Pak Trisno mengangkat kedua tangannya dan memperlihatkan ketiaknya yang lebat. Bima kemudian bergeser dan mencium ketiak bapaknya.
Baunya seperti yang ia bayangkan. Pekat dan luar biasa memabukkan. Bima tidak hanya mencium ketiak Pak Trisno tapi ia kemudian menjilat ketiak bapaknya. Tanpa menunggu lama badannya diserang oleh nafsu dan Bima pun langsung menjilati pentil bapaknya yang hitam dan gagah.
Tangan Bima kemudian memegang kontol bapaknya yang sudah tegang. Bima menjilat dan menggigiti kecil pentil bapaknya sementara tangannya memainkan kepala kontol bapaknya. Tak lama bagi kontol Pak Trisno untuk mengeluarkan pre-cum.
“Hmmmm….” Desah Bima menikmati pentil bapaknya.
Bima kemudian merasakan tangan Pak Trisno mengelus kepalanya. Bima menoleh ke bapaknya.
“Enak, Pak?” Tanyanya.
“Enak lah…” kata bapaknya.
Pak Trisno kemudian mencium Bima. Bima menerima ciuman Pak trisno dengan bahagia. Tangannya memegang rahang bapaknya yang terasa kasar karena bulu-bulu halus yang tumbuh disana.
Lidah Pak Trisno yang kasar menari-nari, memijat lidahnya. Tekanannya begitu presisi dan kehangatannya membuat kontol Bima mengeluarkan lebih banyak pre-cum. Itu sebabnya sekarang Mbah Sinyo mendesah makin keenakan.
“Pak, kontole sampeyan tak emut yo (Pak, kontolmu aku isep ya),” tanya Bima ke bapaknya setelah selesai ciuman.
“Gausah ijin, Le. Langsung ae,” kata Pak trisno tersenyum.
Bima langsung menurunkan badannya dan memakai perut Pak trisno sebagai bantal. Dia memegang kontol Pak trisno yang sekarang terlihat gemerlapan karena pre-cumnya menetes.
Dalam jarak yang dekat, Bima bisa melihat bahwa kontol bapaknya begitu perkasa. Sunatan kontol Pak trisno bagus sekali karena kepala kontolnya terlihat gagah. Bima tidak percaya bahwa kontol ini memasuki tubuhnya semalam. Bima menjilat kepala kontolnya.
“Aduhhh…” desah Pak Trisno.
Bima menjilat lagi kepala kontol bapaknya.
“Enak, Le,” Pak Trisno mengelus kepala anaknya.
Kemudian Bima memainkan lidahnya di kepala kontol Pak Trisno dan memutar-mutarnya. Dia menyesap semua pre-cum yang keluar dari kontol bapaknya. Rasanya sungguh lezat.
“Pinter awakmu, Le (pinter kamu nak),” kata Pak Trisno.
Bima mulai kerasukan dan dia langsung memasukkan kontol Pak Trisno ke dalam mulutnya. Kepala kontolnya ia pijat. Dan ia menyedot separuh batangnya dengan kuat. Berharap Pak Trisno segera mengeluarkan pejuh segar untuk sarapan.
“Hmmmm… sedotanmu enak, Le,” kata Pak Trisno.
“Hmmm hmmm…?” Respon Bima.
Pak trisno kemudian memegang kepala Bima dan menggerakkan kontolnya dari bawah sehingga dia mengentoti mulut anaknya dengan pelan tapi pasti. Bima merasakan kenikmatan tak terduga. Dia merasa bangga sekali bapaknya bisa menggunakan mulutnya untuk menyenangkan kontolnya. Dan dia juga senang karena kakeknya terlihat tekun dan sibuk dengan kontolnya.
“Aku kepingin dikenthu koyok wingi, Le (Aku pengen dientot kayak kemarin, Nak),” kata Mbah Sinyo.
“Ayo, Le, iku mbahmu njaluk dikenthu (Ayo, Nak, itu kakekmu minta dientot),” kata Pak Trisno.
Mbah Sinyo pun langsung naik ke kasur dan nungging.
Bima bangun dan langsung memasukkan kontolnya ke lubang Mbah Sinyo. Mbah Sinyo langsung melolong begitu kontol Bima masuk ke lubangnya.
“Asu, Le, awakmu isih enom kok wis penak kenthue (Anjing, Nak, kamu masih muda kok sudah jago ngentotnya),” teriak Mbah Sinyo.
“Aduh enak…” kata Bima sambil menggenjot kakeknya.
PLOK PLOK PLOK PLOK
Sementara Bima mengentoti kakeknya, Mbah Sinyo menjilati pentil Pak trisno. Pak Trisno tersenyum menatap anaknya yang terlihat gagah dan dewasa sekali mengentot bapaknya.
“Enak Le silite mbahmu (Enak nggak pantat kakekmu),” tanya Pak Trisno.
“Enak, Pak. Anget,” jawab Bima.
“Aduh aduh aduh aduh enaaaaakkkkkkkkkkk kontoleee putuku enaaaakkkk… (kontol cucuku enaaakkkk),” teriak Mbah Sinyo.
Pak trisno kemudian bangun dan berdiri. Kemudian dia berdiri di depan Bima dan menawarkan kontolnya untuk dinikmati putranya. Bima pun memegang kontol bapaknya dan menyedoti kontol Pak Trisno.
Rasanya luar biasa sekali bisa mengentoti kakeknya dan dia masih bisa menyedoti kontol yang menyiptkan dirinya. Pak Trisno mengelus kepala Bima sambil berkata, “Yo ngunu, Le, nyedote (Ya kayak gitu nyedotnya, Nak).”
“Aduh aduh aduh aduh… aku metuuu…” kata Mbah Sinyo.
Mbah Sinyo mengocok kontolnya dan pejuhnya pun muncrat membasahi sprei.
Bima melepas kontol bapaknya dari mulutnya kemudian menatap bapaknya, “Pak, arep ngenthu karo aku po (Mau ngentot sama aku, Pak),” tanya Bima.
“Yo wis, ayo,” kata Pak Trisno.
Bima langsung terbaring di kasur. Pak Trisno menaruh bantal di atas pinggul anaknya. Mbah Sinyo yang sudah keluar menjilati pentil cucunya. Bima pun bersiap menerima kontol bapaknya.
Begitu kontol Pak trisno masuk, Bima merasa agak kesakitan. Rupanya rasa sakit itu masih ada.
“Ahhhh…” jerit Bima.
“Tahan, Le,” kata Pak Trisno.
Lama kelamaan kontol Pak Trisno pun masuk seluruhnya dan Bima mulai merasakan kehangatan. Apalagi setiap kali Pak trisno menarik kontolnya kemudian menusukkannya lagi. Setiap kali prostatnya diguncang oleh kontol besar Pak Trisno, tubuh Bima bergetar.
“Ahhh ahhh…” desah Bima.
PLOK PLOK PLOK PLOK…
“Yokpo, Le (gimana nak)?” tanya Pak Trisno sambil terus menggenjot putranya.
“Bendino oleh kenthu karo sampeyan, Pak (Tiap hari boleh ngentot sama Bapak),” desah Bima.
“Opoo, Le?” Tanya Pak Trisno balik.
“Aku kepingin kenthu bendino, Pak. Kontolmu enak (Aku pengen ngentot tiap hari, Pak. Kontolmu enak),” jerit Bima sambil mengocok kontolnya.
“Iyo oleh. Kontol bapak iki yo gawe mbah, yo gawe awakmu. (Boleh. Kontol bapak ini ya buat mbah, buat kamu juga),” kata Pak trisno.
PLOK PLOK PLOK PLOK…
Bima melihat jam di dinding. Sudah hampir jam enam pagi. Waktunya sekolah.
“Ayo, Pak, metu. AKu kate sekolah (Ayo keluarin, Pak. Aku mau sekolah),” kata Bima.
PLOK PLOK PLOK PLOK
Pak Trisno memegang pantat Bima kemudian menghentakkan kontolnya lebih dalam ke dalam lubang putranya.
“ASSSUUUUUU ENAAAKKK PAAAKK JUANNCCCOOOOKKKK AKU METUUU…” jerit Bima sambil mengocok kontolnya.
“Aku yo metu, Le,” kata Pak Trisno.
CROT CROT CROT CROT…
Pejuh Bima membasahi wajah Mbah Sinyo yang mangap di depan kontol Bima. Pak Trisno pun menembakkan kontolnya ke dalam lubang Bima.
Setelah muncrat, Pak Trisno langsung berbaring di atas badan Bima. Mereka berciuman. Mbah Sinyo bangun dan bilang, “Yo wis aku tak masak. Awakmu aduso disik (Aku mau masak. Kalian mandi dulu),” kata Mbah Sinyo.
“Adus bareng yo, Pak (Mandi baeng ya, Pak),” kata Bima.
“Ayo…” kata Pak Trisno.
“Gendong…” kata Bima manja.
Pak trisno tersenyum. Walaupun Bima sudah dewasa dan menjadi laki-laki sejati, tapi jiwa anak-anaknya masih ada. Dan Pak Trisno pun menggendong Bima ke kamar mandi.
Bersambung…
Di sekolah Bima tidak bisa berkonsentrasi. Satu karena pantatnya baru terasa sakitnya. Cenut-cenutan dari tadi. Dua karena dia tidak sabar pantatnya yang nyeri sekarang diisi dengan kontol Pak Trisno. Dia sudah tidak peduli lagi dengan label. Dia suka kontol.
Yang lebih parah lagi pas pelajaran olahraga, Bima tidak bisa menyembunyikan kengacengannya. Yang membuat teman-temannya tertawa karena dikiranya Bima sedang ngaceng melihat Astuti, teman sekelasnya yang digosipkan naksir dirinya.
Padahal sesungguhnya Bima lebih naksir guru olahraganya. Pak Budi yang baru berumu 29 tahun tapi badannya mulus dan kekar. Pantatnya pun menonjol seksi di balik balutan celana training itu.
Bima membayangkan memasukkan kontolnya ke lubang perawan Pak Budi dan akhirnya Bima memutuskan untuk coli di toilet sekolah saking tidak kuatnya. Pak Budi pernah buka baju di lapangan saat berolahraga.
Walaupun dia orang Jawa, tapi dia punya bulu dada. Dan bulu dada itu rimbun sekali yang akhirnya jatuh ke perut dan menuju selangkangannya. Membayangkan ini Bima akhirnya muncrat.
Di perjalanan rumah, Bima tidak henti-hentinya berpapasan dengan laki-laki yang selama ini selalu menjadi perhatiannya. Dulu mereka hanya imajinasinya. Sekarang laki-laki ini menjadi target seksualnya. Kali saja mereka bisa menjadi partner ngentot.
Ada Pak Santoso, pemilik toko kelontong terbesar di desanya. Walaupun umurnya se Pak Trisno tapi dia seksi sekali. Mungkin karena dia punya darah Arab. Matanya besar dan senyumnya bagus sekali. Kalau saja jari-jarinya sebesar itu, apa kabar dengan kontolnya?
Kemudian ada Jonet, tukang angkut di pasar yang merupakan kakak temannya. Jonet badannya sungguh menggiurkan. Kering berotot karena pekerjaannya memang sudah jadi tukang angkut sejak umur 14. Jonet sudah menikah tapi belum punya anak. Wajah Jonet manis sekali.
Dan yang terakhir, selain Firman adalah Pak Handoko. Pak Handoko, tentu saja adalah bapak Firman. Hari ini Bima baru tersadar betapa miripnya Pak Handoko dengan putranya. Badannya pun hampir mirip, hanya saja Firman lebih tinggi. Tapi Pak Handoko lebih besar badannya.
Seperti halnya anaknya, Pak Handoko adalah petani. Wajahnya ramah dan hari ini Bima menyaksikan pantat Pak Handoko besar dan seksi sekali. Ketika Pak Handoko menanam padi hari ini, Bima bisa membayangkan mengentoti Pak Handoko dari belakang.
Belum lagi dadanya yang bidang dan ada bulu-bulu halus di pentilnya. Bima ingin menyusu. Membayang bisa mengentot Pak Handoko kemudian pantatnya diisi dengan kontol Firman membuat nafsu Bima melambung.
Sayangnya ketika pulang di rumah Pak Trisno dan Mbah Sinyo sedang ada di sawah. Kali ini Bima tidak mau mengganggu mereka. Biarkan saja mereka bekerja.
Bima akhirnya memilih untuk bermain bola di lapangan bersama anak-anak disana. Lumayan juga dia bisa menyaksikan anak-anak muda kampungnya berkeringat. Ketika adzan Maghrib terdengar, mereka berhenti bermain bola dan berjalan pulang.
Tadinya Bima mau mandi di pancuran tapi dia membayangkan Mbah Sinyo pasti mau menjilati keringatnya. Lumayan bisa membuang pejuh sore ini.
Begitu masuk pintu, dia mendengar suara desahan dan plok plok plok.
Suara orang ngentot. Mungkin Pak Trisno dan Mbah Sinyo sedang ngentot. Bima langsung tersenyum. Dia melepas celananya dari ruang tamu dan mulai mengocok kontolnya. Dia ingin memberikan kejutan ke Pak Trisno dan Mbah Sinyo dengan masuk ke kamar dengan kontol sudah ngaceng.
Ketika masuk kamar bapaknya, mulut Bima melongo.
Pak Trisno sedang memasukkan kontol besarnya ke lubang pantat seseorang. Tapi itu bukan Mbah Sinyo. Wajahnya lebih familiar.
“Assuuu enaaak, Tris, kontolmu (Anjing, enak kontolmu, Tris),” kata laki-laki itu.
Laki-laki yang berteriak menerima kontol itu adalah Pak Handoko, bapak Firman.
Dan menyadari anaknya ada di ruangan itu, Pak Trisno menoleh dan berkata, “Lho, Le, wis moleh? Arep melu kenthu ra? (Lho, Nak, sudah pulang? Mau ikut ngentot nggak)?”
Pak Handoko menoleh ke belakang.
Dia tampak kaget melihat Bima berdiri di depan pintu dengan kontol ngaceng. Pak Handoko langsung fokus dengan kontol Bima. Ternyata anak sama bapak tidak beda jauh. Kontolnya sama-sama raksasa. Melihat kontol yang berkilat-kilat tegak keras, Pak Handoko tersenyum.
“Rene, Le, tak cicipi kontolmu (Kesini, Nak, tak cicipi kontolmu),” kata Pak Handoko sambil tersenyum.
“Lek Bapak wis rampung, awakmu iso nyicipi silite Handoko. Enak, Le. Sempit (Kalau bapak sudah selesai, kamu bisa nyicipi pantatnya Pak Handoko. Enak, Nak. Sempit),” kata Pak Trisno sambil terus menggenjot dari belakang Pak Handoko.
Pak Trisno kemudian menjambak rambut Pak Handoko dan menekan kontolnya dengan lebih dalam ke dalam pantat Pak Handoko. Pak Handoko memejamkan mata dan memaki-maki.
“Assuuuu kontol jaran janccoookkkk terus genjot, Mas (Anjing, kontol kuda anjiiiinggg),” Pak Handoko bersumpah serapah.
Tubuhnya terlihat bercahaya dengan banyaknya keringat yang membasahi tubuhnya. Membuat pentilnya yang hitam dan dadanya yang keras semakin terekspos.
Bima yang sudah ngaceng akhirnya memutuskan masuk ke dalam kemudian dia naik ke ranjang. Bima belum memposisikan diri dengan baik ketika Pak Handoko langsung memegang kontol Bima yang sudah berdiri tegak dan mengocoknya.
“Aduh, Le, ganteng nemen awakmu (tampan sekali kamu),” kata Pak Handoko sambil memegang pantat Bima agar Bima mendekatkan pinggulnya dan kontolnya sampai di mulut Pak Handoko.
Begitu kontolnya dekat dengan mulutnya, kontol Bima langsung dicaplok tanpa peringatan. Pak Handoko kemudian memejamkan matanya dan langsung mendesah.
“Hmmmhmmm… hmmhhh… plok,” Pak Handoko mengeluarkan kontol Bima dari mulutnya kemudian menatap Bima sambil tersenyum. “Enak kontolmu, Le. Persis rasanya koyok kontole bapakmu (rasanya sama seperti kontol bapakmu),” kata Pak Handoko.
Bima yang kaget masih terdiam. Dia membiarkan kontolnya disedot-sedot oleh Pak Handoko.
SLURRRPPP SLURRRPPPP…
Sementara itu Pak Trisno tetap mengentoti Pak Handoko dengan begitu cepat dan kasar. Bunyi pantat mereka seperti musik.
PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK
“Yokpo, Le, emutane Pak Handoko (Gimana rasa emutannya Pak Handoko?),” Tanya Pak Trisno sambil menggenjot pantat Pak Handoko yang semok.
PLAK!
Pak Trisno menampar pantat Pak Handoko sampai merah.
“Asuuuuu…” Kata Pak Handoko sambil menyedot dan menjilati kepala kontol Bima.
“Enak, Pak. Sedotane mantep,” kata Bima.
“Mantep kan?” Tanya Pak Handoko.
“Wis, rasah njawab. Awakmu sedot ae kontol anakku (Kamu ga usah jawab. Kamu sedot aja kontol anakku),” kata Pak Trisno sambil memukuli pantat Pak Handoko lagi.
PLAK PLAK PLAK.
“HMMM…… ENYAKKK…” kata Pak Handoko dengan kontol Bima yang keras di dalam mulutnya.
“Wis suwe, Pak, kenthu karo Pak Handoko (Sudah lama ngentot sama Pak Handoko),” tanya Bima sambil akhirnya duduk di ranjang dan bersandar di tembok. Dia membiarkan Pak Handoko menjilati biji dan menyedoti pre-cum yang mengalir dari kepala kontolnya.
SLURRRPPPP…
“Setengah jam paling,” kata Pak Trisno sambil melihat jam.
Pak Trisno kemudian meminta Pak Handoko merubah posisi. Sekarang Pak Trisno tiduran dan Pak Handoko naik ke atas kontol Pak Trisno. Tapi posisinya membelakangi Pak Handoko.
PLAK PLAK
Pak Trisno memukul pantat Pak Handoko. Dengan begitu, Pak Handoko langsung goyang.
Sambil menggoyang kontol Pak Trisno, Pak Handoko menatap Bima.
“Ndi, Le, kontolmu tak sedote maneh (Mana, nak, kontolmu kuhisap lagi),” kata Pak Handoko.
Bima pun berdiri dan langsung memasukkan kontolnya ke dalam mulut Pak Handoko yang sudak terbuka. Bima kemudian memegang kepala Pak Handoko dan mengentoti mulut laki-laki tersebut. Rasanya seksi sekali bisa mengentoti mulut bapak Firman yang menjadi pujaannya. Apalagi melihat Pak Handoko terlihat binal menggenjot kontol bapaknya.
“Kapan pertama kali kenthu karo Pak Handoko, Pak?” Tanya Bima.
“Suwi. Wis oleh 10 tahun paling (Sudah lama, 10 tahun mungkin),” kata Pak Trisno.
“Waaahhh…” kata Bima.
Pak Handoko mengeluarkan kontol Bima kemudian menatap Bima dengan pandangan binal.
“Aduh, aku ga sabar. Lebokno kontolmu, Le. Aku kepingin ngerasakke kontol anak karo bapak njebol silitku (Masukin kontolmu, Nak. Aku ingin merasakan kontol anak dan bapak merasuki pantatku),” kata Pak Handoko.
Pak Handoko kemudian berbaring ke dada Pak Trisno. Pak Trisno memegang lengan Pak Handoko dan mulai menggenjot Pak Handoko dari bawah. Pak Handoko memejamkan mata saking enaknya. Mulutnya tak henti-henti mengatakan, “Asuuuuu…”
Bima kemudian memposisikan kontolnya ke dalam lubang Pak Handoko. Melihat perut Pak Handoko yang masih keras, nafsu Bima berkecamuk.
Dia mengambil minyak kemudian mengoleskannya ke kontolnya.
Dia mengarahkan kontolnya ke lubang Pak Handoko yang sudah diisi dengan kontol bapaknya. Awalnya agak susah masuk. Tapi ketika kepala kontolnya masuk, Bima langsung dengan cepat menyodokkan kontolnya ke dalam.
“ASSSSUUUU JANCCOOOOOKKKKK…” teriak Pak Handoko kesakitan. Pantatnya berdarah karena dua kontol besar, berurat memasuki pantatnya.
Tapi tidak dengan Pak Trisno dan Bima. Mereka merasakan kenikmatan. Dua kontol mereka seperti dipijat satu sama lain.
Mereka akhirnya bergerak seirama. Ketika Pak Trisno turun, Bima menusuk. Ketika Bima turun, Pak Trisno menusuk. Begitu terus.
“Enak kontolmu, Ma,” kata Pak Trisno.
“Iyo, Pak, kontole sampeyan yo penak,” kata Bima sambil memejamkan mata.
Pak Handoko akhirnya merasakan kenikmatan. Lubangnya terasa penuh sekali dan kehangatan dua kontol raksasa ini membuat dia semakin ngaceng. Dia kemudian mengocok kontolnya sambil ikut bergerak.
“Asu enakkkk kontoleeee…” kata Pak Handoko.
“Ayo tok-ke bareng (Ayo keluarin bareng),” kata Pak Trisno.
Pak Trisno kemudian menggenjot Pak Handoko dengan lebih keras. Bima pun juga. Tubuh Pak Handoko bergerak dengan cepat. Dia merasakan sensasi menggairahkan yang menyenangkan di prostat dan pantatnya. Rasanya dia ingin selalu diisi dengan kontol.
Ketika Pak Trisno mau keluar, kontolnya menggembung lebih besar membuat Bima menjadi kesempitan yang membuat kontolnya jauh lebih sensitif.
Gara-gara ini kontol Bima pun mau keluar dan ikut menggembung. Pak Handoko merasakan lubangnya terasa lebih penuh sekali dan prostatnya seperti dipijat karena dua kontol ini menggembung dan mengeras.
“Asuuuu metuuu aku, Le,” tereak Pak Trisno.
Crot crot crot crot…
Karena Pak Trisno keluar, Bima pun akhirnya juga keluar. Dia mencengkeram lengan Pak Handoko dan berteriak…
CROT CROT CROT
“Aduh aku yo metu pisan, Pak (Aduh aku juga keluar, Pak),” teriak Bima.
Pak Handoko merasakan perutnya diisi dengan pejuh dan rasa hangat itu membuat Pak Handoko mengocok kontolnya dengan keras kemudian dia menggelepar-gelepar sambil berteriak
“ASSUUUUUUUU JANCCOOOOOOOOOOOKKKKKK KENTHU KARO ANAK BAPAK PENAAKKKKK (NGENTOT SAMA ANAK BAPAK ENAK) AKU METTUUUUU….”
CROT CROT CROT
Kontol Pak Handoko membasahi perutnya.
Mereka bertiga diam selama beberapa detik dengan nafas terengah-engah. Pantat Pak Handoko masih diisi dengan kontol Bima dan Pak Trisno yang masih melemas.
Kemudian Bima mencium Pak Handoko. Bibir Pak Handoko begitu lembut dan lidahnya memijat lidahnya dengan sensual. Selesai berciuman Bima berterima kasih kepada Pak Handoko.
Kemudian dia berkata, “Kapan kapan ayo kenthu wong papat karo Firman sisan (Kapan-kapan ayo ngentot bersama sama Firman).”
Bersambung…
Hari itu Bima merencanakan sesuatu. Dia tahu apa yang harus dia lakukan.
Sepulang sekolah dia langsung mengganti seragamnya kemudian dia membawa celurit dan berangkat ke kebun tebu milik Cak Suwadji. Di tengah jalan dia ke sawah Firman. Firman sedang duduk mengawasi sawah ketika Bima datang.
“Wis moleh to (Sudah pulang)?” Tanya Firman.
“Iyo,” kata Bima.
“Arep nandi (Mau kemana)?” Tanya Firman.
“Nempil tebu-ne Cak Suwadji. Melu ra (ngambil tebu-nya Cak Suwadji. Ikut ga)?”
“Ayo,” kata Firman.
Firman memakai kaos partai berwarna kuningnya kemudian berjalan mengikuti Bima di belakang. Sepanjang perjalanan Firman cerita tentang skandal kemalingan yang terjadi akhir-akhir ini. Bima mengangguk-ngangguk dan sesekali membalas dengan komentar tentang tidak efisiennya ronda yang ada di kampungnya.
Begitu sampai di kebun tebu, Bima terus berjalan masuk ke dalam.
“Golek sing koyo opo to (Mau nyari yang kayak apa),” tanya Firman.
“Mbuh. Nang tengah koyoke apik-apik (Nggak tau. Yang di tengah kayaknya oke),” kata Bima tanpa menoleh ke belakang.
Mereka akhirnya sampai di tengah. Dan begitu sampai di tengah Bima berhenti. Firman pun berhenti.
Bima menoleh ke belakang mendekati Firman kemudian tanpa aba-aba langsung memegang pipi Firman dan mencium bibirnya.
Firman kaget, dia mendorong Bima tapi Bima menahan punggung Firman dengan tangannya sehingga Firman tidak bisa bergerak. Firman akhirnya berhenti berontak dan diam.
Bima melepas bibirnya.
“Yokpo? Enak ra? (Gimana, enak nggak)?” Tanya Bima.
“Ora. Iki baru enak (Nggak. Ini baru enak),” jawab Firman.
Firman memegang kepala Bima kemudian menciumnya. Kali ini lidah Firman jauh lebih aktif. Lidah mereka bertarung dan menyatu. Saling memijat, saling mengisi satu sama lain.
Semakin lama mereka berciuman, semakin ngaceng kontol mereka. Mereka saling menggesek-gesekkan kontol mereka yang sudah mulai bangun dan berontak ingin keluar.
Firman mendesah ketika Bima menjilat lehernya yang berkeringat.
“Ahhhh…” desah Firman.
Bima mengangkat kaos Firman kemudian tanpa aba-aba, langsung menjilat pentil Bima yang menyala-nyala menarik untuk dijilat. Warnanya cokelat dan sekarang sudah berdiri ngaceng. Bima menyusu.
“ASSUUUUU,” pekik Firman.
“Enak to?” Tanya Bima.
“Aduh, Bim,” kata Firman.
Tangan Firman terus bergerak. Dia menikmati sekali jilatan Bima di pentilnya. Tangan Firman mencari sesuatu. Dan akhirnya tangannya menemukan kontol Bima. Begitu memegangnya, Firman melotot.
“Kontolmu, Bim,” kata Firman.
“Opoo?” Tanya Bima balik.
Mereka saling tatap. Firman menurunkan pandangan ke tangannya yang memegang kontol Bima.
Firman kemudian mencium leher Bima.
“Ahhh…” Bima mendesah.
Firman menurunkan ciumannya. Dia mencium lengan Bima yang berotot. Firman mengangkat lengan Bima dan kemudian menjilati ketiak Bima yang tebal.
Rasanya asin dan asam. Tapi sungguh mendebarkan.
“Ahhh…” Bima mendesah lebih keras.
Firman menurunkan jilatannya. Sekarang dia menjilati perut Bima yang kotak-kotak. Dan sekarang turun ke pusar Bima yang sekarang sudah dihiasi dengan bulu-bulu halus. Tangan Firman sekarang meremas kontol Bima dengan lebih agresif.
“Asu…” desah Bima.
Firman menoleh ke atas. Seakan minta perijinan. Bima tersenyum dan mengelus kepala Firman.
Firman kemudian meraba kontol Bima. Dan Firman kemudian mengeluarkan kontol Bima dengan mengangkat celana Bima. Sekarang kontol Bima yang kepalanya sudah banjir pre-cum, muncul dari samping kiri celana Bima.
Firman melotot memandang kontol paling besar yang pernah dia lihat seumur hidupnya. Kontol ini tidak hanya panjang tapi tebalnya sungguh mendebarkan. Warnanya cokelat tua menggairahkan. Kepalanya terlihat perkasa. Dan konsistensi tebalnya tetap sama sampai pangkal kontol.
Firman mencium kepala kontol Bima kemudian menjilat pre-cumnya.
“Enak, Bim,” kata Firman.
“Emuten wis (Iseplah),” kata Bima.
Firman membuka mulutnya tapi tidak memasukkan kontol itu ke mulutnya. Dia mau Bima yang usaha sendiri. Dan Bima mengerti. Dia mendorong kontolnya sehingga masuk ke dalam lubang mulut Firman.
Begitu merasakan kehangatan tiada tara dari dalam mulut Firman, Bima mendesah penuh perasaan.
“Enaaakkk Man jilatanmu…” kata Bima memejamkan matanya.
“Pejuhe gawe aku yo, Bim (Pejuhnya buat aku yo, Bim),” kata Firman menatap ke atas sambil mengocok kontol sahabatnya itu.
“Mulai saiki, pejuhku gawe awakmu, Man (Mulai sekarang, pejuhku adalah punyamu, Man),” jawab Bima.
Firman tersenyum bahagia. Ini adalah hadiah yang ia nanti-nantikan sepanjang hidupnya.
Firman kemudian memaju mundurkan kepalanya, menservis Bima. Bima mengangkat kedua tangannya ke udara memamerkan ketiaknya. Firman makin terangsang dan menyedot kontol Bima dengan lebih bersemangat.
“Asuuuuu sedotanmu…” teriak Bima.
Tangan Firman tidak diam. Tangannya berjalan ke pentil Bima dan memainkannya. Sementara lidahnya terus memainkan batang kontol Bima, tangannya terus memelintir pentil itu.
Betapa senangnya mereka, saling menikmati tubuh satu sama lain. Firman merasa di surga akhirnya bisa menikmati kontol sahabatnya yang selama ini selalu melintas dalam mimpi-mimpinya. Bima juga merasakan hal yang sama.
“Aduh, Man, aku kate metu (Aduh, Man, aku mau keluar),” kata Bima sambil memajumundurkan pinggulnya.
Firman tidak menjawab.
Firman malah menyedot kontol Bima dengan lebih bersemangat. Tangannya sekarang mengocok kontol Bima sementara tangan satunya ia pakai untuk mengocok kontolnya sendiri.
“Ahhh…. Ahh..” desah Bima.
PLOK PLOK PLOK…
Kontol itu terus mengentoti mulut Firman. Kadang jembut Bima bersentuhan dengan kumis Firman. Menyaksikan sahabatnya yang sangat macho itu begitu menikmati kontolnya, Bima merasa semakin birahi.
“Assuuu aku metu… (Anjing gue keluar),” teriak Bima menahan kepala sahabatnya.
Firman menyedot kontol Bima dan
CROT CROT CROT
Pejuh kental itu sepertinya tidak ada habisnya. Karena begitu Firman menelan pejuh itu, kontol Bima berkedut lagi dan menembakkan lagi pejuh ke mulutnya.
Bima tersengal-sengal memandang Firman yang meminum pejuhnya. Firman terus konsentrasi menyedoti kontol temannya sambil dia mengocok kontolnya sendiri. Kemudian Firman melepas kontol Bima dan mendesah
“Ahhhhhhhh… mettuuuuu pejuhku (keluarrrrr pejuhku),” teriak Firman.
Crot crot crot crot crot…
Pejuh Firman mewarnai rerumputan dan kaki Bima.
Bima memegang lengan Firman, membantunya berdiri kemudian mereka berciuman. Bima merasakan rasa pejuhnya sendiri yang sudah bercampur ludah Firman.
Mereka saling raba, saling sentuh, saling menikmati.
Mereka tidak tahu, tak jauh dari situ, Cak Suwadji mengocok kontolnya dan memandang mereka dengan nafas memburu.
Bersambung…
Bima dan Firman pergi dari kebun tebu ke tempat yang lebih sepi. Ada hutan di dekat kali yang jarang ada orang datang. Anak-anak tidak mau main disini karena katanya angker. Kebanyakan yang datang adalah ibu ibu atau bapak-bapak yang mencari kayu bakar. Tapi itu pun biasanya mereka mencarinya siang-siang. Sekarang sudah lewat Azhar. Tidak ada yang akan datang kesini.
Bima dan Firman menemukan sebuah tempat yang agak tertutup. Bima memotong beberapa daun pisang kemudian menjadikannya sebagai alas.
Firman tidur di atasnya sementara Bima di atasnya. Mereka berdua sudah melepas kaos mereka tapi masih memakai celana pendek mereka. Lidah mereka bersatu. Mata mereka terpejam. Dan kontol mereka yang berdiri tegak di dalam celana saling menggesek, berontak ingin memuntahkan lahar.
Bima kemudian menurunkan bibirnya dan menciumi leher Firman. Firman mendesah.
Bima kemudian turun ke pentil Firman dan Firman mendesah lebih keras lagi.
“Asuuuu Bimmm…” teriak Firman.
Slurrppp slurrppp…
Bima kemudian mengalihkan bibirnya ke pentil Bima yang satu lagi. Dijilatinya pentil Bima yang sudah keras dan berdiri menantang itu. Dia kemudian mengenyotnya tanpa peringatan membuat Firman memegang rambut Bima dan menjambaknya.
“Bimmm…” desah Firman.
Seakan kejutan itu belum cukup, Bima menggigit kecil pentil Firman yang membuat Firman berteriak saking menikmatinya.
“Ahhhhhhh…. Enak, Bim…”
Bima menatap Firman. Firman membuka matanya. Tangannya menyentuh rahang Bima yang keras dan lurus yang dipenuhi bulu-bulu jambang.
“Awakmu ga ngerti aku wis suwi pengen ngene karo awakmu, Man (Kamu ga tau aku sudah lama pengen beginian sama kamu, Man),” kata Bima sambil menatap Firman.
Firman terlihat sangat tampan. Kumis dan brewoknya yang lebat membuat kontolnya terus mengeluarkan pre-cum.
“Podo ae, Bim. Tak kiro awakmu gak seneng karo aku (Sama, Bim. Kukira kamu gak suka sama aku),” jawab Firman.
“Mosok awakmu nggak tau merhatekno lek aku seneng ndelok bokongmu (Masa kamu nggak pernah merhatiin kalau aku suka ngeliatin pantatmu),” kata Bima membelai rambut Firman yang tebal.
“Oh berarti usahaku sukses lek ngono. Aku sengaja sering nggawe sempak cilik supoyo bokongku ketok gede, Bim (Oh berarti usahaku sukses kalau begitu. Aku sengaja sering pake celana dalam kecil supaya pantatku kelihatan besar, Bim),” sahut Firman malu-malu.
Bima tertawa mendengar ini. Dia menundukkan kepalanya kemudian mencium bibir Firman lagi. Ciuman mereka lebih dalam dan keras sekarang. Lidah mereka bukan lagi saling memijat tapi seperti sedang bertarung siapa yang paling kuat. Sedotan Bima di lidah Firman begitu keras sampai bunyinya kedengaran sangat keras.
CPOK CPOK CPOK CPOK…
“Ahhh…” desah Firman ketika Bima melepas bibirnya.
“Saiki terus lapo (Sekarang ngapain?),” Tanya Firman malu-malu.
“Yo kenthu, Man (Ngentot, Man),” kata Bima.
“Ahhh…” desah Firman ketika Bima menaik turunkan kontolnya di atas kontolnya.
Gesekan dua kontol yang masih terbungkus celana itu terasa intens karena Firman makin mendesah dengan lebih keras.
“Pingin gak?” kata Bima.
Firman menutup mata. Malu.
“Pingin gak?” Bima menurunkan bibirnya dan menjilati pentil Firman lagi.
“Ahhhh…” desah Firman.
Bima menggigiti pelan-pelan pentil Firman. Firman langsung menjambak rambut Bima dan menekannya, memaksa Bima untuk menggigiti lebih intens. Ketika Bima menggigitinya lebih kasar, Firman menjerit lebih keras.
“ASSSUUU, BIM…”
Bima kemudian menurunkan celana Firman dengan kasar kemudian membuangnya begitu saja ke samping. Bima menatap kontol Firman yang keras kemudian langsung memasukkannya ke dalam mulut. Firman sampai kehabisan suara untuk mendesah.
Bima kemudian mengangkat kaki Firman dan memperhatikan bokong Bima dan lubang pantatnya yang merah. Lubang itu berkedut-kedut minta dimasuki kontol. Bima menatap Firman yang terlihat malu. Wajahnya agak memerah.
“Yokpo, Man (Gimana, Man)?” tanya Bima.
“Ahh….” Desah Firman ketika Bima mulai menyapukan lidahnya ke pantat Bima.
“Hmmm? Enak?” Tanya Bima sambil tersenyum. Kontol Firman berkedut-kedut kenikmatan karena Bima terlihat sangat jantan sekarang.
“He-em,” kata Firman pelan.
“Ora krungu aku (Gak kedengeran aku),” kata Bima.
“Ayo Bim, maneh… (Ayo, Bim, lagi),” jawab Firman.
Bima kemudian langsung memegang paha Firman dan langsung menikmati lubang Firman. Dijilatinya lubang Firman. Liurnya kemana-mana.
Firman hanya bisa memejamkan mata dan memegangi rumput yang ada di sekitarnya karena dia merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa.
“Hmmmhh…” kata Bima sambil terus menjilati lubang pantat Firman.
“Aduh, Bim… Enak Bim… Aduh terus, Bim. Ojok mandeg (Jangan berhenti),” kata Firman sambil memejamkan mata.
Bima kemudian memegang kontol Firman dan mengocoknya. Dia terus menjilati dan membasahi lubang pantat Firman sambil mengocoki kontol Firman.
Firman mencari udara saking susahnya bernafas. Inikah namanya surga?
Firman kemudian menjambak kepala Bima dan menariknya.
“Opoo?” Kata Bima.
“Aku kepingin kontolmu, Bim. Lebokno (masukin),” kata Firman tak tahan.
“Aku seneng lek awakmu saru koyok saiki (Aku suka kalau kamu jorok seperti sekarang),” kata Bima.
Bima kemudian meludahi kontolnya dengan ludahnya. Dia menggosokinya kemudian dia menepuk-nepukkan kontol besarnya itu di lubang pantat Firman. Firman yang menyaksikan ini terus mengarahkan lubangnya ke kontol Bima tapi Bima malah mundur. Mempermainkan Firman.
“Ayo, Bim. Aku gak sabar…” kata Firman.
“Gak sabar opo to, Man?” Tanya Bima sambil tersenyum.
“Bim, aku njaluk kontolmu. Aku kepingin kontol (Aku minta kontolmu),” kata Firman sudah tak merasa malu lagi karena nafsu menguasainya.
“Njaluk diapakno to Man (Minta diapain sih, Man)?” Tanya Bima sambil memukul-mukulnya kontolnya di depan lubang pantat Firman.
“Kenthu, Bim… (Ngentot, Bim).”
Dan begitu Bima selesai mengatakan hal tersebut, Bima langsung mendorong kontolnya ke dalam lubang pantat Firman. Begitu kepala kontolnya masuk, Firman langsung berhenti mendongak dan memejamkan mata.
“Ahhhhhhh…” desah Firman.
“Enak to?” Tanya Bima.
“Aduhhh… Bim, kontolmu juara…” desah Firman masih memejamkan matanya.
“Iki durung mlebu kabeh lho… (Ini belum masuk semua lho),” kata Bima sambil mendorong kontolnya ke dalam. Sekarang separuh kontolnya sudah masuk ke dalam.
“Jianccooookkkk, Bim. Uasssuuuu enaaakkkk tenan (Anjing, Bim. Anjing bangsat enak banget),” desah Firman menatap Bima.
“Dipolke opo (Dimasukin semuanya apa),” tanya Bima.
Firman tidak bisa menjawab, dia hanya mengangguk.
BLES…
Semua kontol Bima yang panjang dan begitu tebal itu, ludes ditelan pantat Firman. Firman mendesah dan memejamkan mata. Dia langsung menarik leher Bima dan menciumnya dengan keras.
Kontol Bima diam di dalam lubang Firman. Rasanya hangat dan begitu sempit. Tapi rasanya sangat pas. Seolah-olah rumah dari kontol Bima memang lubang pantat Firman. Bima tidak bergerak tapi pantat Firman seperti memijat kontolnya.
Cpok cpok cpok
Lidah Bima dan Firman bersentuhan dan sekali lagi bertarung.
Bima melepas ciumannya dan menatap wajah Firman yang terlihat sangat macho sekali.
“Ayo, Bim, genjot…” bisik Firman.
Bima melepas kontolnya kemudian menusuknya lagi.
“Asu…” teriak Firman.
“Koyok ngunu ta (Seperti itu?),” Tanya Bima.
“Maneh, Bim… (Lagi, Bim),” desah Bima dengan suara lebih lirih.
PLOK PLOK
“Yokpo?” Tanya Bima.
“Ayo, Bim, sing cepet. Genjotin silitku (Genjot aku),” kata Firman.
Bima pun langsung menggenjot pantat Firman seolah tak ada hari esok. Suara PLOK PLOK PLOK PLOK PLOK terdengar sangat keras dan membahana di hutan tersebut. Firman memeluk Bima lebih erat bahkan menggigit lengan atas Bima saking tidak kuatnya dia menahan enak ini.
“Aduh, Bim… genjotanmuuu enaaaaakkkk…” kata Firman.
Bima melepas kontolnya kemudian menyuruh Firman untuk nungging. Firman menurut.
Masih nungging, Bima mengocok kontolnya sambil memperhatikan betapa seksi pantat laki-laki ini.
Firman menoleh ke belakang dan berkata, “Ayo, Bim, lebokno kontolmu cepetan… (Ayo, Bim, masukin kontolmu cepet).”
“Jian bokongmu seksi tenan, Man (Pantatmu seksi sekali Man),” kata Bima mengagumi pantat Firman.
Bima memukuli pantat itu.
PLAK PLAK PLAK
Dan setiap kali Bima memukuli pantatnya, Firman mendesah seperti pelacur.
“Yowis iki kontol gawe awakmu, Man (Yaudah, ini kontol buat kamu, Man),” kata Bima kemudian dalam sekali dorong, seluruh kontolnya lenyap ditelan lubang Firman.
Firman ternyata memang sangat horny. Karena ketika Bima diam, Firman yang memajumundurkan pantatnya. Melihat pantat yang seksi itu berguncang-guncang memijat kontolnya, Bima merasakan sange luar biasa. Sebentar lagi dia bisa keluar karena pantatnya seperti dipijat oleh pantat Firman.
PLAK PLAK
Bima menampari pantat Firman sementara Firman memaju mundurkan pantatnya untuk menikmati kontol Bima.
“Bim, kontolmu jos gandos,” kata Firman sambil mendesah.
“Aku arep metu mari iki (Aku mau keluar bentar lagi),” kata Bima.
“Ayo, Bim, metu bareng (Ayo, Bim, keluar bareng),” kata Firman.
Bima kemudian langsung memegang kepala Bima dan menempelkan punggungnya ke dadanya sementara kontolnya terus menyatu di lubang Firman. Bima memompa lubang Firman sementara tangannya memainkan dua pentil Firman. Firman merasakan kenikmatan yang tiada henti.
“Bim, aku meeettuuuu… kontolmu enaaakk….” Desah Firman.
Tanpa dipegang, kontol Firman memuntahkan pejuh.
CROT CROT CROT CROT…
Keluarnya Firman membuat lubang pantatnya menjadi super sempit dan membuat Bima merasakan kenikmatan yang luar biasa. Seperti ada yang mengocok kontolnya. Bima pun langsung menjambak rambut Firman.
“Jancooookkkkkkk mettuuu akuu, Man (Anjing gue keluar, Man),” kata Bima.
Crot crot crot crot…
Cairan hangat memenuhi lubang Firman. Keduanya tersengal-sengal. Dan ketika Bima melepas kontolnya dari lubang pantat Firman, cairan kental berwarna putih keluar dari lubang Firman.
“Enak, Man?” Tanya Bima sambil mencium Firman.
“Istirahat sedilut, mari ngene maneh (Istirahat bentar, sebentar lagi aku mau lagi),” jawab Firman.
Tak jauh dari situ, Pak Trisno menatap anaknya dengan bangga.
“Wis gede anakku (Sudah besar anakku),” katanya.
Di bawahnya, Pak Handoko yang sedang menyedoti kontol Pak Trisno menatap Pak Trisno dan berkata, “Ngkok bengi kenthu rame-rame karo Bima, karo Firman piye (Nanti malem ngentot rame-rame karo Bima dan Firman gimana)?”
Pak Trisno tersenyum dan mengelus kepala Pak Handoko sebelum memegang kepala Pak Handoko kemudian mengentoti laki-laki tersebut di mulutnya. Ketika pejuhnya keluar dari kontolnya dan Pak Handoko dengan rakus menghabiskannya, Pak Trisno tahu bahwa nanti malam adalah malam yang spesial.
Bersambung…
Bima dan Firman menghabiskan waktu mereka dengan berpelukan dan berciuman di hutan. Mereka tak henti-hentinya menikmati bibir satu sama lain.
Firman menyukai sekali aroma ketiak Bima. Dia tak henti-hentinya menyuruh Bima mengangkat tangannya agar Firman bisa menusukkan hidungnya di ketiak Bima yang berbulu lebat. Bima tadinya kegelian tapi akhirnya dia merasakan kenikmatan juga.
Di tengah mereka berpelukan Bima bertanya kepada Firman tentang rencana pernikahannya.
“Mbuh. Aku yo ga ngerti (Aku juga tidak tahu),” kata Firman kemudian dia merebahkan kepalanya di dada Bima.
“Lha kok iso (Kok bisa)?” Tanya Bima.
“Yo kan aku dikongkon rabi supoyo iso mbayar utange Bapak (Aku kan disuruh nikah supaya bisa bayar utangnya Bapak),” kata Firman sedih.
“Lho emange utange Pak Handoko akeh? Bukane wingi jik tas panen (Lho emang utangnya Pak Handoko banyak? Bukannya kemarin kamu habis panen?),” tanya Bima bingung.
“Yo biasa. Gali lubang tutup lubang,” kata Firman lagi.
“Awakmu wis ketemu karo calon bojomu? (Kamu sudah ketemu sama calon istrimu),” tanya Bima.
“Wis (Sudah),” jawab Firman pendek.
“Yokpo? Ayu ta? (Gimana? Cantik gak)?” Tanya Bima lagi.
“Mbuh. Ra paham aku (Gak tahu),” Firman menyembunyikan wajahnya di balik ketiak Bima.
Bima tertawa.
“Lah kok ga paham? Ngaceng ra pas ketemu (Lah kok bisa gak paham? Ngaceng ga pas ketemu)?” Tanya Bima lagi.
Firman mengeluarkan wajahnya dari ketiak Bima kemudian dia mencium leher Bima.
“Aku ngacenge mung gawe awakmu tok, Bim (Aku ngaceng cuma buat kamu, Bim),” kata Firman.
“Halah apusi (Halah boong),” kata Bima sambil tertawa.
“Tenane (Beneran),” kata Firman.
“Karo bapakmu ngaceng ra (Sama bapakmu ngaceng nggak)?” tanya Bima lagi.
“Iku liyo (Kalo itu lain),” kata Firman.
“Liyo piye (Lain gimana)?” Tanya Bima.
“Iyo kan aku karo bapak wis sejak SMP (Aku sama bapak kan sudah sejak SMP),” jawab Firman malu-malu.
“Awakmu kenthu karo bapakmu wis sejak SMP? (Kamu ngentot sama bapakmu sejak SMP)?” Tanya Bima.
“Iyo.”
“Aku jik tas minggu wingi ngerasakno kenthu (Aku baru minggu lalu merasakan pertama kali ngentot),” jelas Bima jujur.
“Ngapusi (Bohong),” kata Firman.
“Tenane (Beneran),” jawab Bima yakin.
“Isih tas kok wis pinter awakmu kenthue (Baru ngentot kok udah jago ngentotnya)?” Tanya Firman heran.
“Lho yo turunan,” jawab Bima.
“Tapi emang Pak Trisno penak kenthue (Tapi Pak Trisno emang enak ngentotnya),” jawab Firman.
Bima menatap Firman heran.
“Lho, awakmu wis tau dikenthu karo bapakku (Kamu pernah dientot sama bapakku?),” tanya Bima heran.
“Lho, saban bapakmu nang omah yo kenthu wong telu (Lho setiap bapakmu ke rumah aku ngentot bertiga),” jawab Firman bingung menatap Bima yang ternyata tidak tahu.
“Hmmmm…” Bima diam.
Ketika adzan Maghrib berbunyi, Firman dan Bima berjalan pulang. Bima sepanjang perjalanan pulang diam. Firman jadi tidak enak.
Mendekati pancuran, kamar mandi umum yang bentuknya seperti bangunan tanpa atap, Firman menoleh ke Bima.
“Adus bareng po (Mandi bareng opo),” ajak Firman.
“Nggak ah,” jawab Bima pendek.
“Ayo talah (Ayo plis),” ajak Firman.
Bima akhirnya menurut.
Mereka pun masuk ke pancuran. Jam segini sudah tidak ada petani yang akan lewat dan mandi. Tempat ini harusnya biasanya dipakai untuk cuci kaki yang kena lumpur. Tapi kebanyakan orang desa memakainya juga untuk mandi. Orang desa sudah biasa mandi di tempat ini. Kadang ada yang mandi dengan memakai celana dalam. Ada juga yang mandi telanjang. Tapi semuanya tidak ada yang peduli.
Disana ada shampo sachet bekas orang dan sabun di dekat pancuran.
Firman masuk. Bima juga masuk.
Begitu Firman masuk, dia melepas celana bolanya. Ketika dia mau melepas celana dalamnya, Bima mencegahnya.
“Rasah dicopot. Engko ngaceng maneh aku (Ga usah dicopot. Nanti ngaceng lagi aku),” kata Bima.
“Yo rapopo (Ya gapapa),” kata Firman.
“Kesel aku,” kata Bima.
Firman menurut.
Bima melepas celana pendeknya. Dia memakai celana dalam berwarna hitam yang sudah agak lusuh. Firman memakai celana dalam berwarna biru dongker.
Melihat Firman nungging dan memamerkan pantatnya yang semok, kontol Bima pun ngaceng tanpa diminta. Kontolnya menggembung di dalam celana. Kepala kontolnya ngintip di karet celananya.
Firman tersenyum menatap ini. Dia sengaja nungging dan menyabuni kakinya untuk memamerkan pantatnya.
Bima pun akhirnya meminggirkan kain celana dalam Firman ke tengah sehingga sekarang pantat Firman terekspos. Bima menampar pantat itu.
PLAK PLAK PLAK
“Ahhh…” desah Firman.
Bima mendekat kemudian mengambil sabun. Dia menyabuni dirinya. Firman memundurkan pantatnya. Pantatnya bertemu dengan kontol Bima yang masih terbungkus celana dalam. Firman menaik turunkan pantatnya. Menggesek-gesek selangkangan Bima.
“Ahhhh…” desah Firman.
Firman tak tahan.
Dia memutar badannya dan dalam keadaan jongkok dia mengeluarkan kontol Bima dari celana dalamnya dan langsung mencaploknya ke dalam mulutnya. Bima menyedot-nyedot kontol Bima di tengah gemericik air pancuran.
SLURRPPP SLURRRPPPP SLURRPPP.
Karena Bima pura-pura diam saja, Firman yang aktif. Dia memaju mundurkan kepalanya sampai kontol Bima masuk semuanya ke dlam mulutnya. Kadang Firman mengeluarkan suara seperti ingin muntah.
LEG LEG LEG…
Pancuran ini terbagi dari dua pancuran. Sebelah kanan dan kiri. Tingganya sekitar 120 senti. Jadi orang dari luar bisa melihat kepala orang yang sedang mandi tapi tidak bisa melihat sisanya.
Ketika Bima akhirnya menempelkan Firman ke dinding dan mulai mengentoti mulut Firman, suara seorang pria muncul.
Firman langsung diam. Bima juga diam, tidak bergerak untuk mengentoti mulut Firman.
Ternyata yang datang adalah Mas Ahmad. Mas Ahmad juga punya sawah tapi dia sehari-harinya bekerja sebagai guru agama Islam di SMP dekat kampung sini. Dia juga mengajar anak-anak ngaji setelah Isya.
Mas Ahmad tentu saja tidak bisa melihat bahwa ada Firman di bawah bak air sedang menikmati kontol Bima karena sekarang Mas Ahmad mencuci kakinya sambil menyapa Bima.
“Lho, Bim, kok bengi men aduse (Lho, Bim, kok malam sekali mandinya),” kata Mas Ahmad.
“Iyo, Mas. Maeng keturon ndek pondok (Tadi ketiduran di pondok),” kata Bima.
Bima menahan desahan karena ternyata Bima malah terus menyedoti kontol Bima walaupun ada Mas Ahmad di dekatnya.
“Slurrrppp slurrrpp…”
“Suwe gak ketok, Bim. Sibuk opo saiki (Lama nggak keliatan, Bim. Sibuk apa sekarang?),” Tanya Mas Ahmad.
“Sekolah, Mas. Biasa,” jawab Bima meringis sementara Firman masih menyedoti kontolnya.
Slurrrppp slurrrppppp
Bima menatap ke bawah dan melotot ke arah Firman, Firman malah memejamkan mata dan menikmati kontol besar Bima di mulutnya. Firman menyedoti kontol Bima sambil mengocok kontol dan memainkan pentilnya sendiri. Bima entah kenapa menjadi terasa horny karena Firman terlihat begitu binal.
Bima pun akhirnya memutuskan untuk agak bergerak. Memaju mundurkan pinggulnya sambil terus pura-pura mandi di depan Mas Ahmad.
“Enak iki biasae aku adus karo olahraga (Iya biasanya aku mandi karo olahraga),” kata Bima sambil pelan pelan mengentoti mulut Firman.
Mas Ahmad menatap Bima dengan aneh karena Bima terlihat mandi sambil maju mundur.
“Hahaha… ono ono ae kowe, Bim (Aneh aneh saja kamu, Bim),” kata Mas Ahmad.
“Mas Ahmad sibuk opo to (Mas Ahmad sibuk apa sekarang),” tanya Bima.
“Biasa. Ngajar. Lek sempet yo nang tegal. (Biasa. Ngajar. Kalo sempet ya ke sawah),” kata Mas Ahmad.
Sedotan Firman di kontol Bima semakin keras dan sepertinya sebentar lagi Bima akan muncrat.
“Wahhh enakkk yaaa…” teriak Bima menahan keenakan di kontolnya.
Mas Ahmad menatap Bima dengan aneh karena tiba-tiba Bima teriak.
“Ngaji maneh, Bim. Suwe awakmu nggak ngaji (Ngaji lagi yuk, Bim. Lama kamu nggak ngaji),” kata Mas Ahmad.
SLURRRPPP SLURRRPPPP
Firman menyedot kepala kontol Bima kemudian Bima menghunuskan kontolnya sampai pangkalnya.
“Ahhhhh….. Iyo sesuk aku ngaji maneh Mas Ahmadd aahhhh (Iya besok aku ngaji lagi Mas Ahmad ahhhh),” Bima berteriak dan memuntahkan pejuhnya di dalam mulut Firman.
Mas Ahmad menatap Bima dengan aneh kemudian dia pamit.
“Yowis. Aku disik yo, Bim. (Yasudah. Aku duluan ya, Bim),” Mas Ahmad membawa paculnya kemudian pergi.
Bima menatap ke bawah dan melihat Firman membersihkan kontolnya dari pejuh. Firman juga sudah muncrat karena pejuhnya membasahi perutnya.
“Awakmu jian ra aturan (Kamu bener-bener gak tahu aturan),” kata Bima menatap Firman kesal.
“Tapi enak to? (Tapi enak kan?),” Jawab Firman sambil menelan pejuh Bima.
Bima tertawa. Apalagi Firman kemudian menambahkan dengan, “Kuat ra? Kenthu maneh yuk? (Kuat nggak? Ngentot lagi yuk?).”
Bersambung…
Untuk pertama kalinya Bima merasa cemburu. Dia tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Bima memang bukan siswa yang cerdas. Nilainya pas-pasan. Dia tidak bisa dibilang bodoh tapi dia juga bukan siswa berprestasi.
Kesibukannya main dengan banyak cowok, termasuk dengan bapaknya sendiri, membuat nilainya merosot tajam. Hari itu, guru matematikanya yang bernama Pak Darmawan meminta orang tua Bima untuk ke sekolah. Nilainya sudah tidak bisa diselamatkan.
Bima memberi tahu Pak Trisno soal ini dengan mulut penuh kontol bapaknya.
“Pean kongkon nang sekolah (Bapak disuruh ke sekolah),” kata Bima di sela-sela hisapannya.
“Opoo?” tanya Pak Trisno sambil merokok. Tidak ada yang bisa menandingi kenikmatan disepong anak sendiri sambil merokok Gudang Garam.
“Mbuh,” kata Bima sambil mengangkat bahu. Ia kemudian memasukkan lagi kontol Pak Trisno yang tebal dan berkedut itu. “Ahhh…” bapaknya mendesah. Slurrp… slurrpp… Anaknya itu semakin jago menyenangkan kontolnya.
Keesokan harinya ketika Bima pulang sekolah, entah kenapa dia memutuskan untuk mampir ke ruang guru untuk melihat ayahnya bertemu dengan Pak Darmawan. Bima kaget karena ternyata bapaknya tidak ada disana padahal tadi pagi ketika kontol bapaknya menusuk pantatnya, Pak Trisno bilang dia akan ke sekolah.
“Jancok, makin lama makin enak koen,” desah Pak Trisno sambil terus menghujamkan kontolnya yang keras.
“Pak, ojo cepet-cepet. Ate metu aku (Pak, jangan terlalu cepat, aku mau keluar),” desah Bima sambil menjambak rambut bapaknya. Mereka berciuman. Aroma rokok bapaknya dicampur keringat laki-laki dewasa itu semakin membuatnya kepayang. Kenapa dia baru bisa merasakan kenikmatan ini sekarang? Kenapa tidak dari dulu saja?
“Iyo…” kata Pak trisno. Ia pun mulai melambatkan genjotannya. Pok. Pok. Pok. Iramanya teratur. Bima rasanya seperti mau pingsan setiap kali kepala kontol bapaknya menyentuh prostatnya.
Bima terus mencari ayahnya. Tidak ketemu-ketemu juga. Ia baru saja mau pulang dan bertemu dengan Mbah Sinyo yang dari tadi pagi sudah ingin minum pejuhnya ketika ia mendengar suara yang aneh dari dalam toilet pojokan yang terkenal angker. Tidak ada yang berani pipis disitu. Bahkan preman sekolah pun menghindari tempat itu.
“Jancoook…” Bima bisa mendengar suara desahan Pak darmawan.
Bima akhirnya masuk ke toilet sebelah dan mengintip dengan naik ke atas bak.
Bima kaget ketika melihat Pak Darmawan sudah naik ke atas bak mandi keramik itu dengan kaki terangkat. Kaki Pak Darmawan ada di pundak Pak Trisno yang gagah. Pak Darmawan tersenyum senang, tangannya memainkan dada Pak Trisno yang gagah. Puntilnya menonjol.
Bima bisa melihat kontol bapaknya yang keras dan hitam itu keluar masuk pembuangan guru matematikanya.
Jancok, pikirnya. Kok iso bapakku kentu karo guruku (Kok bisa bapakku ngentot sama guruku?)
“Wis suwe durung (Masih lama)?” tanya Pak Trisno sambil terus menghentakkan kontolnya ke dalam lubang guru anaknya.
“Sampeyan wis kate metu ta (Kamu mau keluar)?” tanya Pak Darmawan.
“Aku kudu nang sawah (Aku harus ke sawah),” jawab Pak Trisno.
Pak Darmawan mengangguk. Dalam sekali raupan, Pak Trisno mengangkat Pak Darmawan dan mereka pun ngentot sambil berdiri. Pak Trisno kuat sekali. Pak Darmawan yang beratnya mungkin 75 kilo itu bisa diangkat seperti mengangkat guling saja.
Bima menyaksikan ini dengan kesal sekaligus sange. Dia bisa melihat betapa kontol perkasa bapaknya bisa tetap perkasa keluar masuk leluasa. Pak Darmawan sepertinya sering dientot. Sepertinya ini bukan pertama kalinya mereka bercinta.
Pak Darmawan menjerit dan menyembunyikan mukanya di balik leher Pak trisno. Dia tidak bisa menahan kenikmatan rojokan kontol bapak muridnya itu.
Pak Trisno tidak hanya punya kontol yang dahsyat tapi wajahnya yang ganteng juga membantunya untuk cepat keluar. Pak trisno bisa merasakan kehangatan muncul di perutnya. Asalnya dari pejuh guru anaknya.
Karena Pak Darmawan sudah ngecrot, pantatnya pun menggigit kontol Pak Trisno. Ia bisa saja menyimpan pejuhnya. Ia bisa keluar kapan saja. Anak dan bapaknya bisa menguras pejuhnya setiap dia pulang.
Tapi hari ini ia memang ingin memastikan masa depan anaknya baik-baik saja. Darmawan yang kelihatannya soleh itu pecinta pejuh. Pak Trisno yakin kalau dia memberi guru anaknya itu oleh-oleh, Bima tetap akan naik kelas.
Pak Darmawan tersenyum senang saat ia merasakan kehangatan menyembur di dalam lubangnya. Ah, desahan Pak trisno seksi sekali. Jantan. Maskulin. Bapak ganteng idaman siapapun.
Pak Darmawan mendekatkan wajahnya dan mau mencium Pak trisno tapi si pemilik wajah malah menjauh.
“Sepurane (Maaf),” kata Pak trisno. Ia mengizinkan Pak Darmawan untuk turun dan membersihkan sisa pejuh dari kontolnya dengan mulutnya. Tapi ia tidak bisa mencium guru ini. Ngentot ini hanya transaksi biasa. Bukan cinta. Cintanya untuk keluarganya.
“Gak popo,” jawab Pak Darmawan, menatap Pak Trisno dari bawah. Senyumnya lebar. Ia membersihkan sisa pejuh dan menelannya dengan semangat 45. Kalau saja ia bisa memacari Pak Trisno.
Cerita Sex Diambang Kehancuran
Ia akan bahagia selama-lamanya. Sayang sekali, Pak trisno tidak pernah mau menerima cintanya meskipun Pak Darmawan sudah menyatakan perasaannya bahkan sebelum Bima lahir.
Pak trisno memakai celananya dan pergi sementara Pak Darmawan tergeletak di lantai, masih capek akibat aksi barusan. Bima pulang dengan dongkol. Ia punya rencana lain untuk membalas Pak Darmawan.


