Bu Dokter Cantik Haus Sex
Cerita Dewasa · 18+
Dalam sebuah seminar sehari di hall Hotel Hilton International di Jakarta, tampak seorang wanita paruh baya berwajah manis sedang membacakan sebuah makalah tentang peranan wanita modern dalam kehidupan rumah tangga keluarga bekerja. Dengan tenang ia membaca makalah itu sambil sesekali membuat lelucon yang tak ayal membuat para peserta seminar itu tersenyum riuh. Permasalahan yang sedang dibahas dalam seminar itu menyangkut perihal mengatasi problem perselingkuhan para suami yang selama ini memang menjadi topik hangat baik di forum resmi ataupun tidak resmi. Beberapa peserta seminar yang terdiri dari wanita karir, ibu-ibu rumah tangga dan para pelajar wanita itu tampak serius mengikuti jalannya seminar yang diwarnai oleh perdebatan antara pakar sosiologi keluarga yang sengaja diundang untuk menjadi pembicara. Hadir juga beberapa orang wartawan yang meliput jalannya seminar sambil ikut sesekali mengajukan pertanyaan ke arah peserta dan pembicara. Suasana riuh saat wanita pembicara itu bercerita tentang seorang temannya yang bersuamikan seorang pria mata keranjang doyan main perempuan.
Diakhir sesi pertama saat para peserta mengambil waktu istirahat selama tiga puluh menit, tampak wanita pembicara itu keluar ruangan dengan langkah cepat seperti menahan sesuatu. Ia berjalan dengan cepat menuju toilet di samping hall tempat seminar. Namun saat melewati lorong menuju tempat itu ia tak sadar menabrak seseorang, akibatnya ia langsung terhenyak.
âOh, maaf, saya tidak melihat anda, maaf ya?â, seru wanita itu pada orang yang ditabraknya, namun orang itu seperti tak mengacuhkan.
âOkeâ, sahut pria muda berdasi itu lembut dan berlalu masuk ke dalam toilet pria.
Wanita itupun bergegas ke arah toilet wanita yang pintunya berdampingan dengan pintu toilet pria. Beberapa saat lamanya wanita itu di sana lalu tampak lelaki itu keluar dari toilet dan langsung menuju ke depan cermin besar dan mencuci tangannya. Kemudian wanita tadi muncul dan menuju ke tempat yang sama, keduanya sesaat saling melirik. âHaiâ, tegur pria itu kini mendahului.
âHalo, anda peserta seminar?â, tanya si wanita.
âOh, bukan. Saya bekerja di sini, maksud saya di hotel iniâ, jawab pria itu.
âOh, kalau begitu kebetulan, saya rasa setelah seminar ini saya akan kontak lagi dengan manajemen hotel ini untuk mengundang sejumlah pakar dari Amerika untuk seminar masalah kesehatan ibu dan anak. Ini kartu namakuâ, kata wanita itu sambil mengulurkan tangannya pada pria itu. Lelaki itu mengambil secarik kartu dari dompetnya dan menyerahkannya pada wanita itu.
âDokter Supriyati Pujiastuti, oh ternyata Ibu ini pakar ilmu kDidokteran ibu dan anak yang terkenal itu, maaf saya baru pertama kali melihat Ibu. Sebenarnya saya banyak membaca tulisan-tulisan Ibu yang kontroversial itu, saya sangat mengagumi Ibuâ, mendadak pria itu menjadi sangat hormat.
âAh kamu, jangan terlalu berlebihan memuji aku, dan kamu, hmm, Dido Prasetya, wakil General Manager Hilton International Jakarta. Kamu juga hebat, manajer mudaâ, seru wanita itu sambil menjabat tangan pemuda bernama Dido itu kemudian.
âKalau begitu saya akan kontak anda mengenai masalah akomodasi dan acara seminar yang akan datang, senang bertemu anda, Didoâ, seru wanita itu sambil kemudian berlalu.
âBaik, Bu dokterâ, jawab sahut pria itu dan membiarkan wanita paruh baya itu berlalu dari ruangan di mana mereka berbicara.
Sejenak kemudian pemuda itu masih tampak memandangi kartu nama dokter wanita itu, ia seperti sedang mengamati sesuatu yang aneh.
âBukankah dokter itu cantik sekali?â, ia berkata dalam hati.
âOh aku benar-benar tak tahu kalau ia dokter yang sering menjadi perhatian publik, begitu tampak cantik di mataku, meski sudah separuh baya, ia masih tampak cantikâ, benaknya berbicara sendiri.
âAh kenapa itu yang aku pikirkan?â, serunya kemudian sambil berlalu dari ruangan itu.
Sementara itu di sebuah rumah kawasan elit Menteng Jakarta pusat tampak sebuah mobil memasuki halaman luas rumah itu. Wanita paruh baya bernama dokter Supriyati itu turun dari sedan Mercy hitam dan langsung memasuki rumahnya. Wajah manis wanita paruh baya itu tampaknya menyimpan sebuah rasa kesal dalam hati. Sudah seminggu lamanya suami wanita itu belum pulang dari perjalanan bisnis keluar negeri. Sudah seminggu pula ia didera isu dari rekan sejawat suaminya tentang tingkah laku para pejabat dan pengusaha kalangan atas yang selalu memanfaatkan alasan perjalanan bisnis untuk mencari kepuasan seksual di luar rumah alias perselingkuhan.
Wanita itu menghempaskan badannya ke tempat tidur empuk dalam ruangan luas itu. Ditekannya remote TV dan melihat program berita malam yang sedang dibacakan penyiar. Namun tak berselang lama setelah itu dilihatnya di TV itu seorang lelaki botak yang tak lain adalah suaminya sedang berada dalam sebuah pertemuan resmi antar pengusaha di Singapura. Namun yang membuat hati wanita itu panas adalah saat melihat suaminya merangkul seorang delegasi dagang Singapura yang masih muda dan cantik. Sejenak ia memandang tajam ke arah televisi besar itu lalu dengan gemas ia membanting remote TV itu ke lantai setelah mematikan TV-nya.
âTernyata apa yang digosipkan orang tentang suamiku benar terjadi, huhâ, seru wanita itu dengan hati dongkol.
âBangsaat..!â, Teriaknya kemudian sambil meraih sebuah bantal guling dan menutupi mukanya.
Tak seorangpun mendengar teriakan itu karena rumah besar itu dilengkapi peredam suara pada dindingnya, sehingga empat orang pembantu di rumah itu sama sekali tidak mengetahui kalau sang nyonya mereka sedang marah dan kesal. Ia menangis sejadi-jadinya, bayang-bayang suaminya yang berkencan dengan wanita muda dan cantik itu terus menghantui pikirannya. Hatinya semakin panas sampai ia tak sanggup menahan air matanya yang kini menetes di pipi.
Tiga puluh menit ia menangis sejadi-jadinya, dipeluknya bantal guling itu dengan penuh rasa kesal sampai kemudian ia jatuh tertidur akibat kelelahan. Namun tak seberapa lama ia terkulai tiba-tiba ia terhenyak dan kembali menangis. Rupanya bayangan itu benar-benar merasuki pikirannya hingga dalam tidurnyapun ia masih membayangkan hal itu. Sejenak ia kemudian berdiri dan melangkah keluar kamar tidur itu menuju sebuah ruangan kecil di samping kamar tidurnya, ia menyalakan lampu dan langsung menuju tumpukan obat yang memenuhi sebagian ruangan yang mirip apotik keluarga. Disambarnya tas dokter yang ada di situ lalu membuka sebuah bungkusan pil penenang yang biasa diberikannya pada pasien yang panik. Ditelannya pil itu lalu meminum segelas air.
Beberapa saat kemudian ia menjadi tenang kemudian ia menuju ke ruangan kerjanya yang tampak begitu lengkap. Di sana ia membuka beberapa buku, namun bebarapa lamanya kemudian wanita itu kembali beranjak menuju kamar tidurnya. Wajahnya kini kembali cerah, seberkas senyuman terlihat dari bibirnya yang sensual. Ia duduk di depan meja rias dengan cermin besar, hatinya terus berbicara.
âMasa sih aku harus mengalah terus, kalau bangsat itu bisa berselingkuh kenapa aku tidakâ, benaknya sambil menatap dirinya sendiri di cermin itu. Satu-persatu di lepasnya kancing baju kerja yang sedari tadi belum dilepasnya itu, ia tersenyum melihat keindahan tubuhnya sendiri. Bagian atas tubuhnya yang dilapisi baju dalam putih berenda itu memang tampak sangat mempesona. Meski umurnya kini sudah mencapai empat puluh tahun, namun tubuh itu jelas akan membuat lelaki tergiur untuk menyentuhnya.
Kini ia mulai melepaskan baju dalam itu hingga bagian atas tubuhnya kini terbuka dan hanya dilapisi BH. Perlahan ia berdiri dan memutar seperti memamerkan tubuhnya yang bahenol itu. Buah dadanya yang besar dan tampak menantang itu diremasnya sendiri sambil mendongak membayangkan dirinya sedang bercinta dengan seorang lelaki. Kulitnya yang putih mulus dan bersih itu tampak tak kalah mempesonakan.
âKalau bangsat itu bisa mendapat wanita muda belia, kurasa tubuh dan wajahku lebih dari cukup untuk memikat lelaki mudaâ, gumamnya lagi.
âAkan kumulai sekarang juga, tapi..â, tiba-tiba pikirannya terhenti.
âSelama ini aku tak pernah mengenal dunia itu, siapakah yang akan kucari? hmm..â.
Tangannya meraih tas kerja di atas mejanyanya, dibongkarnya isi tas itu dan menemukan beberapa kartu nama, sejenak ia memperhatikannya.
âDokter Felix, lelaki ini doyan nyeleweng tapi apa aku bisa meraih kepuasan darinya? Lelaki itu lebih tua darikuâ, katanya dalam hati sambil menyisihkan kartu nama rekan dokternya itu.
âBasuki Hermawan, ah, pejabat pajak yang korup, aku jijik pada orang seperti iniâ, ia merobek kartu nama itu.
âOh ya, pemuda itu, yah, pemuda itu, siapakah namanya, Dodi?.., oh bukan. Doni?.., oh bukan juga, ah di mana sih aku taruh kartu namanya..â, ia sibuk mencari, sampai-sampai semua isi tak kerja itu dikeluarkannya namun belum juga ia temukan.
âBangsat! Aku lupa di mana menaruhnyaâ, sejenak ia berhenti mencari dan berpikir keras untuk mencoba mengingat di mana kartu nama pemuda gagah berumur dua puluh limaan itu. Ia begitu menyukai wajah pemuda yang tampak polos dan cerdas itu. Ia sudah terbayang betapa bahagianya jika pemuda itu mau diajak berselingkuh.
âAhaa! Ketemu juga kau!â, katanya setengah berteriak saat melihat kartu nama dengan logo Hilton International. Ia beranjak berdiri dan meraih hand phone, sejenak kemudian ia sudah tampak berbicara.
âHalo, dengan Dido, maaf Bapak Dido?â.
âYa benar, saya Dido tapi bukan Bapak Dido, anda siapaâ, terdengar suara ramah di seberang.
âAh maaf, Dido, saya Dokter Supriyati, kamu masih ingat? Kita ketemu di Rest Room hotel Hilton International tadi siangâ.
âOooh, Bu dokter, tentu dong saya ingat. Masa sih saya lupa sama Bu dokter idola saya yang cantikâ.
âEh kamu bisa saja, Doâ.
âGimana Bu, ada yang bisa saya bantu?â, tanya Dido beberapa saat setelah itu.
âAku ingin membicarakan tentang seminar minggu depan untuk mempersiapkan akomodasinya, untuk itu sepertinya kita perlu berbicaraâ.
âNo problem, Bu. Kapan ibu ada waktuâ.
âLho kok jadi nanya aku, ya kapan kamu luang aja dongâ.
âNggak apa-apa Bu, untuk orang seperti ibu saya selalu siap, gimana kalau besok kita makan siang bersamaâ.
âHmm, rasanya aku besok ada operasi di rumah sakit. Gimana kalau sekarang saja, kita makan malamâ.
âWah kebetulan Bu, saya memang lagi lapar. baiklah kalau begitu, saya jemput ibuâ.
âOohh nggak usah, biar ibu saja yang jemput kamu, kamu di mana?â.
âwah jadi ngerepotin dong, tapi oke-lah. Saya tunggu saja di Resto Hilton, okay?â.
âBaik kalau begitu dalam sepuluh menit saya datangâ, kata wanita itu mengakhiri percakapannya.
Lalu dengan tergesa-gesa ia mengganti pakaian yang dikenakannya dengan gaun terusan dengan belahan di tengah dada. Dengan gesit ia merias wajah dan tubuh yang masih tampak menawan itu hingga tak seberapa lama kemudian ia sudah tampak anggun.
âMbok..!â, ia berteriak memanggil pembantu.
âDalem, Nyaah!â, sahut seorang yang tiba-tiba muncul dari arah dapur.
âMalam ini ibu ndak makan di rumah, nanti kalau tuan nelpon bilang saja ibu ada operasi di rumah sakitâ.
âBaik, Nyah..â, sahut pembantunya mengangguk.
Sang dokter itupun berlalu meninggalkan rumahnya tanpa diantar oleh sopir.
Kini sang dokter telah tampak menyantap hidangan makan malam itu bersama pemuda tampan bernama Dido yang berumur jauh di bawahnya. Maksud wanita itu untuk mengencani Dido tidak dikatakannya langsung. Mereka mula-mula hanya membicarakan perihal kontrak kerja antara kantor sang dokter dan hotel tempat Dido bekerja. Namun hal itu tidak berlangsung lama, dua puluh menit kemudian mereka telah mengalihkan pembicaraan ke arah pribadi.
âMaaf lho, Do. Kamu sudah punya pacar?â, tanya sang dokter.
âDulu pernah punya tapiâ, Dido tak melanjutkan kalimatnya.
âTapi kenapa, Do?â, sergah wanita itu.
âDia kawin duluan, ah, Emang bukan nasib saya deh, dia kawin sama seorang om-om senang yang cuma menyenangi tubuhnya. Namanya Rani..â.
âMaaf kalau ibu sampai membuat kamu ingat sama masa laluâ.
âNggak apa-apa kok, Bu. Toh saya sudah lupa sama dia, buat apa cari pacar atau istri yang mata duitanâ.
âSukurlah kalau begitu, trus sekarang gimana perasaan kamuâ.
âMaksud ibu?â.
âPerasaan kamu yang dikhianati, apa kamu masih dendam?â, tanya sang dokter seperti merasa ingin tahu.
âSama si Rani sih nggak marah lagi, tapi sampai sekarang saya masih dendam kesumat sama om-om atau pejabat pemerintah yang seperti ituâ, jelas Dido pada wanita itu sembari menatapnya.
Sejenak keduanya bertemu pandang, Dido merasakan sebuah perasaan aneh mendesir dadanya. Hanya beberapa detik saja keduanya saling memandang sampai Dido tersadar siapa yang sedang dihadapinya.
âAh, ma.., ma.., maaf, Bu. Bicara saya jadi ngawurâ, kata pemuda itu terpatah-patah.âOh nggak, nggak apa-apa kok, Do. Aku juga punya problem yang serupa dengan kamuâ, jawab wanita itu sambil kemudian mulai menceritakan masalah pribadi dalam keluarganya. Ia yang kini sudah memiliki dua anak yang bersekolah di Amerika itu sedang mengalami masalah yang cukup berat dalam rumah tangganya. Dengan penuh emosi ia menceritakan masalahnya dengan suaminya yang seorang pejabat pemerintah sekaligus pengusaha terkenal itu.
âBerkali-kali aku mendengar cerita tentang kebejatan moralnya, ia pernah menghamili sekertarisnya di kantor, lalu wanita itu ia pecat begitu saja dan membayar seorang satpam untuk mengawini gadis itu guna menutupi aibnya. Dasar lelaki bangsatâ, ceritanya pada Dido.
âSekarang dia sudah berhubungan lagi dengan seorang wanita pengusaha di luar negeri. Baru tadi aku melihatnya bersama dalam sebuah berita di TVâ, lanjut wanita itu dengan raut muka yang sedih.
âSabar, Bu. Mungkin suatu saat dia akan sadar. Masa sih dia nggak sadar kalau memiliki istri secantik ibuâ, ujar Dido mencoba menghiburnya.
âAku sudah bosan bersabar terus, hatiku hancur, Do. Kamu sudah tahu kan gimana rasanya dikhianati? Dibohongi?â, sengitnya sambil menatap pemuda itu dengan tatapan aneh. Wanita itu seperti ingin mengatakan sesuatu pada Dido.
Beberapa menit keadaan menjadi vacum. Mereka saling menatap penuh misteri. Dada Dido mendesir mendapat tatapan seperti itu, pikirannya bertanya-tanya.
âAda apa ini?â, gumamnya dalam hati. Namun belum sempat ia menerka apa arti tatapan itu, tangannya tiba-tiba merasakan sesuatu yang lembut menyentuh, ia terhenyak dalam hati. Desiran dadanya kini berubah menjadi getaran keras di jantungnya. Namun belum sempat ia bereaksi atas semua itu tangan sang dokter itu telah meremas telapak tangan Dido dengan mesra. Kini ia menatap wanita itu, dokter Supriyati memberinya senyuman, masih misteri.
âDido., kamu dan aku memiliki masalah yang saling berkaitanâ, katanya perlahan.
âMa, maksud ibu?â, Dido tergagap.
âKehidupan cinta kamu dirusakkan oleh generasi seumurku, dan rumah tanggaku rusak oleh kehidupan bejat suamiku. Kita sama-sama memiliki beban ingatan yang menyakitkan dengan musuh yang samaâ.
âlalu?â.
âKenapa tak kamu lampiaskan dendam itu padaku?â.
âMaksud ibu?â, Dido semakin tak mengerti.
âAku dendam pada suamiku dan kaum mereka, dan kau punya dendam pada para pejabat yang telah mengecewakanmu. Kini kau menemukan aku, lampiaskan itu. Kalau mereka bisa menggauli generasimu mengapa kamu nggak menggauli kaum mereka? Aku istri pejabat, dan aku juga dikecewakan oleh merekaâ.
âSaya masih belum mengerti, Buâ.
âMaksudku, hmm, kenapa kita tidak menjalin hubungan yang lebih dekat lagiâ, jelas wanita itu.
Dido semakin penasaran, ia memberanikan dirinya bertanya, âMaksud ibu, mm, ki, ki, kita berselingkuh?â, ia berkata sambil memberanikan dirinya menatap wanita paruh baya itu.
âYah, kita menjalin hubungan cintaâ, jawab dokter Supriyati enteng.
âTapi ibu wanita bersuami, ibu punya keluargaâ.
âYa, tapi sudah hancur, tak ada harapan lagi. Kalau suamiku bisa mencicipi gadis muda, kenapa aku tidak bisa?â, lanjutnya semakin berani, ia bahkan merangkul pundak pemuda itu. Dido hanya terpaku.
âTa, tapi, Buâ.
âSeumur perkawinanku, aku hanya merasakan derita, Do. Aku ingin kejantanan sejati dari seorang pria. Dan pria itu adalah kamu, Doâ, lalu ia beranjak dari tempat duduknya mendekati Dido. Dengan mesra diberinya pemuda itu sebuah kecupan. Dido masih tak bereaksi, ia seperti tak mempercayai kejadian itu.
âApakah saya mimpi?â, katanya konyol.
âTidak, Do. Kamu nggak mimpi, ini aku, Dokter Supriyati yang kamu kagumiâ.
âTapi, Bu.., ibu sudah bersuamiâ.
âTolong jangan katakan itu lagi Didoâ.
Kemudian keduanya terpaku lama, sesekali saling menatap. Pikiran Dido berkecamuk keras, ia tak tahu harus berkata apa lagi. Sebenarnya ia begitu gembira, tak pernah ia bermimpi apapun. Namun ia masih merasa ragu.
âApakah segampang ini?â, gumamnya dalam hati.
âCantik sekali dokter ini, biarpun umurnya jauh lebih tua dariku tapi oh tubuh dan wajahnya begitu menggiurkan, sudah lama aku memimpikan bercinta dengan wanita istri pejabat seperti dia. Tapiâ, hatinya bertanya-tanya. Sementara suasana vacum itu berlangsung begitu lama. Kini mereka duduk dalam posisi saling bersentuhan. Baru sekitar tiga puluh menit kemudian dokter Supriyati tiba-tiba berdiri.
âDo, saya ingin ngobrol lebih banyak lagi, tapi nggak di sini, kamu temui saya di Hotel Hyatt. Saya akan memesan kamar di situ. Selamat malamâ, serunya kemudian berlalu meninggalkan Dido yang masih terpaku.
Pemuda itu masih terlihat melamun sampai seorang pelayan restoran datang menyapanya.
âPak Dido, bapak mau pesan lagi?â.
âEh, oh nggak, nggak, aduh saya kok ngelamunâ, jawabnya tergagap mengetahui dirinya hanya terduduk sendiri.
âTeman Bapak sudah tiga puluh menit yang lalu pergi dari siniâ, kata pelayan itu.
âOh ya?â, sahut Dido seperti orang bodoh. Pelayan itu mengangkat bahunya sambil berlalu.
âEh, billnya!â, panggil Dido.
âSudah dibayar oleh teman Bapakâ, jawab pelayan itu singkat.
Kini Dido semakin bingung, ia masih merasakan getaran di dadanya. Antara percaya dan tidak. Ia kemudian melangkah ke lift dan turun ke tempat parkir. Hanya satu kalimat dokter Supriyati yang kini masih terngiang di telinganya. Hotel Grand Hyatt!
Dengan tergesa-gesa ia menuju ke arah mobilnya. Perjalanan ke hotel yang dimaksud wanita itu tak terasa olehnya, kini ia sudah sampai di depan pintu kamar yang ditanyakannya pada receptionis. Dengan gemetar ia menekan bel di pintu kamar itu, pikirannya masih berkecamuk bingung.
âMasuk, Doâ, sambut dokter Supriyati membuka pintu kamarnya. Dido masuk dan langsung menatap dokter Supriyati yang kini telah mengenakan gaun tidur sutra yang tipis dan transparan. Ia masih tampak terpaku.
âDo, ini memang hari pertemuan kita yang pertama tapi apakah salahnya kalau kita sama-sama saling membutuhkanâ, kata dokter Supriyati membuka pembicaraan.
âCobalah realistis, Do. Kamu juga menginginkan ini kan?â, lanjut wanita itu kemudian mendudukkan Dido di pinggir tempat tidur luas itu.
Dido masih tampak bingung sampai sang dokter memberinya kecupan di bibirnya, ia merasakan seperti ada dorongan untuk membalasnya.
âOh, Buâ, desahnya sambil kemudian merangkul tubuh bongsor dokter Supriyati. Dadanya masih bergetar saat merasakan kemesraan wanita itu. Dokter Supriyati kemudian memegang pundaknya dan melucuti pakaian pemuda itu. Dengan perlahan Dido juga memberanikan diri melepas ikatan tali gaun tidur sutra yang dikenakan sang dokter. Begitu tampak buah dada dokter Supriyati yang besar dan ranum itu, Dido terhenyak.
âOh, indahnya susu wanita iniâ, gumamnya dalam hati sambil lalu meraba payudara besar yang masih dilapisi BH itu. Tangan kirinya berusaha melepaskan kancing BH di punggung dokter Supriyati. Ia semakin terbelalak saat melihat bentuk buah dada yang kini telah tak berlapis lagi. Tanpa menunggu lagi nafsu pemuda itu bangkit dan ia segera meraih buah dada itu dan langsung mengecupnya. Dirasakannya kelembutan susu wanita cantik paruh baya itu dengan penuh perasaan, ia kini mulai menyDidot puting susu itu bergiliran.
âOoohh, Dido, nikmat sayang., mm sDidot terus sayang ooohh, ibu sayang kamu, Do, ooohhâ, desah dokter Supriyati yang kini mendongak merasakan sentuhan lidah dan mulut Dido yang menggilir kedua puting susunya. Tangan wanita itupun mulai meraih batang kemaluan Dido yang sudah tegang sedari tadi, ia terhenyak merasakan besar dan panjangnya penis pemuda itu.
âOhh, besarnya punya kamu, Do. Tangan ibu sampai nggak cukup menggenggamnyaâ, seru dokter Supriyati kegirangan. Ia kemudian mengocok-ngocokkan penis itu dengan tangannya sambil menikmati belaian lidah Dido di sekitar payudara dan lehernya.
Kemaluan Dido yang besar dan panjang itu kini tegak berdiri bagai roket yang siap meluncur ke angkasa. Pemuda yang sebelumnya belum pernah melakukan hubungan seks itu semakin terhenyak mendapat sentuhan lembut pada penisnya yang kini tegang. Ia asyik sekali mengecupi sekujur tubuh wanita itu, Dido merasakan sesuatu yang sangat ia dambakan selama ini. Ia tak pernah membayangkan akan dapat menikmati hubungan seks dengan wanita yang sangat ia kagumi ini, ia yang sebelumnya bahkan hanya menonton film biru itu kini mempraktekkan semua yang ia lihat di dalamnya. Hatinya begitu gembira, sentuhan-sentuhan lembut dari tangan halus dokter Supriyati membuatnya semakin terlena.
Dengan mesra sekali wanita itu menuntun Dido untuk menikmati sekujur tubuhnya yang putih mulus itu. Dituntunnya tangan pemuda itu untuk membelai lembut buah dadanya, lalu bergerak ke bawah menuju perutnya dan berakhir di permukaan kemaluan wanita itu. Dido merasakan sesuatu yang lembut dan berbulu halus dengan belahan di tengahnya. Pemuda itu membelainya lembut sampai kemudian ia merasakan cairan licin membasahi permukaan kemaluan dokter Supriyati. Ia menghentikan gerakannya sejenak, lalu dengan perlahan sang dokter membaringkan tubuhnya dan membuka pahanya lebar hingga daerah kemaluan yang basah itu terlihat seperti menantang Dido. Pemuda itu terbelalak sejenak sebelum kemudian bergerak menciumi daerah itu, jari tangan dokter Supriyati kemudian menarik bibir kemaluannya menjadi semakin terbuka hingga menampakkan semua isi dalam dinding vaginanya. Dido semakin terangsang, dijilatinya semua yang dilihat di situ, sebuah benda sebesar biji kacang di antara dinding vagina itu ia sDidot masuk ke dalam mulutnya. Hal itu membuat dokter Supriyati menarik nafas panjang merasakan nikmat yang begitu hebat.
âOhh, hmm, Dido, sayang, ooohhâ, desahnya mengiringi bunyi ciplakan bibir Dido yang bermain di permukaan vaginanya.
Dengan gemas Dido menjilati kemaluan itu, sementara dokter Supriyati hanya bisa menjerit kecil menahan nikmat belaian lidah Dido. Ia hanya bisa meremas-remas sendiri payudaranya yang besar itu sambil sesekali menarik kecil rambut Dido.
âAduuuh sayang, ooohh nikmaat, sayang, oooh Dido, ooohh pintarnya kamu sayang, ooohh nikmatnya, ooohh sDidooot teruuusss, ooohh enaakkk, hmm, ooohhâ, jeritnya terpatah-patah.
Puas menikmati vagina itu, Dido kembali ke atas mengarahkan bibirnya kembali ke puting susu dokter Supriyati. Sang dokterpun pasrah saja, ia membiarkan dirinya menikmati permainan Dido yang semakin buas saja. Daerah sekitar puting susunya tampak sudah kemerahan akibat sDidotan mulut Dido.
âooohh, Dido sayang. Berikan penis kamu sama ibu sayang, ibu ingin mencicipinyaâ, pinta wanita itu sambil beranjak bangun dan menggenggam kemaluan Dido. Tangannya tampak bahkan tak cukup untuk menggenggamnya, ukurannya yang super besar dan panjang membuat dokter Supriyati seperti tak percaya pada apa yang dilihatnya. Wanita itu mulai mengulum penis Dido, mulutnya penuh sesak oleh kepala penis yang besar itu, hanya sebagian kecil saja kemaluan Dido yang bisa masuk ke mulutnya sementara sisanya ia kocok-kocokkan dengan telapak tangan yang ia lumuri air liurnya. Dido kini menikmati permainan itu.
âAuuuhh, Bu, ooohh, enaakk aahh Bu dokter, oooh nikmat sekali, mm, oooh enaknya, ooohh, ssstt, aahhâ, desah pemuda itu mulai menikmatinya.
Sesaat kemudian, Dokter Supriyati melepaskan kemaluan yang besar itu lalu membaringkan dirinya kembali di pinggiran tempat tidur. Dido meraih kedua kaki wanita itu dan langsung menempatkan dirinya tepat di depan selangkangan dokter Supriyati yang terbuka lebar. Dengan sangat perlahan Dido mengarahkan kemaluannya menuju liang vagina yang menganga itu dan, âSreett.., bleeesssâ.
âAduuuhh, aauuu Didooo, sa.., sa.., sakiiittt, vaginaku robeeek aahh, sakiiitâ, teriak dokter Supriyati merasakan vaginanya yang ternyata terlalu kecil untuk penis Dido yang super besar, ia merasakan vaginanya robek oleh terobosan penis Dido. Lebih dahsyat dari saat ia mengalami malam pertamanya.
âDido sayang, punya kamu besar sekali. Vaginaku rasanya robek do, main yang pelan aja ya, sayang?â, pintanya lalu pada Dido.
âOuuuhh, ba.., ba.., baik, Buâ, jawab Dido yang tampak sudah merasa begitu nikmat dengan masuknya penis ke dalam vagina dokter Supriyati.
Kini dibelainya rambut sang dokter sambil menciumi pipinya yang halus dengan mesra. Pemuda itu mulai menggerakkan penisnya keluar masuk vagina dokter Supriyati dengan perlahan sekali sampai beberapa menit kemudian rasa sakit yang ada dalam vagina wanita itu berubah menjadi nikmat, barulah Dido mulai bergerak menggenjot tubuh wanita itu dengan agak cepat. Gerakan tubuh mereka saling membentur mempertemukan kedua kemaluan mereka. Nafsu birahi mereka tampak begitu membara dari gerakan yang semakin lama semakin menggairahkan, teriakan kecil kini telah berubah menjadi desah keras menahan nikmatnya hubungan seks itu.
Keduanya tampak semakin bersemangat, saling menindih bergilir menggenjot untuk meraih tahap demi tahap kenikmatan seks itu. Dido yang baru pertama kali merasakan nikmatnya hubungan seks itu benar-benar menikmati keluar masuknya penis besar itu ke dalam liang vagina sang dokter yang semakin lama menjadi semakin licin akibat cairan kelamin yang muali melumasi dindingnya. Demikian pula halnya dengan dokter Supriyati. Ia begitu tampak kian menikmati goyangan tubuh mereka, ukuran penis Dido yang super besar dan terasa merobek liang vaginanya itu kini menjadi sangat nikmat menggesek di dalamnya. Ia berteriak sejadi-jadinya, namun bukan lagi karena merasa sakit tapi untuk mengimbangi dahsyatnya kenikmatan dari penis pemuda itu. Tak pernah ia bayangkan akan dapat menemukan penis sebesar dan sepanjang milik Dido, penis suaminya yang bahkan ia tahu sering meminum obat untuk pembesar alat kelamin tak dapat dibandingkan dengan ukuran penis Dido. Baru pertama kali ini ia melihat ada kemaluan sebesar itu, panjang dan keras sekali.
Bunyi teriakan nyaring bercampur decakan becek dari kedua alat kelamin mereka memenuhi ruangan luas di kamar suite hotel itu. Desahan mereka menahan kenikmatan itu semakin memacu gerakan mereka menjadi kian liar.
âOoohh, ooohh, ooohh, enaak, oooh, enaknya bu, ooohh nikmat sekali ooohhâ, desah Dido.
âmm, aahh, goyang terus, Do, ibu suka sama punya kamu, ooohh, enaknya, sayang ooohh, ibu sayang kamu Dido, ooohhâ, balas dokter Supriyati sambil terus mengimbangi genjotan tubuh pemuda itu dengan menggoyang pinggulnya.
Lima belas menit lebih mereka melakukannya dengan posisi itu dimana Dido menindih tubuh sang dokter yang mengapit dengan pahanya. Kini saatnya mereka ingin mengganti gaya.
âOuuuhh Dido sayang, ganti gaya yuuuk?â, ajak sang dokter sambil menghentikan gerakannya.
âBaik, Buâ, jawab pemuda itu mengiyakan.
âKamu di bawah ya sayang? Ibu pingin goyang di atas tubuh kamuâ, katanya sambil menghentikan gerakan tubuh Dido, pemuda itu mengangguk sambil perlahan melepaskan penisnya dari jepitan vagina dokter Supriyati. Kemudian ia duduk sejenak mengambil nafas sambil memandangi tubuh wanita itu.
âuuuh, cantiknya wanita iniâ, ia bergumam dalam hati lalu berbaring menunggu dokter Supriyati yang sudah siap menungganginya.
Kini wanita itu berjongkok tepat di atas pinggang Dido, ia sejenak menggenggam kemaluan pemuda itu sebelum kemudian memasukkannya kembali ke dalam liang vaginanya dengan perlahan dan santai. Kembali ia mendesah merasakan penis itu masuk menembus dinding kemaluannya dan menerobos masuk sampai dasar liang vagina yang terasa sempit oleh Dido.
âOoouuuhhâ, desahnya memulai gerakan menurun-naikkan pinggangnya di atas tubuh pemuda itu.
Dido meraih payudara montok yang bergantungan di dada sang dokter, sesekali ia meraih puting susu itu dengan mulutnya dan menyDidot-nyDidot nikmat.
Keduanya kembali terlibat adegan yang lebih seru lagi, dengan liar dokter Supriyati menggoyang tubuh sesuka hati, ia tampak seperti kuda betina yang benar-benar haus seks. Ia yang baru kali ini menikmati hubungan seks dengan lelaki selain suaminya itu benar-benar tampak bergairah, ditambah dengan ukuran kemaluan Dido yang super besar dan panjang membuatnya menjadi begitu senang. Dengan sepenuh hati ia raih kenikmatan itu detik demi detik. Tak semili meterpun ia lewatkan kenikmatan penis Dido yang menggesek dinding dalam kemaluannya. Ia semakin berteriak sejadi-jadinya.
âAahh, ooohh, aahh, ooohh, ooohh, enaak, ooohh, nikmaatt, sekali, Dido sayaanngg, ooohh Dido, Do, enaak sayang ooohhâ, teriaknya tak karuan dengan gerakan liar di atas tubuh pemuda itu sembari menyebut nama Dido. Ia begitu menyukai pemuda itu.
âOoohh Bu dokter, ooohh, ibu juga pintar mainnya, ooohh, Bu dokter cantik sekaliâ, balas Dido.
âRemas susu ibu, Do. ooohh, sDidot putingnya sayang, ooohh pintarnya kamu, oooh, ibu senang sama punya kamu, ooohh, nikmatnya sayang, ooohh, panjang sekali, ooohh, enaakâ, lanjut sang dokter dengan gerakan yang semakin liar. Dido mengimbangi gerakan itu dengan mengangkat-angkat pantatnya ke arah pangkal paha dokter Supriyati yang mengapitnya itu. Ia terus menghujani daerah dada sang dokter yang tampak begitu disenanginya, puting susu itupun menjadi kemerahan akibat sDidotan mulut Dido yang bertubi-tubi.
Namun beberapa saat kemudian sang dokter tampak tak dapat lagi menahan rasa nikmat dari penis pemuda itu. Ia yang selama dua puluh menit menikmati permainan itu dengan garang, kini mengalami ejakulasi yang begitu hebat. Gerakannya berubah semakin cepat dan liar, diremasnya sendiri buah dada montoknya sambil lebih keras lagi menghempaskan pangkal selangkangannya pada penis Dido hingga sekitar dua menit berlalu ia berteriak panjang sebelum kemudian menghentikan gerakannya dan memeluk tubuh pemuda itu.
âOoohh, ooohh, aauu, aku keluarr, Dido, aahh, aah, aku, nggak kuat lagi aku, Do, ooohh, enaaknya, sayang, ooohh, Dido sayang, hhuuuh, ibu nggak tahan lagiâ, jeritnya panjang sambil memeluk erat tubuh Dido, cairan kelamin dalam rahimnya muncrat memenuhi liang vagina di mana penis Dido masih tegang dan keras.
âOoohh nikmat bu, ooohh punya ibu tambah licin dan nikmat, ooohh, nikmat Bu dokter, ooohh, semakin nikmat sekali Bu dokter, ooohh, enaak, mm, ooohh, uuuhh, ooohh, ooohh, nikmat sekali, uuuhh, Bu dokter cantik, aauuuhh, ssshh nikmat buâ, desah Dido merasakan kenikmatan dalam liang vagina sang dokter yang tengah mengalami ejakulasi, vagina itu terasa makin menjepit penisnya yang terus saja menggesek dinding vagina itu. Kepala penisnya yang berada jauh di dalam liang vagina wanita itu merasakan cairan hangat menyembur dan membuat liang vagina sang dokter terasa semakin nikmat dan licin.
Pemuda itu membalas pelukan dokter Supriyati yang tampak sudah tak sanggup lagi menggoyang tubuhnya di atas tubuh Dido. Sejenak gerakan mereka terhenti meski Dido sedikit kecewa karena saat itu ia rasakan vagina sang dokter sangat nikmat. Ia berusaha menahan birahinya yang masih saja membara dengan memberi ciuman mesra pada wanita cantik itu.
âOh Dido sayang, kamu kuat sekali mainnya sayang, aku puas sekali, ibu betul-betul merasa seperti berada di tempat yang paling indah dengan sejuta kenikmatan cinta. Kamu betul-betul jagoâ, katanya pada Dido sambil memandang wajah pemuda itu tepat di depan matanya, dipeluknya erat pinggang Dido untuk menahan goyangan penis di selangkangannya.
Sejenak Dokter Supriyati beristirahat di pelukan pemuda itu, ia terus memuji kekuatan dan kejantanan Dido yang sebelumnya belum pernah ia dapatkan sekalipun dari suaminya. Matanya melirik ke arah jam dinding di kamar itu.
âDido..â, sapanya memecah keheningan sesaat itu.
âYa, bu?â, jawab Dido sambil terus memberi kecupan pada pipi dan muka sang dokter yang begitu ia senangi.
âSudah satu jam lamanya kita bermain, kamu hebat sekali, Doâ, lanjutnya terheran-heran.
âSaya baru sekali ini melakukannya, Buâ, jawab Dido.
âAh masa sih, bohong kamu, Doâ, sergah dokter Supriyati sambil membalas ciuman Dido di bibirnya.
âBenar kok, Bu. Sumpah saya baru kali ini yang pertama kalinyaâ, Dido bersikeras.
âTapi kamu mainnya kok hebat banget? Dari mana kamu tahu gaya-gaya yang tadi kita lakukanâ, lanjut sang dokter tak percaya.
âSaya hanya menonton film, Buâ, jawab pemuda itu.
Beberapa menit mereka ngobrol diselingi canda dan cumbuan mesra yang membuat birahi sang dokter bangkit untuk mengulangi permainannya. Dirasakannya dinding vagina yang tadinya merasa geli saat mengalami ejakulasi itu mulai terangsang lagi. Didopun merasakan gejala itu dari denyutan vagina sang dokter. Dido melepaskan pelukannya, lalu menempatkan diri tepat di belakang punggung sang dokter, tangannya nenuntun penis besar itu ke arah permukaan lubang kemaluan dokter Supriyati yang hanya pasrah membiarkannya mengatur gaya sesuka hati. Pemuda itu kini berada tepat di belakang menempel di punggung sang dokter, lalu perlahan sekali ia memasukkan penis besarnya ke dalam liang sang dokter dari arah belakang pantatnya.
âOoohh, pintarnya kamu Dido, oooh ibu suka gaya ini, mm, goyang teruuuss, aahh, nikmat do, ooohh, sampai pangkalnya terusss, ooohh, enaak..tarik lagi sayang ooohh, masukin lagii ooohh, sampai pangkal nya Dido, ooohh, sayang nikmat sekali, ooohh, oohh Dido, ooohh, mm, Dido, sayangâ, desah sang dokter begitu merasakannya, atas bawah tubuhnya merasakan kenikmatan itu dengan sangat sempurna. Tangan Dido meremas susunya sementara penis pemuda itu tampak jelas keluar masuk liang vaginanya. Keduanya kembali terlihat bergoyang mesra meraih detik demi detik kenikmatan dari setiap gerakan yang mereka lakukan. Demikian juga dengan Dido yang menggoyang dari arah belakang itu, ia terus meremas payudara montok sang dokter sambil memandang wajah cantik yang membuatnya semakin bergairah. Kecantikan Dokter Supriyati yang sangat menawan itu benar-benar membuat gairah bercinta Dido semakin membara. Dengan sepenuh hati digoyangnya tubuh bahenol dan putih mulus itu sampai-sampai suara decakan pertemuan antara pangkal pahanya dan pantat besar sang dokter terdengar keras mengiringi desahan mulut mereka yang terus mengoceh tak karuan menikmati hebatnya rasa dari permainan itu.
Sekitar dua puluh menit berlalu tampak kedua insan itu sudah tak dapat menahan lagi rasa nikmat dari permainan mereka hingga kini keduanya semakin berteriak keras sejadi-jadinya. Tampaknya mereka ingin segera menyelesaikan permainannya secara bersamaan.
âHuuuh, ooohh, ooohh, aahh, ooohh, nikmat sekali Do, goyang lagi sayang, ooohh, ibu mau keluar sebentar lagi sayang, ooohh, goyang yang keras lagi sayang, ooohh, enaknya penis kamu, ooohh, ibu nggak kuat lagi ooohâ, jerit dokter Supriyati.
âUuuhh, aahh, ooohh, mm, aah, saya juga mau keluar Bu, ooohh, dokter Supriyati sayaang, ooohh, mm, enaakk sekali, ooohh, ooohh, dokter sayang, ooohh, dokter cantik, ooohh, enaakk, dokter dokter sayang, ooohh, vagina dokter juga nikmat sekali, ooohâ, teriak Dido juga.
âOoohh enaknya sayang, ooohh, pintar kamu sanyang, ooohh, kocok terus, oooh, genjot yang keraass, ooohhâ.
âOoohh dokter, susunya, ooohh, saya mau sDidot, ooohhâ, Dido meraih susu sang dokter lalu menyDidotnya dari arah samping.
âOooh Dido pintarnya kamu sayang, ooohh, nikmatnya, ooohh, ibu sebentar lagi keluar sayang, ooohh, keluarin samaan yah, ooohhâ, ajak sang dokter.
âSaya juga mau keluar Bu, yah kita samaan Bu dokter, ooohh, vagina ibu nikmat sekali, ooohh, mm, enaknya, ooohhâ, teriak Dido sambil mempercepat lagi gerakannya.
Namun beberapa saat kemudian dokter Supriyati berteriak panjang mengakhiri permainannya.
âAauuuwww, ooohh, Didooo, ibu nggak tahan lagiii, keluaar, aauhh nikmatnya sayang, ooohhâ, jeritnya panjang sambil membiarkan cairan kelaminnya kembali menyembur ke arah penis Dido yang masih menggenjot dalam liang kemaluannya. Dido merasakan gejala itu lalu berusaha sekuat tenaga untuk membuat dirinya keluar juga, beberapa saat ia merasakan vagina sang dokter menjepit kemaluannya keras diiringi semburan cairan mani yang deras ke arah penisnya. Dan beberapa saat kemudian ia akhirnya berteriak panjang meraih klimaks permainan.
âOoohh, aahh, oooww,aahh, dokter, Supriyati, sayyaang, oooh, enaak sekalii, ooohh saya juga keluaarr, ooohhâ, jeritnya panjang sesaat setelah sang dokter mengakhiri teriakannya.
âDido sayang, ooohh, jangan di dalam sayang, ooohh, ibu nggak pakai alat kontrasepsi, ooohh, sini keluarin di luar Dido, sayang berikan pada ibu, oooh, enaknya, cabut sayang. Semprotkan ke Ibu, ooohhâ, pintanya sembari merasakan nikmatnya denyutan penis Dido. Ia baru sadar dirinya tak memakai alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. Didorongnya tubuh Dido sambil meraih batang penis yang sedang meraih puncak kenikmatan itu.
Kemudian pemuda itu mencabut penisnya dengan tergesa-gesa dari liang kemaluan sang dokter dan, âCropp bresss, crooottt.., crooott.., creeessâ, cairan kelamin Dido menyembur ke arah wajah sang dokter. Dido berdiri mengangkang di atas tubuhnya dan menyemburkan air maninya yang sangat deras dan banyak ke arah badan dan muka sang dokter. Sebagian cairan itu bahkan masuk ke mulut sang dokter.
âOhh, sayang,terus ooohh, berikan pada ibu, ooohh, hmm, nyam, enaknya, ooohh, semprotkan pada ibu, ooohh, ibu ingin meminumnya Dido, ooohh, enaakkknya sayang, oooh, lezat sekaliâ, jerit wanita itu kegirangan sambil menelan habis cairan mani pemuda itu ke dalam mulutnya, bahkan belum puas dengan itu ia kembali meraih batang penis Dido dan menyDidot keras batang kemaluannya dan menelan habis sisa-sisa cairan itu hingga Dido merasakan semua cairannya habis.
âOoohh Bu dokter, ooohh dokter, saya puas sekali buâ, kata Dido sembari merangkul tubuh sang dokter dan kembali berbaring di tempat tidur.
âKamu kuat sekali Dido, sanggup membuat ibu keluar sampai dua kali, kamu benar-benar hebat dan pintar mainnya, ibu suka sekali sama kamu. Nggak pernah sebelumnya ibu merasakan kenikmatan seperti ini dengan suami ibu. Dia bahkan tak ada apa-apanya dibanding kamuâ, seru sang dokter pada Dido sambil mencium dada pemuda itu.
âSaya juga benar-benar puas sekali, Bu. Ibu memberikan kenikmatan yang nggak pernah saya rasakan sebelumnya. Sekarang saya tahu bagaimana nikmatnya bercintaâ, jawab Dido sekenanya sambil membalas ciuman dokter Supriyati. Tangannya membelai halus permukaan buah dada sang dokter dan memilin-milin putingnya yang lembut.
âTapi apakah ibu tidak merasa berdosa pada suami Ibu, kita sedang berselingkuh dan ibu punya keluargaâ, sergah Dido sambil menatap wajah manis dokter Supriyati.
âApakah aku harus setia sampai mati sementara dia sekarang mungkin sedang asyik menikmati tubuh wanita-wanita lain?â.
âBenarkah?â.
âAku pernah melihatnya sendiri, Do. Waktu itu kami sedang berlibur di Singapura bersama kedua anakkuâ, lanjut sang dokter memulai ceritanya pada Dido.
Dido hanya terdiam mendengar cerita dokter Supriyati. Ia menceritakan bagaimana suaminya memperkosa seorang pelayan hotel tempat mereka menginap waktu ia dan anak-anaknya sedang berenang di kolam hotel itu. Betapa terkejutnya ia saat menemukan sang pelayan keluar dari kamarnya sambil menangis histeris dan terisak menceritakan semuanya pada manajer hotel itu dan dirinya sendiri.
âKamu bisa bayangkan, Do. Betapa malunya ibu, sudah bertahan-tahun kami hidup bersama, dengan dua orang anak, masih saja dia berbuat seperti itu, dasar lelaki kurang ajar, bangsat dia ituâ, ceritanya pada Dido dengan muka sedih.
âMaaf kalau saya mengungkap sisi buruk kehidupan ibu dan membuat ibu bersedihâ.
âTak apa, Do. Ini kenyataan kokâ.
Dilihatnya sang dokter meneteskan air mata, âSaya tidak bermaksud menyinggung ibu, oh..â, Dido berusaha menenangkan perasaannya, ia memeluk tubuh sang dokter dan memberinya beberapa belaian mesra. Tak disangkanya dibalik kecantikan wajah dan ketenaran sang dokter ternyata wanita itu memiliki masalah keluarga yang begitu rumit.
âTapi saya yakin dengan tubuh dan wajah ibu yang cantik ini ibu bisa dapatkan semua yang ibu inginkan, apalagi dengan permaian ibu yang begitu nikmat seperti yang baru saja saya rasakan, buâ, Kata Dido menghibur sang dokter.
âAh kamu bisa aja, Do. Ibu kan sudah nggak muda lagi, umur ibu sekarang sudah empat puluh tiga tahun, lho?â.
âTapi, Bu terus terang saja saya lebih senang bercinta dengan wanita dewasa seperti ibu. Saya suka sekali bentuk tubuh ibu yang bongsor iniâ, lanjut pemuda itu sambil memberikan ciuman di pipi sang dokter, ia mempererat pelukannya.
âKamu mau pacaran sama ibu?â.
âKenurut ibu apa yang kita lakukan sekarang ini bukannya selingkuh?â, tanya Dido.
âKamu benar suka sama ibu?â.
âBenar, Bu. Sumpah saya suka sama Ibuâ, Dido mengecup bibir wanita itu.
âOh Dido sayang, ibu juga suka sekali sama kamu. Jangan bosan yah, sayang?â.
âNggak akan, bu. Ibu begitu cantik dan molek, masa sih saya mau bosan. Saya sama sekali tidak tertarik pada gadis remaja atau yang seumur. Ibu benar-benar sesuai seperti yang saya idam-idamkan selama ini. Saya selalu ingin bermain cinta dengan ibu-ibu istri pejabat. Tubuh dan goyang Bu dokter sudah membuat saya benar-benar puasâ.
âMulai sekarang kamu boleh minta ini kapan saja kamu mau, Do. Ibu akan berikan padamuâ, jawab sang dokter sambil meraba kemaluan Dido yang sudah tampak tertidur.
âTerima kasih, Bu. Ibu juga boleh pakai saya kapan saja ibu sukaâ.
âIbu sayang kamu, Doâ.
âSaya juga, Bu. oooh dokter Supriyatiâ, desah pemuda itu kemudian merasakan penisnya teremas tangan sang dokter.
âOooh Dido, sayang..â, balas dokter Supriyati menyebut namanya mesra.
Kembali mereka saling berangkulan mesra, tangan mereka meraih kemaluan masing-masing dan berusaha membangkitkan nafsu untuk kembali bercinta. Dido meraih pantat sang dokter dengan tangan kirinya, mulutnya menyDidot bibir merah sang dokter. âOooh dokter Supriyati, sayang, ooohhâ, desah Dido merasakan penisnya yang mulai bangkit lagi merasakan remasan dan belaian lembut tangan sang dokter. Sementara tangan pemuda itu sendiri kini meraba permukaan kemaluan dokter Supriyati yang mulai terasa basah lagi.
âooohh, uuuhh Dido sayang, nikmat.sayang, ooohh Dido, Ibu pingin lagi, Do, ooohh, kita main lagi sayang, ooohhâ, desah manja dan menggairahkan terdengar dari mulut dokter Supriyati.
âUuuhh, saya juga kepingin lagi Bu dokter, ooohh, Ibu cantik sekali, oooh, dokter Supriyati sayang, ooohh, remas terus penis saya Bu, ooohhâ.
âIbu suka penis kamu Do, bentuknya panjang dan besar sekali. ooouuuhh, baru pertama ini ibu merasakan penis seperti iniâ, suara desah dokter Supriyati memuji kemaluan Dido.
Begitu mereka tampak tak tahan lagi setelah melakukan pemanasan selama lima belas menit, lalu kembali keduanya terlibat permainan seks yang hebat sampai kira-kira pukul empat dini hari. Tak terasa oleh mereka waktu berlalu begitu cepat hingga membuat tenaga mereka terkuras habis. Dokter Supriyati berhasil meraih kepuasan sebanyak empat kali sebelum kemudian Dido mengakhiri permainannya yang selalu lama dan membuat sang dokter kewalahan menghadapinya. Kejantanan pemuda itu memang tiada duanya. Ia mampu bertahan selama itu, tubuh sang dokter yang begitu membuatnya bernafsu itu digoyangnya dengan segala macam gaya yang ia pernah lihat dalam film porno. Semua di praktikkan Dido, dari doggie style sampai 69 ia lakukan dengan penuh nafsu. Mereka benar-benar mengumbar nafsu birahi itu dengan bebas. Tak satupun tempat di ruangan itu yang terlewat, dari tempat tidur, kamar mandi, bathtub, meja kerja, toilet sampai meja makan dan sofa di ruangan itu menjadi tempat pelampiasan nafsu seks mereka yang membara.
Akhirnya setelah melewati ronde demi ronde permainan itu mereka terkulai lemas saling mendekap setelah Dido mengalami ejakulasi bersamaan dengan orgasme dokter Supriyati yang sudah empat kali itu. Dengan saling berpelukan mesra dan kemaluan Dido yang masih berada dalam liang vagina sang dokter, mereka tertidur pulas.
Malam itu benar-benar menjadi malam yang sangat indah bagi keduanya. Dido yang baru pertama kali merasakan kehangatan tubuh wanita itu benar-benar merasa puas. Dokter Supriyati telah memberinya sebuah kenikmatan yang selama ini sangat ia dambakan. Bertahun-tahun lamanya ia bermimpi untuk dapat meniduri istri pejabat seperti wanita ini, kini dokter Supriyati datang dengan sejuta kenikmatan yang ia berikan. Semalam suntuk penuh ia lampiaskan nafsu birahinya yang telah terpendam sedemikian lama itu di tubuh sang dokter, ia lupa segalanya. Dido tak dapat mengingat sudah berapa kali ia buat sang dokter meronta merasakan klimaks dari hubungan seks itu. Cairan maninya terasa habis ia tumpahkan, sebagian di mulut sang dokter dan sebagian lagi disiramkan di sekujur tubuh wanita itu.
Begitupun dengan dokter Supriyati, baginya malam yang indah itu adalah malam pertama ia merasakan kenikmatan seksual yang sesungguhnya. Ia yang tak pernah sekalipun mengalami orgasme saat bermain dengan suaminya, kini merasakan sesuatu yang sangat hebat dan nikmat. Kemaluan Dido dengan ukuran super besar itu telah memberinya kenikmatan maha dahsyat yang takkan pernah ia lupakan. Belasan kali sudah Dido membuatnya meraih puncak kenikmatan senggama, tubuhnya seperti rontok menghadapi keperkasaan anak muda itu. Umur Dido yang separuh umurnya itu membuat suasana hatinya sangat bergairah. Bagaimana tidak, seorang pemuda tampan dan perkasa yang berumur jauh di bawahnya memberinya kenikmatan seks bagai seorang ksatria gagah perkasa. Ia sungguh-sungguh puas lahir batin sampai-sampai ia rasakan tubuhnya terkapar lemas dan tak mampu bergerak lagi, cairan kelaminnya yang terus mengucur tiada henti saat permainan cinta itu berlangsung membuat vaginanya terasa kering. Namun sekali lagi, ia merasa puas, sepuas-puasnya.
Sejak saat itu, dokter Supriyati menjalin hubungan gelap dengan dengan Dido. Kehidupan mereka kini penuh dengan kebahagiaan cinta yang mereka raih dari kencan-kencan rahasia yang selalu dilakukan kedua orang itu saat suami dokter Supriyati tidak di rumah. Di hotel, di apartement Dido atau bahkan di rumah sang dokter mereka lakukan perselingkuhan yang selalu diwarnai oleh hubungan seks yang seru tak pernah mereka lewatkan.
Terlampiaskan sudah nafsu seks dan dendam pada diri mereka masing-masing. Dokter Supriyati tak lagi mempermasalahkan suaminya yang doyan perempuan itu. Ia bahkan tak pernah lagi mau melayani nafsu birahi suaminya dengan serius. Setiap kali lelaki itu memintanya untuk bercinta ia hanya melayaninya setengah hati. Tak ia hiraukan lagi apakah suaminya puas dengan permainan itu, ia hanya memberikan pelayanan sekedarnya sampai lelaki botak dan berperut besar itu mengeluarkan cairan kelaminnya dalam waktu singkat kurang dari tiga menit. Ingin rasanya dokter Supriyati meludahi muka suaminya, lelaki tak tahu malu yang hanya mengandalkan uang dan kekuasaan. Yang dengan sewenang-wenang membeli kewanitaan orang dengan uangnya. Lelaki itu tak pernah menyangka bahwa istrinya telah jatuh ke tangan seorang pemuda perkasa yang jauh melebihi dirinya. Ia benar-benar tertipu.,,,,,


