Bakti Pada Atasan
Cerita Dewasa Ā· 18+
Hampir setiap bulan sekali aku harus meninggalkan suamiku dan anaku untuk mendampingi atasanku ke luar kota. Namaku Yuli, aku seorang sekretaris atau bisa juga dibilang asisten seorang atasan di sebuah perusahaan swasta. Aku selalu menggunakan hijab satiap aku pergi ke kantor. Walaupun pakaianku tertutup tapi tidak menghalangi setiap laki-laki menatap tajam kearah ku.
Mungkin karena aku mempunyai tubuh yang cukup sintal dengan payudara yang menantang. Meskipun demikian, aku selalu menjaga kepercayaan suamiku dan tidak pernah menodai perkawinan suci kami. Tugasku dikantor cukup repot. Ya namanya juga asisten seorang bos. Aku harus mempersiapkan segala kebutuhan untuk setiap pertemuan bosku dengan kliennya. Seperti waktu itu, aku harus meninggalkan suami dan anakku ke luar kota karena ada pertemuan besar antar perusahaan se-Indonesia.
āMas, besok aku keluar kota dengan Pak Budiā
āIya Mahā jawab suamiku singkat. Memang suamiku menaruh kepercayaan kepadaku setiap kali aku akan pergi dengan bosku. Karena itulah aku tidak pernah mencoba untuk bermain āapiā dengan laki-laki lain.
Sekitar pukul 06.00 kami bangun. Aku mengerjakan aktifitasku sebagai seorang istri. Seperti membangunkan anaku, menyiapkan sarapan, mengurus keperluan sekolah anakku dan mengurus keperluan suamiku sebelum ia pergi ke kantor. Pagi itu aku mandi duluan karena takut telat untuk bertemu dengan Pak Budi atasanku di susul dengan suamiku.
āKenapa mas? Kok liatin nenen Mamah? Mas pengen?ā kataku ketika merapikan dasinya.
āAh engga Mah, kok tumben mamah pakaiannya begitu?ā Tanya suamiku heran.
Memang waktu itu aku hanya memakai tengtop warna abu dan belum memakai blazer dan kerudung. Jadi suamiku nampak heran dengan setelanku. Payudaraku seperti menantang setiap orang yang memandang.
āMas ini, nanti kan aku pakai blazer dan kerudung, masa iya aku ke kantor dengan pakaian beginiā jawabku sambil tersenyum.
Suamiku hanya tersenyum sambil mencium keningku. Kemudian aku mengecek kembali berkas-berkas yang harus dibawa ke pertemuan tersebut.
Tepat pukul 06.45 kami sekeluarga berangkat. Kami mengantar anak kami terleboh dahulu ke sekolahnya. Setelah anak kami sampe disekolah, suamiku mengantarku ke kantor.
āMamah bawa baju banyak??ā Tanya suamiku.
āYa lumayan lah Mas, cukup untuk 3 hariā jawabku.
15 Menit kemudian kami sampai dikantorku. āHati-hati ya Mah. Ingat Mas dan anakmu dirumahā, āiya Mas, jaga anak kita baik-baikā. Dia pun mencium keningku dan aku mencium tangannya. Lalu aku masuk ke kantorku dan langsung menemui Pak Budi di ruangannya.
āTokā¦tokā¦tokā¦.Maaf Pak saya telatā
āTidak kok Yul, 5 menit lagi kita berangkat ya. Mana suamimu, saya pengen ngobrol dulu dengan dia ā jawabnya.
āSuami saya langsung berangkat ke kantornya Pakā. Memang Pak Budi ini orangnya baik dan selalu ramah kepada setiap bawahannya.
Dengan suamiku pun dia nampak akrab. Oh ya atasanku ini mempunyai wajah seperti orang China walaupun sebenarnya dia muslim. Bertubuh agak gemuk dan tingginya seperti suamiku. Dia juga botak ditengah rambutnya seperti seorang Profesor.
Kami berdua pun berangkat ke Kota tempat pertemuan tersebut. Diperjalanan kami beristirahat terlebih dahulu karena kami ingin buang air.
āKita berhenti dulu ya Yul, saya kebelet. Tuh kebetulan ada pom bensinā pintanya.
āIya Pak saya juga ingin beristirahat duluā.
Kami pun berhenti di Pom tersebut. Ketika dia pergi ke WC akupun mengikutinya karena saya pun ingin membenarkan pakaian dan kerudung. Ketika dia keluar dari Wc, dia memandangiku yang sedang berkaca. Kulihat dia melihat kea rah dadaku.
āSudah buang airnya Pak?ā tanyaku mengagetkannya.
āIya sudah Yulā. Kami berdua melanjutkan perjalanan. Tepat satu jam kemudian kami tiba di hotel tempat pertemuan tersebut.
Kami disambut oleh seorang pegawai hotel dan memonya kami menunjukan surat undangan. Setelah saya memperlihatkan surat tersebut, kami mendapatkan dua kunci kamar yang berada di lantai 2. Kami pun naik lift dan bergegas ke kamar masing-masing.
Ketika sampai dikamar, aku langsung membuka kerudungku dan menelepon suamuku kalau aku sudah sampai ke lokasi pertemuan. Kubuka blazerku dan langsung rebahan di atas tempat tidur. Ahh cape juga perjalanan tadi, batinku. Ketika aku sedang rebahan diatas tempat tidur, ada yang mengetuk pintuku.
āTok tok tok, Yul..ā. Oh ternyata Pak Budi. Langsung aku bangun dari tempat tidurku dan memakai blazerku kembali. ā
Ada apa ya Pak?ā tanyaku. Ketika aku tanya atasanku ini, dia hanya bengong melihatku. Apa yang salah denganku. Tiba-tiba DEG aku ingat, KERUDUNGKU, ya aku tidak menggunakan kerudung pada saat itu. Dan itulah pertama kalinya ada laki-laki lain yang melihat rambut sepunggungku yang terurai.
āPakā kataku mengalihkan kekagetanku.
āEh ini Yul em aku ingin liat berkas buat pertemuan besokā katanya gugup.
āOh iya Pak sebentar, saya ambilkan dulu berkasnyaā. Aku pun masuk ke kamar dan mencari berkas serta memakai kerudungku kembali.
Sore harinya aku di telepon oleh atasanku melalui telepon kamar. Dia memberitahuku supaya aku mempersiapkan diri karena akan bertemu dengan seorang Direktur salah satu perusahaan. Aku mandi terlebih dahulu dan setelah itu mempersiapkan berkas-berkas yang akan dibawa. Pak Budi menelepon kembali dan dia menungguku di lobi dekat resepsionis. Waktu itu aku memakai kemeja dan memakai rok warna merah. Aku lalu menuju ke tempat tersebut. Ketika sampai di bawah, kulihat beliau menatapku sambil tersenyum.
āMana Yul berkasnya, biar saya periksa duluā kata beliau.
āIni Pak, semua yang diperlukan ada disituā jawabku.
Ketika beliau sedang memeriksa berkas tersebut, orang yang kami tunggu pun datang. Dan akhirnya kami sepakat akan bekerjasama antar perusahaan. Pak Budi memuji berkas yang aku kerjakan. Ini menjadi nilai plus dimata atasanku ini.
Setelah pertemuan itu aku pergi pamit ke kamar terlebih dahulu karena badanku merasa capek sekali. Dikamar aku menelepon suamiku dan ngobrol dengan anak ku. Hingga akhirnya aku ketiduran. Sekitar pukul 10 malam aku terbangun dan entah kenapa aku merasa takut sendirian dikamar. Aku putuskan untuk pergi ke kamar pak Budi walaupun hatiku sebenarnya malu dan takut akan terjadi sesuatu antara aku dan Pak Budi. Tapi pada akhirnya aku pergi ke kamar Pak Budi.
āPak Pak Budiā ketuk ku keras. Lalu Pak Budi membukakan pintunya untukku.
āLoh Yuli, ada apa Yul?ā tanyanya sambil mengucek mata.
āPak maaf, saya takut sendirian tidur di kamar, boleh tidak saya tidur dengan Bapak untuk malam ini?ā
āYa tentu boleh, silahkan masuk Yul silahkanā jawabnya sambil mempersilahkan aku masuk.
āKamu takut apa Yul? Kan kamu sudah sering tidur sendirian di kamar hotel?ā tanyanya bingung.
āIya Pak, saya juga tidak tahu. Saya merasakan ada yang aneh di kamar saya, saya takutā
āAh kamu ini ada-ada sajaā jawabnya sambil tersenyum.
āBaiklah kalau begitu saya tidur di kamar mu saja ya, kita gantian kamar, saya gak enak kalau harus sekamar dengan perempuan lainā katanya.
āGak papa Pak, kita sekamar saja, saya takut kalau harus tidur sendirianā jawabku.
Sebenarnya aku pun risih harus tidur dan sekamar dengan lelaki lain, tapi apa boleh buat rasa takut ini mengalahkan segalanya. Beliau pun berbaring disusul aku kemudian. Jantungku berdebar kencang, aku khawatir terjadi apa-apa dengan kami berdua, ya namanya juga tidur seranjang. Tapi malam itu tidak terjadi apa-apa, kami hanya tidur saja.
Pagi harinya aku bangun dan kulihat Pak Budi sudah tidak ada dikasur. Rupanya dia sedang mandi karena kudengar germecik air di kamar mandi. Ketika aku sedang mengumpulkan nyawaku yang baru bangun, tiba-tiba Pak Budi keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan celana dalam.
āEh maaf Yul, saya kira kamu belum bangunā sambil berlalu kembali ke kamar mandi.
Aku hanya tertegun melihat kejadian tersebut. Naluriku sebagai wanita muncul, aku pun agak terangsang melihat hal tersebut.
āPak saya ke kamar dulu yaā,
ā iya Yul, saya minta maaf atas kejadian barusanā,
ā tidak apa-apa Pakā jawabku.
Akupun pergi ke kamar dan langsung mandi.
Acara pun dimulai, waktu itu kami sibuk dengan pertemuan terserbut. Seharian kami harus membahas soal kerja sama dengan berbagai perusahaan di seluruh Indonesia. Aku selalu mengikuti Pak Budi kemanapun dia pergi karena posisiku sebagai asistennya. Akhirnya acara hari pertama pun selesai. Kami balik lagi ke kamar masing-masing. Aku lantas langsung membuka semua pakaianku dan berbaring di tempat tidur. Setelah itu saya pergi mandi. Ketika saya mandi saya teringat kejadian pagi tadi di kamar pak Budi. Tak terasa vaginaku basah. Tapi aku tepis lamunanku itu karena teringat suami dan anakku dirumah. Selepas mandi Pak Budi mengajakku untuk makan malam bersama tamu yang lain.
āYul, kamu sudah siapā tanyanya diluar kamarku.
āSudah Pak, sebentarā jawabku
Aku pun keluar dan masuk ke lift bersama Pak Budi. Ketika dalam lift, Pak Budi memuji kecantikanku.
āKamu cantik sekali Yul, meskipun memakai kerudungā pujinya.
āYah Bapak, baru tau ya saya cantikā kataku sambil tersenyum.
āAh kamu bisa aja Yulā jawabnya.
Kami pun sampai di tempat makan malam. Tak ada yang makanan special di tempat tersebut. Semua tamu saling berbincang dibarengi dengan tertawa tak terkecuali Pak Budi.
Pukul 20.30 para tamu tak terkecuali saya dan Pak Budi balik ke kamar masing-masing. Ketika kami berdua jalan ke kamar masing-masing, Pak Budi menawarkanku untuk tidur dengannya lagi.
āYul, kalau kamu takut tidur sendirian lagi, kamu boleh tidur di kamar saya lagi, jangan sungkan yaā tawarnya.
āIya Pak terimakasih. Nanti kalau saya takut, saya ke kamar Bapakā jawabku.
Aku pun masuk ke kamar dan mencoba untuk mengusir rasa takutku karena aku tidak mau kalau aku harus tidur di kamar atasanku lagi. Ketika aku mulai memberanikan diri untuk tidur dikamarku sendirian, entah kenapa rasanya aku lebih nyaman kalau tidur di kamar Pak Budi. Akhirnya aku putuskan untuk tidur di kamar pak Budi.
āPak Budi Pakā¦..ā
āOh Yuli, kamu mau tidur di kamar saya lagiā tanyanya.
āMaafkan saya kalau saya merepotkan Bapak, tapi saya masih takut untuk tidur sendirian dikamar Pak, boleh tidak kalau saya tidur lagi di kamar Bapak?ā pintaku.
āSilahkan Yul, jangan sungkan,anggap saja ini rasa terimakasih saya karena pekerjaanmu yang memuaskanā pujinya.
āIya Pak terimakasihā . Aku merasa tersanjung atas kebaikan atasanku yang baik ini.
Aku pun masuk ke kamarnya dan duduk disamping tempat tidurnya. Ketika itu beliau pun masuk dan duduk di samping berdekatan dengan tubuhku.
āGimana suami kamu Yul, sudah kamu hubungiā tanyanya mengawali pembicaraan.
āSudah Pak, tadi pun saya sempat ngobrol dengan anak sayaā jawabku.
Ketika kami ngobrol kulihat Pak Budi melirik terus ke arah dadaku. Aku sempat risih, tapi entah kenapa aku ingin sekali memanjakannya karena dia telah baik kepadaku.
āBapak liatin payudara saya terus, kenapa Pak?
āOh tidak Yul maafkan saya, saya telah lancangā jawabnya gugup.
āBapak mau lihat payudara saya?ā tanyaku.
āHah apa Yul, ya kalau kamu izinkan saya ingin liatā jawabnya sambil tertegun.
Lalu saya berdiri dan membuka kancing baju tidur saya.
āSilahkan Pak, ini sebagai bentuk terimakasih saya terhadap kebaikan Bapakā
āOh terimakasih Yul, payudaramu begitu indah, bolehkah saya melihatmu tanpa kerudung?ā
Saya tidak menjawab dan membuka kerudung saya, lalu saya simpan di atas tempat tidur.
āSilahkan Pakā
āKamu begitu cantik Yul, payudaramu indah, bolehkah saya memegang payudaramu?ā pintanya.
Aku sempat kaget mendengar permintaannya, tapi kalau hanya sekedar memegang aku tidak keberatan. Aku mengangguk tanda setuju. Lalu dia memegang payudaraku yang masih tertutup oleh BH berwarna hitam.
āShhhhā¦pelan pelan Pakā
āMaaf Yul, kamu kesakitan ya, kencang sekali payudaramu, bisakah kamu membuka BH ini Yul?ā pintanya lagi.
Entah kenapa aku menurut saja dan membuka semua baju dan juga BH ku. Kali ini aku sudah telanjang dada. Ketika aku sudah telanjang dada, Pak Budi memperhatikan payudaraku tanpa kedip, kemudian aku kaget karena dia menjilat putingku.
āApa apa an Pak? Kan kata saya bapak hanya boleh pegang, bukan menjilatā hardikku
āMaafkan saya Yul, saya terbawa suasanaā maafnya.
āYa tidak apa-apa Pak, silahkan saja kalau Bapak mau nyedot putting payudara sayaā
Dengan rakusnya dia menyedot dan menjilati semua bagian payudaraku. Akupun terbawa suasana dan vaginaku mulai basah.
āSssshh aahh Pak pelan pelanā desahku
āMhhhMmmhhhhh MMhhhHhhhmmmā hanya itu jawabannya.
Kemudian dia melepaskan sedotannya di payudaraku. Aku sempat kecewa karena aku mulai terangsang.
āKenapa Pakā tanyaku
āYul, bolehkah saya melihat tubuh kamu seutuhnya?ā pintanya.
Apa? Batinku. Tapi aku lihat wajah atasanku ini yang memelas. Dan akhirnya aku mengangguk tanpa sepatah katapun. Kemudian dia melorotkan celanaku dan aku bantu dia dengan mengangkat pantatku. Terpampanglah tubuhku yang hanya menggunakan celana dalam warna cream. Dia melotot melihat tubuhku.
āTidak sekalian celana dalamnya Pak?ā
āBolehkah Yul?ā tanyanya.
āSilahkan Pakā jawabku.
Dia membuka celana dalamku dan melemparkannya ke lantai kamar. Sebelum dia menggarap tubuhku aku mengatakan sesuatu.
āPak silahkan nikmati tubuh saya, anggap ini bakti saya kepada Bapak karena Bapak telah baik terhadap sayaā kataku.
āTerimakasih Yul, kamu memang asisten yang baik, saya janji ini pertama dan terakhirnya saya menikmati tubuh kamuā jawabnya.
Dia lalu mencium bibirku dengan ganas. Awalnya aku agak menolak karena teringan suamiku yang ada di rumah, tapi lama-lama aku menikmati cumbuannya dan membalas ciumannya. Tangannya tidak lepas dari payudaraku yang menjulang menantang.
āSshhhh aaaaahhhhhhh Pak oucchhhhhhhhā rintihku.
Ciumannya turun ke leherku dan terus turun ke dadaku. Aku menggelinjang seperti ikan di daratan.
āAhhhhhh aahhhhh terus pak enak ahhhhā hanya itu yang bisa aku katakan.
Jilatannya turun kea rah selangkanganku tapi dia tidak menjilat memek ku. Dia membuat aku kesetanan dengan jilatannya yang tidak juga menjilat memek ku.
āAhhh Pak jilat memek ku pa kayo jilat Pakā pintaku.
Aku sudah tidak ingat lagi kalau yang sedang menggauliku adalah bukan suamiku melainkan atasanku. Dia menjilat memeku. ā Ah iya Pak begitu teruuusss Pak jilat memekkuā kataku. Croottt Croot Crottt air maniku keluar. Aku mendapatkan orgasme pertamaku. Air maniku meleleh sampai ke atas sprei. Ketika aku sedang menikmati orgasmeku, kulihat dia sedang membuka pakaiannnya. Kulihat kontolnya yang ukurannya cukup besar tapi lebuh pendek dari kontol suamiku.
āSini yul, jilatin kontolkuā pintanya.
Akupun menurut dan menjilat kontolnya. āUhhh aaahhh yah erus Yul, kamu pinter sekali Yulā¦ā. Cukup lama aku menjilat kontolnya, kemudian dia merenggangkan kakiku. Aku tau inilah akhirnya baktiku kepada atasanku akan kulakukan.
āAyo Pak, masukan kontol Bapak kesiniā kataku sambil ku usap memek ku.
āIya sayang, akan ku nikmati tubuhmu sekarang jugaā
Dia mengarahkan kontolnya dan BLLLEEEEESSSSSSSSS āAAAAAAGHHHHHH ENAK PAKā kataku.
Dia menggenjot tubuhku sambil meremas-remas susuku.
āAhhhh terus pak ewe aku,nikmatin tubuhku ahhhhhhā kataku.
10 Menit dengan gaya konvesional, dia ingin aku yang di atas. Dia tidur terlentang dan aku kangkangi dia. Sebelum memeku ku arahkan ke kontolnya, aku terlebih dahulu mengangkangi mulutnya. Dia mengerti maksudku. Dengan rakusnya dia menjilati memek ku yang sudah sangat banjir.
āOhhhh aaahhhhh enaaak pak terus jilatā desahku.
Setelah puas menjilati memek ku dia ingin segera memasukan kontolnya ke memeku. CLLLEEEEBBB kontolnya masuk kedalam memekku.
āUh ah sssttt enak sekali memek kamu Yulā desahnya. Tak lama kemudian, kurasakan memeku berdenyut-denyut tandanya aku akan orgasme.
āOh pak aku akan keluar Pak terus genjottt ooohhhā kataku
āAku juga sama Yul, ayo kita keluar sama-sama aaahhhh aaahhhā
Crooottt Crrrootttt CRrrooottt semua maninya ku rasakan menmbus ke rahimku. Kami berdua kelelahan dan mabruk ke kasur.
āTerimakasih ya Yul, tubuh kamu enak sekaliā pujinya. āSama-sama Pak. Anggaplah ini baktiku kepada bapak sebagai atasanku yang baikā jawabku.
Kami pun tidur tanpa memakai apapun. Ketika pagi hari kurasakan memek ku basah sekali, ternyata Pak Budi sedang menjilati memek ku āaahhhh aahhhhā desahku. Kontan saja aku jadi terangsang. Kami pun ngewe sekali lagi sebelum kami pulang dari hotel tersebut. Sungguh ini pengalaman yang sangat luar biasa, bisa berbakti kepada atasanku.


