ABG Kejolak Napsu Liar Windy
Cerita Dewasa · 18+
Waktu itu ketika sedang sibuk mencari kunci yang ada ditasnya dia disapa oleh penjaga kos yang bernama Pak Heri, âneng Windy baru pulang atuh jam segini?â eh Pak Hei iya nih Pak habis ngerjain tugas kelompok soalnya besok dikumpulin, samil berjalan menuju kamarnya Windy teringat bahwa lampu kamarnya mati dan belum sempat untuk mengganti.
Teriak Windy kepada Pak Heri âPakk Heri minta tolong dongâ dengan nada yang agak keras karena kamar dan pos jaga lumayan jauh jaraknya, Pak Heri pun medatangi kekamar Windy âada apa neng kok teriak teriakâ
âini Pak boleh minta tolong untuk beliin lampu, soalnya saya lupa beli waktu keluar tadiâ
Jawab Pak Heri âsini aku belikan neng warung didepan masih buka kokâ Windy mengeluarkan selembar uang 20rb.
âBeli yang bagus ya Pak. Kembaliannya ambil saja.â
âSip, Neng.â, Ujar Pak Heri sambil mengambil uang dan berjalan pergi.
âOia, Pak. Tolong sekalian dipasang ya Pak. Langit-langitnya tinggi. Saya mau mandi, nanti langsung masuk saja. Pintunya ga dikunci.â
Pak Heri mengangguk sambil terus berjalan. Pak Heri berusia sekitar 50 tahun. Pipinya yang tirus membuatnya terlihat tua. Selain menjadi penjaga kosan, Ia juga bertani di sawah belakang kosan.
Itu sebabnya warna kulitnya terlihat sangat gelap kecoklatan. Windy memasuki kamar, menutup pintu, dan mulai membuka pakaiannya satu persatu.
Ia membuka kaos dan jins yang dipakainya sejak pagi hari. Melemparkannya ke tumpukan pakaian kotor. Dengan BH dan celana dalam Windy berjalan ke kamar mandi kemudian menyalakan keran air. Pintu kamar mandi ditutup,
Windy melepas BH dan celana dalam, meletakkannya di ember yang khusus disediakan untuk pakaian dalam.
Ia mulai mengguyurkan air dari ujung kepala. Segar sekali rasanya ketika tetesan-tetesan air membasuh rambut, wajah, leher, pundak, dan payudaranya. Beberapa tetesan kecil menyentuh puting Windy yang berwarna merah muda.
Ia kembali mengguyur tubuhnya, kali ini air membasuh perut, paha, dan bongkahan pantat Windy yang begitu mulus berwarna putih bersih. Sedikit tetesan air dengan genitnya menjalar ke selangkangan Windy, menyapu kulit vagina yang tembam, merangsek ke sela-sela vagina seperti sebuah lidah yang ingin menjilat klitoris.
Windy mulai membersihkan tubuhnya dengan sabun cair. Dioleskan sabun cair di dada dan payudaranya. Ia menggosok perlahan sambil mengelus-elus payudaranya. Tiba-tiba darahnya mengalir lebih cepat. Ada gelombang nafsu yang mulai menguak dari dalam diri Windy.
Tidak biasanya Ia menjadi nafsu karena sentuhan tangannya sendiri, mungkin karena sudah 1 bulan lebih tidak ada yang merambah tubuh indahnya. Elusan tangan kanan ke payudaranya mulai berubah menjadi remasan, sementara tangan kirinya bergerak menyentuh vagina yang sudah tidak sabar ingin dimanja. âMmpphhhhâŠâ eluh Windy keluar dari mulutnya.
Sudah lebih dari 1 bulan yang lalu Windy putus dengan Jaka. Laki-laki kedua yang pernah bersetubuh dengan Windy. Windy mengakui bahwa Jaka lebih pintar dalam urusan sex ketimbang pacar pertamanya.
Dan itu yang membuat Windy selalu ingin bersama Jaka, hingga suatu hari Windy mengetahui ternyata jaka berselingkuh. Mengingat kejadian perselingkuhan Jaka, seketika itu emosi Windy muncul. Nafsu yang melanda sebelumnya hilang begitu saja. Windy bersegera menyelesaikan mandinya. Ia membasuh sabun-sabun di tubuhnya.
Saat ingin mengeringkan tubuh dengan handuk, Windy baru tersadar handuknya tidak ada. Ia biasa melakukan hal seperti ini â tidak membawa handuk ke kamar mandi. Windy membuka pintu kamar mandi.
Dengan sangat terkejut, Windy melihat sosok seorang pria tua, berwajah tirus, berkulit coklat tua, sedang duduk di ranjang sambil melihat tubuh Windy yang tanpa busana.
Tubuh Windy kaku tak bergerak akibat syok, wajahnya memerah karena malu. Sementara Pak Heri masih terus menatap Windy. Tubuh Windy yang masih basah terlihat kemilau akibat pantulan cahaya. Payudaranya membusung, meneteskan air tepat dari puting merah mudanya.
Dari vaginanya yang seolah mengintip Pak Heri terlihat mengucurkan air sisa pembersihan tubuh Windy, Windy berusaha menguasai kembali tubuhnya.
Setelah kesadarannya pulih, dengan cepat Windy kembali masuk ke kamar mandi. Menutup rapat pintu kamar mandinya.
âMa⊠maaf Pak. Saya lupa handuknya. Bisa tolong ambilkan di meja?â minta Windy dengan suara gemetar. Klek.. Windy seperti mendengar suara pintu terkunci. Suaranya begitu samar hingga ia tidak yakin betul.
âIni, Neng.â Ujar Pak Heri dari balik pintu kamar mandi.
Windy membuka sedikit celah kamar mandi, menjulurkan tangannya mengambil handuk dari tangan Pak Heri. Ia segera mengeringkan tubuhnya.
Windy keluar berbalut handuk â yang sialnya adalah handuk kecil. Handuk yang ia kenakan tidak mampu melilit seluruh tubuhnya. Ujung handuk ia pegang dengan tangan kiri, sementara sedikit celah memperlihatkan pinggul dan paha Windy.
Dada Windy pun tidak tertutup dengan baik, belahan indah payudara dan sedikit tepian puting berwarna merah muda mencuat begitu menggoda. Handuk bagian bawah hanya menutupi sekitar 5 cm ke bawah dari vagina Windy.
Windy berjalan perlahan, mata Pak Heri tidak sedetik pun lepas dari tubuh Windy
âEe.. Neng, itu lampunya sudah saya pasang.â Ujar Pak Heri sambil berdiri memecah kebisuan.
âIya, pakk..â jawab Windy pelan, âMaaf Pak, saya mau pakai baju.â Lanjut Windy, berharap Pak Heri sadar untuk meninggalkan kamarnya.
âOh, iya Neng. Tapi saya boleh pinjam kamar mandi? Mau buang air kecil.â Pinta Pak Heri.
âBukannya di luar ada pak yang biasa dipakai.â Sergah Windy sedikit kesal.
âKebelet Neng. Sebentar kok.â Dengan cepat Pak Heri masuk kamar mandi tanpa menunggu persetujuan Windy.
Windy mendengar kucuran air seni Pak Heri begitu deras. Segera ia mananggalkan handuk menggantinya dengan daster favoritnya.
Tak lama Pak Heri keluar. Bejalan menghampiri Windy.
âNeng Windy, ada yang bisa dibantu lagi?â Tanya Pak Heri. Sekarang ia telah berdiri tepat di depan Windy. Belum sempat Windy menjawab pertanyaan tersebut, Pak Heri mengelus rambut Windy.
âBapakkkâŠâ ujar Windy sambil berjalan mundur menghindari tangan kasar Pak Heri.
Pak Heri terus mendekati Windy, sementara Windy terus mundur menghindar hingga tubuhnya terbentur tembok. Pak Heri merapatkan tubuhnya ke Windy yang sudah terpojok.
âPak, jangan pak.â Lirih Windy. Sementara tangan Pak Heri kembali mengelus rambut Windy yang wangi itu.
âTenang aja neng. Itu neng Sasha juga lagi asik sama pacarnya. Kita jangan kalah dong.â Kata Pak Heri dengan tenang penuh keyakinan.
âPak, tolong pak. Jangan. Saya teriak kalau bapak bagini terus.â Papar Windy penuh ketegaran di tengah posisinya yang tidak baik itu.
âNeng mau teriak? Lalu orang-orang datang. Saya diusir. Tapi besoknya saya ke sini sama temen-temen lho. Khusus buat Neng Windy.â Ancam Pak Heri penuh kemenangan.
Windy terteguh mendengar ancaman itu. Membayangkan dirinya dikroyok orang-orang sekelas Pak Heri. Mengerikan. Windy bukan termasuk wanita hipersex. Ketika ketakutan melanda pikiran Windy, Pak Heri melanjutkan kata-katanya.
âSudah lah neng. Biasanya juga sama pacarnya kan. Kalau tidak salah udah lebih dari 1 bulan ga diservis ya neng? Sini sama bapak aja.â Pak Heri terus meraba Windy, kali ini lengan Windy menjadi sasaran.
Bulu kuduk Windy merinding ketika kulit putih mulusnya bersentuhan dengan tangan Pak Heri. Ditambah lagi kata-kata Pak Heri tentang aktivitas sexnya benar-benar membuat Windy malu. Wajahnya merah padam.
âPak sudah pak. Jangan pak. Tolong.â Dengan wajah nanar Windy memohon.
Pak Heri menekan tubuh Windy ke bawah. âIsepin kontol bapak ya neng.â Pinta Pak Heri. Dalam posisi berjongkok, Windy kebingungan harus bagaimana. Tentu ia pernah menghisap penis tetapi bukan dalam keterpaksaan seperti ini.
âAyo neng. Turunin dulu celana bapak. Trus isep. Ga perlu saya kasarin kan supaya neng mau. Ato ga harus saya panggil temen-temen saya kan.â Pak Heri kembali mengancam dengan sikap begitu tenang.
Windy mulai menurunkan celana pendek Pak Heri. Tangannya gemetar, keringat dingin mengucur dari pori-pori kulitnya. Windy terus menarik hingga kaki Pak Heri, ia menatap celana yang telah terlepas tanpa melirik ke atas.
âAyo neng, liat ke atas dong.â Perintah Pak Heri sambil tertawa pelan.
Windy mengangkat wajahnya. Terkejut melihat sebuah penis yang sudah keras tidak lagi ditutupi celana dalam mengacung tepat mengarah ke wajahnya. âBaa⊠pak ga pake celana dalam?â pertanyaan polos keluar dari mulut Windy. âItu ada di kamar mandi. Sama baju dalam kamu yang lain.â Jawab Pak Heri sambil terkekeh.
Pak Heri memajukan penisnya. Kepala penisnya menyentuh bibir Windy yang manis. âDibuka neng bibirnya.â Pinta Pak Heri. Windy membuka mulutnya dengan penuh keraguan. Penis Pak Heri mulai masuk dengan perlahan ke mulut Windy.
Pak Heri mulai menggoyang-goyangkan penisnya menyodok mulut Windy, dengan kedua tangannya yang menggenggam kepala Windy. Sementara itu kedua tangan Windy memegang kaki Pak Heri sambil berusaha melepaskan diri. MphhhâŠ.. mpphhhh⊠penolakan Windy hanya terdengar seperti lenguhan.
âAhhhâŠ. Achhh⊠bibirnya enak banget neng. Ahhh.. terus neng.â Rancau Pak Heri sambil terus menggoyangkan pantatnya. Berselang 2 menit kemudian. Pak Heri berhenti mengocok penisnya, tetapi ia membiarkan penis hitamnya tetap di dalam mulut Windy. Nafas Windy mulai terengah-engah. âNeng, lidahnya mainin dong di dalam.â
Pinta pa Heri, âAchh⊠iyaaahhh.. gitu neng⊠pinter bangettt.. achhhhâŠ.â Lidah Windy bergoyang-goyang mengelus-elus penis di dalam mulutnya dengan lembut. Kepala penis Pak Heri selalu tersentuh lidah Windy. Sesekali ada hisapan yang Windy lakukan. Pak Heri semakir merancau menikmati penisnya dalam mulut Windy.
âSudah Neng Windy. Saya ga kuat sama lidah neng. AhhhâŠ.â Pak Heri mengangkat tubuh Windy. âPacar neng untung banget dapetin neng. Cantik, mulus, jago ngisep kontol.â Pak Heri mulai kembali mengelus lengan Windy yang tidak tertutupi.
âPak sudah pa. haahhh⊠jangan dilanjutkan pak.â Keluh Windy dengan wajah memelas meminta menyudahi permainan Pak Heri dengan nafas terengah-engah. Pak Heri menyibakkan rambut Windy kebelakang, lehernya yang jenjang terbuka lebar. Dengan sigap Pak Heri mulai mencium lembut dan menjilat leher Windy. Sementara tangannya meraba perut Windy.
âMpphhhh⊠pak, sudaahh.. ahh.. mpphhh..â Gejolak nafsu mulai melanda Windy, namun ia tetap berusaha menahannya sekuat tenaga. Pak Heri membalikkan tubuh Windy, ia menyibak rambut yang menutupi leher dan tungkuk. Pak Heri kembali menciumi sambil menjilat bagian sensitif Windy tersebut. âahhh⊠pak hentikannn.. mmppphhhh.â
Pak Heri mendekatkan bibirnya ke kuping Windy. âNeng Windy ini seksi sekali. Tadi saya intip dari etalase waktu neng mandi. Enak ya neng ngeremes tetek sendiri. Saya bantu ya sekarang.â Bisik lebut Pak Heri ke telinga Windy. Mendengar bisikan itu Windy seperti kehilangan harapan. Dilihat tanpa busana, ketahuan ML, dan sekarang ia tahu Pak Heri melihat saat ia akan masturbasi.
âSaya remes ya neng teteknya.â Jemari Pak Heri merambat menuju 2 payudara Windy. Saat jemari menyentuh payudara. âLho, ga pake BH, neng?!â Tanya Pak Heri dengan sedikit terkejut. âJangan-jangan?!â dengan cepat tangannya menyibak daster membuka bongkahan pantat Windy. âWah, si Neng bisa aja.
Bilang ga mau tapi udah siap-siap gini.â Ledek Pak Heri. âKan, mau tidur pak.â Ujar Windy membela diri dengan percuma sambil membalikan wajah sementara jarinya tergigit di mulutnya.
Pak Heri sibuk meremas pantat, sementara tangan kirinya meremas payudara Windy. Posisi berdiri Windy yang sedikit menungging semakin membuat seksi tubuhnya. âPaakkkkâŠâ, âIya Windyâ, âSudah ya mpphhh.. pakkk..â, âYakin neng?â jemari Pak Heri menyentuh bibir vigina Windy.
âAchhh⊠paa..â. tangan Pak Heri menjulur ke wajah Windy, memperlihatkan jemarinya yang tadi menyentuh bibir vagina Windy.
âNeng Windy, ko basah ya?â canda Pak Heri. Windy menatap Pak Heri sambil tersenyum malu.
âBapak jahat ih.â suara manja terlontar dari mulut Windy yang sebelumnya diisi penis Pak Heri.
Tangan Pak Heri kembali mengelus pinggul Windy. Sambil menciumi leher, Pak Heri berbisik, âNeng Windy, mau dilanjutin ga ni?â,
âMmmpphhh.. lanjutin apa pakkk?â, ân.g.e.n.t.o.tâ, âih, acchhh.. bapakkk..â tangan Pak Heri mulai meremas payudara Windy. âIya pakkk.. lanjutinnnn paak.. aahhh..â
âPakkk.. aku mau ciuman yah.â Pak Heri mendekatkan wajah. âMmpphhh.. pak, kontolnya aku pegang yah.. aku suka banget sama kontol bapak.â Bujuk Windy.
Pak Heri dan Windy mulai saling berciuman. Lidah mereka saling melipat, bergesekan dengan lembut. Meningkatkan birahi keduanya. MmpphhhâŠ. MmpphhhhâŠ
âPak gendong aku ke kasur ya.â Pak Heri langsung mengangkat Windy, merebahkannya ke atas kasur.
Windy menapat Pak Heri. âPak, aku malu. Kayak cewe murahan.â, âNgga ko neng. Nikmatin aja.â, Pak Heri kembali melibas bibir Windy. Mmpphhhh⊠desah Windy yang mulai tidak ditahan lagi. âPak Heri. Mmphhh.. telanjangi aku. Mphh..â
Pak Heri mulai mengangkat daster Windy. Vagina Windy yang tembam ditutupi rambut-rambut tipis tercukur rapih. Pak Heri tak henti menatap tubuh Windy yang terbuka perlahan, memperlihatkan keindahannya.
Windy mengangkat tangannya. Membiarkan daster favoritnya terlepas dari tubuh yang sekarang tidak tertutupi sehelai kain pun. Payudara Windy yang tidak terlalu besar membusung dengan puting menegang, seakan meminta dijamah. Pak Heri memulai kembali dengan menciumi dan menjilati leher Windy.
Lenguhan terlepas dari mulut Windy. Darah mendesir lebih cepat. Pak Heri menurunkan ciumannya ke payudara Windy. Menjilat turun di sisi payudara, berputar mengelilingi payudara Windy.
âeeuhhh.. pak, aku nafsu bangetttâŠâ rancu Windy memohon Pak Heri meningkatkan agresivitas. Pak Heri menjilat kecil puting Windy yang sudah sangat keras. Ia memberi kecupan kecil. âNeng Windy, putingnya keras banget.â Ujar Pak Heri sambil menatap Windy yang sedang memejamkan mata. âmmpphhh.. iya pak. Emut puting aku pakkk.. remesssâŠâ pinta Windy.
Pak Heri mengemut puting Windy sambil memainkan lidahnya, sementara tangan kanannya merepas payudara Windy yang lain. âaahhh⊠eemmmppp⊠enaakkk pakk..â Windy meremas rambut Pak Heri, menekan kepala Pak Heri ke payudaranya. âuughhh⊠pakk, mau ngentottt. Mauu kontolll.. aahhh..â rancu Windy tak terkendali. Ia melepas cengkraman dari kepala Pak Heri.
Pak Heri mengangkat tubuhnya melepaskan mulutnya dari puting Windy. Ia mendekatkan diri ke wajah Windy. Penisnya yang keras mengacung tepat di wajah Windy.
âTadi neng ga mau, bukan?â pancing Pak Heri. Windy mendekatkan hidungnya ke ujung penis Pak Heri. Menyentuh tepat di lubang kecil penis Pak Heri. Ia menghirup perlahan aroma penis yang khas sambil memejamkan mata. Ujung hidungnya merambat ke pangkal penis, pipi Windy pun menempel ke batang penis Pak Heri.
âSekarang aku mau pak. Sampe masuk kontol bapak ke memek aku juga aku mau.â Nafas Windy mulai memelan, âaku emut lagi ya pak.â Pak Heri merubah posisinya, ia menyandarkan punggungnya ke tembok dengan posisi terduduk.
Windy menundukkan wajahnya mendekati penis dengan posisi menungging di atas kasur. Jari jemarinya yang manis mulai menyentuh lembut kulit penis Pak Heri. Digenggamnya penis dengan satu tangan. Windy mulai menggerak-gerakkan tangannya ke atas-bawah.
âaacc..chhh⊠eehhh.. aahhh nengggâŠâ
âEnak ya pakk..â ucap Windy sambil menatap genit ke arah Pak Heri.
âeemmmhhhhâŠâ sinta menjulurkan lidahnya. Menjilat ujung kepala penis yang semakin mengeras.
Tak lama jilatan sinta berubah menjadi emutan dan hisapan di kepala penis dengan tangannya yang masih terus mengocok. Pak Heri terus mendesah semakin keras.
Lidah sinta bermain-main di dalam mulutnya, mengelus-elus kepala penis. Tiba-tiba Pak Heri bergetar kuat. âaachhhhhâŠ.â Sebuah erangan panjang keluar dari mulutnya. Cairan sperma meleleh dari dalam penis.
âmmpphhhh..â Windy masih mengocok penis dengan tangan kanannya, mulutnya masih diisi kepala penis Pak Heri menanti tetesan terakhir sperma.
Ia melepaskan penis dari mulutnya, mengangkat kepalanya menghadap Pak Heri dengan wajah penuh senyum. âLiatin sperma bapak dong, neng.â Pinta Pak Heri. Sinta membuka mulutnya, menjulurkan lidahnya yang dipenuhi cairan berwarna putih susu.
Windy kembali menutup mulutnya. Tidak segera menelan sperma, ia justru memainkan sperma itu di dalam mulutnya. Menikmati aroma dan rasa sekaligus sensasi tersebut. Glek⊠sperma Pak Heri menuju perut Windy. Windy menyeringai dengan wajah penuh kegembiraan. Ia mendekat ke Pak Heri, melupat bibir penjaga kosannya.
âSeneng banget sih, neng?â Tanya Pak Heri sambil mengelus payudara yang tidak tertutupi apapun.
âSperma bapak enak.â Ucap Windy dengan sedikit malu-malu sambil merebahkan tubuhnya di atas dada Pak Heri.
âIstirahat dulu ya neng. Nanti lanjutin.â
âLanjutin apa pak?â Tanya Windy sambil melihat Pak Heri.
Tidak langsung menjawab, Pak Heri menggerakkan tangannya. Menyentuh bibir vagina Windy, kemudian menyelusupkan jari tengahnya ke sela bibir vagina. âlanjutin ini. Ngeringin memek kamu. Nih, basah.â
âahhhh⊠mpphhhhâŠâ eluh Windy sambil menggigit bibir bawahnya, âga ah, pak. Malu aku ngentot sama penjaga kosan.â Ucap Windy sambil memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut di vaginanya.
âSupaya neng mau harus gimana?â Tanya Pak Heri.
Perlahan paha Windy menjepit tangan Pak Heri, sementara tangannya mencengkram pergelangan tangan Pak Heri. Tubuhnya tidak ingin jejari Pak Heri lepas dari vaginanya.
âKatanya tadi ga mau dilanjutin.â Protes Pak Heri.
âAku binal ya pak?â Tanya Windy dengan wajah sayu.
âNeng Windy itu bispak. Bisa bapak entot kapan aja bapak mau.â
âaahhhh.. bapak jahat.. mmpphhh.. masukin jarinya pakkâŠâ
âLanjutin nanti ya neng. Istirahat dulu.â
âBapak bilang yang mesum-mesum dulu dong.â Pinta Windy.
âMemek Neng Windy mau dijilatin nanti?â Windy mengangguk, âDimasukin kontol bapak? Kita ngentot.â
âMau banget, pakâ jawab Windy dengan berbisik.
âSampai puas!â ucap Pak Heri ikut berbisik. Mereka kembali berciuman. Kemudian tertidur bersama.
Pukul 03.00, Windy masih tidur dengan nyenyak. Dalam mimpinya, Windy merasakan kenikmatan yang menjalar di seluruh tubuhnya. Entah ia sedang âmimpi basahâ atau tidak, tetapi ada eluhan-eluhan yang keluar dari mulutnya. Mmpphhhh⊠mmpphhâŠ
Windy mulai sadar di tengah tidurnya. Matanya masih terpejam, tetapi Ia semakin menyadari kenikmatan di sekujur tubuhnya. Membiarkan tubuhnya menggelinjang kenikmatan. Windy tidak ingin membuka matanya, kemudian terbangun dari tidurnya. Ia ingin menikmati tidurnya yang penuh kenikmatan.
Lambat laun kesadarannya semakin menguat saat mendengar suara-suara kecupan. Windy mulai teringat bahwa Ia sedang tidur dengan Pak Heri tanpa busana yang menjanjikan kelanjutan permainan mereka. Windy membuka matanya untuk meyakinkan diri tentang apa yang dari tadi Ia rasakan. âPakkk⊠mmpphhhh.. curannggg..â ucap Windy sambil menggigit bibir bawahnya menatap Pak Heri yang sedang menjilat vagina Windy.
Pak Heri mengangkat wajahnya. âNeng tidurnya nyenyak banget. Bapak ga enak banguninnya.â Tangan Pak Heri mengelus-elus paha Windy. âJadi bapak mulai aja duluan.â Ucapnya sambil tersenyum. Windy membalas dengan senyum manis, kedua tangannya menjulur ke arah Pak Heri. Pak Heri mendekat, mendekap dalam pelukan Windy.
âEnak ya, neng. Kayak mimpi melayang-layang.â
âMmm..â Jawab Windy dengan suara menggoda.
Mereka mulai bercumbu, dengan tangan saling meraba tubuh lawannya. Mmpphhh⊠hhmmmmâŠ. Eluh masing-masing. Pak Heri mulai menurunkan kecupannya ke leher, dada, payudara, puting, perut, hingga ia kembali berkonsentrasi ke vagina Sinta. Diawali dengan kecupan kecil.
âmmpphhh.. pakkkâŠâ kemudian jilatan panjang, menjilat seluruh bagian luar vagina Sinta. Sinta mendesah semakin keras. Akhirnya Pak Heri memulai emutan di vagina Sinta, lidahnya menjulur masuk menjilat-jilat bagian dalam.
âaaacchhh⊠ennakkk pakk.. eehhhmmpphhhâŠâ
Slurrppp⊠slurrppp.. jilatan, hisapan, dan emutan Pak Heri bersuara semakin keras. Tubuh Windy tidak sanggup menahan kenikmatan dari vaginanya. Ia mengangkat pantatnya, mendorong vaginanya ke mulut Pak Heri yang sedari tadi menempel, seakan menginginkan lebih. Pak Heri paham betul, Ia mengangkat wajahnya, kemudian meletakkan jari jemarinya di bibir vagina Windy.
âHaahhh⊠aahhh..â nafas Windy memburu, âIya begitu pakk.. eemmppphhhâŠâ Windy menengadahkan wajahnya sambil mendesah saat jari tengah Pak Heri menekan dan mengelus klitorisnya. Pak Heri mendekatkan wajahnya ke Windy, Windy menyambut dengan ciuman begitu ganas. Nafsu telah menguasai tubuhnya.
Tangan Pak Heri sudah terjepit kuat paha Windy. Hanya jari jemarinya yang masih bisa bermain-main di vagina Windy. Windy terus menggelinjang kuat dengan suara desahan yang tertahan akibat berciuman dengan Pak Heri, merapatkan tangannya di punggung Pak Heri.
âAcchhhh⊠Pakkk, enakkk.. mmpphhhh..â lenguh Windy melepaskan ciumannya. Pak Heri semakin bersemangat ketika melihat ekspresi wajah Windy dipenuhi nafsu. Membayangkan seorang wanita yang usianya belum mencapai setengah usia Pak Heri, dipenuhi nasfu ingin bersetubuh. Pak Heri mempercepat gesekan jarinya di vagina Windy.
âAaaaccchhhhhâŠ.â Desahan panjang Windy disertai tubuhnya yang tiba-tiba menjadi kaku. Pahanya mencengkram kuat tangan Pak Heri hingga tidak bisa bergerak. Cairan bening keluar dari vagina Windy. Wajahnya meringis.
Ia melonggarkan pahanya, melepaskan tangan Pak Heri. Sesekali tubuhnya masih mengejang, sementara dari vaginanya masih mengeluarkan cairan kenikmatan. Wajahnya masih dipenuhi ketegangan, hingga akhirnya senyum kepuasan menghiasi wajahnya.
âEnak banget, pak.â Ucap Windy dengan vagina yang masih menetesnya cairannya.
âIya, bapak suka liat kamu lagi nafsu begitu.â Pak Heri mendiamkan Windy untuk beristirahat sejenak.
5 menit berlalu, mereka berbincang-bincang tertutama mengenai pengalaman Windy bersetubuh dengan lelaki lain. Windy merasa malu membicarakan hal tersebut, tetapi karena nafsunya masih tinggi membuatnya tidak lagi peduli.
âPak Heri ga nikah?â Tanya Windy sambil mengelus-elus penis Pak Heri.
âAda yang muda-muda kayak Neng Windy buat apa nikah.â Jawab Pak Heri membiarkan penisnya tetap mengeras. Mendengar jawaban tersebut, Windy teringat Mbak Wulan dan 3 mahasiswi lainnya yang dulu menempati kosan ini.
âMmm.. Pantesan Mbak Wulan sama yang lain dulu betah banget ya ngekos disini. Jadi gara-gara ini.â Ucap Windy sambil mengocok penis Pak Heri,
âEnak ya pak. Bisa ngentotin mahasiswi cantik terus.â Ketus Windy. Selain dirinya masih ada 2 mahasiswi yang saat ini menempati kosan tersebut. Apa Sasha dan Nadya pernah begini juga ya? Tanya Windy dalam pikirannya.
Pak Heri merubah posisinya, jari tangannya menyentuh bibir vagina Windy yang masih basah. âUdah ga sabar ya neng dimasukin kontol bapak?â Windy hanya mengangguk pelan, wajahnya tidak mampu menutupi kegembiraan atas pertanyaan Pak Heri.
Windy mengambil kondom di laci meja belajarnya. Dengan penuh kasih sayang, ia mengelus-elus penis Pak Heri kemudian mengulum, memastikan penis itu telah mengeras kuat. Kondom tipis dengan perlahan disarungkan ke penis Pak Heri. Windy tersenyum tipis, membayangkan kenikmatan yang akan didapatnya.
Pak Heri memposisikan diri di atas tubuh Windy. Dengan paha terbuka, Windy tidak sabar menanti penis memasuki liang vaginanya. Kepala penis Pak Heri menempel dan menggesek-gesek bibir vagina Windy. âNeng, ga mau masuk nih. Mesti dibujuk dulu.â Ucap Pak Heri menahan jegolak nafsunya menyetubuhi Windy.
Windy paham maksud Pak Heri, Ia menggenggam pinggul Pak Heri. Tetapi bukannya langsung menarik pinggul tersebut agar penis Pak Heri masuk, Windy mengawalinya dengan raut wajah penuh nafsu. âPakkk⊠Masukin kontolnya ke memek aku yah.â Ucap Windy dengan nada memohon, âAku udah ga kuat. Pengen ngentot, pakk.â Windy mulai menarik pinggul Pak Heri. Nafsu Pak Heri meningkat mendengar permintaan Windy, Ia pun mulai mendorong penisnya.
Penis Pak Heri mulai menjelajahi liang vagina Windy. âUughhh.. Neng, enak banget memeknya. Mmpphhh..â
âDorong terus pak. Masukin semuanya. Kontol bapakk kerr..ass bangett.. mmpphhhh..â Ucap Windy diakhiri desahan.
Perlahan seluruh penis Pak Heri masuk ke dalam vagina Windy. Mereka berdua bercium seperti sepasang kekasih.
âAyo, pak. Kocokin ke dalem. Aku suka kontol bapak.â Rajuk Windy. Pak Heri tersenyum senang, kemudian mulai menarik penisnya. Mmpphhhh⊠keduanya berdesah.
Pak Heri memulai persetubuhannya dengan tempo perlahan. Ia menarik dan mendorong penisnya perlahan untuk menikmati betul vagina Windy yang masih sempit. Sesekali Pak Heri mendorong dalam penisnya, hingga Windy mendesah panjang. Perlahan Pak Heri meningkatkan kecepatannya menggesek vagina Windy.
âAccchhhh⊠iya pak. Terus pak.. enakkk.. eeuuhhhh.. mmpphhhh.. kontol bapak ennaaakkkâŠâ Windy mulai merancau saat gesekan penis Pak Heri semakin cepat. Nafas keduanya semakin menggebu.
âMemek neng sempit banget.. aaccchhhh⊠mmppphhhhâŠâ
âIya pakkk⊠teruss.. uugghhhh⊠kocok terus pakkk..â Pak Heri semakin cepat mengeluar-masukkan penisnya.
âTengkurep neng. AahhhhâŠâ
âIyah pakkk⊠accchhh⊠jangan dilepas pak kontolnya.. enak bangetttâŠâ Windy membalik tubuhnya tanpa melepas penis dari vaginanya. Pak Heri memandangi bongkahan pantat putih bersih dengan penisnya yang keluar-masuk vagina Windy. Nafsunya menggila. Ia mengocok semakin cepat.
âAccchhhh, enakan pake jari ato kontol, nenggg?â Tanya Pak Heri dengan nafas menggebu.
âKontol⊠Windy suka pakkeee konn.. toll bapak.. aaaahhhh.. terus pak..â
Pak Heri mengangkat pinggul Windy, ingin Windy menungging. Pak Heri terus mengocok vagina Windy yang semakin basah hingga terdengar suara kecipak air.
âUuughhhh⊠ga kuat pakkk⊠aacccchhhhh.. oooghhhhâŠâ Tubuh Windy bergetar, ada lelehan cairan keluar dari vaginanya. Pak Heri menahan penisnya di dalam tanpa gerakan. Menidurkan Windy dalam posisi terkelungkup. Pak Heri menindih tubuh Windy, sambil menggoyang-goyangkan penisnya perlahan.
âhhaaahhhh⊠enak banget pak.â Pak Heri mengecup pipi Windy.
âMau lagi neng?â
âSampe bapak puas. Memek aku buat kontol bapak.â Ucap Windy sambil mencium bibir Pak Heri.
Pak Heri mulai kembali mengocok vagina Windy dengan penisnya. Tangannya menyelusup ke payudara Windy. Meremas kuat tetapi lembut. Nafas Windy kembali meningkat.
Ia melirik kebelakang, melihat pantat Pak Heri yang hitam bergoyang naik-turun. Sementara pantatnya sendiri tertindih Pak Heri. Windy menjulurkan tangannya, mengelus pantat Pak Heri. âUuughhhh.. mmppphhh.. terusss pakk. Entotin akuuu..â rancau Windy sambil memejamkan matanya menikmati hujaman penis Pak Heri.
Pak Heri kembali mengangkat pinggul Windy. Menginginkan posisi itu kembali. âaacchhh⊠pakkk udah mau keluuarr?â Tanya Windy dengan nafsu terus menggebu. âIya neng.. accchhh⊠sebentar lagiiâŠâ Pak Heri mempercepat kocokannya.
Windy menggigit bantal di depan wajahnya. Menahan kenikmatan di sekujur tubuhnya. Sementara tangannya meremas-remas kain sprei hingga sangat berantakan.
âOoohhhh,,, ooogghhhâŠ. Pakkk ga kuaattt. Mau keluar lagiii.. oouugghhhhâŠâ lenguh Windy tidak mampu menahan diri. âIya, nengg. Bareng sama bapak.. aacchhhhâŠâ
Pak Heri menekan dalam penisnya ke vagina Windy. Spermanya keluar tertahan kondom yang dikenakan. Sementara vagina Windy kembali mengeluarkan cairan bening.
Keduanya melenguh bersamaan. Panjang. Terdengar penuh kenikmatan.
Windy kembali tertidur dengan posisi terkelungkup, sementara Pak Heri menindih di atasnya. Penisnya tetap berada di dalam vagina Windy yang masih berkedut. Tubuh keduanya dibasahi keringat yang keluar dari pori-pori.
âEnak, neng?â
âEnak banget pak. Makasih ya.â Jawab Windy sambil mencium bibir Pak Heri.
âBapak ke kamar ya neng.â Ucap Pak Heri sambil mencabut penisnya. Melepaskan kondomnya kemudian membuangnya di tempat sampah.
âIya pak. Aku mau langsung mandi. Ada kuliah pagi.â Jawab Sinta. Pak Heri segera mengenakan pakaiannya kemudian kembali ke kamarnya setelah sebelumnya mencium Windy.
Windy mengambil handuknya di atas rak. Menuju kamar mandi, menutup rapat pintunya. Ia melihat tumpukan pakaian dalam yang kotor. Celana dalam Pak Heri ada di sana. Windy meremas celana dalam itu.
Ia memikirkan apa yang baru saja selesai Ia dan Pak Heri lakukan. Memalukan, tetapi dirinya sendiri tidak mampu menahan gejolak nafsu. Windy mendekatkan celana dalam itu ke hidungnya, teringat saat-saat hidungnya menyentuh ujung kepala penis Pak Heri. Windy tersenyum,


