Godaan Birahi Sebuah Keluarga
Cerita Dewasa · 18+
Cerita Sex Godaan Birahi Sebuah Keluarga – Namaku Ari Marwan kelas 2 SMA, aku hidup dikeluarga sederhana, ayah dan ibuku bercerai saat aku masih kecil. Dulu ibuku pernah bercerita pada saat perceraiannya aku masih berusia 5th, dan ibuku saat itu berusia 26th, sedang ayahku 30th.
Ibuku bernama Siti Marissa, Ia mempunyai toko yang berada di daerah rumah kami, yang dulu mungkin modalnya dari hasil gono gini, kemudian ia membuka sebuah toko kecil kecilan, berjalan seiring waktu toko kami berkembang pesat dan mempunyai beberapa pegawai, dan sekarang urusan pertokoan sudah di kelola karyawannya, ibuku yang mengelola keuanga seperti pembayaran pada supplier dan dan agen agen yang bekerjasama dengan toko kami.
Setelah bercerai entah kenapa Ia enggan menjalin hubungan dengan pria lain, padahal di usianya pada waktu perceraian masih muda, dan sekarang di usianya yang menginjak 38th, wajah dan tubuhnya tidak kalah dengan cewek berusia 20tahunan, dengan tinggi 160cm, dan ukuran dada 36b, dan pantat yang bahenol, berkulit putih, pasti banyak pria yang pernah mencoba untuk mendekatinya, walaupun ada sedikit lemak diperutnya, hehe yah wajarlah namanya juga ibuk ibuk.
Suatu pagi seperti hari hari biasanya, aku mau berangkat kesekolah, saat hendak keluar rumah ibuku berteriak dari belakang, “Man uang jajan yang ibu berikan masih?” tanya ibuku, oh ya masalah uang jajan aku diberi jatah setiap seminggu sekali, kata ibuku sih biar aku bisa mengelola keuangan, agar tidak boros, walaupun dari segi perekonomian kami memang bisa dibilang lebih dari cukup, tapi prinsip ibuku memang termasuk orang yang tidak suka dalam urusan pemborosan dan hidup bermewah mewahan. “Tenang bu uang Marwan masih cukup kok”.

Kutengok kebelakang ia menghampiriku dengan wajah senyum, “Pulang sekolah jangan keluyuran lho ya, hati hati sama pergaulan teman temanmu, kamu harus bisa memilih teman yang baik”. Sifat keibuan dan kasih sayang nya memang dari dulu tercurah padaku, itulah sebabnya aku selalu menyayangi dan menuruti apa katanya.
“Tenang bu Marwan tahu kok”. jawabku.
“Ya udah hati hati di jalan”.
“okk ibuku sayang”. jawabku senyum sambil mencium tangannya.
Karena ini hari Sabtu, dan tadi disekolah ada rapat, para siswa dipulangkan lebih awal, sebenarnya aku sudah janjian sama temanku Eko mau jalan jalan ke pertokoan di Taman Kota cari sepatu sport, eh tiba tiba dianya malah diajak keluar ama ceweknya. Yaudah aku langsung OTW pulang.
Saat tiba di depan rumah, niat hati sih pengen ngagetin ibu, tapi,
“lho kq ada sendal orang dewasa?” gumanku,
Aku buka pintu pelan pelan, ternyata tidak terkunci.. tapi aku selalu membawa kunci duplikat rumah, jaga jaga kalo aku pulang pas ibu lagi keluar rumah.
Sebenarnya aku menyadari siapa yang didalam, Ia adalah pamanku Rudi, suami kakak ibuku yang bernama Kiki.
Terkadang pamanku Rudi dan Kiki memang sering berkumpul di rumah kami entah dua bulan atau sebulan sekali, . Tapi anehnya hari ini ia datang sendiri.
Sayup sayup terdengar olehku seperti orang yang lagi ngobrol, tapi kok anehnya ibuku terdengar agak berat dan terengah engah, Mereka berada diruang tamu, setelah kuintip dari celah pintu, aku sangat kaget dan jantung ini berdetak kencang, melihat ibuku lagi berdiri, dipeluk dari belakang paman Rudi, sambil meremas toketnya yang besar, serta menciumi mulut ibu ku yang agak menoleh kebelakang.
Tangan kiri paman memegang kepala ibuku, dan tangan kanannya meremas payudara. ibuku, yang kemudian lidah paman beralih
menjilati leher, tangan kirinya menarik keatas kaos yang dipakai ibu sehingga terlihat bra putih yang dipakainya, sementara tangan kanannya menarik rok ibuku keatas, menggerayangi paha mululusnya.
“ah… uuh tolong berhenti mas Rudi” lenguh ibuku,
“sllrplbb ah.. dek Mari.. slrbpll” paman Rudi terus menjilati dan menyedot leher ibuku.
Terlihat penolakan ibuku, tapi seolah olah tidak ada perlawanan yang berarti, dan hal itu malah mrmbuat paman Rudi semangat dalam beraksi.
Selama ini aku belum pernah melihat tubuh bugil seorang cewek atau wanita secara langdung, ya sebagai laki laki normal sih sering searching video dan gambar porno di internet, buat bahan coli.
Jantungku semakin berdetak kencang melihat adegan itu, aku sempat membuka hp, dan mengambil foto mereka.
Akhirnya aku sadar, bahwa ibuku ternyata masih memendam hasrat, terhadap laki laki, namun selalu ia sembunyikan.. dan perasaan sayang pada ibuku sebagai seorang anak, kini berubah menjadi rasa cinta dan nafsu sebagai seorang lelaki.
Kemudian kemarahanku muncul terhadap pamanku, aku berjanji kalau akulah yang pantas membahagiakan ibuku.
Aku kembali ke depan rumah, dan berteriak seolah tidak tahu apa apa,
“buuu aku pulang!!” dengan membuka pintu agak keras,
setelah sampai di ruang tamu aku pura pura kaget.
“oh paman Rudi, kapan kemari? lha tante Kiki mana?”
kulihat ibuku agak sedikit memerah wajahnya dan dengan santai paman menjawab
“Halo Man, kok pagi pagi udah pulang, bolos ya? hehe!”
“ee Man kok.. ee ada acara apa kok tumben pulang pagi”. sahut ibuku agak gugup.
“yee siapa yang bolos, tadi ada acara rapat disekolah jadi pulang pagi” jawabku senyum,
“hehe begitu ya” jawab ibuku sambil senyum yang agak malu.
Kami berbincang cukup lama, kenyataan bahwa paman bersikap seperti tidak terjadi apa apa membuat hatiku sakit dan emosi.
sedang ekspresi ibuku sudah tidak tegang seperti pertama tadi,
Setelah paman pulang, aku tiduran dikamar masih kaget dan terkejut tentang hal yang baru saja terjadi, Dan memikirkan rencana untuk kedepan
Sore harinya aku keluar untuk main futsal sama teman teman.
Malam harinya aku ber onani ria, dengan melihat foto ibuku, sampai keluar berkali kali.
Dan paginya aku pura pura sakit, menutup seluruh tubuhku dengan selimut,
ibuku memanggilku,
“Man kamu gak masuk?”
“enggak buk, badan Marwan agak sakit nih”
“Mau di antar kedokter?”
“Gak usah buk, cuman kecapaian kemarin sore habis futsal”
“Beneran cuma kecapaian?”
“iya buk, besok pasti udh baikan, Marwan istirahat dulu ya”
“ya udah ibuk bikinin bubur ama teh hangat, ntar kalo udah makan baru istirahat”
Kemudian aku mulai menyusun strategi,
pertama aku harus membangkitkan nafsu terpendam ibuku, karena sudah bertahun tahun ia tidak pernah berhubungan intim dengan seorang pria.
Aku memesan beberapa perlengkapan untuk dikirim kerumah ku dengan atas nama Paman Rudi, diantaranya sebuah kamera untuk dipasang pada sebuah PC beserta kepingan CD indtalasi, vibrator rotor dan beberapa bikini seksi.
serta didalamnya kuselipkan surat yang berisi.
“kepada Marissa, tentang apa yang kita lakukan beberapa waktu lalu memang salah, tapi perasaanku padamu setiap hati selalu bertambah dan tak dapat kubendung.
kita memang tidak akan bisa bersama, namun untuk terakhir kali,
aku mohon padamu untuk melakukan hal ini, aku ingin melihatmu memakai bikini tersebut, dan memainkan sex toy yang aku pesan, aku juga membeli sebuah Camera dengan software instalasi agar kau pasang di komputermu.
Ada cara pengisntalan di catatan yang lain, kau bisa suruh marwan mengisntalnya, setelah semua persiapan selesai
aku ingin melihatmu bergetar, bernafsu, saat memainkan alat itu,
Jangan khawatir saat kau melakukan itu, tidak akan ada orang yang tahu, mungkin nanti aq tidak terlihat di komputermu, tapi gambarmu akan terlihat di PC ku, kita berkomunikasi dengan headphon saja, jadi yang terlihat di PC mu nanti hanya pesan teks saja.
Aku mohon turuti kemauan ku ini, setelah ini aq janji tidak akan menyentuhmu lagi, tapi jika tidak suatu saat nanti mungkin aku akan memaksamu berhubungan denganku”
Beberapa hari ada kurir datang, kebetulan aku yang menerimanya, lalu kuberikan pada ibuku,
“Buk ada kiriman nih, kayaknya dari paman?”
“mm apa ya, ya taruh saja di meja ntar ibuk cek” katanya sambil menerudkan cucian piringnya di dapur.
Sudah beberapa hari, aku menunggu, tapi ibuku tidak pernah memintaku untuk mengisnstal Camera yang aku kirim, beberapa hari lalu, aku jadi frustasi, apa mungkin dia bisa dibodohi dengan trik lucu ngawur ini ya.. atau ia percaya namun ibu lebih memilih dipaksa paman rudi untuk berhubungan dengannya ya, haduuh gawat nih, apayang harus kulakukan nih.
Tok tok tok…
kamarku di ketuk,
“iya buk ada apa?”
kemudian ibuku membuka pintu, agak malu dan menunduk,
“ee Man eem bisa tolong ibuk sebentar gak? buat isntalasi di PC ibuk?”
IYYYESSS, Batin ku,
aku sih berlagak agak cuek,
“Buat apa sih buk?”
“ee ini ada perlu buat.. ee udah deh kamu cek dulu, ibuk juga engga begitu faham”
“lhahh emang yang duruh siapa sih?”
“e itu ee Bu Mirna yang sering supplay air galon di toko kita itu, katanya buat, e komunitas ibuk ibuk video call ato apa gitu “.
“oke deh” jawabku.
sembari tersenyum dalam hati,
aku juga tidak begitu mempertanyakan alasannya, karna semua emang sudah kurencana..
Aku sangat tidak sabar ingin melihat tubuh ibuku yang akan bermasturbasi memakai bikini seksi, lewat camera di PCnya yang sudah tentu akan kuhubungkan dengan laptopku.
Mama memperhatikan penjelasan yang aku berikan. Walaupun sebenarnya ia jarang memakainya. Aku sedikit dongkol memikirkan jika dia ingin bekomunikasi sama paman dengan cara ini.
Tapi kalo dipikir pikir, dia bisa terjebak rencanaku ini membuatku ingin cepat cepat melihat adegan apa yang akan ditunjukknannya hingga diriku jadi sedikit gelisah. Setelah itu aku kembali kekamarku untuk menginstal laptopku agar terhubung dengan PCnya.
Dan saat malam tiba, aku mengirimkan pesan di Pcnya. Aku menyuruhnya memakai headphone yang aku sediakan dalam paket kemarin.
“mm kau bisa mendengarku? mas Rudi??”
Situasi saat ini aku berada dikamar mantengin layar laptop yang terhubung dengan camera di Pc ibuku, sedang dia tidak bisa melihatku, karena aku hanya mengakalinya, dengan merubah settingan pada PCnya tadi. Sehingga aku hanya perlu mengirim teks pesan, sedangkan dia menjawab dengan suara dari headphone dan terekam langsung dari camera.
“ya dek Mari, aku bisa mendengarmu dan melihatmu lewat layar monitorku dengan sangat jelas, saat ini Kiki sudah tidur jadi situasi aman, gimana situasi disana, apa Marwan udah tidur?” tulisku.
“ee iya kukira dia sudah tidur.” jawabnya.
“Aku sangat bertrimakasih padamu dek mari, kau mau menuruti kemauan ku”.
“Tapi jika nanti ketahuan kak Kiki?…” Sahut ibuku.
“Tenang saja semua aman disini, aku sadar ini salah, tapi untuk kali ini saja, tolong tunjukkan tubuh bugilmu dengan bikini seksi kemarin”.
“Baiklah cuma sekali ini saja lo ya!”
Ketika perlahan dia membuka bajunya, aku sangat takjub dan ngatceng berat melihat tubuh bugil yang hanya memakai bikini bolong di area dada dan vaginanya.
Pertama dia agak malu malu dan menutupi dada serta vaginanya, setelah kurayu akhirnya dia menyingkirkan tangannya. Sekilas dia tidak terlihat seperti ibuku yang biasanya, tubuhnya benar benar menggairahkan, kalo dipikir pikir tubuh ini selalu berada di sekitarku setiap hari, sial kenapa baru kali ini aku menyadarinya.
“Baiklah akan kucoba”.
Dia memainkan rotor (alat getar kecil) di sekitar putingnya, tapi sepertinya dia sudah memakainya beberapa wsktu lalu, karena juga sudah kutuliskan cara cara penggunaan sex toy tersebut.
Pertama da agak malu malu, lama kelamaan dia sudah berbaring diatas kasur dan membuka pahanya. Aku semakin bersemangat mengocok kontolku yang sudah tegang maksimal. Kemudian ia kusuruh ganti bermain dengan vibrator.
“Jilat vibratornya dek, terus perlahan masukkan kemulutmu” tulisku.
“hah, sep.. sepoerti ini slurp” ia menjilatinya.
“Dekatkan wajahmu ke camera, agar aku bisa membayangkannya itu kontolku, hehe”
kemudian ibu mendekatan wajahnya ke camera sambil memasukkan dan mengeluarkan vibrator itu kemulutnya.
“mmhoh hogh slurp mmhg hahh”
“oh.. indah & seksi sekali dek, sekarang coba perlahan masukkan ke memekmu”. tulisku lagi.
Ia merebahkan tubuhnya ke kasur lagi dan perlahan memasukkan alat tadi kedalam dan keluar.
“ahh.. ihh, wiih, uuhh aggghhh” desahnya.
“Lanjut dek nyalakan tombol onn pada alat itu.”
“wingg wingg, rrrrr winggg” suara vibrator itu yang perlahan mengorek isi vaginanya.. Desahannya pun kian menjadi
“aaahh haaah iihggg huuahh haafgggg”
“ooh apa ini… ii ini terlalu ahh, akkgg aku keluarrrr”
criit crit serrrr serrr “aah haah haah ah”
Dia mengejang sambil mengangkat pantatnya tinggi tinggi. Seketika itu aku yang sedang beronani juga mencapai puncak.
“Aaggrrhhh buuk aku juga keluar aggghh croot crroott croot croot…”
Sebagian spermaku muncrat berceceran di layar laptop, padahal sudah kututup dengan tissu sambil ku genggam. Sebenarnya bisa saja aku berlari kekamarnya dan langsung menyergapnya. Tapi sementara kutahan dulu nafsuku. Aku ingin membuatnya terus mencapai klimaks pada rencana selanjutnya.
“huuh huuh hahh …”
Tentu aku tidak lupa menyimpan video tadi,
Ibuku bangkit dari tidurnya terlihat lemas dan wajahnya seperti orang terkena demam. Meminta untuk menyelesaikan kegiatan tadi.
Beberapa waktu kemudian aku yang mengaku sebagai paman Rudi terus merayu agar dia melakukan adegan tersebut. Awalnya dia menolak dengan argumennya bahwa permintaanku hanya sekali. Tapi entah kenapa dia tetap menuruti permintaan ku. Alhasil aku menikmati beberapa adegan seperti itu beberapa kali.
Setelah itu aku mengirim beberapa jenis sex toy dan beraneka ragam bikini yang lebih seksi.
“Buk ada paketan lagi nih dari paman, isinya apa sih?” tanyaku pura pura penasaran.
Dia bergegas merebut paket tersebut dariku.
“eeh yaah, ii ini, sejenis perlengkapan kecantikan kok!, hehe” jawabnya sambil memalingkan wajahnya yang terlihat malu.
Hampir setiap malam dia melakukan rutinitas tersebut, dengan senang hati mempraktekkan apapun yang aku suruh, seperti menancapkan dildo di lantai kemudian dia mengangkangi dan menggoyangnya. Bermain sambil nungging, ngangkang dikasur memasukkan dildi ke mulutnya sementara vibrator mengoyah vaginanya.
Kemudian kusadari terlihat sekilas di wajahnya. Jika sebenarnya dia berharap sesuatu yang lebih dari paman. Sepertinya nafsu sebagai seorang wanita yang membutuhkan belaian seorang pria benar benar sudah bangkit. Dengan ini persiapan awal sudah beres. Aku mengirimkan email padanya beserta lampiran video dirinya yang sedang asik bermasturbasi. Beberapa waktu kemudian kulihat notif emailku telah terbaca.
Kutuliskan
“Sepertinya akhir akhir ini kau sangat senang nyonya Mari. Melihatmu bergaya sambil masturbasi benar benar membuatku ngatceng haha. Sepertinya kau percaya pada iparmu kalo hanya kalian berdua yang tahu hubungan kalian. Please deh jangan naif, di internet sangat banyak celah untuk bisa memantau kegiatan para penggunanya”
“Apa maksudmu?” tanya dia.
“Aku juga tahu alamatmu, toko usahamu, keluargamu, dan hubungan gelap dirimu dengan seorang pria, padahal dia adalah kakak iparmu. dan kau sendiri juga sudah punya anak jejaka. Hal itu benar benar buruk bukan? LOL” jawabku.
“Ittu tiidak mungkin”. tulisnya.
“Kau harus dihukum. Jika kau tidak melakukan apa yang aku katakan. Akan kusebar videomu ke saudara saudaramu rekan bisnismu, terlebih anakmu hahaha” ancamku.
“Tiidaak tolong jangan lakukan itu.. apa.. apa yang bisa kulakukan untukmu!”
“Ookee. pergilah ke hotel Mawar, kamar nomor 69. tanggal 6 september”.
“apaa?? ke hotell?? tidak itu tidak bisa”
“Oh ya tidak bagus kalo kamu lapor polisi, jika kau melakukannya, aku akan langsung menyebar videomu dengan program malware yang bekerja secara otomatis. Pasti akan sangat gempar jika itu terjadi, aku jadi semakin tidak sabar melihat apa yang akan kau lakukan, hahaha”. Itulah strategiku untuk menggiringnya keperangka sesunghuhnya.
Suatu malam kami sedang makan bersama, kulihat wahah ibuku melamun dan bengong.
“Kenapa buk? Buuuk?”
“Ehh ah ti tidak apa apa kok” jawabnya kaget.
“mmhm nyam nyam “. Kulanjutkan makanku.
Setelah cukup larut malam aku pamit tidur. Aku sedikit merasa bersalah padanya. Tapi melihat ekspresinya yang sudah sange berat ketika chatting dengan paman, membuatku mengambil keputusan ini sebagai hukuman baginya.
Pada hari pertemuan dihotel, aku sudah chek in dulu, meninggalkan penutup mata di kasur, dan catatan singkat di atasnya, yang isinya agar dia langsung memakainya ketika sudah didalam kamar hotel.
Kemudian aku menyamar dengan topi dan jaket menunggu di sekitar ruang kamar.
Kulihat dia memasuki area hotel bertanya pada resepsionis, kemudian berhenti sejenak setelah dideoan pintu kamar 69. Mungkin dia agak ragu, atau menyiapkan mentalnya.
Setelah dia masuk kamar, aku mengendap mengikutinya.
Cklekk.
“Eh siapa itu?” kaget dia bertanya, tapi sudah memakai penutup mata tadi.
“Jangan bergerak”. jawabku.
Aku memakai semacam alat perubah suara, yang kubeli secara online, jadi dia tidak mungkin mengenali suaraku.
“Baiklah kita tes apakau memakainya?” tanyaku, Sebelumnya aku berpesan padanya untuk memakai bikini yang sama saat dia bermasturbasi seperti di video.
Perlahan dia membuka pakaiannya.
“Bagus kau memakainya” jawabku.
“Ap… pa yang akan kau lakukan?… kau pasti mau memintaku untuk melayanimukan?”
“Haha aku tidak tertari pada wanita tua yang sudah kendur sepertimu”. Sembari aku memasang video recirder di samping kasur.
“Aku adalah seorang pecinta film, khususnya tentang incest, adalah film favoritku”.
“oke aku sudah selesai persiapan… kau akan bermain dengan seirang pria disini”
“App pa… aaku tidak bisa melakukan itu”.
“Jangan khawatir, kau akan melakukannya dengan seseorang yang sangat jau kenal… Anakmu Marwan”
“Eeh apa.. yang kau bicarakan? Bagaimana bisa kau kenal dengan Marwan?”
“Aku kenal dekat dengan anakmu… dia adalah teman bermain game online, kami sering chattingan, Suatu saat aku menemukan videmu, lalu, aku mbuat suatu rencana, aku menawari marwan untuk melepas keperjakaannya, pada wanita yang haus seks, aku mengirim videomu padanya dengan menyensor wajahmu!”
“Tuu tunggu dulu, itu tidak bisa, siapapun boleh asal jangan anakku, hiks hiks”
“Oh ya Kau tahu apa tanggapannya? Dia benar benar bersemangat muhehehehaha”
“Tapi jangan khawatir kau bisa melepas penutup matamu, sedangkan nanti anakmu yang akan memakainya”
“Eeehh”
“Anakmu tidak akan menyadari jika itu dirimu kan?”
“Bu… bukan itu masalahnya”
“Atau apa, kau ingin aku menyebarkan videomu, pada saudara, rekan bisnis, terlebih anakmu? wahaha!”
“ugh, hikks ihgs” terlihat dia menangis
“Tapi semua ini sudah kau janjikan, aku akan berada dikamar samping sambil memantaumu, ingat jangan berbuat curang, sekali kau melakukannya, aku akan langsung menyebar videomu”. Aku melangkah keluar saat berpapasan padanya ku tepuk pundaknya, sambil berkata.
“Tunjukkan padaku adegan percintaan yang indah antara sepasang kekasih, dan layani anakmu sampai puas, jika kau melakukannya dengan baik, aku akan menghapus videomu.”
“Le lebih baik kau melakukannya” teriak ibuku.
“Tentu saja, serahkan padaku” jawabku santai.
“Baiklah aku akan bertukar kamar dengan anakmu, yang berada dikamar sebelah, dia akan kemari memakai penutup mata, setelah dia masuk kau bisa melepas penutup matamu.”
Aku keluar kamar dan berganti pakaian,
Setelah sekian lama kurencanakan semua ini, akhirnya acara utama… ayo kita mulai petualanan bersamamu buk!!
Bersambung…
Untuk episode kali ini alur cerita akan dibawakan oleh sang Ibu (Marissa).
EKSEKUSI
Marwan masuk kedalam kamar hotel dengan memakai penutup mata, berjalan pelan sambil tangannya diarahkan kedepan seperti menggerayangi sesuatu agar tidak menabrak, seolah olah dia tidak tau apa apa tentang kondisi kamar itu. Sementara Marissa berdiri di samping kasur masih menutupi kedua payudara dan vaginanya. Ya ampun apa yang harus aku lakukan, ini benar benar Marwan.
“K.. kau yang akan ngeue denganku kan nona??” tanya Marwan memecah keheningan sesaat. eehh nge.. ngeue… aaku akan ngewe dengan anakku?? “Y-yeah …”
Ha bagaimana jika dia mengenali suaraku?. “I… ini pertama kalinya aku melakukan begituan, j-jadi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, hehe” oh iya ini pertama kali baginya mungkin dia agak grogi… jadi dia tidak akan menyadari suaraku.
Aku memegang tangannya dan menuntunnya ke tempat tidur. Maafkan aku Marwan, ibumu yang akan mengambil keperjakaanmu, tapi tak ada seorangpun yang akan tahu tentang ini, termasuk dirimu.
Aku harus cepat cepat menyelesaikan ini. Sekilas kulirik camera yang sudah terpasang tadi, Bercinta seperti sepasang kekasih? Bagaimana aku melakukannya? Aku melepas jaket yang ia kenakan.
“B-baiklah ayo kita mulai berciuman!” tawarku. “I.. iiya nona”.
Aku teringat masalalu, saat ia masih kecil aku sering menciumnya. Tapi ini akan jadi ciuman yang berbeda. Seperti sepasang kekasih ya? Aku melumat bibirnya, mungkin ini pertama kalinya aku aktif dalam berciuman, Kujulurkan lidahku kedalam bibirnya, dia merespon dengan memainkan lidahnya berputar putar dan menghisap lidahku.
Pergerakan lidahnya seperti orang gelisah, aku bisa merasakan jika dia agak gugup melakukan ini. Seharusnya kau tidak perlu tergesa gesa.
“Mmmh slurp slurp hamh chlup slurp” Suara kami saling beradu. “Mmh ahh.. nona boleh ku sentuh tetekmu?”
“Oke tapi pelan pelan ya” Dia memegang kedua payudaraku dan meremasnya lembut. “Ngggnhh”.
Seperti tersengat ketika tangannya menyentuhku rasa geli dan nikmat bersatu. “Woow empuk banget, whoaa enak sekali ketekmu nona”. “Ini putingmu kan?” “ah.. ii iya” “Boleh kujilat?” “ehh… ah ya lakukan sesukamu”.
Tidak kepikiran sama sekali, hari dimana dia menetek padaku akan terjadi lagi. Selama dia melakukannya, mengingatkanku disaat dia masih kecil, dan menyadarkanku bahwa kita adalah ibu dan anak. Hal ini membuat hatiku seperti tertusuk tusuk.
Kurasakan vaginaku basah, Ini bukan hisapan seorang bayi, tapi ini adalah hisapan seorang pria untuk memancing gairah wanita. Oh tidak jika kau memainkan putingku seperti itu.
“aaa.. ah nggh mmmg”. Desahanku semakin meningkat. “Nona selanjutnya aku ingin menjilati yang bawah, bolehkan??” “Eeeh ttidak perlu, kau tidak perlu sejauh itu, yang kau butuhkan hanya melepas keperjakaanmu kan?” “Ehh?? kenapa tidak nona? aku ingin menikmatinya seperti sepasang kekasih”
Aku berbaring dan membuka pahaku, kupegang kepalanya, dan kuarah kan kedepan.
“Maju kedepan sedikit”. “okay” “Sedikit kebawah”.
Oh tidak walaupun matanya tertutup, tapi seharusnya aku tidak menunjukkan diriku seperti ini didepan anakku. Ketika lidahnya menyentuh vaginaku. “Benar disini kan?” “mmh, uuhh, hhg ah”
Aku mencoba menahan suaraku agar tidak terdengar. Aku bertanya tanya sudah berapa tahun memekku terakhir kali dijilat. Benar benar nikmat, setiap pergerakan lidahnya terasa nikmat, sangat berbeda dengan mainan. Membuatku teringat masa lalu saat masih bersama suamiku.
Setiap jilatannya, sangat telaten tapi tidak terlalu dalam. “Slurrrp slluurp mcupp mccup hah”. “Hiiah ahh, . haaaahhh ah. ah”. Aku hanya bisa mendesah dan menikmati semua ini. ”??!!! MMMGGHHH”
Tiba tiba dia memasukkan jarinya kedalam, sontan aku menutup mulutku. Dia tahu tehnik seperti ini??, apa dia sering lihat film porno?? Jarinya semakin masuk kedalam dan mengorek bagian atas. Oh tidak disituu. Aku… aku harus menghentikan ini untuk sementara waktu.
“Hey sudah cukup kan? Seharusnya kita…” “Eeh kenapa?? kan baru sebentar, kau belum keluar kan?” Anak ini ingin membuatku klimaks? Aku tidak boleh membiarkan hal ini terjadi. “MMNGGG HIIIHH MMMMGGGGH”.
Dia semakin cepat memainkannya. Oh tidak pantatku terangkat sendiri, Tidak tidak tidak, aku tidak boleh keluar karna dijilati anakku sendiri.
“Tidaaakk… MMMMHGGGGG MHGGGGG”.
Aku menoleh kesamping, wajahku kubenamkan di bantal, tangan kananku mencengkram bantal dan menutupkan kemulutku. tangan kiriku meremas sprei, sedang pantatku terangkat tinggi tinggi sambil mengapit kepala anakku.
“AHHH HAAHH HAAAMMM HAH”.
Nafasku ngosngosan karena puncak nikmat yang baru saja kuraih. “Kau baru saja keluar kan nona? iya kan?” “Jjjangan ttanyakan eh.. hal itu” “AUUUU YEESSS” Apa yang terjadi? Sensasi ini… ini pertama kalinya aku merasakan ini.
“Sekarang, bisa gantian kau yang jilatin aku nona??” Anak ini juga tahu tentang tehnik sepong. Apa benar dia hobi nonton bokep? Dia mulai membuka celana dan CDnya. “Ini sedikit memalukan, heh heh he”.. katanya sambil menggosokkan jari telunjuk dibawah hidungnya. Penisnya berbeda ketika dia masih kecil, dulu aku sering membantunya jika sedang pipis. Kupegang penisnya dan kuraba.
“Apa kau sering onani?” tanyaku.
“Yyyah kadang kadang, sebenarnya ini rahasia, tapi aku melakukannya dengan memakai pakaian dalam ibuku, hehe” Tidak mungkin, dia menggunakan daleman ku buat bahan coli?? Begitu ya, makanya CD ku kadang kok ada yang hilang. Kuremas penisnya.
“Kau anak nakal, jangan lakukan itu lagi oke!”
“Hehehe kok rasa rasanya nya seperti dimarahi ibuku beneran ya!”
”…!!!!!!”
Gawat tadi aku refleks.
“Ibumu tidak akan melakukan hal ini padamukan?”
Mulai kujilat penisnya, kulitik camera sekali lagi. Meskipun orang tadi menyuruhku melakukan hal ini seperti seorang kekasih, tapi aku kesulitan melakukan oral pada suamiku dulu, apa kujilat ujungnya pelan pelan seperti ini.
“lick lick lick”
“Ooh wau enak sekali nona”.
Kuputar lidahku disekitar kepala penisnya.
“Ahh ssh mantab nona, tubuhku sampai bergetar.”
Sesekali kuhisap testisnya.
“Ooh wooo menakjubkan, aku ingin sekali melihat bagaimana wajahmu ketika nyepong nona… hah hah”
“Tidak.. kau tidak boleh melakukannya”
“Yeeah… karena aku tidak bisa melihat, aku ingin mendengar suara seponganmu nona”
“Dengar suara???”
“Yah bikin suaranya agak keras agar aku bisa lebih nikmat, hehe’
“Ehh ttapi tapii..”
Anak ini… kenapa pikirannya jorok terus. huh. Kumasukkan penisnya kedalam mulutku, dan kusedot sedot.
“Swewerrwieh iiwhwi (Seperti ini)??”
“Uwaau suaranya kerenn, kayak sluprut sluprut gimana gitu… terusin nona, ohh yess”
“Nnmmuu.. muuh.. hlooogghh… mmhuuh.. hloggh mumm, . slllrrrpppp… cupbbh.. hohg .”
“ooh wau kau semakin binal nona… membuatku benar benar terangsan.. teruss lebih keras lagi”.
“mmmnn mnnnhg hloogh”
“Woaah.. sial.. ini enak sekalii… aku mau kluar nona!”
“Nmmuhh??”
“Boleh ku keluarkan dimulutmu?”
“Nmmmuhh!!!”
“Whohhh, haah ah akk ku kellluarr aarhhgggg”
“Nnghooobbbbbbb ngghhngggooommbb”
Crrot… croot… croot… croot.
Deras sekali, pejuh anak muda memang menakjubkan.
“uaahhh hahh”
Masih terus keluar?? banyak sekali! kental seperti jelly, Aroma sperma yang memenuhi mulutku sampai menyeruak kedalam hidung ku. Sudah lama sekali aku tidak merasakan aroma ini, membuat memekku bergetar. Kuhisap sisa sisa sperma yang masih diidalam penisnya.
“Gluup gluup gluup… mhh?????”
Oopss… aku menelannya tanpa berpikir dulu, aku menoleh kesamping karena malu, lebih baik kurahasiakan hal ini, lagian dia tidak melihatnya kan.
“Ohh maan, tadi benar benar maknyuss.. Akhirnya, sekarang boleh kumasukkan kan?”
“Apa kau ingin lagi???… tt tapi kau baru saja keluar kan?”
“heeh, lihat masih onfire kan”
Dia menunjukkan penisnya yang masih tegang dan mengangguk anggukkannya. Sulit dipercaya!!
Ini pertama kalinya bagiku bercinta dengan anak muda… aku sedikit meremehkan hal ini, Di hotel tidak tersedia kondom, walaupun mungkin hari ini aman bagiku. Tapi… Dia mulai merangkak mendekatiku, aku berbaring dan membuka pahaku.
“Gimana ini nona, aku gak bisa lihat lobangnya”.
Kupegang penisnya dan kuarahkan kebibir vaginaku.
“Kkke.. kesinii…!”
“Woow.!!???”
“Kau hanya perlu memajukan pinggulmu.!”
“Awww maan.. akhirnya… kulepas keperjakaanku, trimakasih nona!!”
Apa kita… Apa kita akan melakukan ini?? Kita ibu dan anak.. Tidak.. Aku harus menghentikan ini.. Aku harus membuatnya berhenti sampai disini..
“Tttunggu…”
“Jleeeeeebbbbb””
“JJJAANGGAAAAAAANNNN..”
Aku bergetar saat penisnya masuk kedalam memekku..
“Agghhhkkk gghhhg…”
“Eeh??? Nona? kau baik baik saja? yees aku berhasil ngewe… Wau amazingg!!”
Aahhh.. Kita benar benar melakukannya.. Aku telah gagal sebagai seorang ibu..
Tapii… iinii, penis anakku, kenapa, kenapa nikmat sekali???
Dia mulai bergerak.
“Mmmhhhg”..
“Ajiiib.. Jadi giniya rasanya memek.. wow benar benar mengagumkan.. ahh”
Tidakk… memek tua seperti ini dia bilang mengagumkan?? Dia berkata seperti itu karna memang ini pertama kali baginya, dan belum pernah merasakan memek gadis lain. Tapi entah kenapa ini membustku senang, aku sedikit tersenyum sambil memalingkan wajahku.
“Baiklah mulai ku entot ya nona!”
“Jlebb.. jlebb.. plokk… jlebb,, plook… plookk”
Penis beneran benar benar berbeda dengan mainan… Dan ini polosan tanpa pengaman, walaupun dengan suamiku dulu, jarang sekali aku main polos seperti ini… Inikah yang dinamakan ngentot beneran??? Menakjubkan. Penisnya bergerak hebat.. keras.. hidup.
“aahh… uuhh, ssst mmmhh, uuhhggg”
“woohhh huuhh haaah yees, anjrit gile ni memek”
Pergerakan pinggulnya memang belum terkontrol… tapi jika dia terus memompa seperti ini!! Aku harus membuatnya cepat keluar… Akan kupancing dengan desahan ku
“Aahhhm.. terrrus.. iihh oohh… eeehhh”.
“Yaaa nona, akan kulakukan yang terbaik”
Tiba tiba dia mengangkat kaki kananku, dia peluk, sehingga tubuhku agak miring..
“Ehhh heyy.. heyy.. ttunggu dulu!”
“oohhh… tenang nona… nikmati saja huuhh haahh”.
Tidak.. posisi ini malah terasa lebih dalam..
”.. hggghh ahhh.. haah hhmm uggghh haaggg..”
“Posisi gini nikmat juga… aku jadi leluasa bergerak”.
“Ahhh ihh… ohhh.. uuhhh.. mmmhf”.
“Dan begini boleh juga..”
Dia merubah sedikit posisiku lebih miring.
“Aahh ttunggu… ttidakk..”
“Seperti dugaanku begini malah lebih leluasa… haah, ohh”
“Aahh.. oojh ssttt aaaaghh”
Ehh?? dia berhenti??
“Nona aku mau coba dari belakang!!”
“Eehhh… B b baiklah…???”
Kemudian aku merangkak nungging.
“ii.. ini memalukan..”
“Ehh?? kenapa malu?”
Memamerkan pantat besarku ini… Walaupun dia tidak bisa melihatnya.. kupegang penisnya dan ku tuntun kearah memekku..
“Kesini..”
“Ah ya aku bisa merasakannya. Baiklah aku mulaaaiiiiii..”
“Plokk… plook.. jleebb. jleeb… ploookkk”
“aaahhh aaahh ohhh… agghhh mmuuugf”.
“Ahh pantatmu empuk sekali”.
“cepplak”
Dia seekali menampar pantatku.
“ahh ttidak..”
Berhentilah bermain main… cepat keluar… Atau nanti aku yang akan…
“Aahh kupikir aku sedikit faham pola pompa an yang lebih baik”
ehhh!!! ttunggu… ini gawat…
“Boleh kupercepat??? Aku lebih leluasa mompa nih,”
“Aaahhh eeehh ttiid.. aaahh heyy..”
“Lihat suaranya indah kan nona, ceplak ceplok haha”
“Plokkk plokkk pkokkk ceploookk”
Gawat jangan dalam dalam… cepatlah keluar siaalann… ehgggg.
“oohh nikmat sekali, aku gak bisa berhenti nih nona”.
“Eeggppl mmggghhhh …”
“Aggghhhrrg aku mau kluar non”.
“Ahhh iyaahh gak papa, tapi diluar yah ah hah”
“Ok aku ngerti.. oohhggg ahhhh “’
“aahh.. mppphhh tidak.. tidakk…”
Ini gila.. aku serasa mau pingsan.
“Aahhhg nona aku kkkeluaaaaaarrrrr… aaahhgggggg…”
Dengan cepat dia mencabut penisnya, dan menumpahkan lahar hangat diatas punggungku..
“Crrroootttt crrrrooottt crroooottt”
“Wahhhh nonna manteb nona… hoohh hooh haah”.
Marwan menarik tubuhnya kebelakang.
Sedangkan aku ambruk tapi pantatku masih nungging.
Hahh.. ohh hampir saja.. hampir saja aku sampai.. Pejuhnya membasahi punggungku sampai terkena pipiku, kucolek dengan jariku. Sampai sampai aku tidak berani melihatnya karena malu.
“Waah ngentot ternyata melelahkan ya?? Sampai kakiku bergetar hah hah”. Terdengar suaranya yang masih ngos ngosan.
Akhirnya sudah sel…
“Sekarang giliranmu nona!”
Eeeeh? Kau bercanda?? Padahal sudah keluar dua kali, tapii…
“Katakan berapa kali kau keluar jika masturbasi?”
“Hehe biasanya sih dua sampai tiga kali, tapi beberapa waktu lalu sengaja kusimpan, biar kali ini bisa lima sampai enam kali!”
Anak ini… Dia menyudutkanku sampai sejauh ini. Jika kita ngentot lagi, sudah pasti dia akan membuatku keluar.
Posisi sekarang dia berbaring lalu kunaiki tubuhnya, kumasukkan perlahan penisnya dalam vaginaku.
“Ahhhhg …” Desah kami berbarengan. penisnya menyeruak sangat dalam. Kenapa penisnya masih sangat keras? Kuingat lagi kata kata pria tadi. Agar berhubungan seperti sepasang kekasih.
Sekarang aku yang memegang kendali., Jika kugoyang dengan benar mungkin dia akan cepat sampai.
“Nmmuhh.. ahh haa”. kutahan suaraku.
“Wooahh hebatt nikmat sekali… padahal aku gak gerak… posisi Ini paling maknyus..”
Gawat, gimana ini, kugoyang model apa saja malah terasa semakin nikmat bagiku.. Baiklah akan kumasukkan sedikit di ujungnya saja.
“ahhh ini enak juga nona”.
“Mmnmh.. mmuhhff..”
“Nona.. suaranya hot banget ya?”
“Eehhhhh??”
“Aku gak bisa lihat, jadi pendengaranku semakin tajam.. Tapi rasanya ada yang sedikit aneh, Kau mau kluar tapi kau tahan kan?”
“Bbbukan.. begituu.!”
“Empotan dan licinnya memekmu tambah maknyus dari sebelumnya. hehe”.
“iiittu ..”
Dia menyadariku. Tiba tiba tubuhnya bangkit, mulutnya menyusuri payudaraku sambil tangannya meremas remas. Yang lebih parah lagi dia ikut menggoyang pinggulnya.
“Aahhh. ohh tiidak.. ahh”
“Oohh… jangan ditahan nona, aku ingin membuatmu keluar agar kita sama sama puas.. hehe”
Jika terus seperti ini.
“aaaaa.. ahhhh ohh. aaaghgh.. Berhentiii jangan ker.. as keeersss ahh tidak.. tidakkk…”
Oh tidakk aku benar benar akan keluar…
“AAAAAHGHGGGH.. AHHHGGGGG… AAAAAJHGGG”
“Slurrrryt… seeerrr.. seeerrrrr… serrrrt”
“Woohhh empotanmu kenceng bener nona waahh haah”
“HHGGHHH… MBBBHHG… HAHHH.. HAAAGG”
D-ddia benar benar membuatku klimaks. dan ini benar benar berbeda seperti yang aku bayangkan..
Sampai sekarang aku belum pernah merasakan klimaks yang seperti ini. Tapi kini malah anakku sendiri yang membawaku kepuncak sex yang sesungguhnya.
“Non. nnona.. memekmu sempit sekali aku tidak kuat menahannya lagi.. cepat cabut nona”.
“Eeehh??”
“Gawat nona aku benar benar mau keluar”.
“Tung… tunggu dulu… akkk.. ku gak bisa gerak!!!?”
Setelah sampai puncak tadi kakiku terasa kaku dan tidak bisa kugerakkan.
“Ahhgg noonnn… nonna, akku benar benar keluar”
“Croot.. crrrrooot.. crooooottt. crroottt”
“Hyaahh.. Tiiidaaaaaaaaakk..”
Karena panik aku malah kehilangan keseimbangan dan ambruk kedepan,
Terasa lahar panas menyembur deras didalam vaginaku. Sangat terasa semburannya sangat keras. Secara refleks dia menarik pantatku kebawah sehingga spermanya bisa keluar semua dan menikmati puncaknya.
“Haahhh… Haahh. ughhh, hosshft”
Nafas kami bersaing mengambil udara.
Aku benar benar sudah jatuh kepelukannya. Aku menyerah..
Akupun tidak memikirkan lagi apa yang akan terjadi nanti…
“Akkk.. ku minta maaf nonn.. mmmh”
Sebelum ucapannya selesai, aku menyambar mulutnya, kucium dengan ganas dan kutarik lidahnya.
“Geeezzz, kau benar benar nakal… tapi.. masih mau lanjut lagi kan?”
“iiiya… nona”
“Okee selanjutnya mau posisi apa??”
Aku sudah kehilangan akal sehatku, setelah dia menyemprotkan pejuhnya di dalam vaginaku.
‘Plookk,, plookk… jllebb… plook.. jllebbb’
“Aahh… kau pintar sekali nak.. ah entotanmu benar benar nyampai di rahim”.
Diposisi berdiri, sambil nempel ditembok dan menungging, dia menghantam pantatku dengan keras.
Lalu aku merubah posisi menghadapnya, kaki kananku diangkat tangan kirinya. sambil berciuman, mengadu pantat kami.
“Cplokk.. cplook.. cplook…”
“Slllurp.. ssh… sllrph.. ahh”
Berbagai posisi sudah kita coba, juga posisi yang belum pernah kulakukan dengan suamiku..
“Ahhh.. ohh.. yeess.. ahhh.. hoohh haahh.”
“Mmmhh.. ssshtt.. ohh. ihhh.. mmuuffggh..”
Apa karena sudah lama aku tidak bercinta..??
Atau karena ada rasa yang telah hilang..??
Atau karena kita ibu dan anak… sehingga terdapat kecocokan dan saling melengkapi?
Sudah tak terhitung berapa kali kita Klimaks… Jika selesai puncak aku malah semakin ketagihan membersihkan sisa sisa sperma di penis anakku ketika ia selesai keluar dalam vaginaku.
Pada akhirnya.. kita melakukan hubungan intim selayaknya sepasang kekasih.
Tanpa ada kepalsuan.
Kini aku masih dalam posisi dogystyle..
Tiba tiba dia berkata.
“ahh. ohh. sstt mhhfh…”
“Heyy nona.. apa kau mau ngentot lagi lain waktu?”
Aku terdiam sejenak..
”… Selama kau tetap memakai penutup mata itu.. ahh mmpphh”
“Beneran nih??? yeeeea… Janji yaa..”
Dia meraih tanganku ditariknya kebelakang, dan menyantolkan jari kelingking kita berdua, sambil berjanji…
Dia semakin cepat memompa dari belakang..
Dengan sisa sisa tenagaku aku hanya bisa menikmati dan mendesah desah..
“Ahhhh.. ahhhooh.. nona aku mau keluar lagi nih..”
“ahhh. ahhh.. ohggg. mmgpuh..”
Hanya kujawab dengan desahan dan…
‘Jleeebbb.. Plok.. Jleebb… Plook.. jleeeb… plookk. ploook.. jleebbb’
“AARRHGHGGGG… UWOHHH.. AHGGG GEHH..”
“AAAAAAAHHHH… AHHH.. AHHH.. HUHH. HOOHH”
‘Croott. crooottt… ccrroootttt… croooott’
‘Criitt. sleeeerrr.. seerrr… crruttt. seeeeerrr’
Apa benar aku bisa meenuhi janji ini??
Kupikir mungkin aku yang akan mengingkarinya…
Bersambung…
Point of View Marwan
Hari berikutnya ibu dan aku beraktifitas seperti biasa. Aku memang terbiasa membantunya mencuci pakaian. Saat ini kami sedang menjemur pakaian disamping rumah. Ketika selesai aku membawa ember yang sedikit terisi air, namun tiba tiba kakiku terasa kram, dan aku terjatuh.
‘Gubraak..’
“Oww.. ddiuuuuhh..”
“Kenapa wan??, kamu gak papa??”
“hgh, ng.. ngak papa kok buk, cuman kram dikit… hehe”
“A.. apa kamu kecapek an?
K.. kalo ada kegiatan jangang berlebihan, oke!!”
“Yy. yah oke oke”
Ibu pura pura tidak tahu kalo kemarin kita baru saja ngewe., Dan tentu saja aku kuga pura pura tidak tahu.
Tapi kalo ingat kejadian kemarin rasanya benar benar gatal,
Aku bisa saja menyergapnya dari belakang, meremas keteknya, Menarik dasternya keatas, memelorotkan CD nya dan menancapkan penisku sedalam dalamnya.
“Eekhhhh???”
“Buuk kita gak usah pura pura lagi, aku tahu semuanya!!”
“Ehhh apaaa???”
“Aku lihat film kita sedang ngewe dihotel, dan ternyata wanita itu kamu buuk”
“Ehh.. tidak.. jangann… janggaaannnn!!”
Ohh shit, aku onani dikamar sambil menonton video kemarin, dan membayangkannya lagi..
Hampir saja.. untung aku masih kuat nahan nafsu..
Aku tidak ingin memaksa hubungan seperti itu.. Itulah kenapa sampai aku merencanakan semua ini.. Tapi juga tidak mungkin terus seperti ini.
Aku bersiap siap keluar rumah dan memakai training.
“Mau kemana Wan??”
“Jalan jalan sebentar kok buk”
“Ya udah, jangan malem malem pulangnya, hati hati di jalan..”
“okkee”
Setelah kejadian karin aku sadar akan satu hal. Ternyata ngewe benar benar menguras energi, Gerakan pinggul serta otot kaki harus lebih kuat lagi, untuk itu aku memutuskan agar lebih aktif olah raga, lari lari. Sebelumnya kami berjanji akan bertemu dihotel yang sama dua minggu lagi.
Aku harus meningkatkan staminaku.
Dua minggu kemudian..
Aku sudah berada di hotel sambil telanjang namun masih memakai penutup mata.
Tiba tiba ibu berkata..
“Kau tahu??… Seharusnya kita tidak boleh melakukan ini…” Sambil duduk disampingku.
“Eehhhh???…”
Aku sangat kaget, dan berpikir sejenak, Dulu saat kita sedang ngewe, dia bilang tidak apa apa melanjutkan hubungan ini, Namun setelah pikirannya tenang dia merasa bersalah dan tidak mau melanjutkan semua ini.
Jadi.. aneh ya jika melanjutkan ini???
Tapi…
“Kau benar nona”.
Jika dia berpikir seperti itu, seharusnya dia tidak perlu datang hari ini kan??.
“Jadi apa yang akan pertama kita lakukan???”
“Tentu saja ciumann dulu dong nona!”
Kita berciuman dan saling meraba kemaluan kami, Dia mengocok penisku, Kumasukkan jariku ke memeknya, sementara tangan yang satu meremas payudaranya.
“ohhh nona… aku mau keluar…”
Aku sengaja mempercepat ejakulasiku tanpa menahannya..
“Ehhh..?? Udah mau keluar??”
‘croot… croott… croott…’
Kubasahi tangannya dengan spermaku.
“Sorry nona.. gak tau kenapa kq cepet keluar.. hehe”
“G.. g ak pa pa kok, mmm, tapi.. masih mau lagi kan??”
“Tennang saja nona, udah dua minggu nggak ngecroot, hehe”
“Okeey.. akan kubersihkan!”
Aku berdiri, dia jongkok dideoanku sambil menjolati sisa sperma dan menyedot nyedot penisku.
“Ohh.. nikmattnya, suaranya bener bener merangsang, hehe, Tapi kalo bisa liat wajahmu kontolku pasti akan lebih tegang nona…“.
“Tidakk!!”
“Yaa.. aku tahu kok”.
“Ttapi.. masak kamu bisa lebih tegang dari ini,??”
“Tentu saja nona, Berani jamin dehh.. hehe”.
Mulai ku pompa penisku di dalam mulutnya.
“Lihat non, hanya dengar suaram seponganmu saja sudah setegang gini kan??”
“Nmuuu.. ff mmghhgf.. ghoohhgf.. mmmoogghhf”.
“Ahh… mau kluar lagi nih non.. hhggh.. ah”.
‘Croott… croot.. croott’
“Ahh… ehh maaf non.. spermaku kena wajahmu ya?”
“Mmhg.. ah… gak papa..”
“Membayangkan wajahmu yang penuh dengan spermaku.. membuatku jadi tegang lagi nih.. hehe..
Sekarang giliranku yang mengoral vaginanya.
“NMncuup.. slrrp.. ah non.. memekmu warannya gimana ya?”
“A.. ah.. Jjangan ngomong gitu..”
“Pasti bentuknya seksi banget.. hehe, kalo bisa lihat, mungkin akan lebih enak kali non..”
“Aahh. tidakk bol.. leh.. i. iini ss sudah enak kok.. ahh.. aakku.. mau kkelluar.. ahhhh. aahhh”.
‘Criit.. serrrr.. srrrrr… srrr’
“Hhooh.. stopp. stopp. ah.. ah.. udahan dulu!!”
Sesaat kemudian dia mengeluarkan kondom yang sudah dia persiapkan..
“Hari ini kita pakai pengaman dulu ya..”
Setelah memasangkannya pada penisku,
ia langsung menaiki tubuhku.
‘Jleeeb’
“Aahhh… ahh.. sstth… mhhh.. ah”
“Uuhhh.. Aku penasaran gimana caramu goyang non, enak banget sihh.. uhh. hoh”
“Aah.. jangan.. hmm…”
“Pasti ketekmu ikut mantul mantul kan, haha”.
Aku mengimbangi goyangannya dengan hentakan pinggulku.
“Ehh.. haahh. hahh eyy jangan keras keras”
“Ya ampun manteb banget non.. ohh.”
‘sliiiipp’
“Ehh???”
“Ah.. maaf non selip.. hehe, ,”
Aku sengaja tiba tiba mencabut penisku seolah olah selip, dan menggesek belahan pantatnya..
“Mmhh haah.. hah.. ga papa..”
Kemudian aku ajak dia dogy style. Langsung ku tusuk dengan tempo cepat.
“Ahh.. yess.. ahh. terasa dalam banget.. kau semakin lincah.. ahh.. hahh.”
“Ohya?? hehe mungkin sudah mulai menyesuaikan non.. Gimana enak??”
“Yessmm. ahh. nikmat banget.. aa.. ku mo kluar.. ah”
‘Sliip’
“Ehh.. sory sory selip lagi non.. dimanih lubangnya..??”
“Mmm!!!!!! ()”
Tiba tiba dia alangsung berbalik terlentang, menarikku dan langsung menggenggam penisku masuk kedalam memeknya. Serta mengunci punggungku dengan menyilangkan kakinya.
“hehh.. ini tidak akan mleset lagi kan.. hah”
“Ahh.. ya nona.. mmhh… kau mau keluar dengan kontolku kan??”
“Yahh.. ehgg.. lebit cepat lagi..”
“Eh non.. gimana kalo kapan kapan kita ketemuan lagi?”
“ehh???”
“Maksudku jika kau pakai topeng atau apa, aku bisa membuka penutup mataku kan?”
“Ii.. ya benar.. tt. tapi…”
“Ohh.. iya ini kan yang terakhir kali.. jadi gak perlu juga sih.. haha.. Baiklah akan kuselesaikan dengan segenap tenagaku..”
“Aahh.. yess.. ohh.. ee… nakk.. ahh aku mau kluar…”
“Aa.. kkhu juga non.. hohh. hegggg”.
“Ah.. ah.. aaaaaaaaahhhh..”
‘Croit.. croot… croott”
‘Slllrtttt… Seeeerr.. seeeerrr.’
Setelah pergumulan tadi kami siap siap pulang, tiba tiba…
”… Tu.. tunggu… Ten.. tentang apa yang kau bilang tadi…”
Ini dia… Misi ini sukseeess…
”… Ku pikir jika ku pakai sesuatu seperti topeng.. mungkin kita bisa…”
*****———*****
Point if View Marissa
Seminggu kemudian, aku membeli wig dan topeng kecil seperti kaca mata agar dapat menyamarkan wajahku.
Sambil dandan didepan cermin, kupoles wajahku dengan lipstik tebal dibibir.
“Bagus.. Kalo gini dia gak akan tahu siapa diriku kan? Tapi masalah sekarang apa dia menyadari tubuhku?”
Memang tubuhku bisa dibilang semok, gak gendut kok, Walau ada lipatan di perut, yah wajar sih, bamabya juga ibuk ibuk.
Jadi besoknya kuputuskan beli korser dan lingrei.
Beberapa hari kemudian, tepat dimana kita akan bertemu lagi dihotel yang sama.
“Woooowww… kau benar benar lebih seksi dari yang kubayangkan nona”.
“Jjjangan diplototin terus.. malu tahu..”
Dengan dandananku sekarang, mungkin terlihat binal. Dia mendekatiku langsung meraba dan meremas payudaraku.
“Woow… jadi bentuknya gini ya.. empukk.. manteb.. pentilmu juga indah non..”
“ehhh!! jangan tarik tarik!!”
Dia langsung mebjilat dan menyedot putingku., ahhh.. geli tapi nikmat.
Jilatannya kini semakin kebawah, setelah sampai dimemekku.
“Wiihh.. memekmu lebih merangsang dari dugaanku..
“Eeeh.. jangan dibuka lebar lebar!”
Dia bisa tahu kalo aku sudah horny dan basah.
“Jadi ini kelentitmu? oke.. saatnya makan”
‘Sllrrppp… cupp… mcuuuppp..’
“Ah… ttiid.. dak..”
“Mungkin gini lebih enak non?”
Jarinya dimasukkan dalam memekku, sedang klitorisku di jilat sambil digigit gigit..
“Ahhh.. hohh.. jjangann.. Akkku bisa.. kkeluar.”
‘Sruuurr.. sseerrrr.. serrrr.’
Aku keluar banyak sekali, sampai muncrat cairan seperti sedang kencing.
“Whooahh.. non.. muncrat non.. gile banyak banget.. haha”
“Uhgg.. hhoh.. haahhh.. ahhm.. mmfhh”
“Wiihh… tanganku sampai basah kuyub haha.. eh lihat non kasurnya jadi basah..!”
“Ehhh.?… hufff!”
Aku duduk menoleh sambil muncu dan masang wajah cemberut.
“Eee.. m.. maaf non.!”
“Ini gara gara kamu.. lihat nih.. nanti kalo pekerja hotel terganggu lihat bekas ini gimana?”
“Yyya.. kau benar… maaf deh, tapi.. kok malah kayak dimarahin ibuk saja.. eh he!”
Ooppss lagi lagi, tanpa sadar aku malah maki dia, Wah harus lebih hati hati nih..
“Geeeezz. nakal kamu ya.. oke akan kujilat kau..”
Kuposisikan diriku disamping kasur sambil ningging, sedang dia duduk ditepi kasur. Langsung kujilat dan kusepong penisnya.
“Ahhh.. non… nikmat banget.. Bisa lihat dirimu ngisep terasa lebih nafsu.. hehe”
“Nmmenamwah (benarkah)?”
“Ohh.. kau terlihat binal non..”
“Ehhwmb wanhhgan whiwihwat whwewus (Ehh.. jangan dilihat terus)!!”
Dia benar bisa lihat tubuhku, penisnya benar benar keras dan tegang.
‘Hggghh cwihh.. Slllurrp.. cupp. hogghh.. pwah.. ohhhgg..’
“ow.. jadi gitu, kau ludahin banyak… pantesan licin & hangat.. hehe”
Kulanjutkan dengan menyedot kepala penisnya..
“Whaahh.. gile non.. ajibb seponganmu.. wahh bibirmu seksi banget.”
‘mccuuuuupp.. slluurrrp. Mbegggghhah ’
“Ahh.. mau kluar non.!!! boleh didalem mulut?”
“Hwenmhuu (tentuu)!!”
“Ahhh.. Ehgggghhhhh..!!”
‘Croot. crooot.. crooot..”
Wajahku kuhadapkan keatas sambil membuka mulut dan lidahku menjulur.
Ahh.. banyak sekali sampai wajah dan mulutku penuh dengan spermanya.
“Ohh. maaf non wajahmu jadi kotor… tapi melihatmu seperti ini malah membuat nafsuku bangkit lagi.. hehe!”
Kubersihakan sisa sisa spermanya dengan mulutku. Rasanya tidak buruk, sebenarnya menerima semprotan marwan malah membuatku senang. Tapi bukakankah ini memang seperti pergumulan sepasang kekasih? Ini memang tidak bisa diterima, kita melepas nafsu bersama. Tapi semakin tabu hubungan ini malah memberi sensasi kenikmatan yang hebat.
Aku rebahkan dia, kunaiki tubuhnya dan…
“Huh??? kita gak pake pengaman non?”
“Tenang.. aku sudah persiapan minum pil, seharusnya kau senang, lebih enak kalo gak pake pengaman kan?”
‘Jleeeeebbbbbb’
“Ahh…”
“Wahhh… masuk nona, melihatmu lagi goyang gini benar benar membuat nafsuku sampe ke ubun ubun.. ahh.. hohh.’
“Ahhh… bbenarkah?”
‘Cepllokkk… cploook… cploook.. cploooook’.
“Ketekmu goyang goyang.. indah banget”
“Ahh… penismu juga masih keras walau tadi baru saja kluar… hmmm… uhh”
“Seperti yang kuduga, goyanganmu terlihat binal non.. uhh.. membuatku semakin gila”
“Jjangan dilihatin terusshh.. hehhg.. mmf”
Aku memperlihatkan tubuhku dengan pakain ala pelacur, dan menggoyangnya tanpa malu. Tapi aku tidak bisa menghentikan goyangan pantat dan kakiku.
“Eehh non!!! bisa lebarin dikit gak kakinya? Biar aku lihatnya lebih jelas.. hehe”
“Ehh… kau mau lihat ituku??..”
Sedikit demi sedikit kulebarkan kakiku, dan tanganku kugunakan sebagai penyangga dibelakang tubuhku, Goyangankupun malah semakin menjadi jadi.
‘Plookk… ploookk.. ploookkk… cepppllloookk’
“Wooow.. amazing… mengkilat, cairan memekmu membasahi penisku sampai ada yang mengalir nih.. uhhh”.
“Tttidakkk.. jangann.. lihat… lagi.. ah.. uh..”
Ahh.. Kenapa penisnya semakin keras dan terasa menghujam vaginaku.
“Apa gini enak non.. hahh..??”
“Ehhh.. app… hahg.. jjjangan.. henn.. tt.. ah”
Semakin keras goyangan kami, sekarang jarinya ikut memainkan klitorisku.. aku jadi semakin menggelepar dan…
‘Suuuurrrrr… suuurrrr… serrrr.. serrrr.’
“Ughh.. heggggghhhhhhhh… Hahh.. hahhh.. huuhh.. mpppphhgg.. hah.”
Semprotan orgasmeku yang banyak seperti kencing, membuat tubuhku seperti meleleh dan tak berdaya.
“Hehww kita tidak jadi membasahi spreinya non”
”!!!!!??????… Ah.. mmaaf aku gak tahu kenapa muncrat segitu banyak..”
“Tenang saja.. rasanya hangat kok, hehe”
Karena dia belum keluar dia memposisikan ku nungging, aku berusaha nengimbangi stamina dan semangat mudanya.
“Ok… sekarang giliranku ya, wiihh rasanya menegangkan melihat dan memasukkan penisku sendiri… ngomong ngomong pantatmu lumayan gede ya non? hehe”
“Jjjangan bilang begitu.. kau pasti gak nyaman kan..”
“Eh?? kenapa?? aku malah suka kok yang model beginian, putih, bundar, dan semok, ,”
Dia menggerayangi dan meremas remas pantatku.
“Wuhhh… lembut… empuk non.. ok.. kumasukin ya??”
‘Jleeeebbb’
“Ahhh…”
“Woow.. nikmat banget non.. uhh.”
Benar benar tidak loyo sama sekali.. Keras dan tegang terasa mengganjal diseluruh lubang vaginaku. Pergerakannya juga semakin
lebih baik dari pada sebelumnya. Jika terus seperti ini sebentar saja aku pasti akan…
‘Plokkk.. ploookk… plokkkk’
“Whooahh… pantatmu seksi banget non.. sebelumnya aku gak pernah lihat jadi gini ya.. ohh… yess.”
“Aahh.. mffhh… uhh.. jjangann lihat.. mmhgf”
“Aku akan membuatmu lebih senang lagi.. hyaaaahh.. hah.. hahh. haahh”
Dia memompaku semakin cepat dan kasar.
“Ggggghhh.. kkk.. kkau ttterlalllu… dddalam. ohhh.. ghhhmmg”
“Whooohh.. pantatmu kaya ombak bergelombang non, huhh.. hahhh”
“Ahhh.. tttidakk… akku mo kkkleuarr.. lagii..”
“Haahh.. aku juga nonn. huh tapi barengan ya.. hh”
Dia memelukku semakin erat dan mencoba menciumku dari belakang.
“Hoohh… ayo keluar sambil ciuman non.. hoohh..”
“Nnmmmuuff.. mfffmm”
‘Croott… crooootttt… croooottt.. crooott’
‘surrrr… serrrrr. seeerrr… serrrr’
Aku tidak percaya kalo sekarang kita merengkuh puncak kenikmatan bersama… Benar benar seperti sepasang kekasih.
Dia masih memompa dan memelukku erat erat. Seperti ingin menumpah kan seluruh spermanya sampai tetes terakhir..
“Hggggggggeehh.. Hah.. hohh. hoohh.. memekmu terasa bergetar non. rasanya seperti di sedot sampe kering.. hah..”
‘Bruukkgg’
Kudengar ia menjatuhkan tubuhnya dikasur..
“Ahh.. tetap seperti itu dulu non.. hah”
“Ehh??”
“Aku ingin lihat pejuhku netes di memekmu”
“Ttidak boleh..!!”
“Gak papa non.. biar aku sadar kalo bener bener abis kluar didalem..”
Dia mendekat lagi dan meraba sekitar vaginaku..
“Whooa.. keren ..”
“Ehh.. sudah cuku..”
“Tunggu non, biar ku tampung dulu..”
“Appa.. gak usah…”
“Oke, sekarang silahkan duduk nob”
‘Jleeeeebbbb’
“Hyaaaa????” Ehh!?? Kau mau lagi???
Ternyata saat aku sedang mau duduk, dia memposisikan penisnya dari bawah.
“Aku ngaceng lagi, lihat memekmu netesin pejuhku”
“Appa apaan kau ini!!”
“Ini yang terakhir kali kan non.. jadi ayo nikmati sepuasnya.. hehe”
“Ahh…???????…”
Kenapa dia diam saja, nafsuku yang sudah bangkit lagi membimbingku menggerakkan pantatku..
“Ahh.. hehe kau mulai gerak, sudah kuduga kau juga belum puas kan non”
Sebenarnya bukan begitu, aku hanya melakukan apa yang mungkin dia inginkan. Dan memberinya kenangan yang indah..
“Kau senang kan kalo ku goyang gini.. Ah… hahh.. ahh.. hmmf..”
“Hoohh.. manteb non.. hah.. bisa lebih keras lagi non?”
Ehh??? Aku baru saja kluar, sebenernya ngilu sih, tapi… biar ku coba…
“Seperti ini… hah.. mmmfhh… huhhh?”
‘Plookkk… ploookk… plooookkk… ploookk’
Kutingkatkan ritme goyanganku.
“Whoooaahh.. ini.. benar.. benar… ohh”
Tiba tiba dia mendorongku, tubuhku tengkurap, tanpa ba bi bu dia langsung menggenjot dengan power maksimal..
“AAHHH… HHAAAA… HEEYY… SSAAKKK… KKIT”
“Tiba tiba aku jadi semangat non lihat pantat gedemu tadi mengebor penisku.. ah.. ah”
“Ttiiidd.. daakk… jjjangann… kkerrr… assshhh.. ahhgggg.. hemhggggg..”
‘PLOOKK.. PLOOK. PLOOOK.. PLOOK. PLOKKK’
“AKK.. UU HYAAAAHHH..”
“Dikk.. itt. lagi non.. huhh.. hahh. hhohgg”
‘Crott.. croott.. croott… crottt’
”Surrrr.. serrrr… serrrr… serrrr’
Entah apa yang terjadi dia malah semakin menggila.. belum sempat dia keluarkan penisnya dalam vaginaku.. Tanpa ampun dia melanjutkannya genjotannya.
Diiringkan tubuhku, paha kiriku diangkat dan di peluk..
Sampai kami berdua meraih puncak lagi..
Selanjutnya entah berapa kali aku orgasme aku sampai lupa, kita terus melanjutkannya dengan berbagai cara… mulai dari berdiri nungging di tembok.. duduk di kursi, di kamar mandi, sampai terakhir walaupun aku masih sadar namun aku sudah tidak berdaya sama sekali.
“Sss.. uddahh.. ssud.. dah… hahh akku ss. uddah ttidak kuat.. lagi.. kappan akk.. u akan men.. nemuimu lagi..”
“Horree.. baiklah aku janji ini yang terakhir untuk hari ini non…”
‘Jlebbbbbb.’
“Hhegggghhh…”
Aku terbangun dan diriku berselimut tapi masih dalam keadaan telanjang dikasur.. Jadi tadi aku pingsan?? Kulihat dia sudah tidak ada dikamar.. Aku bangkit tapi memekku terasa seperti terbakar untuk berjalan saja rasanya sakit. Kubereskan pakaianku dan pulang. Setiba dirumah aku langsung tidur karena kecapaian.
Mulai saat itu setiap seminggu sekali aku ketemuan di hotel yang sama di akhir pekan.. Kita tidak melakukan seks berlebihan seperti dua pertemuan sebelumnya. Namun kami lebih menikmatinya. Terkadang di pertengahan minggu, aku sudah tidak sabar ingin bercinta lagi meski masih beberapa hari sebelum akhir pekan.
Aku sempat terkejut untuk membuka topengku, Tapi jika kulakukan itu, apa yang akan terjadi dengan hubungan ini, apa dia akan sangat kecewa jika selama ini yang tidur dengannya adalah diriku.. ibu kandungnya sendiri?? Aku yakin keluargaku akan hancur.. Setelah berfikir keras aku memutuskan untuk benar benar berhenti melanjutkan hubungan ini..
Tanpa terasa air mataku mengalir..
Ayo kita akhiri ini wan.. Kau masih punya perjalanan hidup yang panjang, kau sudah banyak mendapat kesenangan dan kepuasan dari hubungan ini.. Ini kulakukan demi kebahagiaanmu sendiri.. Dihari pertemuan kami.. Setelah berhubungan satu ronde. kuputuskan untuk menyampaikan apa yang selama ini kupendam.
Sebelumnya aku telah diberi tahu namanya, tapi namaku kusamarkan. Aku mengaku sebagai tante Gita. Akupun berfikir mungkin dia masih polos jadi, tidak merahasiakan identitas aslinya. Aku berdiri dan melangkah menjauhi kasur.
“Hey. wan… Setelah kupikir pikir.. sebaiknya kita akhiri hubungan ini saja..”
“EHH?!! Apa maksudmu Tan!? Apa kau sudah mulai bosan denganku??”
“Bukan begitu… Malah sebaliknya. Aku semakin mencintaimu. aku khawatir apa yang akan terjadi jika hubungan ini terus berlanjut. Itulah kenapa kuputuskan ini, agar aku tidak bertemu denganmu lagi dan bisa melupakanmu..!!!”
”… Aku mengerti.. baiklah…”
Eh?? Dia dengan mudahnya berkata seperti itu?? Padahal aku sudah menyiapkan diriku sekuat mungkin. Tapi…
“Baiklah kalo begitu, Kita lanjutin aja dirumah ya buk?!! hehe”
Bagaikan tersambar petir aku benar benar kaget, Tidak mungkin… Jadi selama ini??..
Aku menoleh dan…
“Eh??? Se.. sejak kapan kau menyadarinya??”
“Sejak pertama kali buk.. saat aku masih makai penutup mata, Dari suaramu, lekuk tubuhmu saat pertama aku menyentuhnya, aku menyadari kalau itu adalah ibuk.. Kita kan keluarga, jadi walaupun mata ini tertutup aku bisa langsung tahu hehe..”
“Tapi.. walau kau tahu itu ibumu, kenapa kau tetap melakukannya?”
“Yaah.. sebenernya saat aku sadar.. hal itu malah membuatku semakin bernafsu.. he”
Mengapa… entah apa yang kurasa perasaan bersalah, sedih, senang, lega, bercampur jadi satu.. Hingga akupun menangis tersedu sedu.
“Ehh.. buk m.. maaf, aku tidak bermaksud membuatmu menangis..”
Dia berlari dan memelukku..
“Hikks.. hikss.. hikkss..””
“Aku minta maaf!!”
“Geeeezzz.. kau emang anak nakal..”
Kusadari penisnya mengeras terhimpit perutku.
“Aku ngaceng lagi buk.. hehe!”
“Gak papa.. Ibuk akan memeras semua isinya…”
Kami berciuman ganas.. sambil berdiri kulepas wig, topeng dan korset serta lingrei yang ku pakai sehinga kami bugil total. Cerita dewasa ini di upload oleh situs
‘Plokkk… plooookk.. ploookk.. ploook’
Kita ngentot sambil berdiri..
“Ahhh.. buk.. enak sekali.. ahh.. hah”
“Kontolmu keras banget.. hahh.. hahh.”
“Akhirnya aku bisa ngewe sambil lihat wajahmu buk.. hahmm.. huhh. I love you buk..”
“Hah… mm ahh.. I love you too.. hmmf”
Kami pindah kekasur dan melanjudkan pergumulan yang ganas.. Kini aku posisi diatas, sedang dia duduk sambil melumat bibirku..
“Hamm.. ff bukk.. hah…”
“Ummfhh.. ahh iya wann.. ah,”
“A.. ku mau keluar… hah..”
“Hahh.. iyah… iibuk.. jjuga..”
“Haahhh… hahh… mff hhggghhh..”
“Aaah… ahhh… hffvmmuf… akghh..”
‘Croot… croott… crooot..’
‘Seerrr… serrrrr… seeer…’
Kalian tahu apa yang terjadi pada kami???
Teman Nyokap yang Awet Muda
Tentu saja Marwan selalu meminta jatah padaku.. Pagi bangun tidur.. Sepulang dia sekolah.. setelah makan malam.. Dikamarku, dikamarnya.. diruang tamu, dikamar mandi, diteras.. Kita menumpahkan hari hari penuh nafsu..
Aku memang gagal menjadi sosok seorang ibu..
Semoga sampai akhir aku bisa membahagiakan anakku sebagai seorang istri..
TAMAT


